เข้าสู่ระบบ“Hey, hey, heeey! Udah, berhenti! Astaga!” Danu lari dan segera melerai mereka berdua. Untungnya, saat itu tidak ada yang lewat dan melihat keduanya dengan posisi yang seperti itu.“Sudah, Tina!” tegas Danu.“Neng ndak papa?” tanya Danu yang langsung mengecek rambut Silvy karena terlihat tercabut di telapak tangan Tina.“Nggak papa, Pakde. Tapi perih.”“Yaudah, Neng ke kamar aja buat istirahat. Bude, biar pakde yang urus, ya? Sebentar lagi kamu mau berangkat kerja.” Danu memberi nasehat dengan nada yang begitu lembut padanya.Danu paham sekali bagaimana Silvy, ia tak ingin dianggap memihak salah satu dari mereka.“Tenang, ya? Pakde bisa jaga diri, kok.” Danu mengusap bahu gadis itu agar tenang.“Yaudah kalau gitu. Vy ke kamar, ya? Nanti kalau ada sesuatu, Pakde panggil aja.”“Iya,” angguk Danu padanya.Tina tersenyum, merasa tenang karena pada akhirnya gadis itu yang pergi dari mereka.Dengan ini, kesempatan ia masuk ke dalam rumah dan berusaha untuk membangkitkan kenangan indah mere
“Apa lagi ini?” Danu dengan helaan napas panjangnya bergumam menatap pesan dari Ane itu.Sebenarnya Danu ingin segera pergi dari sana, tapi kadung dipesankan kopi oleh kedua sahabatnya dan cemilan apem hangat dengan taburan kelapa yang Danu suka.“Kenapa kamu, Dan? Ada masalah lagi?” tanya Adi.“Hmm… engga, ndak papa.” Danu menyimpan hpnya untuk beberapa saat sebelum mendapat alasan untuk pergi dari sana.“Udahlah. Nih, apem anget sama kopi panasnya. Aku tahu, kamu masih pusing dan udah jarang banget kumpul. Kamu pasti stres, apalagi sekarang malah ada inang stresmu di rumah itu.”Danu tersenyum dengan ucapan mereka yang saling membenarkan itu. Terasa sedikit kasar, tapi memang benar.Apem legit itu Danu nikmati, bahkan Danu sampai merem melek dengan rasa manis dan gurih yang berbaur di lidahnya itu.“Jadi, Tina memang harus diawasi, kan?” tanya Danang lagi padanya.“Iya, cuma itu. Setidaknya sampai penyidikan dan vonis kasusnya selesai,” jawab Danu.“Ya, siapa sangka kamu justru ber
“Astaga! Bude, ngagetin aja!” omel Silvy dengan piring di tangan yang nyaris lepas dari genggaman.“Kaget kamu? Masih muda udah kagetan. Memangnya, kamu mikirin apa?” tanya Tina yang dengan santai bersandar di meja kompor itu.“Kepo!” tukas Silvy.Suasana hening sejenak, dan Silvy tahu jika Tina perhatikan dirinya sejak tadi dari ujung kepala sampai ujung kaki.“Kamu betah di sini? Kamu masih jadi sarang duitnya Ommu?” tanya Tina padanya.Silvy jelas tak mau bahas itu lagi, karena itu sebuah hal yang sangat menyakitkan baginya.Tina mencari bahan lain untuk ia bicarakan, terutama sesuatu yang memancing Silvy untuk bicara.“Kelihatannya, kamu ngga begitu akrab sama mereka? Mereka cuekin kamu, ya? Kenapa? Apa karena kamu paling miskin?” tanya Tina padanya.“Bude kalau ngga ada kerjaan, mending balik ke kamar, deh. Ngga usah bahas yang engga engga di sini!” Silvy dengan tegas langsung menegurnya.“Cuma tanya. Soalnya pas mereka ngobrol, kamu diem aja kayak orang yang diabaikan. Harusnya
“Huaa! Mas Danu!” Tina langsung over acting menghampiri Danu dan menangis menggelendot di lengannya saat itu.Tina juga seolah baru sadar bahwa mantan suaminya begitu kekar, gagah dan meggoda.Dari dulu, ke mana saja?“Mas, mereka bully aku, Mas. padahal aku udah bangun pagi dan berusaha masakin makanan kesukaan kamu. Tapi, bagi mereka aku salah terus.” Tina mengadu dengan begitu dramatis.Danu menatap mereka semua yang duduk di meja makan saat itu, padahal biasanya lebih suka di lesehan karena bebas bergerak.“Kenapa ini?” tanya Danu pada mereka semua.“Pakde, Kak Susan cuma kasih tahu kalau Pakde itu ga bisa makan yang mericanya banyak, terus beberapa nasehat lagi tentang Pakde yang harus dihindari ketika masak. Eh, Tina malah gitu.” Amy menjelaskan duduk permasalahannya.“Iya, Pakde. Kan bener, daripada besok keulang dan Pakde asam lambungnya kumat. Inget waktu itu, sampai panas dingin.” Ane menambahi percakapan itu.Danu melirik Tina, tapi wanita itu hanya memanyunkan bibir dan te
Danu keluar dari kamar Silvy, tapi ia tak menemukan apapun yang bisa ia perbaiki. Ia tahu, Silvy hanya ingin melindunginya dari mantan istri.“Jika seperti ini, aku seperti pria lemah yang harus mereka lindungi. Kapan semuanya selesai?” gumam Danu yang kemudian duduk di teras depan kamar gadis itu.“Loh, Mas. Ngapain di sini?” tanya Susan yang keluar dari kamarnya, dan hari itu ia tak joging.“Neng, pakde sedang—”“Pakde, panggilannya, ih. Masa gitu!” omel Ainun yang juga keluar dari kamar miliknya.“Maaf, pakde ngga biasa soalnya. Tadi Silvy minta gantiin lampu kamar,” jawab Danu pada mereka berdua.“Oh, gitu. Terus, yang lain di mana?” tanya Susan padanya.“Amy sama Silvy di dapur, tapi Tina sudah masak duluan tadi, banyak. Ngga tahu, memang sengaja masak buat yang lain atau gimana.” Danu menjawab sembari memainkan bola lampu yang ada di tangannya saat itu.Sekarang Danu seperti dalam keadaan yang membingungkan.“Yaudah, Mas mandi aja sana. Nanti kita sarapan bareng. Kalau sekiranya
Pagi datang, dan Danu membuka mata dengan aroma tempe orek serta sayur sop yang memanjakan hidungnya.Danu langsung menyibak selimut, duduk dan meraup wajah untuk lirik Hp yang ada di meja sejak semalam. Ada beberapa pesan dari para sahabat, terutama yang tahu Tina datang.(Dan, serius kamu bawa Tina pulang? Kenapa nekat?) tanya Danang.(Ada alasan tersendiri, Nang. Nanti kita ketemu di warung mang Ujang, ya? Aku jelasin.)Danu membalas pesan yang sudah semalam datang dan baru ia lihat itu. Napas ia tarik panjang dan ia hembuskan sampai lega sebelum beranjak dari sana.Aroma masakan itu semakin harum, membuat perut Danu langsung keroncongan dan tak sabar ingin menikmatinya.“Pasti neng Silvy sama neng Amy yang masak ini!” Danu berseru senang, dan ia keluar dengan begitu semangat untuk pergi ke dapur umum.Tak lupa pintu dan jendela Danu buka agar udara segar masuk ke dalamnya, lalu ia jalan keluar sembari meraih sapu untuk nyicil beberes.Saat masuk ke dapur umum, Danu lirik meja maka
“Selamat pagi, Pakde. Rajin bener, pagi-pagi udah beberes.” Salah satu anak kost Melati menyapa Danu di pagi hari sambil berjalan keluar gerbang.Danu tengah bersenandung sembari menyapu halaman kostnya tempatnya mencari nafkah. Ia sangat rajin saat bekerja, akrab juga dengan para penghuni kost yan
Pagi harinya, Danu bangun dari tidur dengan tubuh yang sudah mendingan Untungnya para gadis itu merawatnya dengan sangat baik hingga sakit yang ia rasakan tidak semakin menjadi.Sejak meminum obat yang diberikan oleh Ane tadi malam, ia tenang dan tidur sangat nyenyak. Hingga saat bangun, ia juga l
Danu mengangkat kedua tangannya saat itu, berusaha untuk tak balik memeluk Amy yang tengah ketakutan. Ia menarik napas beberapa kali sembari terus melirik kanan kiri.Entah bagaimana Danu harus menyikapi hal ini. Harusnya ia sedih, tapi justru mendapat rejeki nomplok. Bergemuruh di hati Danu. Takut
“Apa kamu bilang, Mas? Kamu berani tolak aku, Mas?” tukas Tina pada suaminya itu.Wanita dengan tubuh cukup berisi tapi padat itu tampak meradang mendengar penolakan yang diberikan oleh sang suami. Wajahnya terlihat sangat marah dan tangannya mengepal sejak tadi.Saat tahu Tina akan masuk, Silvy m







