Share

Bab 150

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-08-15 14:35:44

Ihsan sempat bengong menatap Eca, sebelum pandangannya perlahan turun ke kedua kakinya yang telanjang.

Beberapa detik kemudian, barulah sepertinya ia sadar apa yang hilang dari pinggangnya. Ihsan mengangkat wajah lagi sambil terkekeh kecil.

Eca sendiri sudah menggigit bibir kuat-kuat, berusaha menahan tawa, meski pada akhirnya tetap meledak.

Suaminya itu buru-buru mengambil sarung yang terjatuh, lalu melilitkannya kembali di pinggang.

“Gara-gara Neng ngegodain saya tadi, jadi sarungnya lepas,”
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ummi Syahrul
belum update mbak
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
akang ican dan neng Eca sudah tampak aura calon kades nya ya..?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 151

    Ceklek!Eca buru-buru bangkit dari tidurnya begitu mendengar bunyi pintu dibuka. Ponsel yang sejak tadi berada di tangannya langsung ia letakkan di meja.Ihsan akhirnya pulang.“Gimana, Kang?” tanyanya begitu pria itu berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya.Sejak tadi Eca memang hanya menunggu di rumah. Ia sempat ingin ikut ke pos ronda, tetapi Ihsan melarangnya karena malam sudah mulai larut. Akhirnya, ia hanya bisa menunggu sambil menyalakan televisi, meski tak satu pun acara yang benar-benar ia perhatikan.Ihsan mengembuskan napas panjang, sebelum akhirnya bersandar pada sandaran sofa.“Dilepas,” jawabnya santai.Eca langsung mengernyit. Bukannya tadi warga pada kekeh mau ngasih pelajaran buat dia?“Hah? Apa semudah itu, Kang?” tanya Eca, nyaris tak percaya.Kali ini Ihsan menoleh padanya dengan tatapan serius. “Dia belum sempat mengambil apa-apa, Neng.”Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Setelah ditanya-tanya, ternyata dia juga bukan orang yang selama ini dicari warga.”

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 150

    Ihsan sempat bengong menatap Eca, sebelum pandangannya perlahan turun ke kedua kakinya yang telanjang.Beberapa detik kemudian, barulah sepertinya ia sadar apa yang hilang dari pinggangnya. Ihsan mengangkat wajah lagi sambil terkekeh kecil.Eca sendiri sudah menggigit bibir kuat-kuat, berusaha menahan tawa, meski pada akhirnya tetap meledak.Suaminya itu buru-buru mengambil sarung yang terjatuh, lalu melilitkannya kembali di pinggang.“Gara-gara Neng ngegodain saya tadi, jadi sarungnya lepas,” gerutunya.“Lah, itu sarungnya Akang. Kenapa malah nyalahin aku?” balas Eca tak kalah ketus.Ihsan tak menjawab. Ia hanya berbalik dan menuruni anak tangga dengan langkah tergesa.“Neng, kalau mau ikut, hati-hati turun tangganya!” teriaknya. Suaranya menggema sampai ke lantai dua rumah mereka..“Iya,” jawab Eca sambil tersenyum kecil, lalu menyusul.Sejak kecelakaan kemarin, Ihsan memang jadi semakin cerewet kalau menyangkut keselamatannya.Teriakan warga terdengar semakin jelas ketika Eca akhir

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 149

    Ihsan terkekeh kecil sambil menggaruk tengkuknya mendengar pertanyaan istrinya itu. Gelagat sang suami justru membuat Eca semakin yakin bahwa dugaannya tidak sepenuhnya salah.Tetapi, istri mana yang nggak senang kalau suaminya sampai berinisiatif memberinya sesuatu seperti ini?“Harusnya Akang nggak usah sampai repot-repot,” ujar Eca. “Tanpa dikasi ini pun aku udah maafin Akang, kok.”“Nggak repot, Neng.” Senyum Ihsan melebar. “Saya memang sudah niat mau ngasih Neng.”“Benar begitu?” Eca masih kurang yakin.Sebuah anggukan diberikan Ihsan sebagai jawaban. “Neng terima, ya,” lanjutnya seraya meraih gelang tersebut dari dalam kotaknya.Tangannya menggenggam pergelangan Eca dengan hati-hati sebelum memasangkan gelang itu. Setelah pengaitnya terpasang, Eca langsung mengangkat tangannya, memandangi gelang yang kini melingkar di pergelangan tangannya.“Neng suka?”Eca mengangguk berkali-kali. “Suka banget.”Ia memiringkan pergelangan tangannya ke kanan dan kiri, memperhatikan bagaimana cah

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 148

    Selesai makan malam dan membereskan dapur, keduanya pindah ke ruang tengah. Televisi di depan mereka menyala, tetapi hanya menjadi pengisi suara di ruangan itu.Eca duduk menyandar di dada Ihsan sambil menggulir layar ponselnya. Sesekali, tangannya meraih potongan rengginang yang dibawa mertuanya kemarin. Kedua kakinya selonjor di atas sofa, sementara Ihsan tetap membaca buku dengan tenang. Sesekali, pria itu menunduk hanya untuk mengecup pucuk kepala istrinya.Meski terlihat sibuk dengan ponselnya, Eca bisa merasakan dada Ihsan yang naik turun dengan tenang di belakang tubuhnya. Detak jantung pria itu juga terdengar samar di telinganya.Jauh berbeda dengan siang tadi.Keheningan yang justru terasa nyaman itu bertahan beberapa saat, sampai akhirnya suara Ihsan terdengar pelan di atas kepala Eca.“Neng ….”“Hm.” Eca mendongak sebentar. “Apa, Kang?”“Jangan marah lagi sama saya, ya.”Gerakan jempol Eca di layar ponsel langsung berhenti.“Tadi sudah dibilang aku udah maafin Akang,” balas

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 147

    Eca berkedip beberapa kali. Otaknya seperti mendadak loading, membuatnya hanya bisa menatap Bi Lastri dengan wajah kosong.Bi Lastri mendekat sedikit. Suaranya dipelankan, tetapi senyum di bibirnya justru semakin lebar.“Mun sudah keramas mah, berarti beres atuh urusannya.”Eca masih mengernyit.Sampai akhirnya Bi Lastri berdeham kecil sebelum menambahkan dengan nada yang penuh maksud.“Biasana mah kalau laki bini berantem, beresna di ranjang.”Mata Eca langsung membulat.Oh. Baru sekarang ia menangkap kalau sedari tadi arah pembicaraan tetangganya itu mengarah kesana.Ia buru-buru menggigit bibir, tetapi percuma saja. Sudut bibirnya sudah telanjur terangkat.“Bibi!”Bi Lastri malah terkekeh pelan. “Naon? Bener begitu, nya?”“Bibi ah, nggak usah dibahas.”Hawa panas seketika saja menjalar ke pipi hingga ke telinga Eca. Tangannya bahkan buru-buru menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal, sekadar mengusir sedikit rasa gugupnya.Ia menunduk sebentar, berharap Bi Lastri tidak meliha

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 146

    “Tapi saya mohon maafkan saya sekali ini, Neng.” Kali ini suara Ihsan benar-benar pecah.Eca hanya mampu terdiam, meski melihat bahu pria itu bergerak kecil sekali atau dua kali, lalu kembali bergetar hebat, lebih jelas dari sebelumnya.Ihsan sempat mengangkat tangan yang satunya ke wajah, tetapi beberapa detik kemudian menurunkannya lagi. Seolah percuma menyembunyikan sesuatu yang sudah telanjur jatuh di hadapan Eca.Tarikan napasnya terdengar patah-patah. Kemudian, satu tetes air jatuh tepat di punggung tangan Eca.Dada Eca seketika terasa sesak melihatnya.Selama ini, Ihsan selalu punya cara untuk membuatnya kesal. Entah lewat senyum menyebalkannya, candaan yang kelewat santai, atau sikapnya yang kadang membuat Eca ingin menjitak kepala pria itu, tetapi Ihsan juga selalu punya cara menenangkannya di saat yang bersamaan.Namun, sekarang, pria itu bahkan seperti tidak sanggup mengangkat wajah di hadapannya.Dahinya just

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 52

    Kini giliran Eca yang benar-benar menatap Ihsan dengan penuh keheranan.Pertanyaan macam apa itu?Bukankah sejak awal memang itu salah satu alasan mereka memutuskan menikah?Selain mempertahankan rumah, juga untuk memperbaiki citra Ihsan saat pencalonan kepala desa. Kesepakatan mereka jelas berhubu

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 49

    “Aa Ican?” panggil suara itu lagi. “Mana atuh kunci motorna? Katanya baju Teh Eca rek dijemput.”Eca langsung melotot ke arah Ihsan yang tampak hendak bangkit.“Jangan buka pintu!” bisiknya galak sambil masih berusaha menutupi tubuh seadanya.Ihsan menahan napas sejenak, lalu mengangguk kecil tanpa

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 41

    Eca mematung sejenak, mengingat kembali aktivitasnya sebelum ini. Otaknya seperti mundur beberapa menit ke belakang. Tadi … setelah membersihkan wajahnya, ia memang melepas kebaya. Termasuk … yang di dalamnya. Semua diletakkan di kasur begitu saja, karena pikirnya ia hanya akan sebentar ke kam

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 40

    Ketiga temannya itu masih tampak kesal, sesekali melirik ke arah ibu-ibu yang belum juga berhenti mengobrol tanpa tahu tempat.Andai tak dihalangi Eca, mereka pasti sudah berdiri dan melabrak ibu-ibu itu. Untungnya, Eca berhasil menenangkan sampai akhirnya mereka pamit pulang.D

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status