LOGIN“Katakan saja.” Shelly duduk di sampingnya.“Itu ….” Saryna memiringkan tubuhnya menghadap Shelly. “Kamu masih ingat penggemar yang aku ceritakan sebelumnya?”Shelly mengingat-ingat sebentar. “Orang yang sering menjadi penyumbang terbesar di siaran langsungmu?”Saryna, “Benar, itu. Dia bersikeras mau datang. Aku merasa kasihan padanya, jadi aku setuju untuk bertemu dengannya. Kami sepakat bertemu di rumah.”“Di rumah?” Shelly tertegun.Kalau situasi wanita itu memang benar-benar menyedihkan, cepat atau lambat Saryna pasti akan luluh dan bersedia bertemu dengannya. Hal ini sudah diduga Shelly.Namun, Saryna malah memilih rumah sebagai tempat pertemuan. Ini jelas di luar dugaan Shelly.“Benar. Aku merasa paling aman dengan mengajaknya bertemu di rumah. Sekalipun dia punya niat buruk, dia nggak akan bisa berbuat macam-macam kepadaku di wilayah kita.”Saryna menenangkan Shelly. “Tenang saja. Aku sudah menyelidikinya. Dia bukan orang jahat. Kalau nggak, aku juga nggak mungkin membawanya ke
Setelah Harrison pergi beberapa menit yang lalu, orang yang tersisa di ruang tamu hanya Jeffry dan Saryna.Jeffry duduk di sudut sofa. Sosoknya yang tinggi dan tegap bersandar santai di sofa yang empuk.Sesekali dia mengangkat kelopak matanya sedikit, melirik ke arah kamar bayi Jery.“Jeffry, apa kamu punya waktu untuk bicara sebentar di balkon?”Setiap kali bertemu Jeffry, Saryna selalu memasang muka masam.Ini pertama kalinya dia berbicara kepada Jeffry dengan nada tenang dan serius.Jeffry tampak acuh tak acuh. “Kalau ada yang mau dikatakan, katakan langsung saja.”“Ini tentang Shelly. Aku mau membicarakannya berdua denganmu.” Saryna berdiri. “Ini juga berkaitan dengan Keluarga Gunawan.”Mendengar itu, tatapan Jeffry seketika menjadi tajam.Keduanya pun pergi ke balkon. Saryna mengunci pintu balkon dari luar.“Seberapa banyak yang kamu tahu tentang masalah Keluarga Gunawan?” Saryna bersandar di pagar balkon sambil menatap Jeffry dengan wajah serius. “Sebenarnya Lyly berada dalam sit
Meskipun Saryna sudah berusaha menghidupkan suasana, atmosfer di meja makan tetap tidak terlalu hangat.Makan bersama itu berlangsung kacau.Setelah makan, Shelly memanfaatkan alasan bahwa bagian pusar Jery sedikit mengeluarkan cairan bercampur darah, lalu meminta Herman pergi ke kamar bayi untuk melihatnya.Herman mengikutinya ke kamar bayi.“Nggak masalah kok. Kamu harus jaga agar tetap kering. Sepertinya kulitnya cukup sensitif, jadi pemulihan tali pusarnya agak lambat.”Herman menoleh dan bertanya, “Ada povidone-iodine? Aku bantu mengobatinya sekarang.”“Ada.” Shelly mengambil kapas batang dan povidone-iodine dari nakas.“Sepertinya kamu sudah mengoleskan obat untuknya.”Herman meliriknya dan langsung membongkar alasan Shelly memanggilnya ke sini. Alasan itu sudah tidak berlaku.Shelly mengambil sebatang kapas dan menyerahkannya kepadanya.“Dokter Herman, aku ingin tahu apa yang terjadi pada hari aku menjalani operasi. Apakah ada seseorang yang masuk ke ruang operasi?”“Apa yang ka
Semakin terburu-buru Shelly, semakin kacau gerakan tangannya.Setelah beberapa saat, akhirnya dia berhasil mengancingkan pakaiannya. Dia berbalik dan hendak menghampiri Jery untuk menggendongnya.Namun, Jeffry sedang duduk di sana sambil menggendong Jery. Pemandangan itu begitu mengejutkan.Pria yang biasanya begitu dingin dan tidak berperasaan itu mengenakan kemeja putih. Tangan dengan buku-buku jari yang tegas menopang tubuh kecil Jery dengan begitu lembut.Ketegasan dan kelembutan berpadu menjadi satu. Kontras yang begitu kuat memberikan dampak visual yang membuat Shelly sejenak menyadari bahwa pria yang begitu angkuh ini ternyata memiliki sisi yang begitu berbeda.Dia belum pernah melihatnya sebelumnya, bahkan tidak pernah membayangkannya.“Di mana orangnya?”Dari luar terdengar suara langkah kaki yang berantakan.Harrison datang mengikuti suara itu. Saat berdiri di pintu dan melihat Jeffry sedang menggendong anak, wajahnya langsung berubah muram.“Jeffry, ini bukan rumahmu. Kenapa
Jeffry menyandarkan sikunya pada sandaran sofa, tubuhnya sedikit condong.Sosoknya yang tegap dan tinggi memancarkan aura maskulin yang sulit disembunyikan di sekelilingnya.“Nggak perlu. Jasa ini biar Shelly sendiri yang membalasnya.”Harrison masih bisa menyindir Jeffry dengan kata-kata yang samar.Namun, kalau dibicarakan dengan serius, dia memang tidak berhak mewakili Shelly untuk membalas jasa itu.Seketika berada di posisi yang lebih rendah, tetapi dia tidak bisa membantah.“Harrison, apa keluargamu punya bisnis di Kota Sentara?”Herman membuka suara, memecah ketegangan tidak kasatmata di antara keduanya.Harrison menggeleng. “Nggak.”“Kalau begitu, untuk apa kamu datang ke Kota Sentara? Dan kapan kamu berencana kembali?” Herman kembali bertanya.Harrison tiba-tiba tersenyum dan melirik ke arah kamar bayi. “Datang untuk melihat Shelly. Kapan aku pulang, tergantung kapan keadaan di sini sudah lebih tenang.”Perkataan itu bisa dibilang sangat ambigu.Sejak dia merekrut Shelly ke Gr
Harrison terdiam.“Kenapa? Tadi kamu bilang ingin menikahi Shelly, itu bohong?”Senyum tipis Saryna menyiratkan sedikit penyelidikan. “Harrison, seberapa besar tanggung jawab yang sanggup kamu tanggung demi Shelly?”Harrison mengalihkan pandangannya, tidak lagi menatap mata Saryna. “Bukan bohong.”Hanya saja, dia tidak menjawab kalimat setelahnya.“Lyly layak mendapatkannya. Dia hanya salah mencintai orang, tetapi dirinya sendiri sangat luar biasa. Harrison, kalau kamu nggak bisa memberinya masa depan, menjauhlah darinya.”Setelah berkata demikian, Saryna menggendong Nana dan masuk ke dapur untuk membantu Kak Ratih.Perasaan Harrison menjadi rumit.Dia bukan mempermasalahkan bahwa Shelly pernah menikah dengan Jeffry.Bagaimanapun, Shelly bahkan sudah melahirkan anak Jeffry. Dia sudah bukan perempuan yang belum pernah menikah, jadi tidak perlu mempermasalahkan selembar surat pernikahan di masa lalu.Hanya saja, mereka pernah menikah. Itu membuktikan bahwa perasaan Shelly kepada Jeffry b
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal
Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan







