Share

Bab 6

Author: Nila Lembayung
Lina gigit bibirnya erat-erat, langkahnya melambat saat ikuti Tamara dari belakang. Di matanya tampak jelas kegelisahan dan keraguan. Beberapa kali ia ingin buka mulut, namun setiap kali pula kata-kata itu kembali tertelan.

Tamara seakan sadar ekspresi aneh orang yang ada di belakangnya. Ia tiba-tiba berhenti, lalu perlahan berbalik. Sepasang mata hitam legam itu menatap Lina dengan tenang.

“Pergi selidiki. Cari tahu sebenarnya gimana Yesika bisa jatuh ke air.”

“Siap, Bu Tamara.”

Lina buru-buru menunduk dan menjawab cepat, nada suaranya sedikit tergesa.

Setelah itu ia segera pergi, punggungnya terlihat sigap dan penuh tekad.

Tamara berdiri di tempat, sedikit mengangkat alis. Ia lalu melangkah anggun menuju meja, jemarinya yang ramping mengangkat segelas anggur merah. Cairan itu berkilau memikat di bawah cahaya lampu.

Ia ayunkan gelas itu perlahan, lalu berpindah ke sisi lain. Tubuhnya tegap dan elegan, seperti mawar yang mekar sendirian di tengah malam.

Nggak lama kemudian, aula perjamuan mulai ramai. Beberapa orang datang hampiri Tamara untuk menyapanya.

Di saat itulah seorang wanita dengan gaun mewah melenggang ke arahnya, pinggulnya bergoyang anggun. Senyum di wajahnya penuh sindiran, setajam pisau.

“Tamara, Felix-nya mana, kok nggak kelihatan?”

Wanita itu sengaja memanjangkan nada suaranya, matanya dipenuhi ejekan.

Dulu, saat hubungan Felix dan Tamara masih mesra, mereka selalu datang berdua ke mana pun. Keberadaan mereka selalu jadi pusat perhatian.

Ke mana pun Tamara pergi, ia pasti yang paling bersinar.

Nggak hanya cantik, kemampuannya juga luar biasa. Hubungan cintanya harmonis, kariernya gemilang, buat siapa pun iri.

Bandingkan dengan suaminya sendiri. Tujuh tahun menikah, hidupnya nggak pernah lepas dari urusan menangkap selingkuhan.

Namun hanya dalam tujuh tahun, cinta yang dulu tampak kokoh ternyata bisa serapuh ini.

Wanita itu mencibir dalam hati. Laki-laki pada akhirnya sama saja.

Belum sempat Tamara jawab, wanita itu pura-pura kaget sambil tutup mulutnya.

“Eh, aku baru ingat! Barusan aku lihat Felix datang dengan adik angkatnya di pintu masuk. Kamu nggak lihat dia?”

Nada bicaranya seolah sedang mengungkap rahasia besar.

Tamara menyipitkan mata, kilatan dingin melintas di matanya, namun bibirnya justru terangkat.

Ia tersenyum santai dan berkata pelan, “Oh iya, aku hampir lupa kasih tahu. Aku sudah putus dengan Felix. Sebentar lagi aku akan nikah. Nanti aku kirim undangannya.”

Suaranya tenang dan mantap, tanpa sedikit pun kegugupan.

Siti Harefah dengar itu dan justru semakin sinis. Ia melangkah maju, menatap wajah Tamara dengan tajam.

Ia ingin ihat kesedihan di sana, sayangnya nggak ada apa pun.

“Kamu nggak sedang marah lalu bicara sembarangan, kan? Siapa yang nggak tahu dulu kalian mesra banget. Semua orang iri lihat kalian. Sekarang hanya karena rubah kecil, kamu langsung mau nyerah? Kamu tega?”

Suaranya sengaja diperbesar hingga tarik perhatian orang sekitar.

Tamara tetap tenang. Ia menyesap anggurnya, lalu letakkan gelas, kedua tangannya terlipat anggun di depan tubuh.

“Nggak tahu itu tega atau nggak, tapi yang pasti itu sudah masa lalu. Hidup harus terus jalan, kan? Atau harus seperti Bu Siti yang serahkan hatinya ke seekor anjing pejantan?”

Pandangan Tamara lewati Bu Siti, tertuju pada sosok di belakangnya.

Seorang pria paruh baya sedang dipeluk wanita muda yang jauh lebih muda darinya. Wanita itu berdandan mencolok dan bersandar manja di bahu si pria.

Bu Siti ikuti arah pandang Tamara. Saat lihat pemandangan itu, pupil matanya menyusut drastis, wajahnya memerah karena marah.

Ia menghantam meja dengan keras. BRAK!

Gelas-gelas bergetar, anggur tumpah membasahi taplak putih.

“Budi Harefah, dasar bajingan!” teriaknya melengking, memecah seluruh aula.

Tamara mendengus geli, lalu letakkan gelasnya dengan elegan.

Ia tegakkan punggung dan bersiap pergi dari tempat yang menjengkelkan ini.

Namun begitu berbalik, ia lihat Jolin dan Felix berdiri nggak jauh darinya.

Jolin mengenakan gaun putih polos, tampak seperti bunga lili yang suci. Ia berlari kecil hampiri Tamara dan dengan akrab gandeng lengannya.

“Kak Tamara, Kak Felix belum pernah setuju nikah denganmu, kan? Kalau kamu bilang begitu ke semua orang, nanti mereka salah paham.”

Suaranya lembut, manis, namun menusuk seperti jarum.

Felix berdiri di samping, alisnya berkerut, matanya penuh rasa nggak puas.

Ia melangkah besar ke depan dan menunjuk Tamara.

“Tamara, aku memang bilang kita akan menikah, tapi bukan sekarang! Kamu nggak bisa dewasa sedikit, kah? Ngapain harus bikin keributan di saat seperti ini? Kalau hari ini kamu mau minta maaf ke Keluarga Herlambang dan akui kesalahanmu, aku akan maafkan sikapmu belakangan ini.”

Nada suaranya dingin dan nggak sabar, seolah Tamara hanya sedang bertingkah konyol.

Mereka datang terlambat, hanya dengar satu kalimat tentang “akan menikah”, lalu langsung simpulkan segalanya.

Tamara masukkan kedua tangannya ke saku, berdiri tegak. Tatapannya sedingin es.

“Felix, aku ulangi sekali lagi. Kita sudah putus. Dua minggu lagi aku akan nikah. Saat itu silakan kalian datang.”

Nada suaranya tegas, setiap kata bagai pisau tajam.

Felix tertegun sejenak, lalu tertawa meremehkan.

“Tamara, nggak usah keras kepala. Kita sudah bersama selama tujuh tahun. Mana mungkin kamu tiba-tiba nikah dengan orang lain? Jangan bohongi dirimu sendiri.”

Di matanya ada keyakinan penuh. Baginya, Tamara terlalu mencintainya untuk benar-benar pergi.

Ia lanjutkan dengan nada menusuk, “Orang tuamu saja sudah nggak mau kamu. Kalau kamu juga tinggalkan aku, kamu benar-benar akan sendirian di dunia ini.”

Kalimat itu menghantam tepat di jantung Tamara. Wajahnya seketika gelap, seperti langit sebelum badai.

Tangannya mengepal erat di sisi tubuh, buku-buku jarinya memutih. Bahunya bergetar halus, antara marah dan terluka.

Benar-benar seperti itu. Hanya orang yang paling kita cintai, yang tahu cara lukai paling dalam.

Kenangan indah di masa lalu kini berubah jadi bilah pisau, satu per satu mengiris hatinya tanpa ampun.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 50

    Dengan bantuan kakaknya selama dua hari ini, hampir semua urusan Tamara sudah beres.Soal perusahaan, sebenarnya ia sudah nggak perlu datang lagi.Kalau Fiona mau terus buat keributan, silakan saja, toh sekarang semua itu sudah nggak ada hubungannya lagi dengan dirinya.Wajah Fiona memerah karena marah, giginya terkatup rapat.“Kalau gitu aku akan datang ke rumahmu! Mulai sekarang jangan harap kamu bisa hidup tenang!”Tamara tersenyum tipis. Fiona benar-benar kira ancaman seperti itu bisa bikin dia takut?“Terserah.” Nada suaranya datar, lalu ia berbalik hendak pergi.Fiona menghadangnya.“Perempuan nggak tahu malu! Kalau hari ini kamu nggak mau kasih ganti rugi, jangan harap bisa keluar dari pintu ini!”Tiba-tiba ia tekan dadanya, wajahnya berubah pucat dengan ekspresi kesakitan, seolah benar-benar tahan sakit.“Bibi, kenapa? Bibi, apa penyakit jantungmu kambuh lagi?”“Tamara, jangan keterlaluan! Kamu tahu tubuh Bibi nggak sehat, apa kamu harus buat dia sampai seperti ini baru puas?!”

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 49

    “Bibi, pagi-pagi sekali aku keluar kamar sudah nggak lihat kamu, ternyata kamu ada di sini. Tolong jangan tengkar dengan Kak Tamara karena masalah ini. Sebelumnya Bibi sampai harus dirawat di rumah sakit, kami semua sangat khawatir. Kak Felix juga bilang, semua urusan ini akan dia urus. Lagian Kak Felix dan Kak Tamara cuma sedang bertengkar, Bibi jangan sampai marah karena hal ini, yah.”Jolin segera hampiri dan topang tubuh Fiona.Nada bicaranya lembut, wajahnya penuh kepedulian, seolah-olah ia benar-benar gadis yang penurut dan bijaksana.Lihat mereka berdua, wajah Tamara tetap dingin tanpa ekspresi.‘Pagi ini? Jadi sekarang mereka sudah tinggal bersama? Cepat sekali pergerakannya.’Tamara hanya merasa geli.“Jolin, nggak perlu bujuk aku. Meskipun hari ini aku mati di sini, aku tetap nggak akan biarkan dia hidup tenang. Dulu aku perlakukan dia dengan sangat baik, tapi sekarang gimana? Dia sama sekali nggak sisakan jalan mundur untuk aku. Pernah nggak dia pikirkan hubungan kami dulu?”

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 48

    Jolin sengaja mendekat ke tubuhnya, tempelkan dirinya ke Felix, berusaha salurkan sedikit kehangatan lewat sentuhan.Namun Felix justru refleks menghindar, tetap jaga jarak di antara mereka.Hati Jolin terasa seperti diremas kuat. Di balik matanya, kilatan tajam melintas.Perempuan sialan itu sudah bertindak sedemikian kejam, namun Felix tetap nggak tega lepaskan dia!Apa di hati Felix masih ada tempat untuk dirinya?Setelah tinggalkan tempat itu, keduanya pulang ke rumah Felix.Di dalam benak Jolin, sebuah rencana perlahan terbentuk.Ada banyak hal yang sebenarnya nggak perlu ia lakukan sendiri, cukup buka mulut, akan selalu ada orang yang maju belain dia....Keesokan paginya.Hari ini Tamara datang ke perusahaan sendirian. Kakaknya datang dari jauh untuk bantuin dia, kemarin juga sudah selesaikan begitu banyak urusan untuknya.Mereka tidur sangat malam jadi ia ingin biarkan kakaknya istirahat lebih lama.Selain itu, ia sudah buat janji ketemu dengan Presiden Grup Herlambang.Setelah

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 47

    Jolin terisak, tangisnya terdengar semakin keras.Di dalam hatinya, kebencian terhadap Tamara makin mengakar.Perempuan sialan itu, tega sekali pakai cara sekotor ini untuk jatuhkan dia, paksa dia sampai ke jalan buntu.Kalau sudah gini, nggak ada seorang pun dari mereka yang pantas hidup tenang!“Jolin, sebenarnya semua ini karena aku. ”Felix berkata lirih penuh rasa bersalah.“Aku yang seret kamu ke dalam masalah ini, maafkan aku. Kalau pada akhirnya kamu nggak bisa dapatkan gelar, aku tetap akan jaga kamu seumur hidup. Kamu nggak perlu khawatir sama sekali.”Hati Felix dipenuhi penyesalan.Tangannya terus tepuk punggung Jolin dengan lembut, suaranya penuh rasa sayang.Namun Jolin tetap menangis tersedu-sedu. Dengan suara penuh luka, ia berkata,“Kakak tahu sendiri betapa pentingnya gelar itu buat aku. Sejak awal aku tahu kalau aku salah karena pakai paten Kak Tamara, tapi waktu itu aku benar-benar nggak punya pilihan lain.”Saat itu memang Felix yang kasih ide itu, ambil paten mili

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 46

    Felix terkapar di lantai, kesakitan luar biasa, nggak punya kesempatan untuk balas satu pukulan pun.Thomas sebenarnya sudah lama nggak suka dia.Hari ini kebetulan ada kesempatan, jadi sekalian saja ia lampiaskan semuanya.Namun meski lihat Felix dalam keadaan seburuk itu, amarahnya masih belum benar-benar terlampiaskan.Karena yang terluka selama ini adalah adik perempuannya sendiri. Bagi Thomas, rasa sakit sebesar ini, sama sekali belum seberapa.“Masih mau berkelahi?” tanya Thomas dingin.“Nggak … nggak!”“Tol … tolong lepaskan aku ….”Akhirnya Felix menyerah dan memohon.Kalau ini diteruskan, rasanya nyawanya sendiri bisa melayang di tangan Thomas.Barulah Thomas lepaskan. Ia rapikan dasinya sambil berkata dingin, “Pergi. Cepat minggir. Jangan sampai aku lihat kamu lagi!”Begitu dilepas, Felix langsung merangkak bangkit, wajahnya penuh luka, langkahnya terpincang-pincang saat pergi. Ia bahkan nggak berani noleh, takut Thomas tiba-tiba pukul dia lagi.Setelah sosok Felix menghilang

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 45

    Lihat kakaknya yang begitu buru-buru, Tamara pun nggak nolak.Sebenarnya di dalam hati ia juga gelisah, ia pun ingin segera selesaikan semuanya dan terbebas dari kekacauan ini.“Oke, ayo kita ke perusahaan.”Keduanya pun tiba di gedung perusahaan.Begitu Felix lihat mereka, ia langsung seperti orang gila.Ia lari menuju kantor Tamara dan tendang pintu dengan keras hingga terbuka.“Felix, kamu sakit jiwa yah? Datang-datang bikin keributan lagi!” Suara Tamara terdengar dingin.“Tamara, aku tahu kamu nggak puas dengan aku. Tapi kalau memang ada masalah, hadapi aku langsung! Apa maksudmu main kotor di belakang, sampai Jolin kehilangan gelarnya?! Kenapa dulu aku nggak sadar kalau kamu ternyata sejahat ini? Kamu benar-benar wanita berhati gelap! Sungguh aku buta sejak awal!”Mata Felix membelalak penuh amarah. Api kemarahan membakar di tatapannya, tubuhnya gemetar hebat.Tamara justru merasa puas. Ia tersenyum tipis.“Kalian pakai barang milikku untuk nipu demi dapat gelar, sekarang masih be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status