Home / Romansa / Paman, Bawa Aku Pergi / 38. Gelora Pengkhianatan

Share

38. Gelora Pengkhianatan

Author: Bunga
last update publish date: 2026-04-02 21:16:30

Napas Anya kian memburu, berpacu dengan detak jantungnya yang seolah ingin melompat keluar. Di bawah kungkungan tubuh kekar Bagas, ia merasa begitu kecil dan tak berdaya. Ruangan itu hanya diterangi cahaya lampu yang pucat, memberikan kesan dramatis pada setiap gerakan mereka.

"Paman, aku tidak bisa," rintih Anya di sela desahannya yang tak tertahankan.

Bagas tidak memedulikan permohonan lemah itu. Matanya yang gelap justru berkilat oleh gairah yang sudah mencapai puncaknya. "Cantik sekali," bi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Paman, Bawa Aku Pergi   68. Membuka Luka

    Anya membeku di tempatnya berdiri, mencengkeram erat tali tas kerjanya demi menyembunyikan getaran hebat yang mulai menjalar ke ujung-ujung jarinya. Tatapan tajam Mama Anggun seolah menguliti ekspresi wajahnya, mencari tahu apakah sang menantu sudah mencium bau busuk yang disembunyikan oleh putra kesayangannya."Kenapa Mama tiba-tiba bertanya tentang wanita itu?" tanya Anya balik, suaranya mengalun sedikit serak meskipun ia sudah berusaha mati-matian untuk terdengar biasa saja.Mama Anggun tidak langsung menjawab; ia melepaskan cekalan tangannya di pergelangan tangan Anya, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan wibawa seorang nyonya besar yang angkuh."Gusti sempat memanggil nama itu saat menelepon Mama tadi subuh dengan suara frustrasi. Mama hanya ingin memastikan bahwa perempuan itu tidak sedang mengganggu ketenangan rumah tangga anak Mama," ucap Anggun dengan cemas."Saya tidak kenal, Ma. Mungkin dia hanya salah satu rekan bisnis atau klien Mas Gusti selama di Surabaya,"

  • Paman, Bawa Aku Pergi   67. Berusaha Kuat

    “Paman Bagas?” tanya Anya. Berusaha menyembunyikan rasa penasarannya."Apakah setelah Reni menemanimu, Bagas datang lagi ke sini?" Anggun menghela napas sejenak sebelum melanjutkan pertanyaannya dengan selidik yang amat kentara."Tidak Ma, paman Bagas tidak pernah datang lagi ke sini," jawab Anya berusaha setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang mendengar nama itu disebut kembali oleh sang ibu mertua."Bagas susah Mama hubungi belakangan ini. Baiklah, saatnya kita istirahat," keluhnya sembari mengakhiri pembicaraan.Anya dan Anggun kemudian bangkit berdiri, lalu melangkah beriringan memasuki kamar masing-masing di lantai atas untuk mengakhiri malam yang melelahkan itu. Namun, keheningan rumah tersebut ternyata tidak bertahan lama setelah mereka menyelesaikan makan malam darurat yang canggung beberapa saat sebelumnya.Drrrt ... Drrrt ...Ponsel milik Anggun yang tergeletak di atas meja makan mendadak berdering nyaring, memecah kesunyian malam dengan getaran yang panjang. Ang

  • Paman, Bawa Aku Pergi   66. Perhatian Mertua

    Anya tersentak pelan, berjalan menuju dapur bersih untuk mengambilkan segelas air putih hangat tanpa berniat menunjukkan kepatuhan yang berlebihan."Aku baik-baik saja, seperti yang Mama lihat. Gusti tidak perlu seberlebihan itu sampai harus merepotkan Mamanya yang baru saja menempuh perjalanan jauh dari luar negeri."Anggun menerima gelas yang disodorkan Anya, meminumnya sedikit lalu meletakkannya kembali di atas meja kaca dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh wibawa seorang nyonya besar."Hubungan kalian sedang tidak baik, ya? Mama perhatikan kamu ketus sekali sejak tadi," ucap Anggun memancing reaksi, matanya terus mempelajari setiap perubahan ekspresi di wajah pucat asisten CEO tersebut. "Sifat Gusti memang kadang terlalu pencemas, tapi itu karena dia peduli pada istrinya."Anya mengepalkan kedua tangan di balik saku blazer kerja, mencoba sekuat tenaga menahan diri agar tidak meledak di hadapan ibu mertuanya ini. Kehadiran Anggun di rumahnya malam ini benar-benar menjadi uji

  • Paman, Bawa Aku Pergi   65. Poto Wanita

    Anya membungkuk untuk mengambil foto tersebut, berniat mengembalikannya ke dalam map agar tidak hilang atau tercecer. Namun, pandangannya terkunci pada objek di dalam foto. Sebuah potret lama yang menampilkan seorang wanita."Sudah ketemu berkasnya, Anya?" tanya Bagas, suaranya tiba-tiba terdengar lebih dekat karena ia sudah berdiri beberapa langkah di belakang Anya."Ini berkasnya, Pak. Dan maaf, foto ini tadi tidak sengaja terjatuh dari dalam map." Anya sedikit tersentak, buru-buru membalikkan tubuhnya menghadap Bagas sambil menyodorkan map beserta foto kecil yang tadi terjatuh.Bagas menerima map tersebut, lalu pandangannya beralih pada selembar foto kecil yang berada di atas jemari Anya yang ramping. Gurat wajah pria itu melembut, menyiratkan kerinduan sekaligus ketegasan yang mendalam saat jemarinya mengambil alih foto tersebut dengan sangat hati-hati."Terima kasih sudah mengamankannya, Anya. Ini adalah salah satu motivasi terbesar saya untuk berada di posisi sekarang," ucap Bag

  • Paman, Bawa Aku Pergi   64. Di Balik Map

    Anya memalingkan wajahnya ke arah laptop. Wanita itu berpura-pura kembali sibuk menatap layar demi menyembunyikan rona tipis yang mendadak muncul di kedua pipinya. Debaran aneh di dadanya kian tak menentu. Kata-kata Bagas entah mengapa terdengar begitu protektif, seolah ada maksud tersembunyi yang belum sanggup ia cerna di tengah kalutnya pikiran."Pak Bagas, ini dokumen laporan bagian kedua sudah selesai saya verifikasi dan rapikan," lapor Anya formal, mencoba mengembalikan profesionalitas kerjanya.Bagas mendongak dari balik layar komputernya, menatap Anya dengan binar mata penuh apresiasi atas kinerja kilat asisten sementaranya itu. "Luar biasa, Anya. Kebetulan ini sudah memasuki jam makan siang. Saya sudah meminta Sandi untuk memesankan makanan khusus untuk kita berdua di ruangan ini " ujar Bagas, tersenyum tipis."Pak, Anda tidak perlu repot sampai memesankan makanan untuk saya. Saya bisa makan di kantin bawah bersama staf yang lain." Anya agak terkejut mendengar penuturan bosny

  • Paman, Bawa Aku Pergi   63. Suatu Hari Nanti

    Di dalam kamar mandi, Anya spontan membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan demi menahan napas yang mendadak terasa sesak. Jantungnya berdegup begitu kencang, ikut merasakan ketegangan yang luar biasa dari balik dinding pembatas."Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya, Claudia. Wanita itu ada, dan dia adalah satu-satunya orang yang ingin saya lindungi seumur hidup saya," sahut Bagas, suaranya mengalun tenang namun sarat akan ketegasan yang mutlak.Bagas berjalan memutari meja kerjanya, sengaja meletakkan jarak fisik yang lebih jauh agar Claudia tidak lagi mencoba meraih atau menyentuh tubuhnya seperti tadi. Tatapannya lurus menatap wanita yang kini mulai menangis sesenggukan, meratapi harga dirinya yang sudah jatuh berkeping-keping di lantai marmer itu."Kenapa harus orang lain, Bagas? Apa kurangnya aku selama ini?!" tuntut Claudia dengan suara yang mulai serak akibat terlalu banyak berteriak dan menangis.Claudia melangkah maju beberapa pijakan. Menatap Bagas dengan pan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status