FAZER LOGINShelly melanjutkan penjelasannya dengan jujur, "Aku juga sudah menandatangani surat perjanjian kerahasiaan perusahaan secara resmi. Semua rahasia dagang milik Grup Dominion nggak akan pernah aku bocorkan sedikit pun kepada pihak luar.""Bagaimana jika aku tetap bersikeras nggak mengizinkanmu pergi bekerja di Grup Vantara?" Percikan amarah di kedalaman mata hitam Jeffry perlahan-lahan mulai menyala terang.Sorot pandangan matanya terlalu dalam dan menekan, setiap kali pandangan mata mereka beradu secara langsung, hati Shelly selalu merasa gentar dan gelisah tanpa alasan yang jelas. Karena itulah sedari tadi dia memilih untuk tidak menatap wajah pria itu, dan dengan sendirinya tidak menyadari gejolak emosi yang sedang berkecamuk hebat di balik manik matanya yang kelam."Keputusanku untuk mengundurkan diri dari Grup Dominion dan menerima tawaran Grup Vantara adalah hal yang sudah aku pastikan sejak lama sekali. Kenapa baru sekarang kamu menyatakan nggak setuju?""Dulu statusmu hanyalah se
Satu jam kemudian, empat macam hidangan dan semangkuk besar sup hangat sudah tersaji rapi di atas meja makan.Shelly dan Jeffry duduk berhadapan di kedua ujung meja yang panjang itu, sementara kereta tempat Jery berbaring berada tepat di antara mereka berdua.Jeffry menuangkan sup hangat ke dalam mangkuk, menarik kursi lalu duduk dengan santai. Dia baru saja merapikan lengan kemejanya dan belum sempat meraih sumpitnya, ketika tiba-tiba selembar kertas putih disodorkan ke hadapannya.Tulisan tangan di atas kertas itu sangat dia kenal, guratan tulisan tangan Shelly yang rapi dan tegas.Mulai dari biaya pembelian susu formula kalengan, popok sekali pakai, aneka mainan bayi, hingga rincian makanan harian yang dikonversi ke dalam nominal uang dan di bagian paling bawah tertera angka total keseluruhan pengeluaran itu."Ini rincian uang yang kamu keluarkan untuk membeli kebutuhan Jery selama beberapa waktu ini, termasuk biaya makanku di sini. Coba periksa dulu. Kalau nggak ada yang keliru, na
Shelly merapikan semua barang bawaannya, lalu menenteng tas kombinasi birunya melangkah keluar. Jeffry mendorong kereta bayi, berjalan berdampingan di sisinya."Pak Rendy," sapa Jeffry sambil mengangguk singkat."Pak Jeffry," balas Rendy dengan anggukan kepala.Shelly juga sempat menghentikan langkahnya sejenak. "Sampai jumpa, Pak Rendy. Hati-hati di jalan."Setelah itu dia menuruni undakan lebih dulu. Ketika melintas tepat di samping mobil Keluarga Gunawan, langkah kakinya sempat tertahan sebentar. Dari dalam kabin, sayup-sayup terdengar suara Diana yang masih mengomel tanpa henti.Langkah kaki Shelly kembali berayun normal, melangkah lurus tanpa menoleh ke belakang lagi.Rendy menatap bayangan punggung keduanya yang perlahan menjauh, lalu terdiam dalam kebisuan yang cukup lama.Hubungan di antara Shelly dan Jeffry ….Bahkan jika Shelly tidak menggunakan cara sembunyi-sembunyi seperti ini, dia memiliki banyak sekali cara untuk bisa menemui Saryna. Tetapi dia sengaja memilih cara yang
Raut wajah Saryna seketika berubah masam. Secara refleks dia melangkah maju, berdiri melindungi di depan Shelly."Nana, sini."Diana melambaikan tangan ke arah Saryna.Saryna menoleh ke belakang, menatap Shelly dengan cemas. "Aku duluan ya, kamu pergi saja.""Iya." Shelly mengangguk pelan. Menghadapi tatapan Rendy dan Diana, di dasar hatinya selalu ada rasa tidak berdaya yang perlahan mengalir naik."Kalian masuklah ke dalam mobil lebih dulu."Rendy memberi isyarat kepada Diana untuk membawa Saryna dan Nana masuk ke dalam kendaraan.Pria itu melangkah menaiki undakan, lalu melirik ke arah Herman. "Herman, kamu yang mengusulkan untuk datang ke padang berkuda ini, apa ini …. teman yang kamu bawa?"Saryna yang sudah menggendong Nana dan hampir mencapai pintu mobil, berbalik hendak melangkah kembali. "Bukan begitu, Ayah ….""Nana, masuk." Diana menarik lengan Saryna dengan tegas. "Kamu ini, selalu saja membuat orang tua cemas."Saryna dipaksa masuk ke dalam mobil."Maaf, Paman ….""Pak Ren
Shelly menggeser layar ponselnya, mengangkat panggilan itu sambil melangkah keluar dari ruang teh."Kamu buru-buru sekali mau kembali bekerja untuk apa? Ceritakan padaku, apa Jeffry menyulitkanmu? Atau dia sudah mengetahui asal-usul Jery?"Suara Harrison yang heboh langsung terdengar dari ujung telepon.Shelly berdiri di luar jendela ruang teh, mengecilkan suaranya. "Tidak ada hal seperti itu, aku murni ingin bekerja saja.""Hah?" Drama besar yang sudah dibayangkan Harrison tentang Jeffry menyiksa Shelly mendadak terhenti begitu saja.Dia menenangkan diri sejenak, lalu meredakan suaranya. "Perusahaan sudah aku beri tahu, posisimu masih aman disimpan. Tidak perlu buru-buru kembali, Jery masih sangat kecil.""Aku ingin kembali kerja lebih awal," tegas Shelly. "Bantu aku mengajukan sistem kerja setengah hari dari rumah, dan kalau bisa, tolong carikan satu kamar di asrama karyawan."Royal Haven Residence terlalu jauh dari Grup Vantara, tidak praktis jika dia harus bolak-balik ke sana setia
"Laki-laki biasa saja belum tentu mau menggantikan popok anaknya sendiri."Saryna menyilangkan tangan, memperhatikan Jeffry dari kejauhan. "Dia adalah laki-laki yang berdiri di puncak. Sekali dia mengentakkan kaki, seluruh dunia bisnis bisa bergetar. Sepasang tangan itu semestinya digunakan untuk menandatangani kontrak bernilai triliunan, bukan untuk menggantikan popok bayi!"Dia berbicara sambil berdecak kagum berkali-kali."Dia …." Shelly refleks ingin menjelaskan sesuatu.Baru buka mulut, dia bingung harus mulai dari mana."Dia lumayan baik, ‘kan? Kamu nggak mau terus terang ke dia saja?" Mata Saryna berputar sedikit, lalu dia menarik napas untuk menutupi rasa canggung yang tiba-tiba muncul. "Menurutku kalian lumayan cocok."Shelly, “???”Dulu waktu dia ingin bercerai, Saryna yang paling bersemangat mendukungnya, yang selalu mencaci bahwa Jeffry tak berperikemanusiaan, selalu menegaskan bahwa hubungan tanpa perasaan tidak perlu dipertahankan. Di mana Saryna yang dulu itu?"Aku cuma
Langkah Shelly tiba-tiba terhenti. Napasnya tertahan, wajahnya perlahan menjadi serius.“Ada apa?” Maxwell bingung. “Bukannya kamu yang minta Pak Jeffry memindahkanmu kembali?”Shelly menggeleng.“Bukan. Aku datang untuk mengundurkan diri.”Maxwell langsung menarik napas tajam.“Mengundurkan diri? K
Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu....Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.Dalam
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su







