LOGINTriiing!Hp Danu berdenting ketika ia sedang istirahat di dalam rumah dan lelah. Ia menoleh dan membaca siapa yang mengirim pesan padanya.“Oh, neng Susan sama neng Ai kirim duit bayaran.” Danu melihat Mbanking kemudian, dan uangnya sudah masuk di sana.Perlahan uang itu kumpul lagi, sedikit demi sedikit. Apalagi untuk makan sehari hari, semuanya sudah ditanggung oleh Susan hingga bebannya semakin ringan.“Halo, Neng??” Danu langsung menjawab ketika Susan memanggilnya.“Mas, uang kost udah, ya?” ucap Susan.“Udah, barusan dicek juga sama yang Ainun, masuknya barengan. Tapi, kok lebih yang dari neng?” tanya Danu.“Itu buat Mas, anggap aja karena udah sering bantuin Susan di butik.” Danu menggaruki kepala mendengar itu, tak enak hati dibuatnya.“Tapi kan, neng Susan udah kasih banyak lebih. Jadi, ngga usah—”“Udah, terima aja. Buat beli udud nanti!” paksa Susan padanya.“Yowes, makasih. Kamu lagi apa?” tanya Danu padanya.“Lagi ngawasin anak anak. Butik lumayan rame, dan ada beberapa
Tina dari kejauhan lihat semua adegan itu, dan ia senang karena Lily terprovokasi dengan kata katanya tadi pagi.“Sayangnya, Hpku aku gadaikan dan ngga bisa tebus. Aku ngga bisa gerak buat cari info tentang ibunya Lily. Tapi, aku juga nggak akan berhenti sampai di sini!” Tina tersenyum dan mulai menyusun rencana lain yang lebih matang. Jika memang persaudaraan mereka di kost itu sulit untuk dipecah belah, maka dia harus menyerang dengan diri mereka sendiri yang ia tahu memang memiliki masalahnya sendiri.“Aku sudah dapat caranya!” Tina pergi dari pagar dan berlenggok dengan begitu genit kembali ke kamar.Wanita itu berdandan. Ia harus terlihat cantik di depan Danu, dan harus bisa terus menggodanya jika ada waktu.“Hmmm. Susan, Susan, Susan. Dia itu janda yang diselingkuhin suaminya, ya? Dulu itu, cuma pernah dengar sekilas kalau suaminya rebut salah satu butik milik dia yang di pusat kota. Karena malas ribut dan berurusan, jadinya dia kasih aja.”Target kedua Tina, mungkin si janda
Ane dan pak Seno keluar dari Kantor Polisi, dan duduk sebentar di tempat pedagang untuk membeli minuman.“Sebenarnya tidak enak, jika lagi lagi harus membawa Danu ke dalam masalah ini,” ucap kepala Senat itu.“Iya, Pak. Soalnya, masalah yang ada memang sangat kompleks dan saling berhubungan satu sama lainnya. Mau tidak mau, Pakde harus ikut.” Ane meminum es tehnya dan mulai menceritakan tentang pinjol Tina.“Puluhan juta, Pak. Pakde yang sempat ditagih oleh mereka hingga mendapat beberapa ancaman. Tapi untungnya, di kost ada kakak pegawai Bank yang bantu tangani itu semua. Ketahuan kalau yang pinjam adalah mantan istrinya.”Pak Seno mendengar semua itu dengan seksama dan kepalanya mengangguk beberapa kali sebagai tanda paham.“Benar, Bude itu selingkuh dengan tiga pria?” tanya pak Seno lagi.“I-ya, Pak. Jadi ketahuan awalnya Jaka dan sama Roni, tapi lama lama Putra juga. Memang, parah sekali bude Tina. Seolah tidak ada puasnya. Itu aja, yang ketahuan,” balas Ane lagi.Mereka lanjut me
“Udah, Pakde. Lily ngga papa. Lily udah terbiasa banget sama Bude, jadi udah ngga perlu dibawa sakit hati lagi.”Lily dengan cepat melerai mereka berdua yang nyaris bertengkar di meja makan, dan ia tak enak dengan yang lain karena suasana menjadi tegang karenanya.Susan hanya menatap mereka, dan ia sedang membaca pola Tina. Ia sepertinya sedikit paham dengan sesuatu.“Kamu juga, Susan. Bukannya, kamu dulu diselingkuhin, ya?” Tina menjadikan Susan sasaran berikutnya.“Iya, Bu Tina. Kenapa memangnya?” balas Susan dengan santai.“Ya, harusnya kamu itu jaga diri dari Mas Danu. Masa iya, kamu yang tadinya direbut suaminya malah jadi tukang rebut.”“Maksudnya??” Susan sampai telengkan kepala.“Maksudnya, Kak Susan rebut Pakde dari Bude Tina. Agak agak emang,” sambung Amy yang gelengkan kepala pada ucapan itu.Mereka semua langsung tatap Tina dengan begitu geli, apa lagi karena ia yang tersangka itu justru merasa jadi korban saat ini.Susan memilih untuk tidak menjawab, karena ada urusan yan
“Aduh, segernya Kak Susan, pagi pagi gini udah keramasan.” Ane meledek Susan yang sudah terlihat cantik dan sangat rapi.Jelas, saat itu ia turun bersama Tina dan berpas pasan dengan Susan di bawah tangga. Mulut Ane pasti gatal sekali untuk menggoda Tina saat itu.“Eh, kamu ini, apaan? Nanti, orang orang salah paham, loh. Apalagi tadi abis—” Susan lirik Tina yang ketahuan kepo.“Ah, nggak papa, loh. Kan, Duda sama Janda. Bebassss!” balas Ane dengan mulut lantamnya itu.Tina merengut, dan saat itu ia langsung pergi dari mereka berdua dengan hentakan kaki yang cukup keras.Ane dan Susan saling lirik, dan mereka tertawa bersama karena puas pancingannya kena.Mereka satu persatu masuk ke dalam dapur dan mulai siapkan hidangan untuk sarapan bersama. Jelas itu masakan Slvy, Amy dan Lily yang memang hoby sekali berkutat di dapur.Susan dibantu Ane, sementara Tina justru duduk diam di kursinya bersikap seperti ia pantas dilayani oleh mereka semua.“Kak Susan, hari ini masak apa?” tanya Ainun
Susan menarik tubuh besar Danu untuk masuk ke kamarnya saat itu. Ia rebahkan Danu dan ia buka satu persatu kancing kemeja tidur yang Danu pakai seraya perlahan duduk di atasnya.Tak tinggal diam, Danu meraih wajah cantik itu dan kemudian mengecupinya dengan napas yang mulai memburu.“Eehmmh! Maasss!” Susan mulai mendesah dengan semua cumbuan Danu yang sudah ia rindukan itu.Entah kenapa, setelah drama pacaran mereka, Susan merasa tenang ketika menyentuh Danu. Meski kepergok, pasti akan ada saja alasan yang diberikan dan mereka semua akan percaya pada ucapan mereka.“Kamu wangi banget. Tadi malam, kenapa ngga jadi ke rumah?” tanya Danu dengan suaranya yang begitu panas.“Tadi malam, bapak nelpon. Nanyain kabar dan katanya pengen sesekali ke sini.”Danu langsung menghentikan aksinya pada tubuh Susan saat itu, dan menatapnya dalam dalam.“Cuma mau berkunjung, Mas. Ngga boleh, ya?” tanya Susan.“Bukan ndak boleh, tapi keadaan sekarang sedang begini. Nanti kabar kita pacaran, justru diangg
Ting!Ting!Suara notifikasi pesan di Hp itu membangunkan Danu yang pada akhirnya bisa tidur jam tiga pagi. Saat dicek, ia terkejut karena banyak sekali isi chat di grup kost Melati.Rupanya kabar kemarin sudah cepat menyebar di antara mereka semua hingga menjadi hot topic sejak semalam. Tampak jug
“Pakde, Lily tahu bahwa ini berat. Pakde sabar, ya? Pasti semua akan menemukan titik terang, dan Pakde lebih tahu bagaimana seharusnya nanti.” Lily terus berusaha menghiburnya agar tetap tenang, walau ia tahu bahwa sebenarnya itu sangatlah sulit.Danu hanya diam, meratapi nasibnya yang malang.Lily
“Selamat pagi, Pakde. Rajin bener, pagi-pagi udah beberes.” Salah satu anak kost Melati menyapa Danu di pagi hari sambil berjalan keluar gerbang.Danu tengah bersenandung sembari menyapu halaman kostnya tempatnya mencari nafkah. Ia sangat rajin saat bekerja, akrab juga dengan para penghuni kost yan
“Apa kamu bilang, Mas? Kamu berani tolak aku, Mas?” tukas Tina pada suaminya itu.Wanita dengan tubuh cukup berisi tapi padat itu tampak meradang mendengar penolakan yang diberikan oleh sang suami. Wajahnya terlihat sangat marah dan tangannya mengepal sejak tadi.Saat tahu Tina akan masuk, Silvy m







