Share

Bab 2

Author: Nando
Alin segera menarik tangannya kembali untuk menutupi mulut kecilnya sendiri.

Duar! Duar!

Tepat saat itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari bilik sebelah, disusul suara seorang gadis. "Alin, kamu kenapa?"

Itu adalah Jessica, yang juga teman sekamar pacarku.

"Nggak ... nggak apa-apa."

"Suaramu kok aneh gitu? Lagi nggak enak badan ya?"

"Mmm ... lihat ... lihat ada kecoa ...."

Terdengar suara siraman air dari sebelah, Jessica pun keluar dari bilik untuk mencuci tangan. "Ya udah cepetan, aku tunggu di luar."

Setelah Jessica keluar dari toilet wanita, Alin melepaskan diri dari pelukanku dan berkata dengan suara gemetar, "Aku ... aku bisa kasih keperawananku buat kamu ... tapi nggak bisa di tempat kayak gini ...."

Setelah mengatakannya, dia berusaha keras melepaskan diri dariku, menarik celananya, lalu keluar dari bilik sambil sesekali menoleh ke belakang.

Aku perlahan menenangkan emosiku. Setelah memastikan kondisi di luar benar-benar sepi, aku pun menyelinap keluar.

...

Saat malam tiba, aku sendirian berjongkok di depan pintu gedung asrama putri, hanya dengan satu tujuan, yaitu melampiaskan gairah.

Alhasil, bukannya pacarku yang datang, malah tiga teman sekamarnya yang muncul.

"Hai, apa kemarin belum puas juga, malam ini mau tidur di asrama kami lagi?"

"Dengar-dengar punyamu 22 sentimeter, lebih hebat dari orang kulit hitam, beneran nggak sih?"

Yang bicara itu Jessica, tingginya sekitar 170 cm, sangat suka memakai atasan pendek pamer pusar dan celana jeans ketat. Pinggang celananya begitu rendah sampai hampir memperlihatkan area pribadinya, tipe tubuh idaman yang bisa membuat pria melayang.

Mengingat kejadian tadi siang di toilet saat mendengar dia buang air dengan "bertenaga", hatiku langsung bergejolak.

"Tentu saja benar, hati-hati ya malam ini aku bisa aja salah naik tempat tidur dan memerkosamu."

Jessica dan satu gadis lainnya tertawa kegirangan, hanya Alin yang entah memikirkan apa, wajahnya memerah padam.

Aku mendongak menatap Alin, dalam hati berpikir kalau tidak bisa menunggu pacarku, mengajaknya ke hotel untuk menyewa kamar juga tidak masalah.

Jessica melambaikan tangan di depan mataku. "Kalian berdua ada apa-apa ya? Main mata terus ...."

Begitu dia berkata begitu, wajah kecil Alin memerah sampai keunguan, tadi masih seperti tomat di bulan Juni, sekarang sudah mirip terong di bulan Oktober.

Ada peluang!

Tidak disangka Jessica menambahkan lagi, "Aku kasih tahu ya, jangan pas pacarmu lagi sakit, kamu malah lakuin hal yang khianati dia."

"Dia sakit?" tanyaku terkejut.

Jessica balik bertanya, "Kamu nggak tahu?"

"Nggak tahu, nanti habis lampu padam aku bakal manjat jendela ke asrama kalian buat jenguk dia."

Aku langsung merasa cemas dan tidak lagi memedulikan Alin.

Berbeda dengan kemarin, biasanya aku menyelinap masuk ke asrama putri lebih dulu dan bersembunyi di tempat tidur pacarku, baru setelah pemeriksaan kamar selesai kami bersenang-senang.

Tapi, setelah aku tertangkap tadi pagi, penjagaan asrama putri pasti menjadi sangat ketat, tidak mungkin lagi bisa lolos dari pemeriksaan kamar.

Jadi, hanya ada satu cara untuk bisa menginap di asrama putri lagi, yaitu memanjat jendela.

Setelah pemeriksaan kamar selesai, aku memanjat naik melalui teralis pengaman gedung asrama.

"Cepat buka jendelanya!"

Pacarku membukakan jendela sambil mengomel, "Kamu nggak sayang nyawa ya, ini 'kan lantai tiga!"

"Demi kamu, lantai 30 pun aku rela!"

Terdengar sorakan dari dalam asrama, Jessica dan gadis satunya lagi langsung berkomentar betapa gombalnya kata-kataku.

"Gimana sakitnya?"

Pacarku hampir menangis karena terharu. "Cuma flu biasa."

Saat itu, terdengar suara langkah kaki dari luar pintu, ternyata tadi ada gadis di lantai dua yang belum tidur dan mengira ada pencuri, lalu melaporkannya ke ibu asrama.

Para gadis itu langsung panik. Aku baru saja mau bersembunyi di tempat tidur pacarku, tapi dia langsung menarikku turun.

"Aku punya catatan buruk, kalau sembunyi di kasurku gampang ketahuan pas digeledah, kamu sembunyi di kasur seberang sana aja."

Akhirnya, aku pun memanjat ke tempat tidur Alin.

Ibu asrama berhenti di depan tempat tidur pacarku, lalu melihat ke dalam dengan bantuan cahaya bulan.

Aku berbaring di tempat tidur Alin, bahkan tidak berani bernapas sedikit pun.

Namun sialnya, di sampingku berbaring seorang gadis yang hanya memakai pakaian dalam. Situasinya hampir bisa dibilang tidur berpelukan, mana mungkin aku bisa menahan diri?

Aku meletakkan tanganku secara diam-diam di pantat Alin, lalu meremasnya perlahan.

Tubuhnya bergetar pelan, tapi dia tidak mengeluarkan suara apa pun.

Kali ini aku menjadi lebih berani, tangan satunya lagi menyelinap masuk ke balik celana dalamnya.

"Beneran nggak ada orang yang datang ke asrama kalian?" tanya ibu asrama.

"Nggak ada!"

"Kenapa jendelanya nggak ditutup?"

"Terlalu pengap, jadi dibuka buat ganti udara."

Di bawah situasi yang genting, seluruh pikiranku malah tertuju pada gadis dalam dekapanku. Aku perlahan mengangkat kaki kanannya lalu menempelkan tubuhku dari samping.

"Emm ...."

Alin tidak bisa menahan erangan kecil, ibu asrama seketika menoleh curiga. "Ada apa?"

"Aduh!"

Untungnya pacarku yang reaksinya paling cepat, melihat situasi gawat dia langsung berjongkok di lantai sambil mengerang kesakitan, "Aduh, perutku sakit banget ... huhu ...."

Gadis di dua tempat tidur lainnya juga langsung melompat turun. "Dia sakit, cepat bantu dia ke UKS."

"Kenapa nggak bilang dari tadi? Ayo cepat!" Di bawah desakan ibu asrama, beberapa orang itu pun bergegas keluar dari asrama.

Suasana di sekitar kembali menjadi gelap gulita dan tenang.

Kemudian, aku memegang pinggang rampingnya dan mengangkatnya dengan kuat, pantat kecilnya pun langsung menungging tinggi, lalu aku menarik lepas celana dalamnya dalam sekali sentakan.

"Emm ... aku udah tahu .... Hubunganmu sama Alin pasti nggak benar ... ah ...."

Gadis dalam dekapanku meraba-raba perut bawahku sambil menoleh, memperlihatkan wajah yang memerah padam, tatapannya antara kesal sekaligus malu.

Bahkan suaranya pun berubah menjadi sangat menggoda. "Kamu ... kamu ternyata ... beneran punya 22 sentimeter ...."

Aku seketika tertegun, benar-benar terpaku.

"Jessica? Kok kamu?"

"Kenapa? Ke ... kecewa ya ... atau ... takut ... bukannya kamu tadi mau perkosa aku ... ah ...."

Tingkahnya yang sangat menggoda ini tidak akan bisa ditahan oleh pria mana pun. Aku langsung bangkit dan mendorong bra Jessica sampai ke bawah leher, memegang kedua kakinya untuk disampirkan di bahuku, lalu menekannya di bawahku.

"Salah orang pun tetap aku sikat, kalau malam ini nggak bikin kamu minta ampun, aku anggap aku kalah ...."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Panggung Gelap di Asrama Seni   Bab 7

    Aku benar-benar tidak bisa memercayai telingaku sendiri.Mereka … ternyata punya hubungan semacam itu?Aku berdiri terpaku di tempat, tubuhku kaku dan tidak dapat digerakkan, seolah-olah disambar oleh kilat tidak kasat mata yang membuatku kehilangan seluruh kemampuan untuk bertindak.Segala kecurigaan itu seketika terhubung bagaikan benang-benang yang saling menjalin.Aku paham sekarang.Cara yang dia maksud adalah memanfaatkan ketua jurusan ini untuk memberinya jalur ilegal!Sungguh tidak pilih-pilih cara, aku harus membongkar kedoknya!Dengan jari yang gemetar karena emosi, aku mengeluarkan ponsel dan memunculkan sedikit bagian kamera di bingkai pintu. Setelah memastikan sudutnya pas untuk merekam pemandangan di dalam, aku menekan tombol rekam.Percakapan di dalam ruangan itu masih terus berlanjut."Kamu mau kuota kandidat kejuaraan itu? Bukannya fakultas udah tentukan orangnya, kalau nggak salah namanya Karina ...."Mendengar nama Karina disebut, jantungku langsung mencelos dan mera

  • Panggung Gelap di Asrama Seni   Bab 6

    "Karina, jangan menyerah, itu 'kan impian kamu."Kedua tangannya mengepal kuat, hingga kuku-kukunya hampir menancap ke telapak tangan."Aku setuju."Setelah mengatakannya, dia menoleh menatapku, memalsukan raut wajah tegar, lalu berkata dengan tegas, "Dan di antara kita, udah nggak ada kemungkinan bersama lagi."Setelah melemparkan kalimat itu, mereka pergi tanpa menoleh sedikit pun.Hatiku campur aduk menatap sosok Karina yang pergi menjauh.Aku tahu dia berat hati, tapi akhirnya dia tetap memilih berkompromi dengan Jessica demi aku.Rasa haru dan malu yang sulit dilukiskan muncul di benakku.Seandainya aku tidak ceroboh dan masuk ke jebakan orang lain, dia tidak akan ikut terseret sampai kehilangan kualifikasi untuk mengikuti lomba.Tanganku mengepal erat, aku menggertakkan gigi.Aku tidak akan pernah bisa terima begitu saja, aku ingin melihat sebenarnya si Jessica ini lagi rencanakan apa!Jangan sampai aku pegang aib kamu, kalau tidak, akan aku balas seribu kali lipat!Selama bebera

  • Panggung Gelap di Asrama Seni   Bab 5

    Setelah dijebak oleh Jessica seperti ini, aku benar-benar berada dalam situasi yang sangat sulit untuk dibersihkan namanya."Kamu percaya aku 'kan, aku nggak lakuin apa-apa sama dia ...."Suara Jessica menyerobot masuk dengan angkuh, dia justru menjadi pihak yang pertama kali menuduh."Karina, kamu lihat sendiri, 'kan? Dia semalam udah niat perkosa aku, hari ini malah ajak aku ke tempat begini!"Aku hendak membela diri, Alin ikut menimpali satu demi satu untuk memperkeruh suasana, "Sampah! Sudah punya Karina, masih saja godain Jessica, cuih!"Karina menutup telinganya dengan lunglai, air matanya tumpah seperti bendungan jebol."Jimmy, tadinya aku nggak percaya kamu bisa lakuin hal semacam ini, sampai akhirnya aku lihat sendiri dengan mata kepalaku ...."Tatapannya tiba-tiba terpaku pada satu titik, air matanya mengalir makin deras."Itu kue favoritku, kamu kasih juga buat dia?"Dia berjongkok dengan penuh penderitaan, wajahnya sudah dibanjiri air mata.Aku pun merasakan sakit yang luar

  • Panggung Gelap di Asrama Seni   Bab 4

    Apa yang sebenarnya dia rencanakan, sampai harus dibuat semisterius ini?Aku terus menggerutu kesal di dalam hati.Begitu melangkah masuk ke dalam hutan lebat ini, tercium aroma wangi yang samar merasuk ke dalam rongga hidung dan memberikan sensasi yang menyegarkan pikiran.Setelah berkeliling beberapa kali, tapi tidak menemukan siapa pun, tepat di saat aku merasa heran, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakang."Kamu udah datang?"Suara itu membuatku kaget sampai gemetaran. Saat menoleh, entah sejak kapan sudah ada sesosok bayangan yang berdiri di belakangku, orang itu tidak lain adalah Jessica."Sebenarnya apa sih yang mau kamu omongin, sampai harus maksa aku datang ke tempat kayak gini?"Sudut bibir Jessica melengkung, membentuk senyuman dingin yang terasa asing."Soal kejadian tadi malam, gimana rencanamu buat jelasin ke Karina?"Entah kenapa, hatiku gelisah tidak keruan, ada rasa gatal yang aneh di dalam sana."Aku emang lagi emosional waktu itu, anggap aja hal itu ngga

  • Panggung Gelap di Asrama Seni   Bab 3

    Tepat pada saat itu, sebuah suara menyiram habis seluruh gairah panas di dalam diriku.Tempat tidur yang aku tempati berada di dekat pintu, sehingga suara sekecil apa pun dari koridor dapat terdengar dengan jelas."Bu, dia beneran sakit perut, kami nggak bohong ....""Belakangan ini lagi ketat banget, siapa pun nggak boleh sembarangan keluar masuk. Lagian udah jam segini, klinik kampus juga udah tutup, balik sana terus minum obat aja ...."Suara ini suara Alin, aku tidak mungkin salah mengenalinya.Apakah mereka diusir dan dipaksa untuk kembali?Jelas sekali, Jessica juga menyadari hal tersebut, dia bergumam pelan, "Mereka udah balik!"Mendengar suara yang makin mendekat, alarm bahaya di hatiku langsung berbunyi kencang.Aku masih berbaring di tempat tidur Jessica sekarang, jangan sampai Karina melihatnya!Aku tidak boleh berada di sini lebih lama lagi.Karena kondisi yang sudah terdesak, mau tidak mau aku segera melompat turun dari tempat tidur dengan satu gerakan cepat.Sesaat sebelu

  • Panggung Gelap di Asrama Seni   Bab 2

    Alin segera menarik tangannya kembali untuk menutupi mulut kecilnya sendiri.Duar! Duar!Tepat saat itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari bilik sebelah, disusul suara seorang gadis. "Alin, kamu kenapa?"Itu adalah Jessica, yang juga teman sekamar pacarku."Nggak ... nggak apa-apa.""Suaramu kok aneh gitu? Lagi nggak enak badan ya?""Mmm ... lihat ... lihat ada kecoa ...."Terdengar suara siraman air dari sebelah, Jessica pun keluar dari bilik untuk mencuci tangan. "Ya udah cepetan, aku tunggu di luar."Setelah Jessica keluar dari toilet wanita, Alin melepaskan diri dari pelukanku dan berkata dengan suara gemetar, "Aku ... aku bisa kasih keperawananku buat kamu ... tapi nggak bisa di tempat kayak gini ...."Setelah mengatakannya, dia berusaha keras melepaskan diri dariku, menarik celananya, lalu keluar dari bilik sambil sesekali menoleh ke belakang.Aku perlahan menenangkan emosiku. Setelah memastikan kondisi di luar benar-benar sepi, aku pun menyelinap keluar....Saat malam tiba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status