로그인Lampu-lampu gantung kristal di kediaman Vicount Alderis berkelap-kelip seperti mata-mata yang mengintai di tengah perjamuan kecil malam itu. Meskipun skalanya tak sebesar pesta istana, namun pengaruh yang dihasilkan dari bisik-bisik di sini bisa lebih mematikan.Di sudut ruangan yang dihiasi tirai beludru hijau zamrud, Seraphina duduk dikelilingi oleh lingkaran para lady muda yang haus akan skandal. Wajah Seraphina tampak pucat, sebuah efek yang sengaja ia ciptakan dengan riasan tipis untuk memicu rasa iba setelah insiden di kediaman Montclair tempo hari. Ia menyesap minumannya dengan tangan yang sedikit gemetar, memancing perhatian audiensnya."Aku benar-benar tidak menyangka Celestine akan berubah sejauh itu." bisik Seraphina, suaranya cukup rendah untuk membuat para lady mencondongkan tubuh ke depan. "Dulu dia terlihat begitu tulus, namun sekarang... ada sesuatu yang gelap dalam auranya setelah kembali dari akademi.""Apakah kau maksud tentang kembalinya Pangeran Alaric ke sisinya,
"Kau menuduhku menyerangmu menggunakan pelayanku, Seraphina? Di rumahku di mana setiap inci dindingnya telah diberkati oleh sihir leluhur Montclair?" Suara Celestine membelah keheningan taman seperti denting pedang perak yang menghujam lantai marmer. Celestine tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang lady terhormat dari kuil seperti Seraphina bisa menuduhnya melakukan tindakan tidak senonoh? Seraphina yang seharusnya menjadi tokoh utama di Dunia ini, mengapa justru melakukan tindakan bodoh seperti ini? Awalnya Celestine mengira mungkin saja Seraphina cemburu padanya.Tapi Celestine sendiri juga tidak pernah mengumumkan atau menunjukkan hubungan terbarunya dengan Alaric di depan umum. Hubungan mereka masih sebuah rahasia, dan hanya segelintir saja yang boleh mengetahui status hubungan mereka saat ini. Jadi tidak ada alasan bagi Seraphina untuk merasa cemburu padanya.Di hadapannya, Seraphina masih terisak, memegangi lengannya yang berdarah sembari menatap para tamu dengan pandangan m
Aroma harum teh earl grey bercampur dengan wangi bunga lili yang baru mekar memenuhi taman samping kediaman Montclair. Di bawah naungan paviliun kaca yang elegan, Lady Celestine menjamu para lady terpandang di lingkaran social Ethelwilde dalam sebuah perjamuan teh untuk merayakan kepulangannya. Suasana awalnya terasa begitu damai, denting cangkir porselen beradu dengan tawa kecil yang sopan, menciptakan fasad harmoni kelas atas yang sempurna.Celestine duduk di kursi utama dengan keanggunan yang tak tergoyahkan, mengenakan gaun sutra berwarna lavender yang senada dengan warna matanya. Namun, ketenangan itu hanyalah permukaan air yang menyembunyikan arus deras di bawahnya. Di sudut meja, Seraphina duduk dengan wajah yang dipaksakan tersenyum, meski matanya berkilat aneh setiap kali melihat para lady lain memberikan pujian atas kecerdasan Celestine di akademi."Lady Celestine, kami benar-benar merindukan kehadiran Anda di pergaulan lingkaran sosial ini." ujar salah satu Lady Viviene d
"Celestine, tunggu sebentar." Suara Julian bergema di koridor panjang yang sunyi, memantul pada dinding-dinding marmer istana yang dingin setelah rapat Dewan Aristokrat berakhir.Langkah kaki Celestine terhenti, namun ia tidak segera berbalik, membiarkan keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruang di antara mereka. Julian melangkah maju, mengatur raut wajahnya agar tampak seperti sosok kawan lama yang penuh keprihatinan, sebuah topeng kasih sayang palsu yang telah ia asah selama bertahun-tahun untuk menjerat hati sang Mawar Perak."Ayo taktik apa lagi yang ingin Kau lakukan padaku setelah menunjukan taringmu sendiri, julian?" Celestine bergumam dalam hati dengan perasaan jengkel. Sekarang, dirinya sudah sangat yakin, bahwa penyebab kematian Celestine adalah pria yang sekarang ada di dihadapannya ini. Provokasi dan Manipulasi Julian lah yang membunuh Celestine perlahan. Membuat dirinya terlihat bodoh dan menyeramkan dimata awam, terutama di mata Alaric. Kemudian dirinya terbunuh kar
"Kau tampak begitu tenang, Celestine. Apakah beban sebagai penguasa baru Montclair belum cukup untuk membuatmu merindukan masa-masa ketika kau hanya perlu memikirkan warna dan model gaun yang akan kau kenakan?" Julian menyesap wine dari gelas kristalnya sembari melemparkan tatapan yang sarat akan racun di tengah perjamuan Dewan Aristokrat yang megah. Ia sengaja mengambil posisi tepat di seberang Celestine, sebuah strategi visual untuk menekan mental gadis itu di hadapan para bangsawan tinggi Ethelwilde. "Dia sudah mulai menunjukkan taringnya rupanya." Pikir Celestine. Dari pertemuan mereka di akademi, Celestine jelas merasakan sesuatu yang berbeda dan janggal dari Julian. Ia menjadi lebih peka dengan aura orang lain sejak memasuki akademi. Tidak pernah terpikirkan oleh Celestine bahwa ia adalah pion dari orang yang paling ia percaya. Tempat ia berkeluh kesah dan bercerita, justru orang itu juga yang menusuknya dari belakang. Mereka saling mengenal sejak kecil, karena itulah Cel
Julian melangkah melewati gerbang tinggi kediaman Montclair dengan dagu terangkat, membawa sebuah kotak kayu cendana berukir yang berisi benih bunga langka dari pesisir selatan. Alasannya sangat klise namun sulit ditolak. Sebagai teman masa kecil, ia ingin memberikan simpati atas beban kerja Celestine yang meningkat sejak kepulangannya dari akademi. Itu adalah dalih yang sempurna untuk masuk ke ruang pribadi Celestine tanpa memicu kecurigaan Grand Duke.Namun, suasana tenang di ruang tamu paviliun mawar itu seketika pecah saat derap langkah sepatu bot militer yang berat bergema di koridor marmer. Pintu terbuka tanpa ketukan, dan Alaric melangkah masuk dengan aura yang sanggup membekukan udara di dalam ruangan."Julian. Aku tidak menyangka akan menemukanmu di sini, mengemis perhatian di jam minum teh." suara Alaric rendah, namun setiap kata yang keluar seperti dentuman lonceng kematian.Julian berdiri, memasang senyum manis yang paling palsu. "Hanya kunjungan persahabatan, Pangeran. B
Cairan biru safir dari serum Azure Lily mulai merembes ke dalam parit-parit mana, menciptakan reaksi berantai yang memicu pendar cahaya benderang. Celestine berdiri di ambang pintu pondok, mengamati bagaimana warna ungu memuakkan dari kelopak Nightshade perlahan-lahan memucat, digantikan oleh kob
Uap air hangat beraroma minyak bunga matahari perlahan menguap dari permukaan bak mandi marmer, memberikan sedikit relaksasi yang sangat dibutuhkan oleh otot-otot Celestine yang menegang. Namun, pikirannya tetap tidak bisa tenang. Setelah membersihkan diri dan mengenakan jubah sutra yang ringan, i
Pendar lampu mana di laboratorium bawah tanah itu memantulkan warna biru muda dari jubah lab yang dikenakan Celestine. Jubah itu, yang dirancang khusus dengan serat tahan api dan cairan kimia, tampak kontras dengan rambut peraknya yang berkilau di bawah cahaya artifisial. Celestine berdiri dengan
Keheningan laboratorium rahasia di kediaman Montclair terasa begitu mencekam. Ruangan ini terletak jauh di bawah tanah, tersembunyi di balik rak buku raksasa di ruang kerja Grand Duke, hanya diterangi oleh pendar lampu mana yang berwarna kebiruan. Celestine masih mengenakan pakaian lapangannya yan







