Masuk
"Ellena, saya bahkan tidak yakin kamu bisa bekerja."
Napas Ellena tercekat begitu suara bariton di hadapannya naik beberapa oktaf. Dulu, suara itu setiap waktu membisik halus penuh damba di telinga Ellena. Air matanya mau jatuh—berkumpul di pelupuk membentuk embun tipis, entah karena hatinya yang perih atau egonya yang mulai runtuh karena sosok itu. Lelaki bernama Reon yang duduk penuh dominasi di kursinya melemparkan setumpuk kertas yang tidak terlalu tebal ke meja. Tepat di hadapan Ellena, dokumen itu berhamburan. "Gak ada relevan sama sekali dengan presentasi kamu." Sinis Reon, matanya menusuk seakan menghunuskan pedang. "Apa yang saya sampaikan di meeting memang tidak masuk di otak kamu atau telinga kamu?" Reon mendecak kesal. "Kamu mau ganti rugi kalau proyek ini gagal?" Tangannya memukul-mukul meja sampai segala yang di atasnya bergetar. Sekretaris pertama yang berdiri di samping Ellena, bernama Laura menundukkan wajah, tapi diam-diam dia mengangkat satu sudut bibirnya sehingga tercipta seringai samar tanpa ada yang menyadari. Sementara itu, Ellena hanya menautkan jemari di depan tubuhnya, wajah wanita berkulit putih pucat itu mengarah lurus ke depan. Tapi pandangannya sama sekali tidak berani menatap Reon. Mata Ellena yang mulai basah justru tertuju pada dokumen berserakan yang dilempar ke hadapannya secara kasar. Laki-laki itu merupakan atasan di perusahaan tempat Ellena bekerja sebagai sekretaris kedua. Sekaligus, orang yang sebenarnya paling tidak mau Ellena temui lagi. Ya, Reon. Dareon Sankara Adinata. Sosok mantan kekasih yang punya pengaruh cukup besar dalam kehidupan Ellena. Cinta pertama di masa SMA yang penuh kenangan manis juga pahit dan berujung pada perpisahan yang sangat tidak menyenangkan kala itu. Sudah enam tahun lamanya, tapi rasanya seolah terjadi kemarin. Memori ketika Ellena memutuskan Reon dengan cara paling menyakitkan, membuat laki-laki itu tersiksa batin, lalu membuangnya. Hingga Reon harus melintasi benua dan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di Cambridge, Massachusetts kemudian di Oxford. Satu minggu yang lalu Ellena senang bukan main karena akhirnya mendapatkan panggilan kerja dari ratusan lamaran yang dia lamar di berbagai aplikasi. Tapi tak pernah Ellena sangka dia akan bertemu lagi dengan mantan kekasihnya itu. Padahal Ellena hanya mau mendapatkan pekerjaan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan pengobatan neneknya. "Kamu dengar gak yang saya bicarakan?" bentak Reon. Ellena sampai terlonjak sedikit begitu badan pria tinggi itu maju dan membanting telapak tangan di permukaan meja. Akhirnya Ellena menaikkan pandangannya sehingga iris kecoklatan gadis itu bertemu dengan pemilik bola mata hitam di balik meja. "I–iya, Pak, saya mendengar," jawab Ellena gelapan. Rasa kaget dan perih di dadanya bercampur jadi satu. Embusan napas kasar dari hidung tinggi Reon terdengar. Matanya masih tertuju pada wajah pucat Ellena. "Laura kamu boleh pulang, kalau kamu…," pria itu menjeda kalimatnya, "…selesaikan semua dokumen itu sampai jam 8. Jangan kepikiran untuk pulang sebelum rampung." Perintah Reon itu mutlak. Apa yang laki-laki itu mau harus dituruti, tidak boleh ada penolakan. Ellena tahu persis. Sebab, apa yang ada pada Reon tidak banyak yang berubah. Hanya tubuhnya yang menjulang tinggi dan lebih kekar. Serta hubungan mereka yang kandas. Ellena keluar dari ruangan itu. Langkah heelsnya mengetuk lemah di lantai area transisi di mana mejanya berada. "Duluan, ya, Ellena," ujar Laura dengan senyum manis yang terbit di bibir merah muda perempuan itu. "Iya hati-hati, Kak," timpal Ellena. Gadis cantik itu menurunkan diri ke kursinya dan mulai berkutat dengan monitor. Napasnya terasa berat. Lagi-lagi dia harus lembur. Tapi, dia sadar akan tanggung jawab pekerjaannya. Dan, tak terasa sudah tiga jam Ellena duduk di depan layar PC dengan jemari lentiknya yang berteman mesra dengan keyboard. Dia begitu fokus melakukan revisi besar-besaran dari dokumen yang diberikan Reon. Salutnya, fokus Ellena tidak pecah sama sekali. Matanya hanya tertuju pada monitor sejak tadi. Padahal, orang kebanyakan akan mudah terdistraksi di tiga puluh menit pertama saat melakukan sesuatu. Entah itu, menggaruk kepala, mendesah frustasi, mungkin ke pantry untuk menyeduh kopi susu dingin, atau sekadar meregangkan punggung. Ketika pekerjaan Ellena akhirnya selesai, barulah gadis itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu mengeluarkan napas lega. "Akhirnya." Gumamnya. Ellena segera beranjak dari kursi dan merapikan dokumen yang selesai dia ia print dan didekap ke dalam dekapannya. Ellena mengetuk dua kali pintu ganda besar, lalu mendorongnya pelan. "Permisi, Pak Reon." Langkahnya hati-hati memasuki ruangan Reon. Berniat ingin memperlihatkan hasil revisian. Namun, tiba-tiba semua dokumen di tangannya jatuh berserakan di lantai. Pasalnya, Reon entah dari arah mana langsung muncul dan mendesak Ellena ke dinding. "Enggh…" satu desahan kaget lolos dari bibir Ellena. Pupilnya membesar. "Sampai kapan kamu mau pura-pura, Elle?" suara dalam Reon terdengar. Ellena bisa merasakan aroma mint dari napas hangat bosnya itu. Jantung Ellena seketika menggedor kuat seperti ingin mendobrak keluar. Punggung Ellena bisa merasakan dinginnya dinding menusuk tembus ke dalam kemejanya. Tapi yang jauh lebih berbahaya, di hadapannya sekarang, Reon—mantan kekasih yang dulu selalu menciptakan gelayar panas di dada Ellena kini begitu dekat dengan gadis itu. "P–Pak Reon…"Langit sudah berubah menjadi biru gelap dan lampu-lampu lobi memantul di lantai marmer yang mengilap. Karyawan yang pulang kerja berjalan keluar satu per satu, sebagian masih sibuk dengan ponsel atau percakapan singkat sebelum berpisah.Di depan pintu masuk, mobil hitam milik Reon sudah menunggu. Lelaki berjas hitam itu berdiri di samping mobil. Tangannya masuk ke saku celana dan matanya sesekali melirik ke pintu lobi, menunggu sang istri. Tak lama kemudian, Ellena berjalan keluar. Tas istrinya itu bergoyang di bahunya. Begitu melihat Reon, langkahnya berubah menjadi lari yang lebih cepat."Reon!"Reon langsung membentang tangan, menerima pelukan Ellena. Tubuhnya sedikit terdorong ke belakang oleh pelukan tiba-tiba itu. Dia menghela napas pelan, lalu tangannya otomatis melingkar di punggung istrinya."Kamu kelihatan senang banget," katan Reon rendah, setengah menghela napas.Ellena tidak langsung menjawab. Ia hanya memeluk Reon
Di balik meja kayu hitam dalam ruangan kerja, Reon duduk bersandar di kursinya. Jasnya dilepas dan digantung di sandaran, hanya menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas terbuka. Di satu tangan, dia memutar-mutar ponselnya dengan gelisah.Matanya menatap layar komputer, tapi pikirannya jelas tidak berada di sana, melainkan dipenuhi satu hal.Ellena istrinya.Rahangnya menegang sedikit ketika mengingat saputangan inisial A yang ditemukan semalam. Jari lelaki itu berhenti memutar ponsel. Ia menatap layar hitamnya sendiri yang memantulkan bayangan wajahnya."Apa Ellena… benar-benar selingkuh?"Tok.Tok.Pintu ruangannya diketuk dua kali dan Reon langsung kembali ke ekspresi datar yang biasa dia pakai di ruang rapat."Masuk."Pintu terbuka perlahan. Vino melangkah masuk dengan langkah rapi sambil membawa tablet di tangannya. "Permisi, Pak. Saya mau melaporkan mengenai perintah B
Di ruangan tengah sebuah suite hotel yang diterangi cahaya lampu gantung yang lembut, dua wanita paruh baya duduk bersebelahan dengan sikap santai yang penuh wibawa di atas sofa panjang. Keduanya terlihat awet muda. Kulit mereka terawat dihiasi riasan elegan dan rambut yang ditata sempurna. Siapa lagi kalau bukan Sharron dan Jendela kaca besar di hadapan mereka memperlihatkan pemandangan kota malam yang berkilauan. Diana mengenakan gaun satin berwarna zamrud dengan potongan sederhana dan mahal. Ia menyilangkan kaki dengan anggun, jemarinya yang dihiasi cincin berlian memegang gelas sampanye tipis. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang menyimpan kepuasan.Di sampingnya, Sharron mengenakan setelan sutra berwarna krem pucat. Rambutnya disanggul rapi, dan sepasang anting mutiara berayun pelan di telinganya. Tatapannya tajam namun tenang, seperti seseorang yang sudah memperhitungkan segala kemungkinan jauh sebelumnya.Keduanya menga
Ellena akhirnya kembali, dia menarik kopernya untuk keluar dari area kedatangan. Di tengah hiruk pikuk bandara, iris kecokelatan gadis itu langsung menangkap sosok yang berdiri menunggu di balik pagar pembatas. Ya, itu suaminya. Dareon Sankara Adinata yang selalu jadi magnet bagi setiap orang. Wajahnya, auranya serta penampilannya begitu menawan. Wajah Ellena yang kusut karena penerbangan panjang langsung berubah cerah ketika bertemu tatap dengan Reon. Tanpa ragu Ellena mempercepat langkah. "Sayang!" panggilnya pelan.Reon melangkah mendekat dengan senyuman lebar dan tatapannya yang cerah. Di tangannya terdapat buket bunga. Ellena langsung berlari kecil ke arah Reon. Dalam sekejap dia memeluk tubuh suaminya erat-erat.Kopernya nyaris terlepas dari tangan, tetapi Ellena bahkan tidak peduli. Wajahnya menempel di dada Reon seolah ingin memastikan bahwa dia benar-benar sudah pulang.Reon sempat terkejut sesaat, lalu tang
Di dalam ruangan yang sunyi itu, Ellena menarik tangannya lepas dari cengkeraman Areksa. Napas Ellena terengah-engah. "Kenapa Bapak jadi begini?" ujarnya dengan nada tidak senang. Areksa menatap Ellena tanpa bergerak. Matanya yang biasa berbinar kali ini diisi kilatan amarah. "Aku udah cukup bersabar sama sikap kamu yang selalu bersikap profesional sama aku, Ellena!" Areksa menghela napas pendek, lalu menatap gadis itu lurus-lurus. "Sekarang aku mau bicara blak-blakan sama kamu.""Gak perlu membawa saya ke tempat sepi kayak gini," Ellena mau melangkah keluar tapi pintu ditahan oleh Areksa. Ellena spontan menatap lelaki itu tajam, lalu mundur beberapa langkah. "Pak Areksa, Anda tahu kalau saya sudah menikah, sikap Anda yang begini sangat mengganggu saya," tegas Ellena. Rahang Areksa mengeras. "Iya, saya tahu kamu sudah menikah, tapi aku yakin kamu pasti gak bahagia sama pernikahan kamu, Ellena."Lelaki itu maju selan
Ellena tidak pernah menyangka akan bertemu Areksa di tempat itu. Di Jenewa. Kenapa bisa lelaki itu ada di sini juga? "Aku pikir tadi aku salah orang, ternyata beneran kamu," ujar Areksa saya berhenti di depan Ellena. Dia juga tidak menyangka kalau akan bertemu gadis itu di negara ini. Senyum kamu terukir di bibir Ellena. "Kamu bareng suami kamu?" tanya Areksa. "Enggak, Pak. Saya bareng salah satu desainer senior SS Jewel Co. Kami diminta untuk mengikuti acara lelang di sini.""Kebetulan sekali, aku memang juga mau mengikuti acara lelang malam nanti. Sekalian mau mengikuti forum teknologi kreatif di Palexpo."Ellena hanya bisa tersenyum profesional karena tidak mau percakapan mereka berlanjut. Untungnya salah seorang staf Star Games menghampiri Areksa dan mengabarkan kalau kamar mereka sudah siap. "Kalau begitu aku duluan, Ellena. Senang berjumpa kamu di sini. Sampai ketemu di acara lelang."Ellena menganggu
Setelah makan malam mereka berakhir, Reon tidak langsung mengantar Ellena pulang. Mobil Reon saat ini berhenti di parkiran eksklusif gedung apartemen. Di dalam SUV mewah itu, Reon melepaskan seat belt, lalu memajukan badannya. Tangan pria itu kemudian terulur untuk membantu Ellena mel
Seperti benang halus yang melilit, momen ciuman dengan Reon di pusat gala dan di koridor itu terus berputar di pikiran Ellena. Semakin berusaha dia singkirkan, malah selalu menemukan celah untuk kembali. Lamat-lamat kemudian semakin gamblang. Bahkan di tengah meeting, Ellena
Ellena hanya menjawab Reon dengan erangan tipis. Dia paham tugasnya untuk membuat Graciella percaya. Tapi, sinyal warasnya anjlok karena sentuhan dominan Reon yang memabukkan. Sementara itu, Reon kembali mendaratkan bibirnya ke bibir mungil Ellena. Kedua tangannya masih aktif di dada sang mantan
Di mejanya, mata Ellena mengarah pada layar PC, tapi sesekali dia menoleh ke dua daun pintu besar berwarna cokelat gelap di ujung ruangannya. Sudah hampir satu jam Graciella dan Reon berada dalam suite CEO itu, berdua. Ellena merasa dadanya merasakan sesuatu yang aneh. Apa yang mereka lakukan







