MasukEmpat tahun kemudian.
Sebuah sedan hitam mewah meluncur mulus di jalan raya, meninggalkan Bandara Internasional Veridian di belakang. Di dalam, keheningan yang nyaman menyelimuti tiga penumpangnya.
Luna menatap ke luar jendela. Pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang familier di Veridian terasa seperti hantu dari masa lalu, membangkitkan kenangan yang telah dia kubur dalam-dalam.
Dia mengenakan blus sederhana namun elegan, rambutnya ditata rapi, dan ekspresi wajahnya tenang, menunjukkan kedewasaan yang tidak dia miliki empat tahun lalu.
“Mama, kenapa semua gedungnya sangat tinggi? Apa mereka tidak takut jatuh?”
Sebuah suara kekanak-kanakan memecah keheningan. Di sampingnya, Carl, putranya yang berusia tiga tahun, menempelkan wajahnya ke kaca jendela, matanya yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu mengamati pemandangan kota.
Wajah tampan bocah itu adalah cerminan dari wajah Luna, tetapi sorot matanya yang tajam mengingatkan pada seseorang yang sangat ingin Luna lupakan.
Luna tersenyum lembut, mengalihkan perhatiannya dari kenangan buruk. “-Tidak, Sayang. Gedung-gedung ini dibangun oleh insinyur hebat agar bisa berdiri kokoh.”
Di kursi penumpang depan, seorang pria tinggi berbalik sedikit. “Dia sudah menunjukkan ketertarikannya pada arsitektur,” kata Harvey, sepupu tertua Luna. Wajahnya yang tampan menunjukkan senyum tipis. “Mungkin kita punya seorang jenius di sini.”
Harvey, mentor sekaligus figur kakak bagi Luna selama empat tahun terakhir, memancarkan aura tenang dan protektif. Dia adalah salah satu alasan mengapa Luna bisa berdiri tegap hari ini.
Ponsel Luna berdering, Luna tersenyum sebelum mengangkat panggilan itu. “Halo.”
“Luna, kamu sudah di jalan, ‘kan? Aku minta maaf tidak bisa menjemput langsung.” Clara, di ujung sana, mendesah kecil.
“Tidak apa-apa. Proyek baru ini pasti sangat menyita waktu,” jawab Luna. Pandangannya kembali ke luar jendela. Setelah itu, Luna mendengarkan Clara yang mengatakan bahwa apartemen sudah disiapkan untuk mereka, dan Clara akan mengunjungi mereka di sana setelah urusannya selesai, lalu panggilan ditutup.
Clara. Sahabatnya, dan juga teman masa kecil Harvey. Setelah diselamatkan oleh Harvey empat tahun lalu, Luna diperkenalkan pada Clara. Di tengah dunia baru yang asing dan mewah dari keluarga ibunya, Clara menjadi satu-satunya orang yang bisa memahami kerapuhan di balik topeng kuat Luna.
Ketika Clara memutuskan untuk melebarkan sayap perusahaan rintisannya ke Veridian, dia meminta bantuan Luna. Luna adalah satu-satunya orang yang dia percaya untuk memimpin cabang baru ini.
“Kamu masih bisa berubah pikiran, Luna,” kata Harvey pelan kemudian, seolah bisa membaca keraguan di benak Luna. “Kamu tidak harus melakukan ini.”
Luna tersenyum tipis, sangat mengerti kekhawatiran yang ditunjukkan sepupunya itu, tetapi dia menggeleng pelan. “Aku sudah berjanji pada Clara. Ini adalah hutang persahabatan.”
Meskipun sebenarnya, dia tidak pernah ingin menginjakkan kaki di kota ini lagi. Kota ini adalah kuburan bagi masa lalunya, tempat di mana keluarga ayahnya membuangnya, dan tempat di mana Jordan Reed menghancurkannya. Setiap sudut jalan terasa menyimpan kenangan buruk. Namun, demi Clara, dia rela kembali ke kota ini.
Mobil itu melambat, hendak berbelok memasuki sebuah persimpangan yang lebih tenang atas saran perjalanan dari Clara lewat Luna.
Tiba-tiba, terdengar decitan ban yang memekakkan telinga, diikuti oleh suara benturan logam yang keras.
BRAK!
Mobil mereka tersentak ke samping. Tubuh Luna terlempar ke depan sebelum sabuk pengamannya menahannya. Dengan refleks secepat kilat, dia langsung memutar tubuhnya dan mendekap Carl, melindunginya dari guncangan.
“Mama!” seru Carl, lebih karena kaget daripada takut.
“Tidak apa-apa, Sayang. Mama di sini,” bisik Luna, jantungnya berdebar kencang. Dia memeriksa kondisi Carl, memastikan putranya tidak terluka.
Di depan, Harvey tetap tenang. “Semua baik-baik saja?” tanyanya, suaranya datar.
“Ya,” jawab Luna singkat, napasnya masih sedikit tersengal.
Sopir yang dikirim Clara tampak pucat pasi. “Ya Tuhan … maafkan saya ... saya akan memeriksanya,” katanya gugup. Dia buru-buru keluar dari mobil.
Sebuah mobil sport merah yang ramping berhenti tepat di depan mereka, bumper depannya sedikit penyok. Pintu mobil sport itu terbuka, dan seorang pria dengan setelan mahal melangkah keluar.
Dari posisinya di kursi belakang, Luna tidak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Tubuh sopir Clara yang panik menghalangi pandangannya. Dia hanya bisa melihat siluet yang tinggi dan tegap.
Beberapa saat kemudian, sopir itu kembali ke mobil dengan wajah yang semakin panik.
“Nyonya, Tuan ... ada masalah besar,” lapornya dengan suara gemetar. “Mobil sport itu tidak bisa menyala. Sepertinya bemper kita merusak tangki bahan bakarnya ... ada kebocoran.”
“Ya Tuhan.” Luna menutup mulutnya, lalu pandangannya beralih pada Harvey sejenak yang menatapnya kemudian kembali berpindah pada si sopir. “Kita harus bertanggung jawab. Menepi dulu, lalu kita bicara lagi.”
Si sopir mengangguk patuh kemudian mengatur mobil yang ditumpangi Luna untuk menepi sebentar. Saat mobil bergerak, Luna baru bisa melihat dengan jelas pengemudi mobil sport yang berdiri di samping mobilnya.
Dan tubuh Luna menegang seketika.
Wajah itu. Wajah yang menghantui mimpi buruknya selama empat tahun. Rahang yang tegas, mata yang tajam dan menusuk, bibir yang pernah merenggut ciuman pertamanya dengan paksa.
Luna merasa seluruh udara di sekitarnya tersedot habis. Luna bahkan tidak mendengar Carl, di sebelahnya bertanya pada Luna. “Mama? Mama baik-baik saja?”
Melihat raut wajah Luna yang berubah pucat, Harvey mengikuti arah pandang Luna. Harvey tertegun.
Dunia di sekitar Luna mengecil, jantungnya berdetak keras.
Karena yang sedang berdiri dengan tenang di samping mobil sportnya yang mogok itu adalah … pria yang selama empat tahun ini berusaha untuk Luna lupakan.
Karena pria itu …
Itu Jordan Reed!
Setelah percakapan selesai, mereka kembali diam canggung. Luna sudah menunjukkan sedikit perhatian untuk memancing rasa ingin tahu orang-orang, serta berencana menunggu Olivia datang. Di sela waktu itu, dia tidak tahu harus berbuat apa.Sesekali dia mengubah posisi duduknya. Jordan masih memperhatikannya tanpa mengalihkan pandangan, membuat Luna seolah sedang ditelanjangi.“Sebentar lagi wanita itu akan datang. Apa kamu sengaja menunggunya dan membuat keributan?” Jordan berhenti bicara sebelum akhirnya melanjutkan, “Sebaiknya urungkan niatmu itu. Membuat orang-orang curiga sudah cukup untuk saat ini. Jangan memprovokasi wanita itu terlalu jauh.”Kata-kata Jordan benar. Luna menjadi semakin tak sabar setelah mimpi buruknya semalam. Dia pun memutuskan untuk pergi lebih cepat sebelum Olivia datang.Namun, ketika dia bangkit dari kursi yang didudukinya, pintu kamar itu terbuka lebar. Luna menatap ke arah pintu, mendapati Olivia yang berhenti mendadak dengan mulut sedikit terbuka, terkejut
“Asal kamu tahu. Papa sudah mulai merasakan ada sesuatu yang mencurigakan tentang penyakitku. Dia mungkin mempekerjakan beberapa karyawan rumah sakit untuk mengamati keseharianku, mungkin menaruh kamera pengawas di beberapa tempat di luar jendela yang bisa menunjukkan posisi kita saat ini.”“Jangan tanggung-tanggung kalau kamu sedang merencanakan sesuatu,” imbuh Jordan, menatap Luna penuh arti. “Lakukan saja sesuai rencanamu itu agar orang suruhan papa bisa memantau pergerakan kita dengan jelas.”Sulit mengelabui mata tajam Jordan yang mudah membaca niat orang lain. Luna tertegun sejenak ketika Jordan mengatakan tujuannya tepat sasaran. Namun, Luna mengelak tanpa keraguan, “Apa yang kamu bicarakan? Niatku hanya membantu papa dari putraku. Tidak ada maksud lain.”Di saat yang sama, tangan Jordan mendarat di kancing baju rumah sakit yang dikenakannya, melepas satu persatu dengan gerakan pelan. “Jadi, kamu sudah mengakui kalau aku ayah kandung Carl.”Luna berpaling ketika kancing terakh
Jordan tertegun sejenak. Luna Blackwood selalu memberinya kejutan yang tak disangka-sangka.Wanita yang dulu pendiam dan selalu menghindari keramaian itu, tiba-tiba muncul kembali dengan penampilan penuh percaya diri, seperti kucing liar yang sulit dikendalikan. Begitu Jordan memberi sesuatu yang disukainya, Luna pelan-pelan menerima uluran tangannya, namun masih menunjukkan kewaspadaan tinggi.Dan saat ini, dia tiba-tiba muncul dengan sikap yang berbeda lagi. Menantang dan memprovokasi dari sudut yang berbeda, seperti bukan Luna yang dikenalnya.Cara bicara yang menggoda dan lirikan manis itu seperti bukan Luna yang dia kenal. Apa lagi yang Luna inginkan darinya?“Apa kamu tidak mau menjawabku?” tanya Luna lembut, namun dengan bibir sedikit mengerucut seakan tak suka diabaikan Jordan.Setelah semalaman Luna memikirkan kata-kata Rose, dia pun akhirnya meyakinkan diri akan mendapatkan Jordan Reed dengan cara apa pun. Keputusannya semakin bulat ketika dia memimpikan kenangan buruk yang
Jordan merasa ada yang tidak beres dari situasi saat ini. Suasananya terlalu tenang sampai dia mau tidak mau harus curiga.Beberapa menit lalu, Luna datang membesuk sebelum jadwal kunjungan dibuka. Dokter James mengantar Luna ke kamar Jordan secara pribadi, dan hal tersebut membuat dokter lain dan para perawat bertanya-tanya, siapa sosok wanita yang mengunjungi Jordan itu. Begitu pula Jordan yang sedikit penasaran alasan Luna tiba-tiba datang. Setelah dokter James meninggalkan mereka, Luna tidak bicara ataupun menyapa Jordan. Dia menaruh bunga matahari besar pada vas di atas lemari samping ranjang perawatan Jordan. Setelah itu, Luna duduk di samping ranjang Jordan sambil mengupas buah apel merah sambil sesekali melirik padanya. Jordan baru saja bangun tidur dan masih tampak bingung. Sedangkan Luna terlihat santai melakukan sesuatu yang tidak biasa itu, namun ada sedikit reaksi membingungkan yang tidak Jordan pahami.“Permisi, Tuan.” Suara seorang perawat wanita beserta ketukan setel
“Nenek!” seru Harvey. Meski Luna belum mengatakan secara langsung pada Rose jika Jordan adalah pria yang menghamili Luna, tetapi Harvey yakin bahwa Rose telah mengetahuinya. Rose diam hanya untuk menghormati Luna yang enggan mengungkit masa lalu itu.Menyuruh Luna untuk merebut Jordan dari Olivia, putri Nancy, demi sebuah balas dendam bukan pilihan yang tepat di mata Harvey. Luna yang akan terluka dalam prosesnya. Karena itu, Harvey marah pada neneknya yang mengorbankan Luna demi menghancurkan Nancy.“Kita tidak pernah membahas masalah ini dengan benar,” ucap Nancy tenang, mengabaikan tatapan tajam Harvey yang penuh amarah. “Aku tahu bahwa Jordan adalah pria itu, Lun. Kamu tidak perlu menyembunyikannya lagi.”Luna menunduk dengan kedua tangan saling meremas di atas paha. Dia malu sekaligus takut dengan anggapan Rose padanya, tak mau kehilangan kepercayaan neneknya karena telah melakukan kesalahan besar dengan mengandung anak dari adik iparnya.Rose pindah duduk di sebelah Luna, meng
“Kenapa kamu pulang di jam kerja, Lun?” tanya Rose begitu melihat kedatangan Luna.“Harvey menyuruhku menemani Nenek. Kami tidak tahu kalau Nenek akan datang,” cicit Luna.Rose akan mengatakan sesuatu, tetapi Carl justru melompat-lompat kegirangan di antara Rose dan Luna. “Mama pasti libur hari ini! Ayo, kita naik perahu di danau bersama nenek buyut!”Carl sejak tadi ingin bermain di danau, namun pengasuhnya tidak mengizinkan Carl bermain di sana sekarang karena cuaca sedang mendung dan seperti akan hujan. Melihat ibunya pulang, pengasuh itu tidak akan berani melarangnya naik perahu di danau.“Kita temani Carl bermain dulu.” Rose menatap Luna seakan mengatakan jika mereka harus bicara setelahnya.Luna mengangguk, menggandeng Carl dengan senyuman lebar, lalu melirik pada wanita yang selalu mengikuti Carl. “Kenapa kamu tidak bermain dengan bibi pengasuh?”“Maaf, Nona, Tuan Jordan memerintahkan saya untuk mencegah Tuan Muda Carl melakukan apa pun yang berbahaya. Hari ini sepertinya akan







