แชร์

7. Tiduri Dia, Naya!

ผู้เขียน: Dre LA
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-09 16:36:58

Dalam kebimbangan, Naya segera menyewa taksi online untuk mengantar dirinya ke rumah sakit, baru sampai di kamar tempat ayahnya di rawat, Naya mendengar seorang dokter berkata dengan nada mendesak.

"Cabut selangnya sekarang!"

"Tunggu! Apa yang kalian lakukan? Jangan sentuh ayahku!" teriak Naya, menerobos masuk ruang VIP dengan napas memburu, menghempaskan nampan medis hingga berjatuhan.

"Maaf, Nona. Ini instruksi langsung dari manajemen. Pendanaan Anda telah dicabut total hari ini, jadi kami tidak bisa melakukan apa pun kecuali menghentikan perawatan," jawab sang dokter, tampak sangat menyesal.

"Dokter Haris! Tolong hentikan mereka! Jangan pindahkan Ayah! Lihat monitornya, dia sedang sekarat!" jerit Naya histeris, menunjuk layar elektrokardiogram yang pergerakannya semakin melemah.

"Pihak penanggung jawab sudah memblokir semua akses tindakan medis, Naya. Kami tidak bisa bertindak tanpa biaya masuk yang baru. Saya benar-benar minta maaf." Dokter Haris hanya bisa menjawab pelan sambil menunduk, membuat air mata Naya semakin bercucuran.

"Beri aku waktu! Kumohon, Dokter! Aku janji akan mencari uangnya malam ini juga!" bujuk Naya dengan putus asa, tapi sang dokter hanya bisa menggeleng.

"Kami tidak bisa menunda prosedur rumah sakit, Nona."

"Demi Tuhan, jangan bunuh ayahku!" teriaknya histeris, wajahnya sudah basah oleh air mata, kekecewaan dan rasa putus asa menguasai dirinya.

Tepat pada saat itulah....

Bip.

Naya menatap layar ponselnya yang menyala di saku. Sebuah pesan masuk dari Dewa.

[Masuk ke kamar Rekha malam ini. Aku sudah mengaturnya. Hamil anak dia, atau besok pagi kuburan ayahmu sudah digali.]

"Suami bajingan," desis Naya dengan rahang mengeras. Jemarinya bergetar hebat saat mengetik balasan.

[Aku akan lakukan semua perintahmu, Mas! Tapi jangan sentuh ayahku.]

Jawaban segera muncul di layar ponsel Naya. [Oke. Tepati janjimu, Naya. Tunggu aku di rumah sakit, aku akan ke sana.]

Setelah pesan dari Dewa masuk ke ponselnya, Naya melihat dokter Haris ditelepon seseorang dan sang ayah, yang tadi hampir meninggal, kembali mendapatkan perawatan intensif.

Sepertinya dana yang tadi sempat diputus oleh Dewa, kini sudah diberikan kembali. Melihat sang ayah di ranjang berbaring dengan tenang, kaki Naya langsung lemah, dia terduduk di lantai rumah sakit yang dingin.

"Ayah, maaf, aku ... aku mungkin akan mengecewakanmu," bisiknya lirih, badannya gemetar membayangkan habis ini, akan dikirim suaminya sendiri ke ranjang pria lain.

"Naya!"

Belum juga Naya mempersiapkan mentalnya, Dewa sudah datang ke rumah sakit, dia berlari ke arah istrinya yang terduduk sambil menangis, bukannya kasihan atau khawatir, Dewa malah melotot marah.

"Berdiri, kita nggak punya waktu lagi!"

"M-Mas, sebentar. Aku, aku ...."

"Nggak ada negosiasi lagi, Naya! Kita sudah sepakat tadi!" potong Dewa, menarik tangan Naya agar berdiri, dengan sempoyongan, Naya mengikuti langkah cepat sang suami.

"Jalan lebih cepat, jalang!" bentak Dewa, mendelik ke arah Naya. Tangannya menyeret kasar pergelangan tangan Naya di sepanjang lorong rumah yang remang-remang.

"Sakit, mas Dewa! Lepaskan tanganku!" rintih Naya, terseok-seok mengikuti langkah lebar suaminya.

"Tutup mulutmu! Kamu sudah berutang nyawa padaku, Naya! Dan ini satu-satunya cara kau membayarnya!"

"Dia kakak kamu sendiri, Mas! Kamu benar-benar sudah gila!" teriak Naya, air matanya masih menetes dan membasahi pipinya. Kini mereka sudah di dalam mobil, Dewa mengemudi dengan kecepatan tinggi seakan-akan tengah di kejar sesuatu.

"Ibuku sudah nggak sabar untuk memiliki pewaris! Dan karena rahimmu nggak ada gunanya untukku, kamu harus meminjam benih saudaraku untuk memberi pewaris, Naya!"

Naya menatap suaminya dengan air mata yang semakin deras, kini mereka sudah berada di rumah, suasana begitu lengang tak ada siapa pun, seakan-akan semua orang di rumah besar ini telah di usir oleh Dewa.

"Kamu tega mengorbankan istrimu sendiri demi harta warisan, Mas?!"

Naya menghentikan kakinya di depan kamar Rekha yang tertutup rapat, menatap nanar ke pintu kamar, sambil menggeleng dengan perasaan hancur.

Dewa hanya menatap sinis ke arah Naya dan membentak, "Jangan berlagak suci! Ayahmu masih bernapas karena uangku! Ingat itu, Naya!7"

Brak!

Setelah membentak istrinya,Dewa menendang pintu kamar Rekha hingga terbuka lebar. Dengan satu sentakan beringas, dia melempar Naya ke dalam ruangan yang gelap itu.

"Akh!" jerit Naya saat tubuhnya menghantam kerasnya kasur berukuran king size.

"Lihat pria brengsek itu," seringai Dewa tajam, menunjuk sosok yang terkapar tak berdaya di atas seprai. "Aku sudah membiusnya, dia nggak bisa apa-apa sekarang."

Mata Naya membelalak ngeri saat melihat Rekha bernapas dengan dada naik-turun secara brutal. Matanya terpejam rapat. Keringat dingin membanjiri dahi hingga kemeja pria itu basah kuyup.

"Apa... apa yang kamu berikan padanya, Mas?!" teriak Naya panik, melihat urat-urat di leher Rekha menonjol menahan sakit.

"Campuran obat tidur dan perangsang dosis tinggi," tawa Dewa menggema dingin. "Dia nggak akan sadar siapa yang sedang menungganginya malam ini, tapi insting hewannya akan bereaksi liar saat kau menyentuhnya."

"Aku ... aku nggak mau! Ini pemerkosaan, Dewa! Aku nggak akan pernah melakukannya, Mas!" Naya merangkak mundur, menjauhi tubuh Rekha yang mulai mengejang pelan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Tamat.

    Malam pengantin yang sesungguhnya akhirnya menyambut mereka setelah semua badai, darah, dan air mata tersapu bersih dari dunia mereka. Di dalam kamar utama *mansion* Adhitama yang kini sepenuhnya aman, tirai beludru tebal ditarik rapat, meredam bisingnya kota Jakarta di luar sana. Hanya ada pendar cahaya kuning temaram dari lampu tidur dan kehangatan dari perapian yang menyala pelan. Rekha membaringkan Naya di atas tempat tidur berseprai sutra putih dengan kelembutan yang teramat sangat. Pria itu menangkup wajah istrinya, menelusuri setiap inci garis rahang Naya yang kini terlihat begitu damai, tanpa sisa-sisa bayangan teror atau ketakutan. "Mulai hari ini, dunia kita hanya milik kita berdua, Naya," bisik Rekha serak. Bibirnya turun, mendaratkan kecupan penuh pemujaan di kening, lalu turun ke kelopak mata, hidung, hingga berhenti di bibir Naya. Naya menyambut ciuman itu dengan desahan penuh cinta. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Rekha, menarik pria itu semakin rapat.

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Kamu Harus Mati!

    Dewa menyeringai, sebuah seringai cacat yang mengerikan. Dari balik saku seragamnya, pria itu mengeluarkan sebilah pisau bedah medis yang sangat tajam dan berkilat. "Uang selalu bisa membeli pengkhianat, Naya," desis Dewa, suaranya sengau dan berantakan. "Kau pikir Bianca akan membiarkanku membusuk sendirian sementara jalang kecil ini menikah dengan pria yang membuangnya? Wanita itu mengatur segalanya dari luar. Menyelundupkanku lewat jalur pembuangan limbah tepat ke kamarmu." Dewa melangkah maju perlahan, menyeret kakinya yang cacat, namun pisau bedah di tangannya terarah lurus. Matanya yang merah menyala oleh kegilaan dan obsesi yang tak lagi bisa diselamatkan. "Kau terlihat sangat cantik mengenakan gaun pengantin itu... lagi, Istriku," Dewa terkekeh getir, menatap Naya dari atas hingga ke bawah dengan pandangan penuh gairah yang sakit. "Tapi sayang, gaun putih itu terlalu bersih. Kurasa... warna merah darah akan jauh lebih cocok untuk menyambut pahlawanmu saat dia kembali ke

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Menikahlah Denganku.

    Satu bulan berlalu sejak malam di mana seluruh rantai penderitaan Naya dihancurkan. Dan seperti janji yang dibisikkan Rekha di antara penyatuan napas mereka, sang kaisar bisnis benar-benar meletakkan dunia di bawah telapak kaki Naya. Pesta pernikahan itu digelar dengan kemegahan yang melampaui akal sehat. Seluruh lantai utama dan *ballroom* hotel bintang tujuh tertinggi di Jakarta disewa secara eksklusif. Ribuan mawar putih murni didatangkan langsung dari Belanda, menghiasi setiap pilar dan langit-langit ruangan. Rekha mengerahkan ratusan personel *Shadow Team* di setiap titik buta, menyulap hotel tersebut menjadi benteng tak tertembus. Hari ini, Rekha Adhitama akan memproklamirkan pada dunia bahwa wanita yang dulu dibuang dan dihina oleh keluarganya, kini berdiri sebagai Ratu tunggal pewaris takhta Adhitama. Di dalam *Bridal Suite*—ruang rias pengantin yang sangat luas dan mewah—Naya berdiri menghadap cermin raksasa. Ia nyaris tidak mengenali pantulan dirinya sendiri. Gaun

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Aku Kangen

    Naya menatap sepasang mata Rekha yang berkilat oleh kerinduan dan cinta yang tak tertahankan. Lima tahun memendam perasaan, berminggu-minggu terpisah oleh jarak dan manipulasi mematikan, kini mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Tidak ada lagi Dewa. Tidak ada lagi Arga. Tidak ada lagi rasa bersalah yang mengikat kakinya. Naya mengangkat kedua tangannya, merengkuh rahang kokoh Rekha. Jemarinya membelai pelan raut lelah pria itu. "Aku sudah pulang, Mas. Aku di sini. Dan aku... aku sepenuhnya milikmu sekarang." Mendengar penyerahan diri yang diucapkan dengan penuh kerelaan itu, sisa-sisa pertahanan kewarasan Rekha akhirnya runtuh tak bersisa. Rekha menunduk dan meraup bibir Naya dalam sebuah ciuman yang meledak oleh gairah dan keputusasaan yang telah lama ia pendam. Ciuman itu tidak lembut, melainkan menuntut, rakus, dan luar biasa dalam. Rekha mencium Naya seolah wanita itu adalah oksigen terakhir di bumi, melahap bibir Naya dengan intensitas yang membuat lutut Naya seketika l

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Dewa Dihukum

    Naya melemparkan dokumen itu tepat ke wajah Dewa hingga kertas-kertasnya berserakan di lantai. "...kau yang mandul, Dewa! Rahimku sehat sempurna. Tapi karena gaya hidupmu yang hancur karena alkohol dan obat-obatan, kau kehilangan kemampuanmu untuk memberikan ahli waris. Dan untuk menutupi kecacatanmu, kau menyiksaku. Kau bahkan dengan teganya mendorongku ke kamar adik kandungmu sendiri agar aku hamil dan menutupi aibmu!" Suara Naya menggelegar, membongkar kebusukan paling menjijikkan dari seorang Dewa Adhitama. Para tetua terkesiap ngeri. Beberapa bibi Naya menutup mulut mereka, tak percaya dengan penderitaan yang selama ini ditanggung oleh Naya sendirian. Dewa terdiam. Mulutnya terbuka, namun tak ada satu pun kebohongan yang bisa ia rangkai lagi. Bukti-bukti itu terlalu absolut. Kebusukannya telah dikuliti habis-habisan di bawah terangnya lampu gantung kristal. Naya menarik napas panjang, melepaskan beban berton-ton yang selama lima tahun menghancurkan pundaknya. Ia merogoh

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Hancurkan!

    Rekha berjongkok. Dengan tangan yang masih berlumuran darah Dewa, ia tidak berani menyentuh Naya. Ia takut mengotori wanita itu. "Kita pulang sekarang, Sayang. Semuanya sudah selesai," bisik Rekha lembut, air mata menggenang di pelupuk mata sang kaisar bisnis. Naya tidak peduli pada darah di tangan pria itu. Wanita itu justru menerjang ke depan, mengalungkan kedua lengannya ke leher Rekha, memeluk pria itu dengan sangat erat. Tangisannya pecah—tangisan kelegaan, rasa aman, dan cinta yang akhirnya menemukan tempatnya bernaung. "Terima kasih... terima kasih udah nemuin aku, Mas..." isak Naya di ceruk leher Rekha. "Aku nggak mau lari lagi... aku cuma mau sama Mas Rekha..." Mendengar kalimat itu, pertahanan Rekha runtuh. Ia membalas pelukan Naya tak kalah eratnya, membenamkan wajahnya di bahu wanita yang terbungkus jaket kebesarannya itu. "Tidak akan ada yang memisahkan kita lagi, Naya. Aku bersumpah demi nyawaku, mulai detik ini, akulah yang akan menjadi perisaimu," bisik Rekha

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status