INICIAR SESIÓNneng, itu namanya ngintip 😏😏
Pada saat seperti ini, Ra merindukan Amun. Ra menginginkan kemampuan Amun untuk melihat dengan tajam itu.Dengan kemampuan itu, dia akan menemukan para penculik Lea dengan lebih cepat lagi. Dia tadi sempat kehilangan jejak, karena van putih itu melaju dengan menerjang lampu merah, dan sempat membaur dengan banyak van di jalan luar kota.Tapi beruntung, Ra yang tidak tertinggal terlalu jauh akhirnya bisa menebak kemana arah mereka membawa Lea.Daerah yang dituju oleh mereka hampir semua berupa lahan kosong, tapi diantara semua itu Ra bisa melihat ada satu area yang mencolok dari kejauhan. Bangunan besar yang terlihat seperti gudang tua, dengan dinding besi.Ra tadi nyaris bersorak girang saat melihat van putih itu ada di depan bangunan itu. Tanpa membuang waktu Ra segera menghubungi nomor darurat.Ra tidak akan bertindak bodoh. Ini bukan zaman dimana dia bisa membabi buta membunuh orang. Dia akan menolong Lea, tapi dengan akal.Sementara menunggu-karena pasti polisi akan butuh waktu unt
Ra membenci kenyataan di mana kehidupan yang dialami Nae dan Lea harus begitu mirip. Masalahnya adalah, Lea sebagai Nae sudah mengalami ini, dan kini dia harus menjalaninya lagi sebagai Lea.Dan seperti kemarin, saat melihat Mark, Ra kembali merasakan dejavu, karena sekali lagi harus mengejar Lea yang sedang diculik, hanya kali ini keadaan sedikit lebih baik. Kejadiannya tepat di hadapan Ra.Meski sempat terpana dengan kenyataan yang tak disangka itu, tidak butuh waktu lama bagi Ra untuk sadar jika Lea sedang dalam bahaya.Ra segera menginjak pedal gas, dan mobil yang melaju mengikuti van putih tak beridentitas itu.Keadaan lalu lintas London yang belum mulai hidup, membuat jalanan cukup lengang, dan baru kali ini Ra mengumpat karena keadaan se[pi itu.Keadaan sepi berarti mobil di depannya juga dengan bebas memilih jalan dan terus melaju. Tak lama mereka sudah melewati Tower Bridge, membawa Lea keluar dari area kota London.Dan mobil biru milik Ra, masih setia mengikuti.***Lea tentu
“Jangan menjadi aneh! Kau mungkin cemburu begitu saja padanya, dia masih anak-anak," sergah Lea. Ia tidak ingin alasan cemburu itu menjadi alasan serius karena terlalu menggelikan.“Aku tidak aneh. Kau tahu bagaimana perasaanku, jadi aku rasa, aku boleh cemburu.” Ra malah tidak keberatan mengulang.“Tapi ini…”Lea kahilangan kata-kata, karena merasa jika Ra berlebihan. Lea saat ini akan lebih mudah percaya jika perasaan Ra adalah kebohongan atau main-main. Tapi sejauh ini, tidak ada tanda yang menunjukkan hal itu. Ra selalu menunjukkan bila perasaannya adalah hal yang serius.“Kenapa?” tanya Lea.“Kenapa apa?” Ra mengernyit.“Kenapa kau seperti ini?”“Lea, aku rasa kau harus memperjelas apa maksudmu. Aku takkan mungkin mengerti jika kau hanya mengatakan ‘seperti ini’. Ini apa?”Ra tersenyum dengan wajah memandang lurus ke depan. Dia tahu apa yang dimaksud oleh Lea, tapi ingin Lea menjelaksan.“Maksudku kenapa kau…”Lea memotong penjelasan, tak tahu harus mengganti kata ‘mencintaiku’ de
Lea tentu saja ingin mati karena malu, karena dia tak mungkin bisa menghindari tuduhan itu. Jelas terlihat dia memang sedang menikmati pemandangan menggiurkan yang diterangi langit sore temaram itu.Lea menggeleng, tentu saja tidak akan mengaku bagaimana dengan mudah otaknya tergoda oleh tubuh Ra.Tapi Ra memang tidak butuh pengakuan. Keuntungan dari menjadi suami Lea selama setahun lebih, Ra tahu benar api apa yang terbenam jauh di dalam tubuh Lea.Api itu saat ini tersembunyi, tapi Ra berjanji akan menariknya keluar seperti dulu. Saat itu terjadi, dia akan menemukan Lea yang dengan menggemaskan mencoba mengingkari, tapi akhirnya akan luluh juga.Jelas dia belum bisa melakukannya saat ini, tapi bukan berarti tak boleh menggoda. Dengan jelas Ra sudah memperingatkan pada Lea jika dia tidak keberatan dengan ketertarikan fisik saja.Ra berpegangan pada tangga kolam, lalu menarik tubuhnya naik, dan menikmati bagaimana Lea yang sudah memerah, terlihat semakin panik.Lea ingin lari, tapi lar
“Kau sering sekali kalah!” keluh Ra. Perang dunia mungkin sudah lama berlalu, tapi masih berjejak sampai sekarang.“HA! Dasar tak tahu terima kasih! Sudah bagus aku mengalahkannya setelah itu! Kau pikir mudah mengalahkan Seth?!” Osiris kembali emosi. “Kau seharusnya merasa beruntung hidup pada masa dimana aku hidup dan sehat. Dan dulu kau juga beruntung, meski aku tidak sempurna, tapi Seth juga tidak memiliki kekuatan secara penuh, karena aku telah melukainya!”Osiris mencibir pada Ra.“Jika pada saat itu Seth memiliki kekuatannya secara penuh, sedangkan aku tidak bisa terlahir kembali, maka aku yakin tidak akan ada masa depan seperti ini di bumi. Hati-hati dengan keluhanmu! Kau hanya manusia tak berdaya!”“Kenapa aku harus berhati-hati?!” Ra membentak kesal. Dia sesaat bersimpati karena tugas Osiris tidak mudah, tapi kembali jengkel mendengarnya menghina manusia. Sesaat tadi Ra melupakan Osiris memiliki sifat egois dan menyebalkan. Kalau pun dia harus menanggung nasib dunia, maka it
“Maksudmu Seth?”“Jangan mengajukan pertanyaan yang membuatmu terlihat tolol! Aku sudah mengingatkan bukan?! Kau pikir siapa lagi yang akan kita bahas saat bertemu?” Bukan hanya raut wajah, lidah Osiris sudah kembali ke mode sadis yang biasa.“Dan kenapa dia bisa dekat?” Sekali lagi Ra memilih tidak menanggapi hinaan, karena menurutnya Steh lebih penting.“Karena rupanya aku tidak bisa menghapus seluruh jejakmu. Kau mungkin bukan lagi Horus, tapi kau tetap merupakan anak keturunan Nef. Kau masih mempunyai jejak kekuatan dari kaum kami, meski hanya berupa dua butir atom mungkin. Tapi jumlah itu sudah cukup bagi Seth untuk melacak keberadaanmu.”“Jadi ini tidak mempan?” Ra mengangkat tangan, menunjukkan tato keemasan yang ada di telapaknya.“Tentu saja mempan! Kau masih hidup sampai saat ini berkat itu. Perlindungan itu sedikit mengacaukan Seth!” Osiris membentak, karena terkesan Ra mencemooh kekuatannya.“Kau tahu sendiri perlindunganku tidak sama dengan Bast. Aku tidak bisa melindungi







