LOGIN“Aaiihh! Mana sih!” Suara Silvy terdengar begitu gelisah sembari terus memainkan hp sejak tadi.Amy yang tengah menunggu sembari mengurus data di laptopnya itu jadi ikut terganggu karena bukan sekali dua kali Silvy seperti itu.“Kamu tuh, kenapa sih, Vy? Bukannya istirahat, malah merepet aja daritadi!” omel Amy padanya.“Pakde kemana, sih? Daritadi nggak ada kabar, ditanya pun nggak jawab!” Silvy balik mengomel padanya dengan wajah yang begitu kesal.Amy tarik napas panjang. Rasanya malas sekali ladeni, tapi apa yang dia lakukan sungguh merusak konsentrasi.“Pakde sibuk. Malam ini dia ada pertemuan lagi, dan dia bakal ketemu sama banyak orang besar.”Silvy mendengar penjelasan itu langsung menoleh pada Amy dengan tatapan yang tajam sampai dahinya berkerut.“Kok, Amy tahu? Pakde kasih tahu? Tapi, kenapa dia nggak kasih tahu Vy? Harusnya—”“Kalau kamu berisik lagi, Amy akan panggil suster buat kasih kamu obat dan kamu tidur lama. Mau!” ancam Amy padanya.Silvy diam, dan ia takut. Obat s
Danu menjilat dan menggigit kecil inti tubuh Ane yang menggemaskan itu, membuat Ane menggila dan tak bisa lagi menahan rasa yang luar biasa mendera tubuhnya.“Ooh! Yeeeaaah! Aaaaah!” Pinggul Ane naik tinggi, memberikan akses yang lebih lagi untuk Danu nikmati.Ane pun tak mau diam saja. Ia raih si Jarot yang sudah menegang dan sesak di dalam celana Danu itu, ia usap, ia elus elus dengan tangannya yang lentik hingga Danu merasakan miliknya semakin sesak.Danu berhenti dengan hisapannya. Ia berdiri, lalu Ane membuka celananya dan melahap benda panjang dan berurat itu.Happpp~“Aaah!” Mulut Ane langsung menelan milik Danu hingga mentok di tenggorokannya.Gadis itu mulai melumat dan memainkan si Jarot. Ia jilati dan ia maju mundurkan di dalam mulutnya yang imut itu dengan cepat sampai ia sesekali tersedak dibuatnya.Satu tangan Danu menjambak rambut Ane dan satu lagi meremas melon super itu sampai memerah.“Kamu Neng! Ssssh! Hebat banget hisepannya. Ini gila!” Danu mendesah panjang sembari
Ane yang baru bangun dari tidur siangnya itu masih rebah di atas ranjang dengan pandangan yang masih meremang. Tubuhnya masih sangat berat untuk beranjak.Tring!Tring!Suara Hp Ane berdering, ada di meja kecil di samping tempat tidurnya dan saat itu ia raih segera.“Mas Daus?” panggilnya dengan cukup antusias.“Dek. Aku sudah di Rumah sakit Provinsi, dan semua sample yang dibutuhkan sudah dibarikan. Tolong doanya, semoga hasil yang ada sesuai dengan apa yang kita mau, ya?” ucap pria itu padanya.“Iya, Mas. Amin. Sehat sehat di sana sampai hasilnya keluar. Berapa hari katanya?” tanya Ane.“Tiga hari. Tapi, untungnya di sini aku ada saudara, jadi aku bisa numpang menginap di sana.”“Oh, iya Mas. Silvy, mungkin besok pulang. Ane dan teman teman akan bersikap seperti biasa sampai semua hasilnya keluar.”“Iya, Dek. Makasih, ya? Entah bagaimana caranya, aku berterimakasih sama kalian.”“Santai aja, Mas. Kita sama sama diuntungkan.” Meski mungkin, Silvy yang akan merasa jadi yang paling dir
"Hay, cantik. Akhirnya kita bisa ketemu lagi setelah transaksi tanah waktu itu." Rama menghampiri janda cantik itu dengan senyum ramahnya.Susan mendengkus. Rama adalah salah satu orang yang tidak worth it ditemui disaat perasaannya tak stabil."Ada apa?" tanya Susan dengan wajah ketusnya."Ayolah... Apakah salah kalau aku datang dan sesekali main ke sini?""Kalau nggak belanja, aku nggak ada waktu!" Susan beranjak dari tempat duduk dan segera pergi, tapi tangannya dengan cepat di raih oleh Rama. Cengkramannya cukup kuat."Ramaaaaa!" rengek Susan yang berusaha melepaskan diri darinya."Aku hanya merindukanmu, Sayang. Setelah kau janda, kenapa aku tak pernah bertemu denganmu? Kamu kemana?" balas Rama dengan usapan di pipi Susan. Lembut, dengan tatapannya yang intens.Mereka tak pernah ada hubungan serius, tapi sejak dulu Rama memang perlihatkan betapa suka dirinya dengan sosok janda yang ada di depan mata."Satu penyesalan terbesarku, adalah saat aku tidak mencegahmu menikah dengan Doz
“Pak Danu!” panggil pak Bondan dari lantai dua yang terhubung langsung dengan gudang tempat Danu bekerja.Danu yang baru selesai makan siang itu langsung mengadah ke atas dan menatap pak Bondan dengan penuh tanya.“Ke ruangan saya, lima belas menit lagi!” Pak Bondan menunjuk jam, dan Danu langsung mengacungkan jempol padanya saat itu juga.Setelah minum air putih, Danu segera pamit pada anak buahnya untuk naik ke ruangan pak Bondan. Mungkin ada hal penting yang harus disampaikan, atau akan ada pertemuan yang harus diwakili olehnya lagi.“Kalau iya ada pertemuan, lumayan. Bisa jadi alasan aku nggak harus ke Rumah sakit malam ini,” gumam Danu sembari berjalan ke ruangan bosnya itu.Pintu diketuk, dan kemudian Danu masuk. Ia lihat pak Bondan sedang berdiri bersandar meja kerja dengan cerutu yang ia hisap di mulutnya.“Ada apa, Pak?” tanya Danu dengan sopan.Pak Bondan membalik badan, dan ia persilahkan Danu untuk ikut menikmati cerutu mahalnya itu. Danu patuh dan ia segera menyalakan sat
Gadis itu melangkah, dan terus melangkah menuju ruangan yang memanggil nama familiar itu tadi. Ia semakin penasaran dan dipenuhi berbagai harapan tinggi di hati.“Lily!” Tapi suara lain memanggil, dan mau tak mau ia segera menoleh ke arahnya saat itu juga.“Laras? Kamu ngapain di sini?” tanya Lily pada teman kuliah yang juga akan wisuda bersamanya sabtu depan.Mereka saling berpelukan penuh rindu, dan rasanya sudah lama sekali tidak bertemu.“Aku bawa ayahku kontrol. Tadi abis ke Lab, terus dari jauh aku lihat kamu. Aku panggil, deh. Kamu mau kemana?” tanya Laras balik padanya, saat lihat bawaan Lily banyak sekali.“Oh, iya. Aku mau ke ruangan kebidanan, temenku dirawat di sana, lagi hamil.” Lily tunjuk ruangan yang ada di atas sebelah kiri.“Oh, gitu.”Tapi karena sibuk masing masing, mau tak mau mereka segera berpisah saat itu. Lily segera naik ke ruangan Silvy dan batal memastikan nama yang dipanggil tadi.Pintu ruangan dibuka, tampak Ane sedang menggantikan Silvy pakaian dengan ya
“Pakde, kami berangkat kerja dulu, ya!” Dua gadis cantik lewat dengan motornya, berboncengan, yang seketika membuat suasana warkop jadi heboh.Silvy dan Amidya. Gadis manis itu sama-sama merantau cukup jauh dari Daerah asal, dan orang tua mereka bahkan sempat datangi Danu untuk menitipkan keduanya
Ting!Ting!Suara notifikasi pesan di Hp itu membangunkan Danu yang pada akhirnya bisa tidur jam tiga pagi. Saat dicek, ia terkejut karena banyak sekali isi chat di grup kost Melati.Rupanya kabar kemarin sudah cepat menyebar di antara mereka semua hingga menjadi hot topic sejak semalam. Tampak jug
“Pakde, Lily tahu bahwa ini berat. Pakde sabar, ya? Pasti semua akan menemukan titik terang, dan Pakde lebih tahu bagaimana seharusnya nanti.” Lily terus berusaha menghiburnya agar tetap tenang, walau ia tahu bahwa sebenarnya itu sangatlah sulit.Danu hanya diam, meratapi nasibnya yang malang.Lily
“Selamat pagi, Pakde. Rajin bener, pagi-pagi udah beberes.” Salah satu anak kost Melati menyapa Danu di pagi hari sambil berjalan keluar gerbang.Danu tengah bersenandung sembari menyapu halaman kostnya tempatnya mencari nafkah. Ia sangat rajin saat bekerja, akrab juga dengan para penghuni kost yan







