เข้าสู่ระบบSaingan datang :))
“Kau menemaniku berjalan-jalan hari ini? Kau tidak bekerja?” tanya Lea, melihat Ra masih berada di depan Serail. Berdiri diam, dan jelas terlihat menunggunya.“Benar sekali. Setelah membuka penguncian kota secara resmi, beban tugasku tiba-tiba menghilang separuhnya,” kata Ra, sambil mengangkat tangan penuh dengan kelegaan.Penguncian karena wabah itu telah resmi berakhir kemarin. Ra sudah tidak mendapat laporan penambahan kasus di luar area penguncian yang lebih kecil. Karena itu dia bisa memerintahkan untuk membuka semua titik penguncian, dan kini Yamu tidak lagi terisolir. Mulai hari ini, semua warga Tamiat bisa memasuki Yamu asal tidak mendekati area penguncian yang lebih kecil.Distribusi barang dari Yamu juga sudah mulai lancar kembali, tidak ada penjemputan khusus seperti beberapa hari kebelakang. Keadaan yang mulai normal, membuat beban kerja Ra juga ikut semakin ringan.Jadi pagi ini, dia bisa lebih bersantai dan menemani Lea untuk berjalan-jalan. Kegiatan berjalan-jalan dila
Lea menggenggam tangan Edrice dan mengelusnya perlahan.“Aku gembira kau memilih untuk tinggal di sini,” kata Lea. Meski bukan ibunya, tetapi Lea tak akan bisa mengabaikannya begitu saja, jika kehidupan Edrice di luar sana bersama dengan Sudi begitu mengerikan.“Maaf telah membuatmu khawatir.” Edrice mengelus kepala Lea.Gerakan tanpa disangka itu, membuat air mata segera mengumpul di sudut mata Lea.Edrice dan ibunya adalah dua sosok yang berbeda, tapi Edrice tentu saja banyak mengingatkan Lea akan ibunya. Ibu yang telah dia tinggalkan. Kenyataan yang terkadang masih Lea sesali, tapi tak mungkin diubah lagi.Edrice lebih pendiam dari ibunya, tapi mereka berdua adalah seorang Ibu, dan Lea bisa merasakan itu dari usapan tangan di kepalanya.“Hei, jangan menangis.”Edirce menghapus air mata Lea, dengan selimut.“Maaf. Mulai hari ini, aku akan ada disini. Aku meninggalkannya sesuai dengan keinginanmu.”Tapi justru kata-kata Edrice membuat air mata Lea turun semakin deras.Itu adalah kata
Dengan perasaan lebih lega, Ra bangkit."Kau…. maksudku… Anda…""Kau ibu dari Nae. Kau boleh memanggilku tanpa gelar." Ra tidak mempermasalahkan Edrice tidak memanggilnya 'anda'.Edrice terlihat tidak nyaman, lalu menggeleng. "Mungkin sekali ini, karena aku ingin berperan sebagai sebagai ibu."Ra berdiri mendengarkan."Terima kasih.""Tidak perlu…” Ra menggeleng."Karena telah mencintai Nae.""Oh.. itu.." Ra mengira Edrice akan berterima kasih soal pertolongannya tadi."Ya." Ra menjawab canggung, tidak tahu harus berkata apa. Ia melakukan apapun untuk alasan egois, kepuasan dirinya sendiri. Tentulah ia tidak tahu harus berkata apa kalau ada yang berterima kasih atas tindakan egois."Aku tahu apa kedudukanmu, dan apa yang sanggup kau lakukan tapi kau memilih Nae. Dan menyayangi setulus hati."Edrice tahu akan sangat mudah bagi Ra untuk berlaku seperti ayahnya. Tapi dari dari matanya, Edrice bisa melihat bagaimana Ra begitu peduli pada anaknya.Pembicaraan mereka sebelum ini adalah bukt
Ra menyerahkan pedang kembali pada Amun, yang disambut dengan wajah jijik. Pedang itu masih berlumuran darah, dan menambah nilai jijik karena darah itu darah orang semacam Sudi.“Bersihkan dulu!” Amun mengeluh kesal.“Tak sempat.” Ra menyerahkan pedang itu dengan paksa, dan Amun menerimanya dengan tak kalah terpaksa. “Bagaimana dia?” tanya Ra memandang pintu kamar yang masih tertutup. Edrice ada di dalam.“Joma sudah membantunya membersihkan diri. Masud kini merawatnya lukanya, dan aku rasa cukup banyak.” Amun yang membawanya ke sini, dan kepincangan Edrice yang semakin buruk saat mereka berjalan bersama, menandakan kalau ada lebih banyak luka yang masih tertutup pakaian.Ra mengangguk, dan kini dia harus menunggu sampai Masud keluar.“Kau yakin akan membiarkannya tinggal di sini?” tanya Amun.“Tentu saja. Dia tak akan punya tempat di luar sana, dan aku sudah berjanji kepada Lea.”“Agak beresiko bukan? Tidakkah dia akan menyadari jika Lea itu bukan Nae.”Selama ini mereka hanya bertem
“Cabut pedangmu sekarang! Ini perintah, bukan permintaan!”Dan mematuhi perintah Pharaoh adalah kewajiban baginya. Dalam hal ini, nasibnya akan sama apakah dia mencabut pedang atau tidak. Melanggar perintah Pharaoh, juga bisa membuatnya dihukum berat.Dengan amat perlahan, Sudi mencabut pedangnya.Ra menyuruhnya maju dengan jari telunjuk, maju ke tempat dirinya menunggu. Pedang Amun telah siap di tangannya.“Serang aku!”Ra kembali membentak. Dalam sentakan terkejut, Sudi mengayunkan pedangnya ke arah Ra. Ayunan paling menyedihkan yang pernah Ra lihat.Bahkan Daka saja tidak seburuk itu.Ra menangkis serangan itu hanya dengan sedikit menggerakkan pedang, kakinya bahkan tidak bergeser dari tempatnya berdiri.Dan selalu begitu, sampai beberapa saat kemudian. Sudi menyerang dengan sangat random, dengan gerakan yang tidak terarah, sementara Ra hanya menggerakkan satu tangan dengan malas untuk menangkisnya.Bukan pertarungan seru untuk dilihat. Dua pengawal yang menjadi penonton terlihat me
Ra ingin Edrice benar-benar menyadari dengan pasti, jika dia memang harus ‘merelakan’ Sudi, karena hubungan mereka sudah sangat tidak sehat.Jika memaksa, mungkin masalah saat ini akan selesai, tapi belum tentu trauma dan mimpi buruk yang ada dalam kepala Edrice akan menghilang.Melihat bagaimana lemahnya Edrice, kemungkinan besar dia akan dihantui oleh mimpi buruk seumur hidup, jika Edrice tidak memutuskan ini sendiri.“Aku tahu kau dulu memikirkan Nae dan juga Yufa, karena itu tidak bisa meninggalkan Sudi.”Ra mendengar ini sekilas dari Nae. Meski tidak bercerita dengan jelas, tapi Nae pernah menyebut, jika Edrice selalu menahan diri karena mengingat dirinya dan juga adiknya.“Tapi sekarang kau tidak perlu khawatir soal mereka lagi. Nae sudah bersamaku disini. Aku sudah menjamin kehidupannya. Dan maaf, jika aku terdengar kasar, untuk Yufa, walaupun bagaimana, dia tak lagi menjadi beban yang akan mengikatmu dengan Sudi.”Edrice kembali menghapus air matanya.“Dengan tinggal di sini, k







