LOGIN"Semalam dia rewel hampir sepanjang malam, tadi pagi-pagi sekali juga sudah bangun dan hampir nggak makan apa-apa. Ini baru saja tertidur sebentar, kemungkinan masih bakal tidur agak lama," bisik Agnes seraya merendahkan suaranya.Shelly melangkah mendekat, merapikan selimut Nana, lalu menepuk-nepuk lembut punggung bocah itu."Nana, anak pintar, Ibu Angkat ada di sini. Jangan menangis."Isakan lirih Nana perlahan reda. Kerutan di kening kecilnya pun ikut mengendur.Agnes masih berdiri di sana. Setelah terdiam sejenak, dia berucap, "Pemungutan suara besok sangat penting. Kemampuanmu jauh melampaui Saryna, peluangmu untuk membalikkan keadaan sangat besar. Ayahmu juga sudah menghubungi beberapa pihak secara diam-diam. Asal kamu bisa merebut kembali hak waris Keluarga Gunawan, dia akan melepaskan Nana. Aku rasa pihak Diana juga akan merelakan hak waris itu.""Aku paham. Kamu keluar saja." Shelly sama sekali tidak menatapnya.Agnes sempat mematung sejenak sebelum akhirnya melangkah keluar d
"Lalu Bu Shelly? Dan Jery?"Maxwell baru tersadar, Johan membawa Nana pergi semata-mata untuk menekan Shelly."Dia sudah kembali ke rumah keluarga Gunawan," jawab Jeffry singkat. "Jery ikut aku.""Aku … aku langsung temui Rendy sekarang. Pastikan dia nggak bikin masalah lagi!"Maxwell menutup telepon dan langsung bergegas mencari Rendy.…Sementara itu, di dalam mobil yang melaju pulang, Rendy duduk di belakang kemudi dengan Diana di kursi penumpang. Kabin mobil membisu seperti kubur, Rendy menatap lurus ke depan, Diana membuang pandang ke jendela, tidak satu kata pun terucap sepanjang jalan.Sesampainya di depan rumah, Maxwell sudah berdiri menunggu di pintu. Rendy menyuruh Diana masuk duluan.Setelah Diana menghilang ke dalam, Rendy melangkah mendekat dengan kepala tertunduk."Pasti Pak Jeffry yang suruh kamu ke sini."Maxwell mengangguk pelan. "Pak Rendy, di momen sepenting ini kita nggak boleh sampai tersandung."Kemenangan sudah di depan mata. Johan sudah kehilangan harapan untuk
Shelly melirik jam di tangannya, sudah lewat pukul 15.00. Sejak Nana jatuh ke tangan Johan, sudah satu hari satu malam berlalu.Dia seorang ibu. Dia paham betul perasaan Saryna sekarang. Kesabaran itu sudah lama habis terkikis."Sebelumnya kami …." Diana refleks mau berkata sesuatu.Shelly memotongnya lagi, "Pulang dulu. Jangan biarkan Saryna menunggu terlalu lama."Rendy berdiri, menarik Diana yang masih mau bicara, lalu mengangguk singkat. "Terima kasih."Dua kata itu meluncur berat dari mulutnya, sebelum dia melangkah cepat keluar.Shelly berdiri sendirian di ruang tamu, entah sudah berapa lama. Keningnya makin berkerut, rasa terdesak itu makin menghimpit dadanya, sampai akhirnya dia terpaksa mengangkat kaki, naik ke lantai atas.Baru saja melewati tikungan di lantai 2, matanya langsung menangkap sosok Jeffry yang berdiri di sudut tangga.Shelly mendongak menatapnya. Bibirnya bergerak pelan, tapi suaranya tidak keluar. Dia nggak tahu harus mulai dari mana."Aku dengar semuanya." Jef
Shelly yang membuka pintu. Dua orang di luar sana terpaku begitu melihatnya, sudut bibir mereka sama-sama bergetar, tapi tidak satu kata pun yang keluar."Silakan masuk." Shelly tidak tahu harus memanggil mereka apa. Dia membuka pintu selebar-lebarnya, mempersilakan mereka masuk.Mereka masuk ke dalam vila. Pasangan suami istri Keluarga Gunawan itu duduk di sofa, sementara Shelly menyeduh teh di meja kecil. Keheningan yang mati menggantung di antara mereka, sampai akhirnya Rendy yang lebih dulu membuka suara."Kami datang hari ini karena Saryna dan Nana."Tangan Shelly yang sedang menuang teh tiba-tiba berhenti. "Mereka kenapa?""Kemarin adalah hari Saryna resmi masuk silsilah keluarga, dicatatkan dalam buku marga. Kami membawa dia dan Nana pulang ke rumah leluhur. Keluarga Gunawan ada ratusan orang, ramai sekali, dan baru sebentar saja kami mengalihkan pandangan ... Nana hilang."Wajah Rendy yang biasanya tampan dan tenang perlahan-lahan dirayapi rasa malu dan sesal yang tidak bisa di
Semua itu bermula dari ayah Johan, lelaki yang menikahi ibu Johan semata-mata demi harta Keluarga Gunawan.Sejak Johan lahir, sang ayah sudah menanamkan satu obsesi ke dalam benaknya: kuasai seluruh warisan Keluarga Gunawan, lalu kembalikan marga ke nama aslinya, Sunjaya. Dengan begitu, Keluarga Sunjaya akan bangkit dari keterpurukan!Dua generasi berkorban, dua generasi bersiasat. Kalau hasilnya bisa mendongkrak Keluarga Sunjaya ke puncak dalam sekali lompatan, semua itu sepadan!Berbagai bisikan itu sama sekali tidak menggoyahkan Johan.Yang membuatnya gelisah hingga bolak-balik tidak bisa tidur adalah hal lain. Rendy baru saja menggelar rapat dewan keluarga untuk membahas pembagian warisan. Rapat resminya tinggal 3 hari lagi.Johan sudah menyelidiki. Sebagian besar anggota Keluarga Gunawan berpihak pada Rendy, karena Rendy berhasil menemukan putrinya yang hilang bertahun-tahun lamanya.Artinya, warisan itu pada akhirnya akan jatuh ke tangan Saryna.Itu tidak akan pernah dia izinkan
"Ayo makan," kata Jeffry.Dia melepaskan pegangan kereta bayi Jery, mengambil sendok, lalu menyendok beberapa lauk ke piring Shelly.Ruang makan sunyi senyap. Sinar matahari sore menyeruak hangat ke dalam ruangan, sementara Jery di dalam kereta bayinya tidur dengan nyenyak.Namun hati Shelly yang tadinya tenang seperti permukaan danau. kini seperti dilempar batu. Riak demi riak mengembang dari dadanya, menjalar ke mana-mana, tidak mau berhenti."Aku ingat," ucapnya pelan. "Kamu bilang setelah urusan Keluarga Gunawan beres, ada yang mau kamu sampaikan padaku. Ini yang kamu maksud?"Jari-jarinya mencengkeram sendok lebih erat.Dia selalu merasa ada lapisan tipis yang memisahkan mereka, seperti selembar kertas jendela yang sudah Jeffry robek dari sisinya, tapi dari sisinya sendiri, dia masih buta sama sekali.Dia melirik Jery. Hatinya bergetar kecil."Ah, aku cuma ngomong sembarangan. Kalau aku mau ketemu kamu, memangnya ada urusan apa lagi."Nada Jeffry terdengar aneh, sedikit dipaksakan
Setiap kali bertemu di acara seperti ini, Harrison selalu mencari masalah dengan Jeffry.Namun karena dia bukan saingan Jeffry, dia pun memilih cara lain, yaitu mempersulit orang-orang di sekitar Jeffry.Salah satunya … Shelly.Shelly berbalik dan mengganti arah, berniat keluar lewat pintu belakang.
Di dalam aula.Ke mana pun Jeffry pergi, selalu ada orang-orang yang mengerumuninya.Dia sedang berbincang dengan beberapa senior di dunia bisnis, sementara orang lain terus datang silih berganti untuk menyapanya.“Kak Jeffry.”Elora berjalan mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengannya.Lengan
Langkah Shelly tiba-tiba terhenti. Napasnya tertahan, wajahnya perlahan menjadi serius.“Ada apa?” Maxwell bingung. “Bukannya kamu yang minta Pak Jeffry memindahkanmu kembali?”Shelly menggeleng.“Bukan. Aku datang untuk mengundurkan diri.”Maxwell langsung menarik napas tajam.“Mengundurkan diri? K
Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu....Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.Dalam







