로그인Sentuhan itu membuat Eca refleks mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat.Untuk beberapa saat, Ihsan tidak langsung melepaskan tangannya. Rahangnya tampak sedikit mengeras, bahkan jakunnya bergerak samar seperti sedang menahan sesuatu.“A—akang kenapa?” tanya Eca terbata.Alih-alih menjawab, pria itu justru mengambil botol minyak kayu putih dari tangan Eca.“Saya oles sendiri aja, Neng.”“Oh … oke.”Eca b“Aaaah—!”Benturan keras itu membuat tubuh Eca tersungkur ke sisi jalan.Lutut kanannya lebih dulu menghantam jalanan berbatu hingga bergesekan keras dengan kerikil.Tubuhnya kehilangan keseimbangan, lalu roboh bersama motornya yang ikut menimpa sebelah kakinya.“Aduh …. sakit.” Eca meringis sambil berusaha menarik kakinya. Namun, setiap kali dipaksa bergerak, nyeri itu justru menjalar sampai ke pergelangan, membuat matanya sampai berkaca-kaca.Dengan sisa tenaga yang dipunya, ia mendorong body motor itu, tetapi beban motor hanya bergeser sedikit. Kakinya tetap terjepit.Napasnya pun mulai memburu.Kedua telapak tangannya refleks menopang tubuh pasrah. Kerikil-kerikil kecil menempel di kulitnya, sementara lutut yang tadi menghantam batu mulai terasa perih dan panas.Perlahan Eca mengangkat kepala.Di saat yang sama, ia melihat dua pengendara motor yang tadi memepetnya ternyata masih berhenti beberapa meter di depan.Mereka sama sekali tidak panik dengan insiden itu. Salah satunya bah
Api dari tungku pembakaran sampah di belakang rumah itu sudah menyala sejak tadi. Bara merahnya sesekali memakan ranting-ranting kering hingga terdengar bunyi patahan kecil yang bersahutan.Eca berdiri diam di depannya.Selembar surat perjanjian pernikahan masih berada di tangannya. Surat yang dulu menjadi pegangan Eca saat memutuskan menikah kontrak dengan Ihsan agar ia bisa mempertahankan rumah peninggalan ayahnya.Surat yang tanpa mereka sadari juga hampir saja merenggut kepercayaan orang tua Ihsan.Perlahan, jemarinya meremas kertas itu hingga kusut membentuk bola kecil.Tanpa berkata apa-apa, Eca melemparkannya ke dalam api.Matanya tak beralih sedikit pun dari saja.Ia menunggu sampai lembaran itu menghitam, melengkung dimakan panas, lalu perlahan hancur menjadi abu.Kalau ditinggal, siapa tahu nanti ada yang nemu lagi. Di sinetron-sinetron, yang begini selalu kejadian.“Udah, Neng?”Eca menoleh, dan mendapati suaminya berdiri di sampingnya.Kemeja putih yang dipakainya sejak be
Eca terpaku di ambang pintu kamar beberapa detik. Rumah sudah benar-benar sunyi malam itu. Hanya suara jarum jam yang berdetak pelan di ruang tengah, terdengar jauh lebih jelas daripada biasanya.Baru ketika pandangannya bergeser ke arah depan rumah, Eca menyadari ada semburat cahaya tipis yang menyelinap dari sela tirai.Rupanya lampu teras masih menyala. Pintu depan juga tampaknya tidak tertutup rapat.Kening Eca berkerut tipis. Pelan-pelan ia melangkah mendekati jendela depan.Dengan hati-hati, ia menyibakkan sedikit tirai itu. Begitu melihat ke arah luar, tubuhnya seketika membeku. Di kursi kayu teras, ternyata Ihsan sedang duduk sendirian.Tubuhnya sedikit membungkuk dengan kedua siku bertumpu di paha, sementara satu tangannya terus memijat pelipis tanpa henti.Tatapannya lurus ke halaman yang sudah tenggelam dalam gelap.Jemari Eca yang sedari tadi hanya memegang ujung tirai perlahan mencengkeram kain itu lebih kuat.Entah sejak kapan ia ikut menahan napas.Selama ini, setiap k
Beberapa saat kemudian, isak tangis Eca perlahan mulai mereda, meski ia masih bersandar di dada Ihsan. Napasnya belum benar-benar teratur, tetapi setidaknya tidak lagi sesenggukan seperti tadi.Di sudut ruangan, Kang Darma yang sejak tadi memilih diam akhirnya berdiri dari duduknya. Reni pun ikut bangkit di samping suaminya.Pria itu memandang Eca dan Ihsan beberapa detik sebelum mengembuskan napas panjang.“Kalian istirahat dulu,” ujarnya pelan. “Mamah sama Papah mungkin suasana haténa belum baik.”“Besok kalian obrolin lagi kalau semuanya sudah lebih tenang.”Tak ada yang membantah. Ihsan bahkan hanya mengangguk datar.“Iya.”Kang Darma menepuk singkat bahu adiknya sebelum berbalik, diikuti oleh Reni.Kang Darma dan Reni pun berlalu menuju kamar. Tak lama kemudian terdengar bunyi pintu yang ditutup pelan. Setelahnya, rumah kembali tenggelam dalam keheningan, seolah ikut membiarkan semuanya mengendap.Kini, yang tersisa di ruang tengah itu hanya Eca dan Ihsan. Pria itu kembali menata
Tak ada seorang pun yang membuka suara setelah itu.Eca hanya bisa menatap suaminya dari samping. Sejak tadi, Ihsan sama sekali tidak berusaha membela diri lagi. Kepalanya sedikit tertunduk, sementara kedua tangannya saling menggenggam di atas lutut.Melihat itu, rasanya ada sesuatu yang ikut runtuh di dalam diri Eca.Ia tahu. Setiap ucapan Dedi barusan pasti menghantam tepat ke titik yang paling rapuh dalam diri Ihsan.Selama ini, Ihsan hidup memegang idealismenya. Ia rela menghabiskan malam membaca buku-buku tentang pemerintahan desa hingga kebijakan publik. Setiap kali ada persoalan di kampung, kepalanya juga ikut andil memikirkan jalan keluar.Orang yang begitu tulus ingin memajukan desa ... kini justru dianggap sama dengan mereka yang punya niat terselubung di balik sebuah jabatan.Air mata Eca langsung menggenang. Ia merasa tak rela melihat suaminya dipojokkan seperti itu.“Pah ... Mah ...,” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Semua mata beralih kepadanya.“Jangan bilang begit
Suasana ruang tengah yang tadi hangat mendadak berubah tegang. Tak seorang pun di antara mereka yang berani membuka suara.Eca hanya bisa menatap selembar kertas yang tergeletak di atas meja itu. Napasnya terasa tercekat. Bahkan, rasanya ia sampai lupa bagaimana caranya berkedip.Perlahan, ia menoleh ke arah suaminya. Tatapan mereka bertemu sesaat. Namun, tak ada kata yang terucap. Meski Eca tetap berharap Ihsan mengerti kegelisahan yang sejak tadi menguasai dirinya.Benar saja. Ihsan segera meraih lembaran kertas itu, lalu membukanya. Sorot matanya bergerak cepat menyusuri setiap baris yang tertulis di sana, seolah memastikan kertas itu yang dicarinya sejak tadi.Rahang pria itu nampak mengeras perlahan“Mah ...,” ucapnya dengan suara berat. “Surat ini ... Mamah dapat dari mana?”Siti tidak langsung menjawab. Tatapannya lebih dulu singgah pada wajah putra bungsunya beberapa saat, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan semuanya.“Dari kamar kalian.”Jawaban singkat itu m
Eca susah payah menahan tawa mendengar Bi Lastri mengomel seperti itu. Agaknya Bi Lastri juga sudah muak dengan tingkah juragan mesum itu.“Ih, Bibi jangan ngomong begitu, ah,” katanya sambil menutup mulut. “Nanti kalau kedengaran, bisa-bisa kita diusir dari Mekarluyu.”“Kejam pisan itu orang, Neng
Saat diantar pulang oleh Ihsan pun, Eca masih belum bisa memahami semua pembicaraan hari ini.Bukan apa-apa, tetapi rasanya seperti mimpi yang berjalan terlalu cepat.Baru kemarin ia mati-matian mencari cara mempertahankan rumahnya. Sampai membuang harga diri memaksa Ihsan menikahinya, meski pria i
Eca masih menunduk diam. Detik demi detik terasa begitu berat untuk dilewati. Sunyi di ruang tamu itu seperti menekan dadanya pelan-pelan.Andai bisa, Eca bahkan ingin menghilang saja sekarang juga.Tatapan ibunya Ihsan yang sejak tadi tertuju padanya membuat nyalinya seketika ciut. Dulu, ia begit
Eca mundur satu langkah, namun pria itu tetap saja maju, seakan tak peduli penolakan yang jelas dari gadis itu.Tanpa pikir panjang, kaki Eca langsung terangkat.Bugh!“AAARGH! Sialan!”Tubuh Juragan Dasim seketika membungkuk. Kedua tangannya refleks menutup selangkangan, wajahnya memerah menahan n







