Share

Besar Sekali!

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-07-30 21:23:43

"Dua puluh sentimeter panjangnya, dan empat sentimeter lebarnya," jawab Rekha dengan suara yang sangat serak, karena gairahnya sudah nyaris meruntuhkan akal sehatnya.

"Ya Tuhan... ukuranmu..." desis Naya pelan di antara napasnya yang mulai memburu.

Naya menundukkan pandangannya, lalu matanya menelusuri batang kokoh yang berdiri tegak lurus itu, sementara jari telunjuknya bergerak lambat untuk menelusuri urat-urat kebiruan yang menonjol liar di sepanjang permukaannya.

"Hmm... kau begitu indah da
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Telepon Tak Terduga

    "Mhhh... ahhh... terus... lebih keras, Rekha... mhhh!" Suara decakan basah dari gesekan daging dan benturan kulit yang keras mulai mendominasi seluruh penjuru ruangan. "Panggil namaku terus, Naya... hhh... jangan berhenti..." "Rekha! Akhhh! Rekha... aku mau keluar... ahhhh! Aku nggak tahan lagi!" Tubuh Naya seketika menegang kaku, sementara sepuluh jari kakinya melengkung tajam. Ia menjerit tertahan saat gelombang orgasme yang sangat dahsyat menghantam kesadarannya berkali-kali. "Ahhhhh! Rekhaaa!" Rekha memejamkan matanya rapat-rapat saat ia merasakan kedutan hebat di dinding dalam Naya yang menjepit erat batangnya tanpa ampun. "Shit... Naya... nghhh! Menjepit sekali... akhhh!" Rekha mengerang sangat panjang karena ia merasakan semburan panasnya akan segera datang. Dengan satu gerakan kilat, Rekha menarik pinggulnya mundur menjauh dari celah basah tersebut. Terdengar suara *pop* yang sangat nyaring saat batang raksasa itu terlepas keluar tepat satu detik sebelum ledakan

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Hancurkan Aku, Sayang!

    Rekha akhirnya melepaskan tautan ciuman mereka karena paru-paru mereka kembali menuntut pasokan udara, tetapi pria itu tetap menahan wajahnya agar berjarak hanya beberapa sentimeter saja dari wajah Naya yang memerah padam. Mereka saling menatap langsung ke dalam mata satu sama lain dengan intensitas yang sangat membakar, sementara napas mereka yang sama-sama tersengal-sengal beradu panas di udara sempit di antara wajah mereka berdua. "Aku siap, Rekha... hancurkan aku..." bisik Naya dengan suara penuh gairah, matanya menatap tajam ke dalam sorot kelam pria itu. "Kamu yakin?" tanya Rekha dengan suara berat, dahinya berkeringat karena menahan ledakan yang semakin mendekat. "Aku yakin... aku ingin kita keluar, bersama-sama..." jawab Naya sambil mengangguk pelan, tangannya meraih tengkuk Rekha dan menariknya lebih dekat. Sorot mata kelam Rekha menelusuri setiap inci fitur wajah Naya yang basah oleh keringat, sedangkan Naya menatap balik manik mata tajam pria itu dengan sorot mata yang s

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Puaskan Aku!

    "Tahan sebentar, Naya... aku ingin merasakanmu lebih lama..." jawab Rekha dengan suara serak dan penuh nafsu, tetapi ritme pinggulnya semakin cepat tanpa bisa dikendalikan. Payudara Naya yang penuh dan bulat terus bergoyang liar ke segala arah akibat guncangan yang tidak stabil tersebut, seiring dengan tempo Rekha yang makin lama berubah menjadi semakin brutal dan tidak terkendali. "Nggak bisa... Rekha! Aku... aku tidak tahan lagi!" teriak Naya dengan suara parau, tubuhnya mulai kejang-kejang di bawah cengkeraman pria itu. "Tahan... tahan, Sayang... tunggu aku..." desah Rekha dengan napas tersengal, otot perutnya menegang sempurna setiap kali ia menumbuk Naya dengan segenap tenaga. Gempuran keras itu terus berlangsung tanpa penurunan intensitas sama sekali, sampai akhirnya setelah beberapa menit berlalu dalam siksaan nikmat yang membutakan akal sehat, Rekha merasakan perubahan fisik pada tubuh wanita di bawahnya. Naya tiba-tiba melepaskan cengkeraman putus asanya dari sprei kasur

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Semakin Liar

    Rekha terdiam sejenak untuk memulihkan pasokan oksigen ke dalam paru-parunya yang terasa terbakar, lalu pria itu segera bangun dari posisinya karena sisa-sisa gairah di dalam aliran darahnya masih terus bergejolak menuntut penuntasan yang lebih jauh. Dia perlahan menggeser tubuh besarnya yang bersimbah peluh ke arah ujung kasur, kemudian ia memposisikan dirinya berlutut tepat di antara kedua kaki Naya yang masih terbaring lemas akibat sisa orgasme sebelumnya. "Sayangku, Naya...."Rekha menatap tubuh telanjang Naya dengan sorot mata kelam yang dipenuhi oleh hasrat mendominasi, lalu ia menjulurkan kedua lengannya yang kekar untuk mengangkat kedua kaki jenjang wanita itu secara bersamaan. "A-apa yang mau kamu lakukan, Rekha?!" Naya sedikit panik saat melihat kobaran gairah di mata Rekha.Tanpa memberikan banyak waktu bagi Naya untuk memprotes, Rekha segera menyampirkan pergelangan kaki Naya ke atas bahu kiri dan bahu kanannya secara mantap, sehingga ia mengunci pergerakan wanita itu s

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Goyang Di Atas

    Rekha mengerang tertahan karena ia merasa gila, lalu ia refleks menyentakkan pinggulnya ke atas untuk menusuk Naya jauh lebih dalam lagi."Aku akan mati kalau kau terus begini..." desis Rekha dengan napas tersengal.Namun, Naya langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu menekan bahu Rekha kuat-kuat ke matras agar punggung pria itu tetap rata menyentuh kasur."Kau kuasai sepenuhnya!" erang Rekha pasrah.Naya kembali menegakkan punggungnya, kemudian ia mulai memacu pinggulnya bergerak naik dan turun dengan ritme konstan, seolah ia sedang mengendalikan alur cerita percintaan mereka bagaikan seorang kreator jenius yang tengah mengeksekusi skenario sempurnanya."Hnnggh... lihat... aku yang menentukan segalanya," bisik Naya di antara hentakannya.Saat ia mengangkat tubuhnya, Naya sengaja memperlambat gerakannya supaya ia bisa menikmati setiap jengkal gesekan di dinding vaginanya, tetapi saat ia turun, Naya menekan kuat titik pertemuan mereka sehingga benturan yang tercipta terasa sangat

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    Besar Sekali!

    "Dua puluh sentimeter panjangnya, dan empat sentimeter lebarnya," jawab Rekha dengan suara yang sangat serak, karena gairahnya sudah nyaris meruntuhkan akal sehatnya."Ya Tuhan... ukuranmu..." desis Naya pelan di antara napasnya yang mulai memburu.Naya menundukkan pandangannya, lalu matanya menelusuri batang kokoh yang berdiri tegak lurus itu, sementara jari telunjuknya bergerak lambat untuk menelusuri urat-urat kebiruan yang menonjol liar di sepanjang permukaannya."Hmm... kau begitu indah dari dekat," gumam Naya, lidahnya menjilat bibir atasnya.Rekha mengerang rendah, "Jangan hanya melihat... lakukan sesuatu."Karena Rekha merasa sangat tidak sabar, pria itu berusaha mengangkat pinggulnya, sedangkan tangannya bergerak liar agar ia bisa meraih pinggang ramping Naya."Ah—kau benar-benar tak bisa diam," ledek Naya sambil tertawa kecil.Akan tetapi, Naya langsung menahan kedua tangan Rekha, lalu menekannya dengan kuat ke sisi bantal."Diam!" perintahnya tegas, tapi bibirnya tersenyum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status