LOGINKabar mengenai kehamilan Permaisuri Layla menyebar ke seluruh penjuru ibu kota laksana angin hangat di musim semi. Sorak-sorai sukacita bergema di pasar-pasar rakyat, desa-desa penempa besi, hingga ke dalam ruang-ruang rapat Dewan Agung. Doa-doa keselamatan dan kelancaran dipanjatkan di setiap sudut kesultanan untuk kesehatan Permaisuri yang amat mereka cintai dan calon penerus takhta yang dikandungnya.Sejak hari pingsannya Layla, Istana Utama mendadak berubah menjadi tempat yang paling ketat sekaligus paling hangat. Sultan Zayn mengeluarkan dekrit khusus yang membatasi seluruh tugas luar Layla. Bahkan, sang Sultan yang terkenal dengan ketegasannya di meja pemerintahan kini tak ragu meninggalkan tumpukan dokumen kerajaan hanya untuk menemani istrinya menghirup udara pagi atau sekadar memastikan Layla menghabiskan mangkuk sup nutrisinya.Pagi itu, di pendopo tinggi yang menghadap langsung ke seluruh pemandangan ibu kota, Sultan Vares duduk bersama Zayn dan Layla. Bekas Sultan yang kin
Bulan-bulan pertama masa pemerintahan Sultan Zayn dan Permaisuri Layla berlalu dengan jadwal yang teramat padat. Sebagai pasangan penguasa baru, mereka tidak hanya berdiam diri di dalam benteng Istana Utama. Zayn secara rutin memimpin inspeksi pasukan dan pembangunan infrastruktur, sementara Layla—yang kini sangat dicintai oleh rakyatnya—dengan penuh ketulusan mendampingi sang suami dalam berbagai agenda kerajaan.Dari upacara penyambutan para utusan wilayah luar, pembagian bahan pangan di alun-alun ibu kota, hingga mengunjungi panti asuhan dan desa-desa penempa besi di utara, Layla selalu hadir dengan senyum hangatnya yang menenangkan. Namun, dedikasi yang tanpa henti itu perlahan-lahan mulai menguras daya tahan fisiknya.Hari itu, agenda kerajaan berlangsung sangat padat sejak fajar menyingsing. Layla baru saja selesai menemui delegasi wanita dari Wilayah Barat untuk membahas kerja sama perdagangan kain sutra, lalu dilanjutkan dengan mendampingi Zayn menerima audiensi para tetua des
Setelah penobatan yang megah dan jamuan panjang yang melelahkan, Zayn dan Layla akhirnya kembali ke kamar utama istana. Pintu besar tertutup rapat di belakang mereka. Hanya cahaya lilin-lilin emas yang menyala redup menerangi ruangan luas itu.Zayn langsung menarik Layla ke dalam pelukannya, mencium bibir istrinya dengan lembut tapi penuh kerinduan yang tertahan sepanjang hari. Layla mendesah pelan, tangannya naik ke dada Zayn, merasakan detak jantung suaminya yang kuat."Hari ini melelahkan sekali," bisik Layla di antara ciuman mereka. "Tapi aku sangat bahagia."Zayn tersenyum di bibir Layla. "Aku juga. Tapi sekarang… aku ingin hanya berdua denganmu."Ia mengangkat Layla dengan mudah, membawanya ke ranjang besar yang sudah disiapkan dengan seprai sutra putih. Zayn meletakkan istrinya pelan, lalu naik ke atasnya, mencium leher Layla dengan lembut, menyusuri kulit halusnya dengan bibir dan lidahnya.Layla mendesah, tangannya menyusup ke rambut hitam Zayn, menariknya lebih dekat. "Zayn…
Malam harinya, di balkon kamar utama yang menghadap ke arah ibu kota, Zayn berdiri memandang hamparan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip indah. Jubah malamnya berembus perlahan ditiup angin sepoi-sepoi.Layla melangkah mendekat dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung tegap Zayn, melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu."Apakah kau siap untuk lusa, Zayn?" bisik Layla lembut.Zayn membalikkan tubuhnya, menangkup kedua pipi Layla dengan jemarinya yang hangat. Ia menatap mata hijau yang selalu menjadi penenang jiwanya."Selama ini aku bertarung untuk bertahan hidup dan menuntut keadilan untuk ibuku dan keluargamu," kata Zayn dengan nada suara yang dalam. "Tapi mulai lusa, aku akan memimpin seluruh negeri ini. Aku hanya bisa melakukannya jika kau tetap berdiri di sisiku, Layla. Sebagai permaisuriku."Layla tersenyum hangat, mengecup telapak tangan Zayn yang menempel di pipinya. "Aku akan selalu di sisimu, Zayn. Melangkah bersamamu, menjadi pelindungmu sebagaimana kau
Satu bulan kemudian...Langit di atas ibu kota kesultanan tampak begitu cerah berhiaskan warna biru bening tanpa awan. Kelopak-kelopak bunga mawar putih berjatuhan dari udara, diterbangkan oleh angin segar yang membawa aroma harum ke seluruh penjuru kota. Suara sorak-sorai ribuan rakyat bergema membahana dari luar tembok istana hingga ke aula agung yang kini telah dipugar sepenuhnya menjadi lebih megah daripada sebelumnya.Hari ini adalah hari Pernikahan Agung Pangeran Mahkota Zayn dan Layla.Di atas podium tertinggi aula agung, Sultan Vares berdiri mengenakan jubah kebesarannya yang megah. Di sekelilingnya, seluruh Dewan Agung, para jenderal, dan menteri menundukkan kepala mereka penuh khidmat. Ammar berdiri di barisan depan para pengawal dengan pakaian zirah emasnya, tersenyum bangga menyaksikan momen bersejarah ini.Zayn berdiri di tengah aula, mengenakan jubah kebesaran pernikahan berwarna hitam-emas dengan ukiran lambang naga dan mawar putih yang saling melilit. Wajah ketampanann
Malam itu, setelah pertemuan yang sarat haru dengan Sultan Vares di ruang kerjanya, Istana Utama diselimuti keheningan yang menyejukkan. Di kamar utama yang luas, Layla tertidur lelap di atas ranjang sutra yang hangat, di samping Zayn yang mendekapnya erat.Untuk pertama kalinya dalam belasan tahun, Layla tidak bermimpi buruk tentang malam pembantaian yang dipenuhi api dan jeritan.Di dalam tidurnya, Layla mendapati dirinya berdiri di sebuah padang rumput yang sangat luas dan hijau. Bunga-bunga liar bermekaran di bawah siraman cahaya keemasan yang hangat dan lembut. Udara di tempat itu terasa sangat segar, tanpa sedikit pun bau gosong atau rasa dingin persembunyian yang selama ini menghantuinya.Di tengah padang rumput itu, berdiri dua sosok yang sangat dikenalinya."Ayah... Ibu..." bisik Layla dengan suara bergetar.Dua sosok itu berbalik. Ayahnya yang bertubuh tegap khas seorang penempa besi, dan ibunya yang berwajah lembut dengan rambut cokelat kemerahan persis seperti miliknya, be
"Layla! Nak! Ayo bangun!" Suara itu terdengar panik, menggema samar seperti datang dari kejauhan. "Enghhh..." Rintihan pelan keluar dari bibir Layla. Tubuhnya terasa berat, seolah baru saja terjatuh dari mimpi yang terlalu nyata. "Layla, ini kami..." Suara itu kini terdengar lebih dekat, lebih
Rumah-rumah yang ada di desa sudah hangus terbakar, asapnya membumbung hingga memenuhi udara. Malam ini suasana terasa begitu mencekam. Dan di tengah semua itu, sesuatu yang lebih buruk terjadi. Di lapangan desa, Layla bisa melihat dua sosok yang amat dia kenal. Sosok ayah dan ibunya. Kedua orang
"BERHENTI DI SANA!" Suara berat dan tegas itu menggema dari balik pepohonan. "Kalian tidak bisa kabur lagi!" Suara itu seperti menghantam udara malam—dingin, tajam, dan tak terbantahkan. Langkah kaki berderap memecah kesunyian hutan. Tanah kering berderak di bawah sepatu besi. Cahaya obor mulai b
"Layla! Bangun Nak!" Suara itu terdengar tergesa, membelah sunyi malam yang belum sepenuhnya pergi. Tirai kamar masih bergoyang pelan diterpa angin dingin dari luar, ketika sosok wanita masuk dengan napas terengah."Enghh? Ibu?" Dengan setengah tersadar, Layla mulai bangun dari posisi tidurnya. Ram







