Share

#019 Ini Benar?

Penulis: aisakurachan
last update Tanggal publikasi: 2026-07-12 09:13:51
Dan bukan hanya Lea yang menikmati perjalanan itu dengan penuh semangat. Sejak tadi terlihat Heba yang tak henti-hentinya tersenyum menikmati pemandangan di tepi sungai.

“Kau gembira sekali,” sapa Lea, ikut tersenyum melihat kegembiraan pelayannya itu.

Saat sedang tersenyum cerah seperti ini, Heba terlihat persis seperti usianya yang sebenarnya. Selama ini, karena lebih sering mendengar Heba merendah atau menerima teguran, Lea sering kali merasa jika Heba lebih tua darinya.

“Ya, Tuan Putri. Ini
aisakurachan

😏😏 sama2 jual mahal kah kalian?

| 3
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #135 Hadiah Bentuk Apa?

    Ra mendesah panjang. Dia hanya ingin tahu apa kakaknya ‘tersayang’ itu berhasil membujuk Lea. Tapi tak mungkin juga bertanya langsung tanpa terdengar aneh, karena hal itu bukan urusannya.Tapi mendengar jawaban Lea yang biasa, Ra menduga Luz tidak berhasil. Ra ingin merasa lega, tapi ternyata tidak. Dia tak ingin Luz berhasil, tapi jika berhasil, setidaknya Lea tidak akan pergi.Serendah itulah harapan Ra.“Pangeran!” Heba tiba-tiba masuk. “Tuan Zaim ingin menemui anda. Beliau di luar.”“Ada apa lagi?!” Tidak sengaja Ra membentak, kesal karena seharusnya semua urusan sudah selesai hari ini, dan tidak ingin ada gangguan.“Suruh saja Zaim masuk, jangan memarahi Heba!” tegur Lea.“Aku tidak…. Heba, suruh dia masuk.” Ra tidak jadi mendebat Lea, karena seharusnya dia membujuk agar Lea mengatakan apa yang dilakukannya dengan Luz tadi sore.“Pangeran. Maaf mengganggu, tapi ada berita dari istana. Ada kiriman hadiah yang akan datang untuk Anda lusa.” Zaim masuk dan melapor dengan ucapan yang

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #134 Apa Kau Masih Sama?

    Luz menghapus air mata Lea, sambil tersenyum getir. “Jangan membuat hatiku patah dua kali, Lea.”Luz tahu Lea tidak akan memilihnya sejak awal, namun melihatnya menangis untuk Ra adalah luka baru.“Maaf, maafkan aku. Aku seharusnya tidak menangis.” Lea menunduk sambil menghapus air matanya. Sulit sekali menahan air mata itu, saat Lea mengucapkan tekadnya dengan keras.Luz sekali lagi mengelus pipi Lea.“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padamu, Lea. Ini membuatku gelisah. Karena berarti aku tak bisa menjagamu seperti Ra.” Luz kembali mendesah. “Bukan saja aku tak melihatmu bersama Ra, aku tak pernah melihatmu dimanapun, kecuali pada hari kita di Nubt. Pada hari aku menemukanmu, dan bendungan itu. Hari itu aku tahu kau penting, tapi hanya itu. Aku mencoba untuk mencarimu pada semua firasat yang aku lihat, tapi kau tidak ada.”“Ada yang menghalangimu?” Lea teringat ucapan Thoth.“Sepertinya begitu, tapi apa alasan Seth menghalangimu? Akan wajar jika dia menghalangi Ra, karena ingin

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #133 Kenapa Aku Tidak Melihatmu?

    "Apa yang kau inginkan?" tanya Luz."Hm… Saat ini? Menikmati pemandangan aku rasa…” Lea kecewa karena berharap pertanyaan berat tadinya.“Ha.. Ha...” Luz akhirnya tertawa, meski seharusnya dia bersikap serius.“Bukan itu maksudku, Lea.” Luz mencoba kembali memasang wajah serius.“Aku ingin tahu apa yang kau inginkan sebenarnya. Menimbang dari hatimu saja, tidak busah terpengaruh oleh keadaan sekitarmu. Apa keinginanmu yang murni dari dalam dirimu. Kau ingin tinggal di Tamiat, atau pulang kembali ke masa dimana kau tinggal."Lea baru menyadari apa yang dimaksud oleh Luz. Dia membicarakan pilihan yang sering membuat Lea gelisah di malam hari.“Dan bagaimana mungkin aku hanya menimbang hatiku saja untuk menjawab hal itu?" Lea bergumam dan menunduk, menatap kayu tua yang menjadi lantai perahu."Aku tidak menjalani kehidupan ini sendiri, Luz. Aku hidup dengan pengaruh banyak orang. Manusia tidak bisa hanya sekadar menimbang apa keinginan diri sendiri, dan memutuskan.”Luz tersenyum kecil.

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #132 Boleh Aku Bertanya?

    “Kita pulang lewat arah mana?" tanya Luz saat mereka mulai melangkah ke arah pintu keluar.Kereta kuda yang mereka gunakan berada di luar area di area perayaan, karena tak mungkin membawanya masuk.Hari semakin sore, tapi area perayaan itu semakin ramai. Banyak sekali pengunjung yang baru masuk.Dan karena pintu keluar dan masuk yang terletak bersebelahan, membuat jalur yang mereka lewati penuh sesak.Ra mendecak kesal saat melihat keadaan itu. Dia tidak memikirkan resiko ini sebelum sekarang.Pada tahun-tahun sebelumnya. Ra tidak pernah secara langsung mengunjungi Perayaan ini, hanya tahu rencana dan biasanya Zaim yang melaporkan. Tahun ini adalah istimewa, karena keberadaan Lea.“Bagaimana jika lewat sana?” Luz menunjuk arah barat dengan sembarangan.“Lewat mana? Hanya ada satu jalan keluar dari sini?” Ra menoleh mengikuti arah yang ditunjuk oleh Luz.Tapi begitu Ra menoleh, Luz menyambar lengan Lea, lalu menariknya berlari ke arah yang lain.“Putri!” Seruan panik Heba, membuat Ra k

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #131 Kau Baik-Baik Saja?

    Tapi Luz langsung menggeleng.“Tidak. Aku tidak bodoh,” katanya, sambil berpaling pada Ra.“Kau boleh ikut jika masih ingin pamer.”“Tidak, terima kasih. Aku tak ingin menang mudah. Dan bukankah kau yang memulai pameran ini tadi,” bentak Ra.Arena yang terakhir adalah perlombaan kekuatan otot, yaitu melempar batu.Dan benar-benar hanya mengandalkan otot, karena pemenangnya adalah orang yang bisa melempar batu terjauh. Ra dengan mudah dia bisa melempar batu sejauh yang dia inginkan.“Sudahlah. Kita berjalan-jalan saja. Tak perlu mengikuti perlombaan apapun lagi,” kata Lea, menengahi. Berjalan-jalan dengan mereka berdua melelahkan bagi Lea. “Baiklah…” Luz kembali ceria, dan menarik Lea ke area pedagang makanan. Daging yang dipanggang diatas tungku terbuka, sejak tadi menguarkan aroma lezat yang menggoda lidah.Karena ini perayaan, seperti biasa, pedagang itu memanggang berbagai jenis hewan dalam keadaan utuh.Ra memilih jenis aman untuk Lea, yaitu ayam.Ayam utuh yang telah dipanggang,

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #130 Siapa Pemenangnya?

    Ra memakai waktu yang tak kalah lama untuk memastikan sasaran, tapi keluhan terdengar saat dia melempar pisau.Pisaunya menancap di apel, tapi tali yang melingkari apel itu putus, dan buah itu jatuh terguling di tanah. Pisau Ra memutus tali pengikat, yang berarti tidak menancap tepat di tengah.Sorak sorai terdengar dari tepi lapangan, sementara Luz tersenyum dengan wajah puas. Lea ikut melambai memberi sorakan, dan bertepuk tangan untuknya. Lea tidak memiliki keterampilan memakai pisau kecuali untuk mengiris, jadi apa yang dilakukan mereka berdua sudah cukup hebat menurutnya.Tapi Ra tak terima. Dia memandang dengan jengkel kepada Luz saat kakaknya itu sedang membagi-bagikan hadiah yang diterima kepada para penonton. Penonton yang sudah gembira ria karena mendapat hiburan gratis, semakin riuh saja karena pembagian hadiah itu. Untung Lea berhasil menyingkir sebelum hilang ditelan oleh keriuhan itu. “Kita belum selesai!” Ra menunjuk Luz yang tersenyum puas menghampiri mereka.Ra ki

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status