Masuk
“Kamu hanya pembawa sial! Sejak kamu datang ke hidup anak saya, nasibnya jadi begini!”
Eca tersentak ketika kalimat tajam itu tiba-tiba terlintas kembali di kepalanya. Tangannya yang sejak tadi mengelap sofa ruang tengah langsung terhenti, kain lap itu menggantung kaku di ujung jemarinya. Seharusnya, minggu ini ia sudah jadi pengantin. Namun, rencana tetaplah rencana. Satu minggu sebelum pernikahan, calon suaminya justru mengalami kecelakaan yang menyebabkan tulang kakinya patah. Eca sebenarnya bersedia menerima keadaan itu, bahkan dalam hati ia sudah berjanji akan merawat pria itu sampai benar-benar pulih. Sayangnya, keluarga calon suaminya justru menganggap semua musibah itu terjadi karena Eca membawa kesialan. Lebih menyakitkan lagi, pria yang sudah tiga tahun bersamanya hanya diam saat Eca dimaki-maki. Tak satu pun kalimat keluar dari mulutnya untuk sekadar membela, seolah hubungan mereka tak pernah berarti apa-apa. Pada akhirnya, Eca menyerah. Ia sadar, tak lagi punya tempat di hati pria itu, apalagi di keluarganya. Eca memilih mundur dan pulang ke desa, berharap hidupnya perlahan bisa melupakan kejadian menyakitkan itu. Untuk apa juga bertahan sama orang yang sudah tidak mengharapkannya? Eca mengembuskan napas panjang, lalu kembali menepuk-nepuk permukaan sofa. Debu tipis beterbangan sebelum jatuh ke lantai yang belum disapu. Setelah itu, ia mengambil sapu dan mulai membersihkan lantai sampai teras. Rumah ini memang sudah lama kosong, jadi hampir semua sudutnya dipenuhi debu dan bau lembab samar yang menyambutnya sejak ia tiba kemarin. Di depan rumah, beberapa ibu-ibu sudah berkumpul di sekitar gerobak sayur yang baru datang. Pedagang sayur itu sesekali meneriakkan dagangannya dengan suara lantang. “Ikan asin! Kangkung! Tomat murah!” Plastik kresek berkeresek saat ibu-ibu sibuk memilih sayur di atas gerobak, sesekali juga terdengar suara tawar menawar yang tak kalah lantang. Ayam milik tetangga berkokok dari halaman sebelah, seakan ikut meramaikan suasana pagi. “Eh, Neng Eca, kapan datang?” Salah satu Ibu menoleh ke arahnya. Namanya Bi Lastri. Ia berdiri di dekat pagar rumah Eca yang sudah mulai keropos dimakan usia. Walau sudah lama meninggalkan desa, Eca tentu masih hafal nama-nama tetangganya di sini. “Baru kemarin, Bi.” “Oh, mau berapa lama nginapnya, Neng?” tanya Bi Lastri sambil berjalan ke arah gerobak sayur yang tak jauh dari sana. Eca mengerutkan kening sedikit. “Aku udah mutusin buat tinggal di sini, Bibi. Ngerawat rumah peninggalan Bapak.” Beberapa ibu-ibu langsung saling melirik. Bi Lastri sendiri terlihat ragu-ragu, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya berkata, “Lah … katanya rumahmu kena daftar penggusuran. Neng Eca belum tahu, ya?” Sapu di tangan Eca langsung berhenti bergerak. Pandangannya beralih ke rombongan ibu-ibu yang masih sibuk berbelanja, sesekali berbisik satu sama lain. ”Gimana maksudnya, Bi?” “Di desa ini mau ada proyek desa wisata,” jelas Bi Lastri. “Jalan mau diperlebar, Neng. Rumah yang dipinggir jalan banyak yang kena.” Salah satu ibu lain langsung menyela dari dekat gerobak. “Katanya sih ada dana ganti rugi buat rumah yang kena.” Mendengar itu, Bi Lastri buru-buru menimpali, “Tapi Neng Eca mah susah ….” Ia menatap rumah itu sebentar. “Rumahnya sudah lama kosong. Takutnya dianggap sudah bukan warga tetap.” Perasaan lega yang sempat muncul di dada Eca seketika mengendur lagi. Baru satu hari ia kembali, dan rumah satu-satunya yang ia miliki sudah terancam hilang. Sial sekali hidupnya. “Tapi, coba Neng temuin Juragan Dasim,” kata Bi Lastri lagi, seolah baru teringat sesuatu. “Juragan Dasim?” “Iya.” Bi Lastri mengangguk kecil. “Sekarang urusan desa lewat dia. Proyek wisata ini juga dia yang memutuskan.” Ia menatap Eca sebentar, sebelum menambahkan dengan suara pelan. “Dia pasti bisa bantu … tapi biasanya ada syaratnya.” Eca terdiam. Tangannya tanpa sadar menggenggam sapu sedikit lebih erat. Ia tahu betul siapa Juragan Dasim. Di desa ini, hampir tidak ada orang yang tidak mengenalnya. Pria kaya raya, disegani, dan nyaris tidak pernah ada yang berani membantah keputusannya. Dan, sekarang rumahnya yang dipertaruhkan. Mau tidak mau, Eca harus berhadapan langsung dengan pria itu. “Apa pun itu syaratnya,” katanya akhirnya, “aku akan penuhi, asal rumah ini tidak digusur, Bi.”Tubuh Eca sempat terpaku sejenak. Rasanya pertanyaan suaminya barusan terus berputar-putar di kepalanya.‘Neng percaya kalau lahan rumah kita ngotot diambil itu demi kepentingan desa?’Apa artinya semua itu? Keningnya mengerut perlahan. Bola matanya bahkan kini bergerak pelan mencari wajah Ihsan, seolah berharap pria itu segera menjelaskan maksud ucapannya.“Memangnya bukan begitu?” tanyanya lirih tanpa melepas pandangan dari wajah sang suami.Angin malam kembali bertiup perlahan, mengibaskan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatannya.Ihsan tidak langsung menanggapi pertanyaan istrinya.Juatru ia meraih kembali surat yang tadi diletakkan di atas meja balkon. Jemarinya mengetuk pelan bagian kop surat itu sebelum mengembuskan napasnya panjang.“Neng tahu,” ujarnya kemudian, “kalau rumah ini benar-benar masuk pembebasan lahan, prosesnya nggak sesederhana ini.”
Menjelang Magrib, suara motor Ihsan akhirnya terdengar berhenti di garasi.Eca yang sejak tadi hanya duduk mematung di ruang tamu refleks mengangkat kepala.Dua lembar kertas itu masih tergeletak di pangkuannya. Sudah entah berapa kali ia lipat, lalu dibuka lagi. Berkali-kali pula ia berniat menyembunyikannya ke dalam kamar.Namun, setiap kali bangkit, niat itu selalu menguap.Menyembunyikannya bukan pilihan yang tepat. Cepat atau lambat, Ihsan tetap harus tahu.Masalahnya, bagaimana ia harus memulai semua ini?Suara mesin motor di luar perlahan mati, tak lama kemudian terdengar bunyi pintu yang berderit pelan saat Ihsan membukanya.“Neng?” panggil Ihsan begitu masuk ke rumah.Refleks Eca melipat kedua lembar kertas itu, lalu menyelipkannya di bawah paha.Saking kalutnya, Eca tetap duduk diam. Biasanya, baru mendengar suara motor Ihsan saja ia sudah bergegas menyambut di depan pintu.Kali ini tidak. Malah Ihsan yang lebih dulu menghampiri dengan alis bertaut.“Neng, kenapa?”Eca buru-
Malam itu, Eca baru benar-benar bisa memejamkan mata saat hari sudah sangat larut.Meski begitu, ada satu hal yang sangat ia syukuri. Ihsan tetap terjaga menemaninya hampir sepanjang malam. Berkali-kali pria itu memastikan kompres di pergelangan kakinya masih dingin, mengecek apakah ia membutuhkan sesuatu, bahkan tak segan membetulkan selimutnya setiap kali tanpa sadar bergeser.Hingga tak terasa, hampir seminggu pun berlalu sejak kecelakaan itu.Bengkak di pergelangan kaki Eca memang belum sepenuhnya hilang, tetapi sudah jauh lebih baik dibanding beberapa hari pertama.Kini ia sudah bisa menapak perlahan tanpa harus terus-menerus bertumpu pada Ihsan.Sesekali masih terasa nyut-nyutan kalau terlalu lama berdiri. Namun, dibanding terus berbaring di tempat tidur, Eca lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan ringan.Besok ia bahkan sudah berniat kembali mengajar.Tok ... tok ... tok ....Suara ketukan pintu itu memecah keheningan sore saat Eca sedang menyiangi sayuran d
Eca menatap lekat Ihsan di sebelahnya. Pria itu masih menggenggam tangannya, sesekali mengusap punggung tangannya dengan ibu jari, seolah ingin memastikan Eca benar-benar baik-baik saja.“Motorku baik-baik saja, Kang,” jawab Eca akhirnya, berusaha setenang mungkin.“Tadi cuma nggak sengaja lewat agak ke pinggir. Di situ ternyata banyak pasir. Pas banget aku juga agak ngebut sedikit, terus motornya oleng.”Kalimat itu diucapkan begitu mantap dan menyakinkan. Padahal, Eca sadar betul dirinya sedang bersandiwara di depan suaminya sendiri.Namun, untuk saat ini, rasanya itu jauh lebih baik daripada mengatakan yang sebenarnya.Ia benar-benar belum sanggup membayangkan apa yang akan dilakukan Ihsan kalau tahu semua itu bukan kecelakaan biasa, melainkan ulah Juragan Dasim.Ihsan tak langsung menanggapi.Tatapannya justru turun ke kedua telapak tangan Eca yang dipenuhi goresan-goresan merah tipis akibat bergesekan dengan kerikil
“Argh ... sakit! Pelan-pelan, Bah!”Jeritan Eca nyaris memenuhi ruang tamu.Jemarinya spontan mencengkeram lengan Ihsan yang duduk tepat di sampingnya. Begitu kuat sampai kuku-kukunya nyaris menancap di kulit pria itu.“Tahan sedikit, Neng,” ujar Abah Zainal dengan nada yang tetap tenang sambil memegang pergelangan kaki Eca.Pria tua itu memang sudah jadi langganan warga Mekarluyu kalau urusannya keseleo atau patah tulang. Maka, begitu melihat Eca nyaris tak bisa menapak setelah kakinya tertimpa motor, Ihsan langsung meminta Maman menjemput Abah Zainal.Sebelumnya, petugas pustu juga sempat datang membersihkan luka di lutut dan siku Eca yang masih terus mengucurkan darah.Kini ruang tamu rumah dipenuhi beberapa tetangga yang datang menjenguk. Dalam keadaan begini, Eca bahkan sudah tak sempat lagi memikirkan rasa malu saat menjerit tak bisa menahan sakit.Belum sempat ia membalas ucapan Abah Zainal tadi, pria tua itu kembali menggerakkan pergelangan kakinya.“Aaaah!”Tubuh Eca refleks
“Aaaah—!”Benturan keras itu membuat tubuh Eca tersungkur ke sisi jalan.Lutut kanannya lebih dulu menghantam jalanan berbatu hingga bergesekan keras dengan kerikil.Tubuhnya kehilangan keseimbangan, lalu roboh bersama motornya yang ikut menimpa sebelah kakinya.“Aduh …. sakit.” Eca meringis sambil berusaha menarik kakinya. Namun, setiap kali dipaksa bergerak, nyeri itu justru menjalar sampai ke pergelangan, membuat matanya sampai berkaca-kaca.Dengan sisa tenaga yang dipunya, ia mendorong body motor itu, tetapi beban motor hanya bergeser sedikit. Kakinya tetap terjepit.Napasnya pun mulai memburu.Kedua telapak tangannya refleks menopang tubuh pasrah. Kerikil-kerikil kecil menempel di kulitnya, sementara lutut yang tadi menghantam batu mulai terasa perih dan panas.Perlahan Eca mengangkat kepala.Di saat yang sama, ia melihat dua pengendara motor yang tadi memepetnya ternyata masih berhenti beberapa meter di depan.Mereka sama sekali tidak panik dengan insiden itu. Salah satunya bah
Hari itu, keduanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah saja, seolah benar-benar ingin menikmati hari libur berdua. Matahari sudah bergeser cukup jauh ketika Eca akhirnya menyerah menatap layar laptopnya. Sejak tadi ia memang duduk di atas karpet ruang keluarga sambil menonton drama terbaru y
Cahaya matahari sudah menyusup dari sela-sela gorden saat Eca membuka matanya keesokan pagi. Ia berkedip beberapa kali. Butuh beberapa detik baginya untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Lalu, ketika ingatan itu datang begitu saja. Eca spontan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Asta
Kalimat itu seperti menghantam telak kepala Eca berkali-kali. Periksa ke bidan? Tubuhnya hampir goyah, tetapi ia segera mencari tangan Ihsan di sampingnya lalu menggenggamnya erat, seakan takut jatuh jika tidak berpegangan. Jemarinya terasa dingin, bahkan telapak tangannya mulai lembap oleh keri
Berkebalikan dengan Eca yang hatinya mulai meradang sendiri, Ihsan justru tampak tenang seperti biasa.“Terima kasih, Asih, tapi lain kali saja,” jawabnya santai.“Yaelah, sekali-sekali atuh main ke rumah.” Wanita itu tersenyum sambil menatap Ihsan penuh harap. “Mamah juga pasti senang kalau tahu k







