Share

3. Segera Melamarku

Meskipun awalnya sedikit ragu untuk melanjutkan kegiatan mereka di apartemen Ralin, tapi dengan bujuk rayu yang Juan bisikkan, akhirnya Ralin pun luluh dan setuju untuk mengajak Juan ke sana.

Begitu masuk ke dalam apartemen milik Ralin, Juan langsung menyambarnya untuk melanjutkan kegitannya tadi.

Tubuh Ralin terhempas di sofa, Juan pun berada di atasnya. Dengan bibir yang masih berpagutan lembut, perlahan tangan Juan mulai mengekplorasi tubuh Ralin.

Ralin menikmati tiap sentuhan yang Juan lakukan kepada dirinya. Perlahan Juan membuka kemeja kerja yang ia kenakan, lantas membuangnya sembarang di lantai. Wajah Ralin memerah saat melihat bentuk badan Juan yang tentu saja kini sangat berbeda pada saat Juan remaja.

Juan remaja yang dulu gendut, kini menjelma menjadi Juan dewasa yang gagah dengan bentuk tubuh sempurna dan otot-otot yang menonjol di badannya. Perempuan mana yang mau menolak pesona laki-laki ini, bahkan teman-teman Ralin pun tak percaya kalau Juan akan menjelma menjadi laki-laki dewasa super charming.

Ralin meraba lembut dada kekar Juan dengan jari-jarinya, meneliti setiap inci permukaan kulit dari dada turun ke perut, sampai jari-jari Ralin akhirnya berhenti di sana.

"Kenapa berhenti? Lanjut turun lagi!" perintah Juan.

Ralin menaikkan satu sudut bibirnya. "Kamu mau tanganku turun lagi?" tanya Ralin dengan gaya menantangnya.

"Of course!" bisik Juan.

Ralin menggelengkan kepalanya. "No ... no ...."

"Kenapa no, no? Aku lebih suka kalau yes ... yes!"

"I will say 'yes', kalau kamu segera melamarku. Apalagi kalau kita segera menikah dan sudah sah, tentu hal yang begini jauh lebih bebas, kan?" kata Ralin dengan tegas. Ia lantas mendorong tubuh Juan dari atas tubuhnya.

Juan mendecakkan lidahnya. "Honey, aku maunya sekarang! Paling nggak, kita tester dulu, ya? Please ...." Juan merengek layaknya anak balita, sudah kepalang tanggung kalau tidak dilanjutkan.

"Kalau aku bilang enggak, itu artinya tetap enggak! Aku cuma mau menunggu lamaran kamu sesegera mungkin," tegas Ralin lagi.

"Oke, jadi kamu maunya kapan?" tanya Juan langsung.

"Secepatnya!"

"Besok?"

"Mungkin lebih baik," jawab Ralin.

"Tapi kamu sudah yakin, kan?" Lagi Juan memastikan kembali.

"Aku sudah tentu yakin, apa jangan-jangan malah kamu yang tidak yakin?" cecar Ralin balik pada Juan.

Juan menggelengkan kepalanya sambil melangkah mendekati Ralin yang kini berdiri di dekat jendela apartemennya. Pandangan Ralin menatap jauh ke jalanan di luar apartemennya.

Dua tangan Juan terselip di pinggang Ralin, ia berdiri tepat di belakang kekasihnya itu. Perlahan ia pun mendekatkan bibirnya di telinga Ralin. "Selama tiga tahun satu sekolah denganmu sewaktu SMA, tidak ada waktu yang lebih menyenangkan selain saat jam istirahat sekolah. Kamu tahu kenapa?" bisik Juan.

"Kenapa?"

"Karena setiap istirahat sekolah, kamu dan teman-temanmu selalu memintaku untuk membelikan kalian makanan di kantin. Kamu sadar nggak, setiap makanan yang aku berikan ke kamu itu selalu dalam porsi yang lebih banyak daripada teman-temanmu? Dan setiap aku memberikan makanan itu ke kamu, kamu selalu tersenyum sambil mencubit pipiku! Itu momen yang paling aku suka dari kamu, dan itu juga yang buat aku diam-diam suka sama kamu selama hampir 3 tahun itu. Biarpun akhirnya kamu dengan gamblang menolakku sewaktu perayaan kelulusan kita, dan malah mengatakan karena aku gendut dan bukan seleramu!"

Ralin membalikkan badannya, menatap ke arah Juan. "Sorry, kalau yang dulu itu–"

"Nggak masalah," potong Juan langsung. "Aku tahu perempuan mana pun pasti nggak suka sama cowok gendut yang banyak makan seperti aku dulu! Tapi gara-gara kejadian itu juga aku termotivasi untuk menguruskan badan, sampai bisa seperti hari ini, yang kamu lihat di depanmu! Makanya kalau kamu tanya apa aku yakin atau tidak denganmu, jawabannya tentu yakin, bahkan aku berjuang memantaskan diriku hanya untuk kamu!" terang Juan dengan jujur.

Ralin senang mendengar pernyataan Juan tadi. Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya Ralin pun setuju untuk berpacaran dengan Juan karena kini ia sudah tahu betul bagaimana latar belakang keluarga laki-laki ini. Bagaimana besarnya perusahaan yang dipimpin olehnya, dan bagaimana kehidupan keluarganya yang masuk dalam golongan konglomerat itu.

Orang bilang materialistis, tapi hidup itu harus realistis. Ralin tentu tak menolak saat tahu juga tampilan Juan yang kini sangat berubah total itu, hampir tak ia kenal sebelumnya. Bagi Ralin, ini paket komplit seorang calon suami berkualitas. Ralin tak mau pikir panjang, sebelum direbut orang. Bagaimanapun, Ralin harus segera menikah dengan Juan.

"Orang tuamu pasti bisa menerima aku, kan? Karena kalau kamu tanya pendapat orang tuaku, sudah tentu laki-laki yang seperti kamu lolos seleksi calon menantu," kata Ralin tiba-tiba.

Juan tertegun sesaat, memikirkan apakah hubungannya dengan Ralin akan berjalan sempurna kalau saja orang tuanya tahu bagaimana latar belakang keluarga Ralin yang bisa dibilang keluarga sederhana.

"Aku akan meyakinkan keluargaku, tapi ada baiknya kalau kamu juga datang untuk berkenalan dengan orang tuaku. Apa kamu mau?" tawar Juan.

"Apa itu penting?" tanya Ralin balik.

Juan langsung terkekeh mendengar respon dari Ralin itu. "Kamu masih tanya apa itu penting? Jelas itu penting, Honey! Kamu harus mengenal keluargaku, begitupun aku yang harus mengenal keluarga kamu juga."

"Saling mengenal dengan orang tuamu bisa nanti setelah menikah, kan? Lagipula setelah menikah aku akan tinggal di rumah kamu bersama kedua orang tuamu, kan?" jawab Ralin dengan santai. Di bayangan Ralin, hidup di rumah mewah bak rumah Sultan milik Juan tentu akan menjadi pengalaman membahagiakan baginya. Ralin tak perlu repot-repot bekerja di kantor, dan tentunya di rumah itu Ralin bisa mengabadikan momen apa saja lewat akun media sosialnya. Ia harus memastikan semua teman-teman yang sering mencibirnya, jadi makin panas akibat melihat unggahannya di media sosial.

Juan memutar kedua bola matanya merasa kalau Ralin terlalu santai. Namun apa pun yang Ralin mau, tentu Juan akan turuti. "Oke, nanti biar aku sendiri yang bilang ke orang tuaku kalau aku akan segera melamar kamu!"

"Serius?" tanya Ralin.

Juan mengangguk yakin.

Spontan Ralin mengecup pipi Juan. Tak lupa ia meraih gawai miliknya, kemudian ia mengecup pipi Juan satunya lagi sambil tangannya sibuk mengabadikan momen itu lewat kamera di gawainya tersebut.

Selesai dengan memberi kecupan, Ralin fokus pada media sosial I*******m. Ia mengunggah momen kebersamaannya barusan sambil menuliskan penjelasan singkat tentang gambarnya. "Calon suami terbaik. Soon."

Tak perlu menunggu lama, dalam hitungan beberapa detik dan menit, unggahan itu langsung mendapatkan banyak 'suka' dari pengikut Ralin. Tak ketinggalan beberapa komentar mulai bermunculan, menanyakan siapa sosok laki-laki yang tengah Ralin cium pipinya. Ralin sibuk membalas satu per satu pertanyaan tersebut, sementara Juan kebingungan mengapa Ralin tampak seperti sibuk dengan dunianya sendiri dan tak memperdulikannya yang masih di sana.

"Kamu ngapain, sih?" tanya Juan sambil mendekat ke arah Ralin yang kini sedang duduk manis di sofa sambil memainkan jari-jarinya di layar gawai. Juan agak kaget melihat momen mereka barusan yang ternyata sudah diunggah oleh Ralin dan bahkan mendapatkan banyak komentar.

"Mau buktikan ke mereka kalau sebentar lagi aku akan menikah!" jelas Ralin pada Juan.

"Supaya?"

"Supaya mereka tahu kalau Ralin Febyana sudah bertemu jodohnya!" Ralin menjelaskan tanpa melihat ke arah Juan, ia masih sibuk membalas satu per satu komentar tersebut.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status