LOGIN"Aku sudah putus kontrak dengan Grup Vantara," kata Shelly."Ha?!" Harrison menarik napas tajam. "Kalau kamu sudah putus kontrak, aku ribut-ribut demi siapa sekarang?"Dia bertengkar dengan Wirya justru karena kesal melihat ayahnya menjadikan Shelly sebagai alat, lalu menyerahkannya ke tangan Keluarga Gunawan."Harrison, terima kasih." Shelly berkata dengan sungguh-sungguh. "Kamu memang kadang menyebalkan, tapi kamu sudah banyak bantu aku. Semoga kamu baik-baik saja ke depannya."Harrison menghela napas panjang, nada suaranya tiba-tiba berubah berat. "Kamu lagi ngasih aku kartu orang baik, ya? Shelly, kamu tahu perasaan aku. Hari ini aku mau bilang terang-terangan, aku menerima Jery, aku mau jaga kalian berdua. Selama kamu nggak masih cinta sama Jeffry, percayalah padaku. Aku pasti bisa lindungi kamu. Jangan balik ke Jeffry!""Ini nggak ada hubungannya sama Jeffry. Soal perasaan nggak bisa dipaksakan, dan kamu pantas dapat yang lebih baik."Bahkan seandainya Harrison bukan putra Keluar
"Kalau kamu pulang, ibumu pasti ikut pulang juga. Yang aku khawatirkan, ibumu terlalu lembut hati dan malah membantu Keluarga Laurent."Vincent terbaring sakit tanpa bisa bangkit lagi. Keluarga Laurent kehilangan pemimpin, dan nama besar mereka tinggal kulit tanpa isi.Kabarnya, ibu Elora sudah nekad turun ke meja-meja perjamuan bisnis, mencoba membalikkan keadaan dengan sisa tenaga yang ada. Tapi semua orang menghindar darinya, bahkan sekadar bertemu pun tidak ada yang mau memberi kesempatan.Kalau Melly sampai menyaksikan sendiri betapa terpuruknya kondisi Marina, dengan segala tahun-tahun persahabatan yang pernah mereka jalani, sulit rasanya hati perempuan itu tidak tergerak."Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan," kata Jeffry."Kalau begitu, semoga perjalananmu kembali ke Tavira berjalan lancar dan selamat." Herman mengucapkannya dengan tulus.Shelly hendak kembali ke Tavira. Saryna mencekatnya seharian penuh, sudah makan malam masih mengajaknya ngemil lagi. Akhirnya Jeffry me
"Lalu bagaimana urusan pekerjaanmu?" tanya Saryna seperti baru teringat sesuatu. "Grup Vantara memberimu cuti panjang?""Nggak. Aku mengundurkan diri."Kalaupun bukan karena harus ikut Jeffry ke Tavira, Shelly memang sudah tak berniat bertahan di Grup Vantara lagi.Wirya sudah tidak bisa menoleransi keberadaannya di sana."Benar juga. Jery masih kecil. Kamu nggak usah buru-buru kerja. Barusan aku transfer satu miliar ke rekeningmu, pakai untuk keperluanmu."Saryna menepuk punggung tangannya. "Jangan sampai hemat-hemat memakainya. Dulu kita sudah sepakat, siapa pun yang punya uang harus menghidupi yang lain tanpa syarat. Lagipula ini uang Keluarga Gunawan, uang kita berdua, bukan cuma punyaku."Shelly menyahut, "Tapi ....""Berapa nilai saham Keluarga Gunawan? Kamu menyerahkannya padaku begitu saja tanpa ragu sedikit pun. Ini cuma satu miliar. Kalau kamu tolak, boleh. Aku juga akan tolak saham-saham itu.”Saryna melepaskan genggaman tangannya, lalu bangkit hendak menghampiri Jeffry. "Bi
"Nggak mungkin." Shelly spontan membantah, "Aku sudah baca perjanjiannya."Begitu kata-kata itu meluncur keluar, hatinya tiba-tiba seperti tersandung sesuatu.Dia seperti hilang ingatan. Ada baca atau tidak?”"Itu nggak penting. Intinya, kalau dia mau menahanmu, ada seribu cara yang bisa dia pakai."Denyut jantung Saryna makin cepat. Dia menarik tangan Shelly, mengajaknya duduk di bangku panjang itu."Tapi dia nggak memaksa. Itu tandanya dia laki-laki sejati. Kamu itu …."Dia mau membujuk Shelly agar benar-benar mempertimbangkan untuk menjalani hidup bersama Jeffry. Tapi semakin banyak bicara, semakin besar risiko salah. Saryna menyadarinya saat menangkap tatapan Shelly yang menatapnya dengan kebingungan yang aneh.Saryna terpaksa mengalihkan topik. "Setelah sampai di Tavira, sempatkan mampir lihat Jessica. Bibi Yanti nggak ada. Entah anak-anak itu baik-baik saja atau nggak.""Iya, nanti aku telepon kamu waktu aku ke sana."Shelly duduk sambil bertanya, "Bagaimana keadaan Bibi Yanti se
Shelly menggeleng pelan. "Aku memang berencana mengalihkan saham itu ke kamu, tapi aku pikir harus menunggu momen yang tepat."Rencananya, saham itu akan melewati tangannya dulu, baru kemudian cari kesempatan untuk diserahkan ke Saryna.Siapa sangka, Jeffry langsung menyuruh Saryna menandatangani dokumen pengalihan saham itu sendiri. Ini justru menghemat satu langkah perantara yang tak perlu."Satu hari lebih lama berarti satu peluang lebih besar untuk meleset."Jeffry menyandarkan tangan di pegangan kereta bayi, lalu mengangkat kelopak matanya menatap Shelly. "Satu panah dua target. Tapi, ada satu hal yang masih kurang sempurna. Kamu mesti meninggalkan Kota Sentara dalam waktu 24 jam."Begitu Johan menyadari bahwa yang menandatangani perjanjian itu adalah Saryna, dia pasti akan langsung mencari Shelly.Meski belum tentu bisa berbuat apa-apa pada Shelly, kedatangannya saja sudah cukup untuk mengacaukan suasana hati Shelly."Meninggalkan Kota Sentara?" Suara Saryna tanpa sadar meninggi.
"Pak Johan, tehnya enak, bukan?" tanya Bibi Sari ramah."Memang.""Ini teh kesukaan Tuan Muda. Kalau Anda suka, nanti biar saya bungkus sedikit untuk Anda bawa pulang."Suara percakapan Bibi Sari dengan Johan mengalir dari ruang tamu.Shelly menekan rasa heran atas tingkah aneh Jeffry tadi, lalu menerima pena dari Kak Ratih dan menandatangani dokumen itu dengan cepat dan rapi.Setelah itu, Kak Ratih membawa perjanjian tersebut ke hadapan Johan."Sudah ditandatangani?" Nada Johan terdengar terkejut, disusul suara lembaran kertas yang dibolak-balik."Kalau Pak Johan sudah mendapatkan apa yang diinginkan, sebaiknya segera pamit. Sebentar lagi Tuan Muda dan Nyonya Muda masih ada urusan lain."Bibi Sari menjatuhkan kalimat pengusir itu dengan santai, seolah bukan orang yang sama yang baru saja mengobrol hangat dengan Johan beberapa menit lalu.Johan memeriksa dokumen itu berulang kali, memastikan Shelly benar-benar sudah menandatanganinya.Dia mencoba melirik ke arah ruang makan, tapi panda
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal
Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan







