Share

Kamu Jahat, Mas!

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-08-17 21:54:26

Arga menyisir rambut tebalnya ke belakang dengan jemari, tersenyum simpul—sebuah senyum mematikan yang sanggup membuat wanita mana pun bertekuk lutut. "Kecelakaan mobil lima tahun lalu itu memang nyata, Sayang. Mereka memang nyiksa Mas. Tapi mereka lupa, kekayaan tak terbatas di pasar gelap luar negeri bisa membeli ahli bedah plastik terbaik di dunia buat nyembuhin luka fisik seburuk apa pun."

"Jadi... selama ini kamu bohong?!" Naya mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang, dadanya n
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Ahhh!

    Arga menunduk, mendaratkan ciuman pertama di bibir Naya—bukan ciuman paksaan yang kasar, melainkan ciuman yang lambat, basah, dan luar biasa memabukkan. Dengan wajah aslinya yang sempurna, ciuman itu terasa sepuluh kali lipat lebih berbahaya. Naya merasa seolah ia sedang disihir oleh racun manis yang mengalir perlahan di dalam aliran darahnya. Naya mengerang pelan di sela ciuman itu, tangannya yang tadi sempat gemetar ketakutan kini tanpa sadar terangkat, merayap naik dan mencengkeram bahu bidang Arga dengan erat, menarik pria itu semakin mendekat ke dalam pelukannya. Arga menyadari perubahan kecil itu. Seringai kemenangan merekah di sudut bibirnya. Ia melepaskan pautan bibir mereka, menatap manik mata Naya yang sayu, berenang dalam lautan gairah dan kepasrahan mutlak. "Pintar, Adik kecilku," puji Arga serak, mengusap rahang Naya dengan ibu jarinya. "Kamu mulai belajar cara menyerahkan diri pada takdirmu. Kamu sadar kalau melawan hanya akan membuatmu semakin tersiksa dalam api

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Jangan Melawan

    Arga menyadari perubahan kecil itu. Seringai kemenangan merekah di sudut bibirnya. Ia melepaskan pautan bibir mereka, menatap manik mata Naya yang sayu, berenang dalam lautan gairah dan kepasrahan mutlak. "Pintar, Adik kecilku," puji Arga serak, mengusap rahang Naya dengan ibu jarinya. "Kamu mulai belajar cara menyerahkan diri pada takdirmu. Kamu sadar kalau melawan hanya akan membuatmu semakin tersiksa dalam api ini." "Kamu... kamu benar-benar pria paling jahat yang pernah aku kenal..." cicit Naya dengan mata berkaca-kaca, napasnya tersengal-sengal menatap ketampanan Arga yang begitu membius. "Kenapa harus aku? Kenapa kamu harus terobsesi separah ini sama aku?" "Karena kamu satu-satunya hal di dunia ini yang membuatku merasa nyata setelah lima tahun hidup di dalam bayang-bayang kematian," jawab Arga tanpa ragu, suaranya berubah menjadi bisikan yang sangat intim dan khusyuk. "Semua kekayaan, semua balas dendam pada Rekha, semua rencana busukku... itu semua tidak ada artinya di

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Kamu Jahat, Mas!

    Arga menyisir rambut tebalnya ke belakang dengan jemari, tersenyum simpul—sebuah senyum mematikan yang sanggup membuat wanita mana pun bertekuk lutut. "Kecelakaan mobil lima tahun lalu itu memang nyata, Sayang. Mereka memang nyiksa Mas. Tapi mereka lupa, kekayaan tak terbatas di pasar gelap luar negeri bisa membeli ahli bedah plastik terbaik di dunia buat nyembuhin luka fisik seburuk apa pun." "Jadi... selama ini kamu bohong?!" Naya mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang, dadanya naik-turun menahan luapan emosi yang meledak-ledak. "Kamu pura-pura cacat, pura-pura kesakitan, pura-pura nyaris mati... cuma buat narik rasa kasihan aku?!" "Mas harus ngetes kamu, Naya!" sahut Arga santai, merangkak maju bagai singa jantan yang mengurung mangsanya. "Kalau Mas datang menjemputmu dengan wajah setampan dan sesempurna Rekha, kamu mungkin cuma bakal takjub sesaat. Tapi Mas mau tahu... apa kamu bakal tetap berlutut dan setia buat Mas kalau fisik Mas hancur, menjijikkan, dan enggak b

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Dimanipulasi!

    "Tentu aja, Dek. Mas mau dia tahu rasa putus asa. Mas mau dia sadar kalau dia bakal selalu selangkah di belakang Mas," jawab Arga, meletakkan tabletnya. Tangan besar Arga terulur, menangkup sebelah pipi Naya dengan sentuhan yang posesif. Ibu jarinya mengusap sudut bibir wanita itu. "Kamu takut dia bakal berhasil nembus badai dan nemuin kita di kabin ini?" pancing Arga, matanya menyipit mencari celah kebohongan di wajah Naya. Naya menatap lurus ke dalam manik mata kelam kakak tirinya. Sudut bibirnya perlahan melengkung membentuk senyuman tipis yang sarat akan kepasrahan gila. Ia menyandarkan pipinya ke telapak tangan Arga. "Walaupun dia nemuin kita... kakiku udah terantai ke pilar ini, kan, Mas?" bisik Naya dengan suara yang mengalun membius, tak lagi menyembunyikan fakta bahwa ia mulai menikmati intimidasi ini. "Kuncinya udah ada di lambung Mas. Aku enggak bisa ke mana-mana, dan aku enggak mau lari ke mana-mana." Seringai iblis Arga merekah sempurna. Ia menarik tengkuk Naya

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Rekha Datang!

    "Geledah semuanya! Hancurkan dindingnya kalau perlu! Jangan sampai ada satu jengkal pun yang terlewat! Temukan Naya sekarang juga!" Suara raungan Rekha yang menggelegar membelah sunyinya malam, bersamaan dengan suara dobrakan keras. Pintu kayu jati rapuh dari rumah tua peninggalan keluarga Arga itu hancur berkeping-keping, ditendang hingga lepas dari engselnya oleh sang raja bisnis yang kini sepenuhnya berubah menjadi monster haus darah. Belasan anggota *Shadow Team* berpakaian serba hitam dengan senjata laras panjang merangsek masuk, menyisir setiap sudut rumah yang gelap dan pengap itu. Rekha melangkah di belakang mereka, napasnya memburu kencang, matanya yang semerah darah menyala di tengah kegelapan, mencari-cari sosok wanita yang bisa meredam kegilaannya. "Naya! Kamu di mana, Sayang?! Ini aku!" teriak Rekha, suaranya parau dan putus asa, membuka paksa setiap pintu kamar yang ia lewati. "Tuan Rekha..." Bima muncul dari arah kamar utama dengan wajah pucat pasi dan tangan se

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Enak, Dek!

    "Mas, otot di bahu kamu beneran kaku lagi, atau ini cuma alasan baru buat nyuruh aku dekat-dekat sama kamu?" Suara Naya mengalun pelan, hampir membelah keheningan kabin kaca yang diselimuti kabut pagi. Ia berdiri di dekat nakas, memegang botol minyak aromaterapi. Matanya yang sembab menatap lurus ke arah Arga yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan kemeja setengah terbuka. Arga sedikit tersentak. Kilat terkejut melintas sejenak di manik matanya sebelum akhirnya berganti menjadi seringai miring yang begitu gelap. "Kenapa tanya gitu, Sayang? Kamu mulai ragu sama rasa sakit yang Mas rasain?" rintih Arga, memasang raut wajah terluka dengan nada suara yang sengaja dibuat bergetar. "Mas ini korban, Naya. Saraf di punggung Mas beneran nyeri tiap kali trauma itu datang..." "Mas Arga, stop," potong Naya. Langkah kakinya mendekat ke tepi ranjang, rantai besi di pergelangan kakinya bergemerincing halus. "Tangan kamu enggak gemetar sama sekali hari ini. Napas kamu juga stabil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status