Masuk"P-pura-pura apa yang dimaksud, Pak?"
Ellena menarik napas, wajahnya sengaja menoleh ke arah lain, tidak mau menatap iris hitam yang menghanyutkan itu, tapi tangan Reon memaksa dagu Ellena mendongak pada pria tersebut. "Kamu bertingkah seperti tidak pernah ada apa-apa, Elle," bisik Reon, pria berkulit putih bersih itu semakin menunduk, wajah mereka sudah sepersekian inci jaraknya. "Hebat kamu, ya." Ellena terpaku, tapi pupilnya bergetar. Dia lalu menelan saliva pelan. "Jadi Anda masih ingat dengan saya?" "Oh ya, tentu, saya nggak bakalan pernah lupa sama perempuan yang seenaknya membuang dan memanfaatkan perasaan saya." Rahang Reon mengetat, napasnya memburu. Sampai tujuh turunan pun dia tidak akan lupa. Ellena menatap Reon lama, belum mengatakan apa-apa lagi karena susah bicara. Pasalnya cengkraman lelaki itu semakin kuat di dagu ovalnya, seolah ingin meretakkan tulang rahang Ellena. Tidak mau lama-lama terjebak di jarak tipis dengan Reon, Ellena akhirnya mengangkat kedua tangannya mendorong dada bidang Reon, ingin keluar dari jebakan tubuh kekar itu. Sayangnya, kekuatan Reon jauh lebih besar. Kedua pergelangan tangan Ellena dengan mudah diraih dan dikurung menggunakan satu tangan besar Reon di atas kepala gadis itu. "Saya belum selesai ngomong." Reon semakin mendesak Ellena menempel di dinding. Tatapannya menusuk tajam bagai belati. Reon mengaku sangat benci dengan Ellena sejak gadis itu mencampakkan dirinya saat lulus SMA. Tapi, setelah enam tahun bertemu kembali, ada yang tak berubah dari Reon. Matanya masih terus mencari keberadaan Ellena, hatinya masih terus menggaungkan nama Ellena dan pikirannya masih dipenuhi Ellena. Sebenarnya, Reon tidak menyangka kalau Ellena akan menjadi salah satu sekretarisnya. Dia kembali ke negara ini hanya untuk memenuhi tanggung jawab yang diberikan sang papa agar belajar sekaligus memimpin salah satu perusahaan milik Adinata Group. Tapi… Ellena… Perempuan yang dia cintai tanpa memandang status—mantan kekasihnya malah muncul tak terduga di depan mata Reon. Sejak hari pertama Ellena masuk dia langsung menghujani gadis itu dengan berbagai macam tugas. Dia macam bos galak yang kasih pekerjaan tiada henti sampai menyuruh untuk lembur. Alasannya simpel. Dia ingin menyiksa Ellena yang pernah mencampakkannya. Cuma ia mungkin lupa bahwa Ellena itu perempuan pekerja keras. Sehingga semua pekerjaan yang diberikan pada gadis itu diselesaikan meski harus lembur. "Jadi… semua perlakuan Anda sejak saya jadi sekretaris Bapak itu bentuk balas dendam?" akhirnya Ellena buka suara, "karena Anda belum move on dari masa lalu?" “Di Amerika dan Inggris sana banyak cewek yang jelas lebih cantik dan mau sama saya. Gak kayak kamu yang gak mau sama saya.” Dia menurunkan tangannya yang mencengkram kedua sisi rahang rapuh Ellena, namun jaraknya semakin menipis. Kepalanya menunduk dalam-dalam, seolah ingin mengabsen setiap garis wajah gadis itu. Reon bahkan dengan jelas melihat embun tipis yang terbentuk di pelupuk mata Ellena. Dia juga merasa kalimatnya menyakitkan. Ah, salahkan Ellena. Gadis itu juga pernah melukai Reon. Bahkan lebih menyakitkan kata-kata Ellena dulu waktu mencampakkan Reon. "Kalau begitu lepaskan saya, Pak Reon…" Ellena sekuat tenaga menarik kedua tangannya untuk turun, tapi cengkraman Reon semakin kuat di atas kepalanya. Sementara itu, Reon tidak bisa menahan gejolak di dalam dadanya. Dia memang benci pada Ellena, tapi berdekatan dengan mantan kekasihnya membuat waras Reon luruh runtuh. Perempuan itu masih sama. Masih menatapnya ganas. Masih betah menahan tatapan. Reon tak kuat saat deru napas itu makin berdetak. Ia mencondongkan dirinya sebelum jatuh ke helai rambut Ellena. "Ternyata kamu yang belum move on dari saya, Elle." Tangan Reon menarik sebuah kalung dari balik kerah kemeja gadis itu. "See?" dia memperlihatkan inisial R tepat di depan mata Ellena. "Kalung pemberian saya masih kamu pakai sampai sekarang." Ellena menggigit bibirnya yang mulai bergetar. Mata gadis cantik itu berkaca-kaca. Reon melepaskan kalung itu begitu saja. "Saya baru sadar kalau ada untungnya kamu ninggalin saya, Elle. Saya jadi sadar kalau kita memang gak setara dari segi apapun. Kamu miskin dan tidak pantas bersanding dengan sa–," kata-kata Reon tidak sempat dilengkapi. PLAK! Ellena lebih dulu mendaratkan tamparan keras di pipi kanan Reon. Dengan bahu yang rapuh, Ellena memaksa dirinya menegakkan punggung. Dagunya terangkat sedikit. "Saya sudah move on dan juga tidak menyesal sudah meninggalkan Anda." "Pak Reon pikir cuma Bapak yang terhormat ini sudah jauh lebih baik?" Meski matanya basah, Ellena berusaha melayangkan tatapan tajam tepat di iris lelaki itu. "Kalung ini saya pakai supaya gak lupa balikin ke Bapak, karena waktu saya cuma untuk kerja." Dengan tangan gemetaran Ellena mencabut pengait kalung itu sendiri. "Berhubung karena Anda bahas, ini saya kembalikan!" Ellena melemparkan kalung itu ke dada bidang Reon. Tak peduli dengan komentar Reon berikutnya, Ellena memilih untuk keluar dari ruangan bosnya, meninggalkan Reon yang mematung di sana.Setelah belasan jam penerbangan dari Singapura, Ellena dan ketiga manajemen senior RCA Investments akhirnya tiba di bandara Zurich. Pesawat mereka mendarat sekitar pukul enam pagi. Langit masih kelabu kebiruan, matahari baru merangkak naik di balik siluet pegunungan Alpen dan lampu runaway masih menyala kuning pucat, memantul di lapisan salju tipis. Itu pertama kalinya juga bagi Ellena melihat salju. Bukan dari layar ataupun film, tetapi salju asli. Begitu pintu pesawat dibuka, udara musim dingin langsung menyergap tajam, kering dan menggigit. Napas yang keluar dari hidung dan mulut berubah jadi uap putih. Ellena refleks memeluk mantel tebalnya lebih rapat.Tiga manajemen senior di depannya sudah terlihat siap seperti mau pemotretan majalah bisnis.Melinda—Wakil Direktur Keuangan mengenakan mantel wol panjang, turtleneck hitam dan boots kulit ramping. Rambutnya rapi dengan makeup tipis profesional. Kiandra—Wakil CIO memakai coat abu-abu gelap tailored fit, syal kasmir, koper kecil
Awalnya, Ellena masih belum percaya kalau namanya masuk list untuk ikut perjalanan dinas. Bahkan saat Laura sudah mengirimkan detailnya via email, Ellena juga belum yakin. Bisa saja namanya tiba-tiba diganti untuk beberapa hari ke depan. Tapi, hari itu… saat dia berdiri di lantai bandara, Ellena merasa jantungnya berpacu kuat menyadari bahwa dia benar-benar akan keluar negeri. Ellena bahkan belum pernah naik pesawat sekali pun. Baginya, bandara cuma tempat yang selama ini dilihat dari drama Korea atau vlog orang lain. Tapi sekarang, dia berada di tengah suara pengumuman penerbangan yang bersahut-sahutan, koper berderak dan orang-orang yang berlalu-lalang dengan jas mahal dan paspor di tangan.Ellena menelan saliva sembari menguatkan genggaman pada tiket pesawatnya. Udara dingin AC menyapu wajahnya yang sedikit… pucat—mungkin karena ini akan jadi pengalaman pertamanya naik pesawat. Berbagai pikiran negatif perlahan menyusup di pikiran
Ellena terlihat sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak meraup bibir Reon. Bagaimana tidak? Jarak mereka hanya terpisah beberapa inci dan Reon tidak berhenti menggodanya tipis-tipis. Untung, pertahanan Ellena tidak rapuh. Keraguan masih jadi benteng tertinggi untuk menerima ajakan balikan dengan Reon meski semua kesalahpahaman mereka telah usai. "Pak Reon… saya harus antarkan dokumen ini ke Kak Laura," Ellena menatap Reon serius. Lelaki itu mengangkat alisnya sekilas. "Kamu boleh pergi, kalau kamu gak bicara formal sama aku saat lagi berduaan begini."Ellena menghela napas panjang. Ya, Dareon Sankara harus dituruti kemauannya. "Reon… tolong minggir, aku mau keluar dan bawa dokumen ini ke Kak Laura," kata Ellena dengan tegas. Reon menyeringai lembut, sementara itu Ellena segera keluar dari dominasi tubuh Reon.Setelah Ellena melewati pintu, gadis itu akhirnya bisa bernapas lega. Dia lanjut melangkah menuju lift, membawa dokumen di tangannya. Saat jam makan siang, Ellena dan
Malam semakin larut, semua tamu sudah pulang, menyisakan kesunyian seperti biasa di unit apartemen itu. Mata Ellena tidak kunjung tertutup dan kesadarannya masih masih melingkupi. Gadis itu akhirnya bangun, turun dari ranjang dan melangkah ke meja kerja di sisi kamar. Selanjutnya, dia meraih buku sketsa serta kotak pensil warna yang merupakan kado dari Reon. Lampu nakas menyala hangat dengan memantulkan cahaya kekuningan di dinding krem. Ellena kemudian duduk bersandar di sisi kasur dengan lutut ditekuk di depan dada sambil meletakkan buku sketsa di atasnya. Sampul buku sketsa itu tebal, warna biru muda, teksturnya seperti kulit asli. Saat dibuka, kertasnya halus dan berat—bukan kertas biasa. Jenis yang membuat orang takut salah coret.Jemari Ellena mengusap halaman pertama pelan, hampir seperti menyentuh sesuatu yang rapuh.Senyum kecil terbit di bibirnya sebelum dia mulai menggerakkan pensil di tangannya. Perlahan
Ellena menelan saliva, pupilnya agak bergetar saat memandang Reon tepat di bola mata hitam lelaki itu. Dia kemudian melangkah melewati Reon. "Bukan begitu… Reon, aku sekarang… mau jalanin aja apa yang ada."Reon menoleh sebentar dari balik bahu lalu akhirnya berbalik. Ellena lalu merendahkan badan untuk menyimpan barang belanjaannya di dekat lemari. "Soal ajakan kamu untuk balikan…," dia meluruskan punggung, "aku gak nolak, tapi aku juga belum bisa bilang iya, Reon.""Kenapa?" Reon mendekat, mengiris jarak di antara mereka saat Ellena memutar tubuh menghadap Reon. "Aku sudah mengakui kesalahan aku di fun day dan Highmark, Elle," sambung lelaki itu. "Karena aku masih butuh waktu, Reon. Bukannya kamu bilang kamu mau nunggu."Reon menunduk kala jarak mereka sisa satu jengkal, sementara Ellena harus mendongak karena perbedaan tinggi mereka. "Tapi kamu kasih kesempatan untuk laki-laki lain dekat sama kamu, contohnya sama
Tatapan Ellena terpaku pada Reon, kemudian dia menggeleng, "aku bisa sendiri.""Go on, then," kata Reon dengan nada dalamnya. Jemari Ellena menekan salah satu bagian kotak hingga kertas yang melapisi bagian atasnya tersobek. Gadis itu meraih sebuah gulungan kertas dari dalam sana. "Nomor… delapan," ucap Ellena. "Nomor delapan! Kado nomor delapan mana?!" teriak Vino semangat.Astra langsung lari ke troli, mengambil kado besar berpita. "Ini, Kak," ujar gadis remaja itu, menyerahkan kotak pada Ellena. "Uwwww, itu kado dari aku," kata Graciella tersenyum lebar. Semuanya bertepuk tangan lagi, sementara Ellena mulai melepaskan bungkus kado kemudian membuka penutup kotak. Mata Ellena melebar ketika mengeluarkan sebuah tas limited edition yang dia kisar seharga ratusan juta dari kotak. "Gracy… ini…""Eitsss… gak boleh ditolak ya, Ellena, aku tahu isi pikiran kamu apa sekarang."Ellena t







