ホーム / Romansa / Panggil Aku Daddy / PELAJARAN TERLARANG (I)

共有

Panggil Aku Daddy
Panggil Aku Daddy
作者: Luneth

PELAJARAN TERLARANG (I)

作者: Luneth
last update 公開日: 2026-07-13 20:53:57

MAYA

Aku duduk di baris depan kursi-kursi taman yang cantik, tangan terlipat erat di pangkuan. Bunga-bunga harum semerbak di sekelilingku dan matahari bersinar terang menerangi segalanya, seolah ingin menjadikan hari ini sempurna. Ibu tampak begitu cantik dalam gaun putihnya saat berdiri di bawah lengkungan taman besar yang dipenuhi daun hijau dan mawar putih. Senyumnya begitu lebar hingga matanya berkaca-kaca karena air mata bahagia. Daniel berdiri di sampingnya, tampak tinggi dan tegar dalam setelan hitamnya yang rapi. Suaranya dalam dan mantap saat mengucapkan janji-janjinya untuk mencintai ibu dan menjaga keluarga kami selamanya. Saat itu aku baru tujuh belas tahun, dan hatiku terasa kacau balau seperti badai besar perasaan yang tak bisa kuurutkan. Aku senang untuk ibu karena dia sudah lama kesepian, dan sekarang dia terlihat seperti menemukan sesuatu yang nyata. Tapi di saat yang sama, ada perasaan berat dan gelisah yang mengganjal di perutku karena pria ini akan masuk ke kehidupan kami dan mengubah segalanya. Daniel lima belas tahun lebih tua dariku, dan dia terasa begitu berwibawa, seolah sudah tahu bagaimana dunia seharusnya berjalan. Aku melihatnya memasang cincin di jari ibu, dan sesuatu di dalam diriku merasa ketakutan sekaligus menolak.

Kata-kata yang mereka ucapkan membuat semua orang bertepuk tangan dan bersorak, tapi aku hanya duduk di sana berusaha tersenyum seperti yang seharusnya. Pikiranku terus berpacu dengan pertanyaan-pertanyaan tentang apa arti semua ini bagiku. Apakah dia akan mencoba mengatur hidupku setiap saat? Kehidupan lama kami dulu selalu berantakan, ramai, dan bebas—hanya aku dan ibu yang saling melengkapi. Sekarang ada pria pendiam tapi kuat ini yang sepertinya mengharapkan ketertiban dan aturan. Aku merasakan sedikit tarikan cemburu bercampur rasa bersalah karena aku ingin ibu bahagia, tapi aku juga tak mau kehilangan cara hidup kami yang dulu. Musik mengalun lembut dan riang saat mereka berciuman, dan aku ikut bertepuk tangan bersama yang lain meski tanganku terasa gemetar. Orang-orang mulai berdiri dan bergerak menuju tenda putih besar untuk resepsi. Aku berjalan pelan di belakang mereka, merasakan rumput lembut di bawah sepatuku, sambil bertanya-tanya apakah Daniel akan menyadari betapa ragunya aku. Seluruh hari ini terasa bergerak terlalu cepat, seolah aku tak bisa menarik napas. Di lubuk hati, aku berharap semuanya akan baik-baik saja, tapi kegelisahan itu tak mau pergi tak peduli seberapa keras aku berusaha menekannya.

Di resepsi, lampu-lampu berkelap-kelip di antara pepohonan dan musik mengalun dari band kecil di sudut. Meja-meja penuh dengan makanan dan bunga indah, serta semua orang tertawa dan berbicara keras. Aku berdiri di pinggir sambil memegang segelas punch, memperhatikan ibu menari dengan Daniel. Dia terlihat begitu ringan di atas kakinya, seolah semua kekhawatirannya telah terbang pergi. Aku berusaha merasa senang untuknya, tapi dadaku terasa sesak oleh semua perubahan baru yang akan datang. Lalu aku melihat Daniel berjalan mendekatiku melewati kerumunan dengan senyum lembut di wajahnya. Dia berhenti tepat di depanku, dan bayangannya yang tinggi menutupiku, membuatku merasa kecil. Matanya lembut, tapi ada kekuatan di baliknya yang membuat jantungku berdegup sedikit lebih cepat. Aku menahan napas, menunggu apa yang akan dia katakan, karena ini terasa seperti awal sejati dari segala hal baru.

"Maya, aku tahu perubahan ini mendadak bagimu," katanya dengan suara dalam yang tenang. "Aku tidak di sini untuk menggantikan siapa pun atau merebut apa yang kau miliki dengan ibumu. Aku hanya ingin membangun keluarga yang kuat bersama kalian berdua. Kita bisa melakukannya selangkah demi selangkah kalau itu membantu."

Aku mendongak kepadanya dan memaksakan senyum sopan meski perutku terasa berputar. Kata-katanya terdengar baik dan hati-hati, tapi tetap saja membuatku merasa segalanya sedang lepas dari kendaliku. Aku mengangguk pelan, berusaha mencari kata-kata yang tepat tanpa terdengar kasar. Musik dan tawa di sekitar kami terasa jauh, seolah kami berada di gelembung kecil kami sendiri. Aku bisa mencium aroma cologne bersihnya dan melihat betapa tegarnya bahunya. Sebagian diriku ingin lari dan bersembunyi, tapi bagian lain tahu aku harus berusaha demi ibu. Ketegangan itu terasa berat di tenggorokanku saat aku mencari kata-kata. Aku tak ingin menyakiti perasaannya di hari spesial mereka, tapi penolakan di dalam diriku begitu keras.

"Terima kasih sudah mengatakan itu," jawabku pelan, berusaha menjaga suaraku tetap stabil. "Ibu terlihat sangat bahagia hari ini. Aku ingin dia tetap seperti itu. Hanya saja... hidup kami dulu selalu agak gila, dan sekarang semuanya akan berbeda dengan kehadiranmu."

Daniel mengangguk seolah mengerti, tapi matanya tetap tertuju padaku dengan cara yang penuh perhatian. Dia meletakkan tangannya sebentar di bahuku, dan rasanya hangat sekaligus berat. "Aku mengerti itu tidak mudah. Kau sudah melalui banyak hal. Tapi aku janji akan adil dan selalu mendengarkan kalau kau butuh bicara. Kita sekarang bersama dalam keluarga ini."

Kata-katanya menggantung di udara di antara kami, dan aku merasakan campuran aneh antara kenyamanan dan kekhawatiran. Tak pernah ada yang berbicara kepadaku dengan otoritas tenang seperti itu sebelumnya. Itu membuatku merasa aman di satu sisi, tapi juga terperangkap di sisi lain. Aku tersenyum lagi dan bilang aku akan berusaha sebaik mungkin. Tapi di dalam kepalaku, pikiran-pikiran itu terus berputar tak berhenti. Bagaimana kalau dia ternyata terlalu keras? Bagaimana kalau aku tak bisa menjadi gadis baik yang mungkin dia inginkan? Pesta terus berlangsung dengan orang-orang datang memberi selamat, tapi aku tetap di pinggir, merasakan tarikan antara kehidupan lama dan baru yang saling bertarung di dalam diriku. Matahari mulai terbenam dan lampu-lampu bersinar lebih hangat saat malam semakin larut. Aku melihat Daniel menari lagi dengan ibu dan melihat betapa protektifnya dia saat memeluknya. Itu indah, tapi juga membuatku bertanya-tanya di mana aku akan berada dalam tatanan baru yang dia bawa. Hatiku terasa berat oleh emosi-emosi yang belum bisa kuberikan nama. Kegembiraan untuk ibu. Ketakutan akan yang tak diketahui. Dan secercah kecil rasa penasaran terhadap pria tinggi ini yang baru saja menjadi ayah tiriku.

Malam semakin larut, aku duduk di salah satu meja sambil mengaduk-aduk kuenya dan memikirkan semua perubahan yang menanti di rumah. Daniel datang lagi nanti saat musik melambat. Dia duduk di sebelahku dan kami berbicara sedikit lebih banyak tentang sekolah dan teman-temanku. Pertanyaannya lembut, tapi menunjukkan bahwa dia ingin mengenal diriku yang sebenarnya. Aku menjawab dengan hati-hati, merasa sekaligus dilihat dan diperhatikan. Ketegangan tak pernah benar-benar hilang dari bahuku malam itu. Setiap senyum yang kuberikan menyembunyikan badai perasaan di baliknya. Aku ingin percaya pada janji-janjinya, tapi sebagian diriku sudah bersiap menolak kalau segalanya menjadi terlalu ketat. Hari pernikahan berakhir dengan pelukan dan perpisahan, dan ibu terlihat lebih bahagia dari sebelumnya saat pergi bersama Daniel. Aku pulang dengan tanteku, merasa diam dan penuh pikiran. Hari itu menandai awal dari sesuatu yang besar dalam hidupku.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Panggil Aku Daddy   GODAAN VINYL (IV)

    JennaAku tak bisa berhenti memikirkan Ethan. Setelah semua yang kami lakukan saat badai, tubuhku terus mengingat sentuhannya. Pagi yang sepi itu, saat Ayah dan ibu tiriku sudah berangkat kerja, aku menyelinap ke kamar Ethan. Jantungku berdegup begitu kencang sampai terasa di telinga. Aku bilang pada diri sendiri bahwa aku hanya mencari buku yang dia janjikan untuk dipinjamkan, tapi sebenarnya aku penasaran. Di raknya aku menemukan kotak kayu berisi buku-buku catatan. Aku membuka salah satunya dan mataku melebar. Itu jurnal pribadinya. Halaman demi halaman penuh dengan fantasi tentang aku. Fantasi yang sangat kotor. Dia menulis tentang mengikatku, menjilat seluruh tubuhku, dan mendorong kontolnya dalam-dalam ke dalam tubuhku. Wajahku terbakar panas dan aku merasa basah di antara kakiku hanya dengan membacanya.Aku mengambil buku catatan itu dan langsung pergi ke loteng. Ethan sudah di sana, sedang menyetel gitarnya. Saat aku masuk, dia tersenyum pada awalnya, tapi kemudian melihat apa

  • Panggil Aku Daddy   GODAAN VINYL (III)

    JennaMalam itu langit berubah hitam dan marah. Badai petir yang ganas datang, mengguncang jendela-jendela begitu keras sampai kukira mereka bisa pecah. Hujan menghantam atap seperti ingin masuk ke dalam. Listrik mati secara tiba-tiba, meninggalkan seluruh rumah gelap gulita kecuali kilatan petir terang yang sesaat menerangi segalanya sebelum menenggelamkan kami kembali ke kegelapan. Ayah menelepon dari mobil dan bilang dia serta ibu tiriku tak bisa pulang karena jalanan banjir. Mereka menginap di hotel sampai pagi. Berita itu membuat perutku berbalik-balik karena campuran ketakutan dan kegembiraan rahasia. Ethan dan aku benar-benar sendirian.Kami sedang di loteng saat badai semakin parah. Sekarang kami duduk bersama di sofa tua di bawah satu selimut tebal. Itu satu-satunya benda hangat yang bisa kami temukan. Selimut itu melilit kami seperti kepompong yang nyaman, tapi jantungku berdegup kencang karena alasan lain. Ethan duduk tepat di belakangku, dadanya menempel di punggungku. Tub

  • Panggil Aku Daddy   GODAAN VINYL (II)

    JennaSiang harinya berikutnya, aku hampir tak bisa diam. Sepanjang hari kami harus bersikap biasa di depan Ayah dan ibu tiriku yang baru. Kami tersenyum saat makan siang dan mengobrol ringan tentang sekolah serta kuliah, tapi setiap kali Ethan menatapku dari seberang meja, wajahku langsung terasa panas. Aku terus teringat kejadian kemarin di loteng — bagaimana rasanya bibirnya, bagaimana tubuhnya menempel pada tubuhku. Aku mencuri pandang padanya saat tak ada yang melihat, dan dia melakukan hal yang sama. Jantungku tak mau melambat. Rasanya seperti kami menyimpan rahasia besar yang bisa meledak kapan saja jika kami tidak hati-hati.Begitu orang tua kami akhirnya pergi untuk urusan di luar, Ethan menangkap pandanganku. “Loteng?” bisiknya. Aku mengangguk cepat, perutku berbalik-balik karena excited. Kami menunggu beberapa menit agar tak terlihat mencurigakan, lalu naik tangga satu per satu. Loteng sekarang terasa seperti dunia rahasia milik kami berdua. Udara hangat dan berdebu, penuh

  • Panggil Aku Daddy   GODAAN VINYL (I)

    JennaAku melangkah masuk ke rumah lama kami setelah berbulan-bulan berada di sekolah asrama, menyeret koper-koper berat di belakangku. Tempat ini terasa berbeda sekarang. Ayah sudah menikah saat aku pergi, dan ada seorang wanita baru di dapur yang tersenyum padaku seolah kami sudah menjadi keluarga. Tapi kejutan terbesar adalah dia — Ethan, kakak tiriku yang baru. Dia mahasiswa tahun kedua, dua tahun lebih tua dariku, dan tampak seperti tipe pendiam yang suka menyendiri. Aku berusaha bersikap biasa selama makan malam, tapi pikiranku terus melayang, membayangkan seperti apa rasanya tinggal bersama orang asing di rumahku sendiri.Setelah sedikit membongkar barang, aku mendengar sesuatu dari lantai atas. Musik gitar yang lembut mengalun turun dari loteng, seperti lagu lama yang memanggil namaku. Jantungku berdegup kencang. Aku sangat menyukai musik klasik lebih dari apa pun — suara piringan hitam yang berderit, nyanyian yang penuh jiwa, cara lagu-lagu itu membuatku merasa tidak sendiria

  • Panggil Aku Daddy   SANG TAMU PERNIKAHAN (VI)

    LilaMalam terakhir di resor terasa berat di hatiku. Besok kami harus pulang. Kembali ke kehidupan nyata di mana Marcus hanyalah paman tiriku dan aku keponakan mudanya. Tak ada lagi sentuhan rahasia. Tak ada lagi menyelinap. Aku pergi ke vilanya setelah gelap dengan air mata sudah menggenang di mataku. Angin tropis masuk melalui pintu terbuka dan membuat tirai bergerak lembut. Marcus menungguku. Wajahnya tampak sedih tapi penuh kerinduan.“Lila,” katanya dengan suara serak sambil menarikku masuk. “Ini malam terakhir kita. Aku tidak tahu bagaimana aku akan melepaskanmu besok.”Aku memeluknya erat, menempelkan tubuhku ke dada bidangnya. “Aku tidak mau pulang. Aku ingin tinggal di sini bersamamu selamanya. Please, Marcus. Bercintalah denganku satu kali lagi. Buat ini berkesan.”Dia menciumku dalam dan lambat pada awalnya. Tangan kasarnya bergerak ke seluruh tubuhku seolah ingin mengingat setiap bagian dariku. Aku juga menyentuh otot-ototnya, menelusuri garis di dada dan lengannya. “Kau t

  • Panggil Aku Daddy   SANG TAMU PERNIKAHAN (V)

    LilaHari-hari berlalu di resor, dan segalanya mulai terasa berbeda. Marcus mulai bersikap agak aneh. Aku bisa melihat rasa bersalah di matanya setiap kali kami bertemu di depan keluarga. Malam harinya, dia memintaku menemuinya di teras sepi jauh dari semua orang. Matahari sedang terbenam dan langit tampak indah dengan warna oranye dan merah muda. Hatiku terasa berat karena aku tahu ada yang salah.“Lila, kita harus menghentikan ini,” katanya dengan suara rendah dan sedih. Wajahnya yang tegas terlihat sangat serius. “Aku empat puluh lima tahun dan kau baru dua puluh tiga. Aku paman tirimu. Saudara ayahmu. Ini sangat salah. Kita tidak bisa terus menyelinap seperti ini. Bagaimana kalau ada yang tahu? Itu akan menghancurkan keluarga.”Dadaku terasa sakit. Air mata menggenang di mataku tapi aku menahannya. “Tapi aku tidak mau berhenti, Marcus. Aku membutuhkanmu. Hari-hari bersamamu adalah yang terbaik dalam hidupku. Masalah usia tidak penting bagiku. Dan soal keluarga… aku tahu ini rumit,

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status