LOGIN"Hah?"Hati Tania langsung mencelos. "Apa yang terjadi lagi? Kenapa kamu datang ke kantor pagi-pagi sekali?"Shelly berdiri di depan gedung perusahaan sambil mendongak menatap bangunan yang menjulang tinggi itu. "Nanti setelah semuanya selesai, baru aku ceritakan."Dia menutup telepon, lalu melangkah masuk ke dalam perusahaan.Kantor masih benar-benar sepi. Dia memang sengaja datang lebih awal agar bisa naik ke lantai paling atas sebelum ada orang lain yang datang.Tak disangka, Jeffry sudah di kantor.Beberapa saat kemudian, di dalam ruang kerja Jeffry.Shelly berdiri di tengah ruangan.Sebelum datang, dia sudah mempersiapkan diri dengan matang. Dia telah menyusun kata-kata yang ingin diucapkan, bahkan melatihnya berulang kali dalam hati.Namun saat benar-benar berdiri di hadapan Jeffry, tak satu kata pun mampu keluar dari mulutnya.Jeffry membuka laci di sisi kanan mejanya, lalu mengeluarkan sebuah surat pengunduran diri dan mendorongnya ke hadapan Shelly."Tandatangani."Shelly spon
Kalau Keluarga Wijaya juga mengira anak itu adalah anak Harrison, mereka pasti juga akan datang mencarinya!Baru lepas dari Keluarga Anderson, lalu harus menghadapi Keluarga Wijaya.Bukankah itu sama saja berpindah dari satu lubang api ke lubang api lainnya?Apa Shelly memang merasa hidupnya terlalu lancar?Sama saja menyinggung dua keluarga sekaligus."Shelly, membuktikan kepada Keluarga Anderson bahwa anak ini bukan anak Jeffry memang sangat sulit. Tapi membuktikan kepada keluargaku bahwa anak ini bukan anakku, justru sangat mudah."Harrison menganalisis dengan serius."Ayahku dan yang lainnya pasti akan merahasiakan hal ini. Aku terang-terangan merekrutmu di depan umum, itu sama saja menampar wajah Jeffry. Ayahku pasti malah senang."Selama Shelly bisa membuktikan kepada Keluarga Wijaya bahwa anak itu bukan anak Harrison ....Keluarga Wijaya tidak akan berusaha menghentikan rumor-rumor itu.Karena setiap rumor yang beredar adalah tamparan bagi Keluarga Anderson.Situasi seperti ini
"Yang mencarimu bukan hanya dia, tapi kami berdua."Harrison berjalan menghampiri Shelly, lalu berdiri di sampingnya sambil menunduk menatapnya."Aku ingin mengundangmu bergabung bekerja di Grup Vantara. Pak Jeffry bilang, keputusan ada di tanganmu."Mata Shelly sedikit membesar. Dia menatap Harrison dengan tidak percaya, lalu beralih memandang Jeffry.Jeffry tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun, memancarkan aura seorang pengendali situasi.Meskipun Harrison mengatakan keputusan ada di tangan Shelly ....Shelly tahu betul bahwa keputusan sebenarnya tetap berada di tangan Jeffry."Pak Harrison, jangan bercanda. Saya bahkan masih menjalani cuti melahirkan.""Aku menghargai orang berbakat," jawab Harrison tanpa ragu. "Kalau kamu setuju, kita bisa langsung urus proses masuk kerjamu. Cuti melahirkanmu tetap berlanjut, dan gajimu akan tetap aku bayar."Ekspresinya sangat serius.Mengatakannya di hadapan begitu banyak orang membuktikan bahwa dia sama sekali tidak sedang berca
"Memangnya kamu siapa?"Shanen memotong ucapan pria itu. "Jeffry, aku hanya meminta penjelasan untuk Elora, bukan bermaksud mempersulit kamu. Kalau anak yang dikandung Shelly bukan anakmu, lalu coba katakan, anak itu milik siapa? Sebagai atasannya, kamu berhak tahu soal ini.""Mempersulit aku?" Sudut bibir Jeffry terangkat membentuk senyum dingin. "Jangankan mempersulit aku, kamu bahkan nggak pantas mempersulit dia."Wajah Shanen langsung berubah muram.Jeffry terang-terangan membela Shelly di depan semua orang!"Kalau begitu, bolehkah aku menganggap kalau secara tidak langsung kamu mengakui bahwa anak dalam kandungan Shelly adalah anakmu?"Jeffry menyipitkan sedikit mata tajamnya. Tatapannya kepada Shanen seolah sedang memandang selembar plester busuk yang tidak bisa dilepaskan.Menjijikkan.Namun masalah ini menyangkut anak yang dikandung Shelly.Jika dia ingin menjaga harga diri Shelly, apa pun pilihannya akan menempatkannya dalam situasi yang sulit."Siapa ayah dari anak yang dikan
"Baik."Meski merasa sangat bersalah, Shelly tetap harus mengutamakan kepentingan yang lebih besar. Dia berbalik dan berjalan keluar dari aula jamuan.Di tengah kerumunan, pria yang berdiri paling menonjol itu tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke arahnya, lalu menatap punggungnya yang ramping dan mulus.Hampir dalam sekejap, Jeffry langsung mengenalinya.Shelly datang bersama Harrison.Wajah Jeffry seketika menjadi sedikit lebih suram tanpa bisa dia kendalikan.Orang yang sedang berbicara dengannya mendadak merasakan hawa dingin menjalar di punggung. Kalimat yang belum selesai diucapkan pun langsung terhenti.Beberapa orang mengikuti arah pandangan Jeffry, tetapi yang mereka lihat hanyalah Harrison.Semua orang tahu hubungan Jeffry dan Harrison tidak akur. Kini tampaknya rumor itu memang benar.Hanya saja, mereka tidak menyangka kebencian itu sedalam ini, sampai-sampai ekspresi Jeffry langsung berubah begitu melihat Harrison."Maaf, saya permisi sebentar."Jeffry meletakkan gelas angg
Jamuan dimulai pukul enam sore.Setelah mengantar Nana pulang, Shelly makan siang dan beristirahat sejenak sebelum mulai bersiap menghadiri jamuan.Gaun hitam yang dikenakannya tidak memperlihatkan perut hamilnya, malah membuat kulitnya tampak semakin cerah.Meski tanpa riasan, wajahnya sama sekali tidak terlihat pucat. Justru karena berat badannya bertambah beberapa kilogram, rona wajahnya tampak jauh lebih segar.Dia membawa tasnya dan keluar rumah. Harrison sudah datang lebih dulu dengan mobil balap Rolls-Royce, menunggunya di depan pintu.Pria itu bersandar di badan mobil sambil menunduk memainkan ponselnya.Mendengar suara pintu terbuka, dia mengangkat kelopak matanya sekilas untuk melihat, lalu kembali menunduk menatap layar ponsel.Beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba mengangkat kepala dan menoleh lagiSinar matahari senja yang condong ke barat menyinari tubuh Shelly, membuat kulit putihnya memancarkan semburat keemasan.Rambut hitam panjangnya diikat menjadi ekor kuda, ujung r
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal
Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su







