LOGINAku benar-benar tidak bisa memercayai telingaku sendiri.Mereka … ternyata punya hubungan semacam itu?Aku berdiri terpaku di tempat, tubuhku kaku dan tidak dapat digerakkan, seolah-olah disambar oleh kilat tidak kasat mata yang membuatku kehilangan seluruh kemampuan untuk bertindak.Segala kecurigaan itu seketika terhubung bagaikan benang-benang yang saling menjalin.Aku paham sekarang.Cara yang dia maksud adalah memanfaatkan ketua jurusan ini untuk memberinya jalur ilegal!Sungguh tidak pilih-pilih cara, aku harus membongkar kedoknya!Dengan jari yang gemetar karena emosi, aku mengeluarkan ponsel dan memunculkan sedikit bagian kamera di bingkai pintu. Setelah memastikan sudutnya pas untuk merekam pemandangan di dalam, aku menekan tombol rekam.Percakapan di dalam ruangan itu masih terus berlanjut."Kamu mau kuota kandidat kejuaraan itu? Bukannya fakultas udah tentukan orangnya, kalau nggak salah namanya Karina ...."Mendengar nama Karina disebut, jantungku langsung mencelos dan mera
"Karina, jangan menyerah, itu 'kan impian kamu."Kedua tangannya mengepal kuat, hingga kuku-kukunya hampir menancap ke telapak tangan."Aku setuju."Setelah mengatakannya, dia menoleh menatapku, memalsukan raut wajah tegar, lalu berkata dengan tegas, "Dan di antara kita, udah nggak ada kemungkinan bersama lagi."Setelah melemparkan kalimat itu, mereka pergi tanpa menoleh sedikit pun.Hatiku campur aduk menatap sosok Karina yang pergi menjauh.Aku tahu dia berat hati, tapi akhirnya dia tetap memilih berkompromi dengan Jessica demi aku.Rasa haru dan malu yang sulit dilukiskan muncul di benakku.Seandainya aku tidak ceroboh dan masuk ke jebakan orang lain, dia tidak akan ikut terseret sampai kehilangan kualifikasi untuk mengikuti lomba.Tanganku mengepal erat, aku menggertakkan gigi.Aku tidak akan pernah bisa terima begitu saja, aku ingin melihat sebenarnya si Jessica ini lagi rencanakan apa!Jangan sampai aku pegang aib kamu, kalau tidak, akan aku balas seribu kali lipat!Selama bebera
Setelah dijebak oleh Jessica seperti ini, aku benar-benar berada dalam situasi yang sangat sulit untuk dibersihkan namanya."Kamu percaya aku 'kan, aku nggak lakuin apa-apa sama dia ...."Suara Jessica menyerobot masuk dengan angkuh, dia justru menjadi pihak yang pertama kali menuduh."Karina, kamu lihat sendiri, 'kan? Dia semalam udah niat perkosa aku, hari ini malah ajak aku ke tempat begini!"Aku hendak membela diri, Alin ikut menimpali satu demi satu untuk memperkeruh suasana, "Sampah! Sudah punya Karina, masih saja godain Jessica, cuih!"Karina menutup telinganya dengan lunglai, air matanya tumpah seperti bendungan jebol."Jimmy, tadinya aku nggak percaya kamu bisa lakuin hal semacam ini, sampai akhirnya aku lihat sendiri dengan mata kepalaku ...."Tatapannya tiba-tiba terpaku pada satu titik, air matanya mengalir makin deras."Itu kue favoritku, kamu kasih juga buat dia?"Dia berjongkok dengan penuh penderitaan, wajahnya sudah dibanjiri air mata.Aku pun merasakan sakit yang luar
Apa yang sebenarnya dia rencanakan, sampai harus dibuat semisterius ini?Aku terus menggerutu kesal di dalam hati.Begitu melangkah masuk ke dalam hutan lebat ini, tercium aroma wangi yang samar merasuk ke dalam rongga hidung dan memberikan sensasi yang menyegarkan pikiran.Setelah berkeliling beberapa kali, tapi tidak menemukan siapa pun, tepat di saat aku merasa heran, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakang."Kamu udah datang?"Suara itu membuatku kaget sampai gemetaran. Saat menoleh, entah sejak kapan sudah ada sesosok bayangan yang berdiri di belakangku, orang itu tidak lain adalah Jessica."Sebenarnya apa sih yang mau kamu omongin, sampai harus maksa aku datang ke tempat kayak gini?"Sudut bibir Jessica melengkung, membentuk senyuman dingin yang terasa asing."Soal kejadian tadi malam, gimana rencanamu buat jelasin ke Karina?"Entah kenapa, hatiku gelisah tidak keruan, ada rasa gatal yang aneh di dalam sana."Aku emang lagi emosional waktu itu, anggap aja hal itu ngga
Tepat pada saat itu, sebuah suara menyiram habis seluruh gairah panas di dalam diriku.Tempat tidur yang aku tempati berada di dekat pintu, sehingga suara sekecil apa pun dari koridor dapat terdengar dengan jelas."Bu, dia beneran sakit perut, kami nggak bohong ....""Belakangan ini lagi ketat banget, siapa pun nggak boleh sembarangan keluar masuk. Lagian udah jam segini, klinik kampus juga udah tutup, balik sana terus minum obat aja ...."Suara ini suara Alin, aku tidak mungkin salah mengenalinya.Apakah mereka diusir dan dipaksa untuk kembali?Jelas sekali, Jessica juga menyadari hal tersebut, dia bergumam pelan, "Mereka udah balik!"Mendengar suara yang makin mendekat, alarm bahaya di hatiku langsung berbunyi kencang.Aku masih berbaring di tempat tidur Jessica sekarang, jangan sampai Karina melihatnya!Aku tidak boleh berada di sini lebih lama lagi.Karena kondisi yang sudah terdesak, mau tidak mau aku segera melompat turun dari tempat tidur dengan satu gerakan cepat.Sesaat sebelu
Alin segera menarik tangannya kembali untuk menutupi mulut kecilnya sendiri.Duar! Duar!Tepat saat itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari bilik sebelah, disusul suara seorang gadis. "Alin, kamu kenapa?"Itu adalah Jessica, yang juga teman sekamar pacarku."Nggak ... nggak apa-apa.""Suaramu kok aneh gitu? Lagi nggak enak badan ya?""Mmm ... lihat ... lihat ada kecoa ...."Terdengar suara siraman air dari sebelah, Jessica pun keluar dari bilik untuk mencuci tangan. "Ya udah cepetan, aku tunggu di luar."Setelah Jessica keluar dari toilet wanita, Alin melepaskan diri dari pelukanku dan berkata dengan suara gemetar, "Aku ... aku bisa kasih keperawananku buat kamu ... tapi nggak bisa di tempat kayak gini ...."Setelah mengatakannya, dia berusaha keras melepaskan diri dariku, menarik celananya, lalu keluar dari bilik sambil sesekali menoleh ke belakang.Aku perlahan menenangkan emosiku. Setelah memastikan kondisi di luar benar-benar sepi, aku pun menyelinap keluar....Saat malam tiba







