Share

#038 Apa Ini Bagus?

Author: aisakurachan
last update publish date: 2026-07-18 13:40:06
“Tapi cara itu tidak berguna pada masa kering seperti ini. Tidak ada air yang bisa dialirkan menuju ke permukiman maupun persawahan. Sungai itu kering kerontang, tidak ada air yang tersisa.”

Rasui seolah membaca pikiran Lea, dan mengajukan alasan yang sangat tepat. Itu juga yang ada di dalam pikiran Lea tadi, sebelum ide lain muncul. Rencana Luz memang lemah.

“Ternyata masalahnya tidak sesederhana yang aku kira.”

Lea ingin tertawa saat melihat Rasui melirik ke arah Luz. Bibirnya tidak mengucap a
aisakurachan

Luz yang menang wkwkwk

| 5
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
ya udah damai aya ya Ru..biar rakyat terselamatkan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #218 Karena Aku?

    “Karena kau tentu saja...” Giza menatap Ra dengan pandangan heran, seolah jawaban itu seharusnya sudah jelas.“Aku?” Ra menunjuk dirinya sendiri, malah bingung.“Beberapa hari sebelum Han menemuiku, aku baru mengetahui identitas mu sebagai putra dari Osiris.” Giza menambahkan poin yang penting menurutnya, tapi tidak bagi Ra.“Kau mundur hanya karena itu?” Ra mengangkat alis, sangat ingin mendengus.Giza mengangguk. “Seperti yang aku katakan kemarin, aku ingin bertemu denganmu. Aku tidak ingin bermusuhan denganmu bahkan sebelum kita bertemu.”Ra tidak tahu harus menanggapi apa pernyataan itu. Dengan jelas dia menolak uluran tangan pertemanan itu kemarin. Tapi rupanya Giza memang setulus itu. Niat Giza jenis yang siang tidak buruk.“Aku sudah cukup menyesal karena tidak sempat menyapamu dengan benar saat pemakaman ayahmu dan juga penobatan dari Luzig. Saat itu aku belum tahu identitasmu sebagai anak Osiris.”Sejujurnya Ra bahkan tidak ingat jika Giza datang pada kedua acara itu.Terlalu

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #218 Kenapa Kau Menolaknya?

    Giza hanya mengangguk kecil. Entah dia akan mendengar Lea atau tidak.“Mmm… Untuk Amun, mungkin aku saja yang akan menjelaskan. Kalian bersiap-siap saja untuk pulang,” kata Giza.Lea langsung memberi Giza pandangan curiga.“Tidak akan, Nae. Ini siang. Aku tidak akan melakukan apapun padanya… Mmm… Namamu Nae bukan? Aku seperti mendengar Ra memanggilmu dengan nama lain tadi malam.”“Namanya Nae. Kau salah dengar!” tukas Ra. Dia ingat melakukan kesalahan itu saat di pemandian.“Oh...baiklah..” Giliran Giza yang mengernyit. Merasa jika tanggapan Ra terlalu sensitif.“Kami permisi kalau begitu…” Ra berdiri, dan Lea mengikuti. Sementara Amun masih duduk, menagih janji cerita.Giza mengangguk. “Oh… Dan sebagai permohonan maaf untuk ini semua, aku akan membantu Tamiat jika Han melaksanakan niatnya.”Nama yang membuat Ra berhenti bergerak.“Siapa?” tanyanya.“Han.. Hanbal, kakakmu..” Giza mengernyit.“Aku tahu dia kakakku. Tapi apa yang akan dilakukannya sampai kau harus membantuku?”“Oh… Kau

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #217 Kenapa Kalian Berbeda?

    “Tidak ada! Dan lupakan pertanyaanku tadi,” kata Ra. Kalau jawaban Amun seperti itu, maka berarti Giza tidak menemuinya. Ra lega.Disamping Ra, Lea juga bersyukur dalam hati, Giza ternyata tidak melakukan apapun pada Amun. Seharusnya mereka berdua mengingatkan Amun soal Giza tadi malam,api karena terlalu kalut tak ada yang melakukannya.Sikap Giza masih lebih baik dari bayangan Lea. Dia tidak sembarangan memilih, dan tidak hanya berdasar atas siapapun tak akan masalah asal ‘Anak dewa’.Dia juga punya selera, dan tidak berselera pada Amun. Itu saja kesimpulan yang bisa Lea tarik dari sikap Giza. Dan orang yang saat ini sedang dia pikirkan, saat ini terlihat berdiri di samping meja makan, jelas menanti rombongan mereka, karena langsung bergerak mendekat saat pandangan mata mereka bertemu.Giza membungkuk dalam-dalam, sampai Amun mundur karena tidak mengerti apa yang terjadi. Tentulah seorang Pharaoh yang membungkuk padanya terlihat aneh.“Aku benar-benar minta maaf atas apa yang aku

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #216 Apa Aku Perlu Berlutut?

    Tidak pernah dalam khayalan Lea yang paling liar sekalipun, dia membayangkan akan ada, apalagi bertemu, dengan makhluk seperti Giza.Dari semua hal ajaib yang ditemuinya mungkin akan menempati nomor satu mulai dari hari kemarin sampai selamanya.Dan ini semakin membuat penasaran akan sosok siapa ayah ataupun mungkin ibu dari Giza. Kemarin dia jelas mengatakan ayahnya yang seorang Dewa, tapi Lea tak ingin mempercayai kata-kata Giza sepenuhnya sekarang.Dia terlalu licik. Giza wanita yang ditemuinya jelas sangat bisa berbuat licik.“Lea…"Lea menepis tangan Ra yang berusaha menyentuh wajahnya.Dan Ra menghela nafas dalam-dalam, sambil menatap punggung Lea. Dan hanya punggung itu yang dilihatnya semenjak semalaman.Saat Ra masuk ke dalam kamar, Lea sudah membandingkan diri dengan posisi persis seperti sekarang, tidak bergerak.Ra jelas tak berani mengganggunya semalam. Sadar jika dia salah, dan membiarkan Lea untuk menenangkan diri sampai amarahnya reda.Tapi ini sudah semalaman, dan Ra

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #215 Kau Selalu Seperti Ini?

    Ra yang awalnya juga menganggap Lea terlalu berani, mulai mengamati lebih detail. Dan mulai merasa kesimpulan Lea masuk akal.Dia juga melihat kemiripan yang terlalu banyak, untuk disebut dengan kebetulan saja.“Kau benar-benar Giza?!” Ra mundur semakin menjauh dengan tubuh merinding, dan serta merta mencari kain untuk menutup tubuhnya.Sedikit jijik membayangkan jika tubuh telanjang yang tadi menempel padanya adalah Giza.Sekarang dia berbentuk perempuan, tapi Ra melihat dengan jelas bentuk tubuh Giza siang tadi adalah laki-laki. Ini…. Ra tak ingin membayangkan apapun lagi.Gadis itu tidak terlihat ingin mengakui apapun, tapi bergerak lebih masuk akal. Ia mengambil kain yang menjadi penutup tubuhnya.Itu adalah awal rencana pelarian. Tapi Lea melihat saat matanya melirik ke arah pintu keluar. Secepat kilat, Lea langsung bergeser menutupi pintu itu dengan tubuhnya, mencegahnya kabur.“Katakan yang sebenarnya sekarang, atau aku akan meminta Ra untuk tidak memperlakukanmu seperti wanita

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #214 Kau Makhluk Apa?

    Ra memandang dengan puas permukaan kolam pemandian yang tenang. Karena yang menyiapkan adalah Daka, jadi seperti biasa ada aroma citrus di sana.Persiapan sempurna, maka kini dia tinggal menunggu Lea untuk datang. Ra tahu benar meskipun Lea berkata tidak, tapi tubuhnya lebih jujur daripada bibirnya. Dia akan datang. Dan Ra sangat yakin akan ini.Ra melepaskan semua kain yang menempel pada tubuh, lalu menenggelamkan diri ke dalam kolam yang hangat itu.Setelah seluruh tubuhnya basah, Ra duduk pada undakan yang ada di tepi kolam, membelakangi pintu. Karena ingin melihat ruang terbuka yang ada di sekitar pemandian itu.Tidak terlalu berbeda dengan Yamu, ruang itu menghadap ke taman yang kini telah gelap gulita.Bibir Ra tersenyum, saat mendengar langkah pelan mendekatinya. Tebakannya tidak salah, Lea tidak mengecewakannya.Ra tidak bergerak, memejamkan mata, mendengarkan langkah kaki Lea mendekat.Dia sengaja menunggu sampai jarak Lea sangat dekat. Langkah kaki itu kini berhenti di bel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status