Share

Bab 47

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-05-06 21:59:17

Eca nyaris kehabisan kata-kata untuk menanggapi saudara tirinya itu.

“Astaga, Arina!” pekiknya setengah frustrasi. “Siapa juga yang mau pakai baju bolong-bolong begitu, yang ada aku masuk angin. Kalau ada ide, tuh, dipikir-pikir dulu, dong.”

“Ya terus? Masa mau dipajang aja? Aku udah effort banget, loh, ngasih kado. Masa kamu nggak menghargai?”

Eca mendongak ke langit-langit, menarik napas dalam-dalam, sembari menahan diri agar tidak benar-benar menjerit.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Kharamiza
hahahahahahaha, ada versi yang jatuh semua kak. mau lihat? to be continued yaaaa wkwkwk~
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
tenang tenang saudaraku ..nyantai atuh Ica ga usah rempong malah nanti jatuh semua
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 47

    Eca nyaris kehabisan kata-kata untuk menanggapi saudara tirinya itu. “Astaga, Arina!” pekiknya setengah frustrasi. “Siapa juga yang mau pakai baju bolong-bolong begitu, yang ada aku masuk angin. Kalau ada ide, tuh, dipikir-pikir dulu, dong.”“Ya terus? Masa mau dipajang aja? Aku udah effort banget, loh, ngasih kado. Masa kamu nggak menghargai?”Eca mendongak ke langit-langit, menarik napas dalam-dalam, sembari menahan diri agar tidak benar-benar menjerit.Arina benar-benar menguji batas kesabarannya.“Awas kamu, ya. Nggak akan aku maafin,” ancamnya. “Kasih hapenya ke Mamah.”Dalam beberapa detik, suara Arina sudah tak terdengar lagi, berganti dengan suara lembut ibunya. “Ini Mamah, Neng.”“Mamah, si Arina itu nyebelin banget. Dia masukin baju bolong-bolong ke tas aku,” geram Eca tanpa jeda. “Tolong banget … minta Sari sama Fitri atau siapa aja, deh, bawain baju aku ke sini sekarang. Baju apa saja terserah, yang penting

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 46

    Tubuh Eca refleks berbalik cepat. Wajahnya jelas-jelas panik. Ia menelan ludah, lalu menggeleng kuat-kuat.“Ng—nggak apa-apa,” ucapnya buru-buru, bahkan sebelum benar-benar memikirkan jawaban.Ihsan berdiri tidak jauh dari sana. Rambutnya masih sedikit basah, celana pendek sudah melekat rapi di pinggangnya, dan handuk putih menggantung santai di lehernya.Tatapannya lurus ke arah Eca, lalu perlahan bergeser pelan ke belakang, tepat ke arah ranjang yang sekarang berantakan oleh isi tas yang berserakan.Alisnya sedikit berkerut.Eca ikut menoleh. Detik itu juga, ia merasa jantungnya hampir saja copot.Lingerie sialan itu … masih nangkring manis di atas tas.Mampus.Tanpa berpikir panjang, ia langsung bergeser satu langkah, tubuhnya condong menutup pandangan Ihsan. Tangannya menyambar kain itu dengan gerakan kilat, lalu mendorongnya ke dalam tas secepat mungkin.Gerakannya bahkan terlihat jelas sedang panik, seolah takut ketahuan.Eca langsung menegakkan punggung, berusaha terlihat biasa

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 45

    Genggaman Eca di lengan Ihsan semakin menguat tanpa sadar, seakan hanya itu satu-satunya pegangan yang ia punya saat ini. Gerakan kecil itu rupanya cukup untuk membuat Ihsan mengerti. Tanpa banyak bicara, ia menarik pinggang Eca, mendekatkan tubuh mereka. Tangan yang lain naik, mengusap pelan bahu Eca dengan gerakan tenang.“Tidak apa-apa,” bisiknya, cukup untuk didengar Eca. “Ada saya di sini.”Ucapannya terdengar sederhana, tetapi entah kenapa langsung membuat dada Eca sedikit mengendur, meski belum benar-benar dapat tenang.Ia masih menatap ke arah Juragan Dasim yang kini terlihat sedang berbincang dengan seseorang, seolah tak terjadi apa-apa.Namun, sesekali pria tua masih melihat ke arahnya.“Dia … ngeliatin aku …,” lirih Eca, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. “Kayak punya dendam.”Ia berhenti sejenak.“Apa dia tidak suka kita menikah?”Ihsan tidak langsung menjawab. Sorotnya yang tajam, namun tetap tenang itu sempat tertuju pada sang paman, tetapi detik kemudian kemba

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 44

    Ihsan tak langsung menjawab. Keningnya justru mengerut sejenak. Tatapannya lurus ke arah sang istri. “Pegang tangan lebih baik, daripada pegang ….” Ucapannya langsung terhenti.Namun, entah kenapa Eca tetap bisa langsung menebak ke mana arah kalimat itu. Terlebih, tatapan pria itu sempat turun, sekilas, tetapi cukup jelas.Pipinya sontak memanas.Ingatan soal insiden tadi malam langsung muncul lagi di benaknya.Ngelunjak juga orang ini.“Apa?” tanyanya sinis, pura-pura tidak mengerti. “Tidak ada,” balas Ihsan singkat, seolah memang tidak berniat melanjutkan. “Ayo, saya bantu.”Ia tetap mengulurkan tangannya, seolah sudah yakin sekali Eca tak akan menolaknya.Eca mendecak pelan, sempat memalingkan wajah, tetapi pada akhirnya tetap menerima uluran tangan Ihsan.Begitu tangan mereka bersentuhan, Eca bisa merasakan hangatnya telapak tangan Ihsan. Seperti biasa, kontras dengan tangannya yang dingin.Ia buru-buru mengembalikan fokus saat mereka mulai diarahkan ke depan.Mereka berhenti ke

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 43

    Di balik selimut, Eca memejam rapat-rapat, seolah dengan begitu pemandangan yang dilihatnya barusan bisa ikut terhapus dari ingatannya.Namun, percuma saja. Toh, yang ada malah makin membayangi.Lagian … kenapa juga pagi-pagi begini ia harus melihat pemandangan seperti itu coba?Menodai matanya saja.“Saya baru mandi,” ujar Ihsan tanpa emosi, sama sekali tidak terdengar terganggu. “Tentu saja belum pakai baju.”Eca mendengkus, agak kasar. Suaranya teredam dari balik selimut.“Kamu tuh nggak lihat apa di sini ada orang? Harusnya kamu pakai baju di kamar mandi aja. Atau .…” Ia berhenti sejenak, sebelum menambahkan dengan nada mencurigai. “Kamu memang sengaja mau pamer tubuh ke saya?”Hening sepersekian detik.“Nggak mempan, Ican!” lanjutnya ngedumel.Setelah mengucapkan itu, Eca langsung menggigit bibirnya sendiri, seakan tersadar kenapa tiba-tiba bicara seperti itu pada Ihsan.“Saya tidak b

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 42

    Beberapa detik berlalu tanpa suara. Eca masih terduduk dengan kepala tertunduk, napasnya belum juga stabil sejak kejadian tadi. Pelan-pelan ia mengangkat wajah, melirik ke arah pintu yang sudah tertutup rapat, memastikan Arina benar-benar tidak ada di sana. Astaga … kacau sekali hari ini. Tanpa membuang waktu, ia langsung bergerak. Sengaja menghindari tatapan Ihsan saat ia lewat di depan pria itu. Kutang yang sejak tadi disembunyikan di balik punggung buru-buru ia masukkan ke keranjang cucian di sudut kamar, seperti benda itu bisa sewaktu-waktu kembali mempermalukannya. Padahal, Ihsan juga baru saja keluar kamar. Entah keluar ke ruang depan atau ke kamar mandi di belakang, Eca tidak tahu. Dan, untuk saat ini, ia juga tidak peduli. Justru itu yang ia butuhkan sekarang. Paling tidak, untuk menenangkan dirinya. Cepat-cepat ia merapikan kasur yang agak sedikit kusur. Kebaya yang tadi berserakan segera dipindahkan. Barang-barang pribadinya yang lain langsung ia sembunyikan ke temp

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status