MasukJeffry berjongkok di samping Shelly, mengangkat tangan dan menempelkan jarinya di bawah dagu perempuan itu, memaksanya menatap dia."Ingat." Shelly memiringkan kepala sedikit, menghindari tangannya. "Sekarang bilang."Ujung jari Jeffry tiba-tiba kehilangan pijakan, jatuh lunglai ke bawah."Aku sudah nggak ada yang mau dikatakan." Ujung lidahnya menekan pipi bagian dalam, tatapannya dalam dan tidak terbaca. "Tapi aku rasa, ada hal-hal tertentu, ada kata-kata tertentu yang seharusnya kamu katakan padaku. Sebelum kamu mengatakannya, aku nggak akan mengakhiri perjanjian ini lebih awal."Ada hal-hal tertentu, ada kata-kata tertentu, yang seharusnya dia katakan padanya?Jantung Shelly seperti melewatkan dua denyutan. Matanya yang hitam putih tegas itu berkedip, memancarkan cahaya yang tidak menentu."Aku ... aku nggak ada yang mau dikatakan padamu."Sudut bibir Jeffry sedikit terangkat. "Ada atau nggak, kamu lebih tahu dari aku. Aku kasih kamu waktu."Setelah berkata demikian, Jeffry bangkit
Jery sangat penurut, sepanjang perjalanan dia tidur terus.Jeffry membiarkan dia tengkurap di dadanya, menyelimutinya dengan selimut tipis, sementara tangannya memegang koran untuk dibaca.Beberapa kali Shelly mencoba mengambil Jery, tapi Jeffry selalu menolak.Semalam Shelly tidak tidur nyenyak, dan entah sudah berapa lama berlalu, dia pun akhirnya terlelap juga.Ketika dia membuka mata lagi, pesawat sudah mendarat.Jeffry baru saja berdiri dari kursinya, satu tangan menggendong Jery, satu tangan lagi menjinjing tas kerjanya."Kalau kamu masih nggak bangun, aku beneran nggak bisa turun dari pesawat ini."Shelly buru-buru menyingkirkan selimut tipis itu, merapikan pakaiannya lalu bangkit berdiri. "Kenapa kamu nggak bangunkan aku dari tadi?"Jeffry, "Semalam kurang tidur?"Sejak ada Jery, tidur Shelly memang jadi jauh lebih ringan.Dia kira, suara bising pesawat mendarat sudah cukup untuk membangunkan Shelly.Ternyata tidak."Sedikit," jawab Shelly.Jery pun sudah terbangun. Shelly meng
"Aku sudah putus kontrak dengan Grup Vantara," kata Shelly."Ha?!" Harrison menarik napas tajam. "Kalau kamu sudah putus kontrak, aku ribut-ribut demi siapa sekarang?"Dia bertengkar dengan Wirya justru karena kesal melihat ayahnya menjadikan Shelly sebagai alat, lalu menyerahkannya ke tangan Keluarga Gunawan."Harrison, terima kasih." Shelly berkata dengan sungguh-sungguh. "Kamu memang kadang menyebalkan, tapi kamu sudah banyak bantu aku. Semoga kamu baik-baik saja ke depannya."Harrison menghela napas panjang, nada suaranya tiba-tiba berubah berat. "Kamu lagi ngasih aku kartu orang baik, ya? Shelly, kamu tahu perasaan aku. Hari ini aku mau bilang terang-terangan, aku menerima Jery, aku mau jaga kalian berdua. Selama kamu nggak masih cinta sama Jeffry, percayalah padaku. Aku pasti bisa lindungi kamu. Jangan balik ke Jeffry!""Ini nggak ada hubungannya sama Jeffry. Soal perasaan nggak bisa dipaksakan, dan kamu pantas dapat yang lebih baik."Bahkan seandainya Harrison bukan putra Keluar
"Kalau kamu pulang, ibumu pasti ikut pulang juga. Yang aku khawatirkan, ibumu terlalu lembut hati dan malah membantu Keluarga Laurent."Vincent terbaring sakit tanpa bisa bangkit lagi. Keluarga Laurent kehilangan pemimpin, dan nama besar mereka tinggal kulit tanpa isi.Kabarnya, ibu Elora sudah nekad turun ke meja-meja perjamuan bisnis, mencoba membalikkan keadaan dengan sisa tenaga yang ada. Tapi semua orang menghindar darinya, bahkan sekadar bertemu pun tidak ada yang mau memberi kesempatan.Kalau Melly sampai menyaksikan sendiri betapa terpuruknya kondisi Marina, dengan segala tahun-tahun persahabatan yang pernah mereka jalani, sulit rasanya hati perempuan itu tidak tergerak."Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan," kata Jeffry."Kalau begitu, semoga perjalananmu kembali ke Tavira berjalan lancar dan selamat." Herman mengucapkannya dengan tulus.Shelly hendak kembali ke Tavira. Saryna mencekatnya seharian penuh, sudah makan malam masih mengajaknya ngemil lagi. Akhirnya Jeffry me
"Lalu bagaimana urusan pekerjaanmu?" tanya Saryna seperti baru teringat sesuatu. "Grup Vantara memberimu cuti panjang?""Nggak. Aku mengundurkan diri."Kalaupun bukan karena harus ikut Jeffry ke Tavira, Shelly memang sudah tak berniat bertahan di Grup Vantara lagi.Wirya sudah tidak bisa menoleransi keberadaannya di sana."Benar juga. Jery masih kecil. Kamu nggak usah buru-buru kerja. Barusan aku transfer satu miliar ke rekeningmu, pakai untuk keperluanmu."Saryna menepuk punggung tangannya. "Jangan sampai hemat-hemat memakainya. Dulu kita sudah sepakat, siapa pun yang punya uang harus menghidupi yang lain tanpa syarat. Lagipula ini uang Keluarga Gunawan, uang kita berdua, bukan cuma punyaku."Shelly menyahut, "Tapi ....""Berapa nilai saham Keluarga Gunawan? Kamu menyerahkannya padaku begitu saja tanpa ragu sedikit pun. Ini cuma satu miliar. Kalau kamu tolak, boleh. Aku juga akan tolak saham-saham itu.”Saryna melepaskan genggaman tangannya, lalu bangkit hendak menghampiri Jeffry. "Bi
"Nggak mungkin." Shelly spontan membantah, "Aku sudah baca perjanjiannya."Begitu kata-kata itu meluncur keluar, hatinya tiba-tiba seperti tersandung sesuatu.Dia seperti hilang ingatan. Ada baca atau tidak?”"Itu nggak penting. Intinya, kalau dia mau menahanmu, ada seribu cara yang bisa dia pakai."Denyut jantung Saryna makin cepat. Dia menarik tangan Shelly, mengajaknya duduk di bangku panjang itu."Tapi dia nggak memaksa. Itu tandanya dia laki-laki sejati. Kamu itu …."Dia mau membujuk Shelly agar benar-benar mempertimbangkan untuk menjalani hidup bersama Jeffry. Tapi semakin banyak bicara, semakin besar risiko salah. Saryna menyadarinya saat menangkap tatapan Shelly yang menatapnya dengan kebingungan yang aneh.Saryna terpaksa mengalihkan topik. "Setelah sampai di Tavira, sempatkan mampir lihat Jessica. Bibi Yanti nggak ada. Entah anak-anak itu baik-baik saja atau nggak.""Iya, nanti aku telepon kamu waktu aku ke sana."Shelly duduk sambil bertanya, "Bagaimana keadaan Bibi Yanti se
Di dalam aula.Ke mana pun Jeffry pergi, selalu ada orang-orang yang mengerumuninya.Dia sedang berbincang dengan beberapa senior di dunia bisnis, sementara orang lain terus datang silih berganti untuk menyapanya.“Kak Jeffry.”Elora berjalan mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengannya.Lengan
Langkah Shelly tiba-tiba terhenti. Napasnya tertahan, wajahnya perlahan menjadi serius.“Ada apa?” Maxwell bingung. “Bukannya kamu yang minta Pak Jeffry memindahkanmu kembali?”Shelly menggeleng.“Bukan. Aku datang untuk mengundurkan diri.”Maxwell langsung menarik napas tajam.“Mengundurkan diri? K
Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu....Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.Dalam
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb







