Share

15. Dibelai Kakak Ipar

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-07-11 22:16:40

Rekha mengubah posisi lagi dengan gerakan yang kuat dan penuh kendali. Ia duduk di tepi ranjang, tangan besarnya menarik Naya ke pangkuannya hingga menghadapnya, posisi cowgirl yang intim, tapi dengan kaki Naya terbuka lebar sekali, sepenuhnya terpapar.

Naya langsung menurunkan tubuhnya dengan rakus, menelan kejantanan Rekha yang tegang dan besar hingga habis dalam satu gerakan mulus.

"Aduh, ahh... Mas... p-penuh banget. Kejantanan Mas Rekha ngisi aku banget... Uhh... Uhh..." erangnya sambil m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
khadijah qudsia
bagus tph banyak iklan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Pembalasan Naya (maaf ketukar, bab masih ditinjau)

    Di dalam dadanya, Naya merasa ada sesuatu yang patah dan mati selamanya. Naya yang lugu, Naya yang penuh rasa iba, dan Naya sang korban, telah tewas di dalam kamar ini malam ini. Yang tersisa kini hanyalah seorang wanita yang otaknya telah berevolusi menjadi hakim dan algojo. Naya melengkungkan bibirnya, membentuk senyuman manis dan polos yang terlampau sempurna, meniru persis topeng yang selama ini digunakan Arga padanya. "Nggak apa-apa, Mas," balas Naya lembut, meraih tangan Arga dan mengecup punggung tangan pria itu dengan kepatuhan palsu yang menipu. "Aku bisa nunggu. Asal ada Mas Arga, aku rela nunggu sampai kapan pun." Mendengar itu, dada Arga membusung bangga. Sang psikopat merasa kemenangannya sudah mutlak, tak menyadari bahwa wanita yang sedang menunduk di hadapannya ini diam-diam telah mengasah sebilah belati tak kasat mata di dalam pikirannya. */'Nikmati kemenanganmu malam ini, Mas,' batin Naya dengan tatapan sedingin es di balik matanya yang terpejam. 'Karena be

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Kebenaran Pahit

    Hujan deras mengguyur atap seng sebuah rumah singgah rahasia di pinggiran Pelabuhan Tanjung Emas. Arga terpaksa menunda keberangkatan mereka malam itu karena ombak badai terlalu ganas untuk *yacht* Bianca. Pria itu baru saja keluar dari kamar, turun ke lantai bawah untuk menemui sang kapten kapal bayaran yang mengurus rute pelarian mereka. Di dalam kamar yang temaram, Naya ditinggalkan sendirian. Dulu, momen seperti ini akan digunakan Naya untuk menangis di pojokan atau meratapi nasib. Namun malam ini, insting bertahan hidupnya mengambil alih. Begitu suara langkah kaki Arga menjauh, Naya langsung melompat dari ranjang. Mata Naya tertuju pada tas ransel kulit hitam milik Arga yang diletakkan sembarangan di atas sofa. Arga sudah terlalu percaya diri. Ia mengira Naya telah sepenuhnya hancur dan menjadi boneka penurut, sehingga ia tak lagi repot-repot menyembunyikan barang-barangnya. Dengan tangan bergetar, Naya membuka ritsleting tas itu. Ia mencari apa saja—ponsel cadangan, kunci

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Arga Kabur!

    BRAK! Pintu kayu lapuk dari sebuah motel murahan di pesisir Garut hancur berkeping-keping, ditendang hingga lepas dari engselnya oleh sepatu bot Rekha. Belasan anggota *Shadow Team* langsung menyebar, moncong senjata laras panjang mereka menyapu setiap sudut ruangan pengap yang hanya diterangi satu lampu bohlam kuning yang berkedip mati-nyala. "Ruang utama kosong!" "Kamar mandi *clear*!" "Tidak ada target di area belakang!" Laporan-laporan itu sahut-menyahut menembus deru hujan di luar, menggemakan kembali mimpi buruk yang sama untuk yang kesekian kalinya. Rekha melangkah masuk. Kemeja hitam mahalnya basah kuyup, menempel pada tubuhnya yang kehilangan berat badan secara drastis dalam sebulan terakhir. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot-otot di lehernya menonjol mengerikan. Ia mengabaikan Bima yang sedang menginterogasi pemilik motel yang gemetar ketakutan di lorong. Langkah gontai Rekha membawanya ke tengah kamar. Matanya yang merah, dihiasi kantung mata pekat bak

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Lari!

    Rekha menoleh tajam. "Arga memasang bom di kapal pelariannya sendiri?" "Bukan untuk bunuh diri, Tuan. Itu adalah *dead-man's switch* (sakelar pemicu mati). Jika kita menembak Arga atau merebut Nona Naya dengan paksa di atas kapal itu, Arga bisa meledakkan *yacht* itu kapan saja. Dia siap mati membawa Nona Naya jika dia terpojok." Rahang Rekha mengeras hingga berbunyi gemeretuk. Ia meninju tiang besi di sampingnya hingga bergetar. "Psikopat keparat! Dia benar-benar memastikan aku tidak bisa menggunakan kekerasan untuk merebut Naya!" Bima menunduk. "Lalu apa rencana kita, Tuan? Jika kekerasan frontal akan membahayakan nyawa Nona Naya, bagaimana kita memisahkan mereka?" Rekha menatap layar yang menampilkan SUV Arga semakin mendekati pelabuhan. Rasa cintanya yang luar biasa besar pada Naya—cinta terlarang seorang kakak ipar—memaksa otak logisnya bekerja seribu kali lipat lebih keras. Ia tidak boleh ceroboh. "Tarik mundur *sniper*. Kosongkan area dermaga 4," perintah Rekha deng

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Sakit, Mas!

    CITTT! Arga menginjak rem mendadak. Ban mobil berdecit keras bergesekan dengan aspal tol yang basah, membuat tubuh Naya tersentak ke depan hingga tertahan sabuk pengaman. Suara klakson truk dari arah belakang menggema panjang karena terkejut dengan manuver gila tersebut. Mobil berhenti di bahu jalan yang gelap. Deru hujan menghantam atap mobil menjadi satu-satunya suara yang mengisi kesunyian mencekam di dalam sana. Arga memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Naya. Kilat amarah yang luar biasa gelap, buas, dan mengerikan membakar manik matanya. Topeng kakak tiri yang menderita itu runtuh sesaat, digantikan oleh wajah asli sang iblis. "Coba ulang kalimatmu barusan, Naya," desis Arga mematikan. Tangannya bergerak secepat kilat, mencengkeram rahang Naya dengan kuat hingga wanita itu meringis kesakitan. "Siapa yang ngajarin kamu ngomong kayak gitu? Otakmu udah dicuci lagi sama bayang-bayang kakak iparmu yang brengsek itu?!" Naya menahan air mata karena sakit di rahangnya, tapi ia

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Tunggu Aku, Nay

    Hujan gerimis mulai turun. Di tengah perjalanan, Arga menepikan mobil di sebuah *rest area* kecil yang sepi karena mesin mobil perlu diisi bahan bakar, dan Arga harus membeli perban baru di minimarket. "Kamu tunggu di mobil. Kunci pintunya dari dalam. Mas cuma lima menit," perintah Arga mutlak, menurunkan kaca jendela Naya hanya selebar dua sentimeter agar udara bisa masuk. Begitu Arga melangkah masuk ke minimarket, Naya tidak membuang waktu sedetik pun. Matanya menyapu seluruh isi kabin mobil. Tidak ada kertas, tidak ada pulpen. Naya menggeledah *dashboard*. Kosong. Arga terlalu teliti. Naya merogoh saku jaketnya, jarinya menyentuh lipstik merah yang semalam sengaja ia simpan, serta potongan struk Indomaret yang ia sembunyikan. Naya menatap ke luar jendela. Di sebelah mobil mereka, terparkir sebuah truk boks pengiriman barang antar-provinsi yang mesinnya masih menyala. Sopirnya sedang merokok di dekat toilet umum. *Aku harus ninggalin jejak. Sekecil apa pun.* Naya membu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status