Share

Bab 60

Author: Kharamiza
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-16 19:27:07

Motor akhirnya berhenti di pinggir jalan kecil yang membelah lahan kebun teh.

Udara di sana terasa jauh lebih sejuk dibanding area bawah tadi. Angin di hari yang sudah menjelang sore ini bertiup pelan sambil membawa aroma khas daun teh, membuat ujung rambut Eca sesekali ikut beterbangan.

Hamparan hijau terbentang luas sampai ke lereng bawah.

Cantik sekali.

Eca turun sebentar, tetapi karena malas berdiri lama, akhirnya ia duduk menyamping di atas motor.

Sementara itu, Ihsan berdiri di samping mo
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 66

    Tanpa menjawab pertanyaan Eca, Ihsan lebih dulu meraih ponselnya, membaca pesan yang baru masuk tadi sejenak, lalu meletakkannya kembali di meja, tanpa membalasnya.Setelah itu, sorot matanya yang dalam jatuh tepat ke wajah Eca yang sejak tadi berusaha terlihat biasa saja, meski ia tak dapat menyembunyikan nada bicaranya yang jelas berubah.“Asih teman SMA saya, Neng.”Eca menatap Ihsan lurus, seperti mencari-cari sesuatu di wajah pria itu. “Cuma teman?”“Hm.” Ihsan menjawab singkat, hingga membuat bibi Eca mengerucut kesal.Jelas ia tak puas hanya dengan jawaban seperti itu. Kalau memang cuma teman, kenapa terlihat begitu akrab? Sampai nanyain orang tuanya segala.“Tapi kemarin pas di kebun teh keliatan deket banget,” gumam Eca, hampir lirih. “Dia juga nanyain Mamah.”“Cuma kenal aja, Neng,” jelas Ihsan tenang.Ia sempat diam sejenak sebelum melanjutkan, “Waktu di Bandung, kita kenal sebagai sama-sama dari Kecamatan Sukamaju.”Eca masih diam mendengarkan.“Orang tuanya juga suka niti

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 65

    Eca masih memandangi ponsel Ihsan beberapa saat, sebelum perlahan mengangkat kepala, menoleh ke arah pintu kamar mandi. Suara air masih terdengar dari dalam. Sepertinya, Ihsan masih lama. Dadanya mulai tak tenang lagi rasanya. Jujur saja, sosok itu terus-menerus mengganggu pikirannya sejak bertemu di kebun teh kemarin. Rasa penasarannya belum juga reda sampai kini. Tangannya akhirnya bergerak pelan meraih ponsel Ihsan. Bukan maksudnya lancang buka-buka ponsel suami sendiri. Ia hanya sedikit penasaran. Sedikit saja. Lagipula, Ihsan juga tidak menjelaskan apa-apa soal wanita itu. Jadi, kalau Eca mencari tahu sendiri … harusnya tidak apa-apa, kan? Mereka memang menikah karena kesepakatan, tetapi tidak tahu kenapa hatinya tetap resah ketika mengingat nama Asih. Begitu benda pipih itu akhirnya berpindah ke tangannya, jempol Eca refleks menggeser layar ke atas. Ponsel langsung terbuka begitu saja. ‘Loh?’ batinnya terkejut. ‘Tidak dikunci?’ Eca sampai melotot. Ah, pria itu

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 64

    Keisengan saudara tirinya itu sukses membuat Eca geram. Rahangnya sampai mengeras menahan kesal yang nyaris meledak.“Arina sialan! Kamu, tuh, ya, ngajarin Adit yang nggak bener!” cecarnya.Tanpa pikir panjang, Eca langsung meraih sandal swallow yang tadi dilepas di teras dan melemparkannya ke arah Arina.“WEH!” Arina refleks menghindar sambil tertawa tak tahu diri. “Galak banget macam Mak Lampir!”“Mana adeknya, Kak?” Suara polos Adit kembali memecah suasana.Bocah itu masih berdiri sambil menengadahkan tangan kecilnya ke arah Eca, benar-benar seperti sedang meminta barang yang dijanjikan.Eca makin gelagapan.Ya Tuhan. Bocah ini bikin tekanan darahnya tiba-tiba melonjak naik saja? Ia sampai bingung harus menjawab bagaimana. Pembahasan begini terlalu tabu untuk dijelaskan panjang lebar, sedangkan Adit jelas belum mengerti apa-apa.Semua ini gara-gara Arina. Mulut wanita itu memang kadang-kadang lebih cepat jalan daripada otaknya.“Kakak belum punya, Sayang,” jawab Eca akhirnya sambi

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 63

    Suasana rumah sudah cukup ramai pagi itu. Beberapa koper berjajar di teras, sementara Arif sibuk memastikan tak ada barang yang tertinggal. Ihsan mulai membantu mengangkat koper paling besar ke bagasi mobil dengan santai, seolah koper itu tidak berat sama sekali baginya. Eca yang berdiri dekat pintu bersama Nani, juga mertuanya hanya memperhatikan dalam diam. Jujur saja, dadanya mulai sesak rasanya. Baru beberapa hari lalu rumah ini penuh orang karena acara pernikahannya. Sekarang, satu per satu mulai pulang dan suasananya perlahan kembali sepi. “Eh, itu jangan ditumpuk sembarangan atuh!” protes Nani dari teras. “Nanti oleh-olehnya gepeng.” “Tenang, Mah,” balas Arif santai sambil menahan tawa. “Ini ditaruh paling atas.” Eca ikut terkekeh kecil. Biasalah ibu-ibu, ada saja yang harus dikomentari. Sementara itu, Ihsan menutup bagasi setelah memasukkan koper terakhir. Kaos hitam polos yang dipakai Ihsan pagi itu membuat bahunya terlihat makin bidang. Rambutnya juga agak berantakan

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 62

    Berkebalikan dengan Eca yang hatinya mulai meradang sendiri, Ihsan justru tampak tenang seperti biasa.“Terima kasih, Asih, tapi lain kali saja,” jawabnya santai.“Yaelah, sekali-sekali atuh main ke rumah.” Wanita itu tersenyum sambil menatap Ihsan penuh harap. “Mamah juga pasti senang kalau tahu kamu datang.”Eca diam seribu bahasa. Namun, tanpa sadar jemarinya mulai meremas ujung cardigan rajut di pangkuannya.Mereka terlihat sudah cukup dekat sampai Ihsan dikenal orang tua wanita itu. Setidaknya, begitu yang Eca lihat.“Oh, ya, kamu sendirian aja?” tanya wanita itu lagi spontan.“Sama istri saya.”Setelah itu, tatapan wanita bernama Asih tersebut berpindah pada Eca yang berada di atas motor dengan alis bertaut.“Oh!” Ekspresi Asih sontak berubah kaget. “Maaf, aku nggak lihat dari tadi.”Eca membalas dengan senyum tipis sekadarnya. “Iya, nggak apa-apa,” jawabnya pelan.Padahal, dalam hati ia ingin mengomel rasanya. Mungkin saja wanita itu sudah rabun? Masa dari tadi tidak melihat a

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 61

    Kening Eca mengerut tipis. Lagi-lagi kepalanya refleks menoleh, memandangi wajah Ihsan dari samping seolah mencari sesuatu dari ekspresi pria itu. “Kenapa Akang bilang gitu?” “Selain ngajar …,” jawab Ihsan santai, “harus banyak ngelus dada lihat tingkah siswanya.” Eca seketika tertawa lepas, sampai bahunya ikut terguncang. Ia tak menyangka Ihsan akan berkata seperti itu. “Bisa juga Akang ngelucu.” Sudut bibir Ihsan bergerak tipis, meski nyaris tak terlihat. Angin sore kembali bertiup pelan di antara mereka. Sesekali terdengar suara motor lewat disusul samar obrolan para pengendaranya. Suasana kembali tenang setelah tawa Eca mereda. Untuk kesekian kalinya, Eca diam-diam melirik pria di sampingnya itu. Ihsan masih berdiri santai sambil bersandar di stang motor dengan tangan terlipat di depan dada. Wajahnya tetap tenang seperti biasa. Namun, sekarang entah kenapa Eca jadi menyadari satu hal kalau ternyata, ia tidak benar-benar tahu banyak soal suaminya sendiri, padahal m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status