Share

Panggung Gelap di Asrama Seni
Panggung Gelap di Asrama Seni
Author: Nando

Bab 1

Author: Nando
Namaku Jimmy Mahendra, aku seorang mahasiswa baru.

Kemarin saat latihan militer selesai, Karina, pacarku yang sudah menahan diri selama setengah bulan tidak sabar lagi dan langsung menyuruhku masuk ke asrama putri.

Di bawah perlindungan dia dan teman sekamarnya, aku berhasil lolos dari pemeriksaan ibu asrama dan menginap di sana.

"Hei kuda liar, aku mau lagi ...."

Begitu lampu dipadamkan, pacarku langsung meraih tanganku, menyelinap ke dalam gaun tidurnya, lalu mulai menciumku dengan agresif.

Aku meremas pantat kecilnya. "Mereka 'kan belum tidur."

"Jangan pikir aku nggak tahu ...."

Pacarku menggoyangkan pinggangnya yang ramping di pelukanku, satu kakinya yang indah juga melingkar di pinggangku. "Tiap kali kamu bikin aku setengah mati ... kamu sengaja 'kan biar mereka denger kamu lagi ... nidurin aku ...."

Dua kata terakhir itu pacarku ucapkan sambil menggigit telingaku.

"Dasar cewek nakal! Emang segitu pengennya ya?"

Aku mulai bergairah saat merasakan lidah pacarku yang basah. Aku langsung melepas gaun tidurnya, menggunakan satu lengan untuk mengangkat kedua tangannya ke atas kepala, lalu menekannya di bawah tubuhku.

"Iya ... aku emang nakal ... bukannya kamu emang suka kalau aku agak nakal?" Pacarku menggoyangkan pinggulnya, terus menggodaku. "Malam ini aku udah cukup nakal belum? Hmm?"

"Nakal, parah banget nakalnya!"

Akhirnya, aku benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Aku menekannya hingga telungkup di tempat tidur, kedua tanganku memegang pinggangnya yang mungil, lalu aku menaikinya.

Tepat saat itu, tiba-tiba aku melihat Alin yang tidur di seberang bergerak sedikit.

Apa dia lagi mengintip?

Aku melirik diam-diam ke samping dan melihat dengan jelas dada Alin yang naik turun karena napas yang memburu, mulut kecilnya sedikit terbuka, pipinya memerah, dan mata sayunya menatap gerakanku, sementara tangan kecilnya menyelinap ke dalam celana tidur dan bergerak perlahan.

Saat mata kami bertemu, awalnya aku terkejut, tapi sedetik kemudian aku malah merasa sangat bergairah.

Alin ini kelihatan sangat polos, tidak disangka ternyata dia punya sisi yang berbanding terbalik.

Sambil mengintip adegan ranjangku dengan pacarku, dia malah memuaskan dirinya sendiri.

Aku tidak peduli apakah pacarku sadar kalau Alin lagi ngintip, aku menarik kakinya hingga terbuka lebar, lalu seperti kuda liar yang mengamuk aku menindih tubuhnya dan mengulangi gerakan kasar itu.

"Ah ... aku udah nggak kuat ... ampun ...."

Sampai suaranya terdengar seperti mau menangis, dia pun terkulai lemas di tempat tidur.

...

Keesokan harinya, saat fajar baru saja menyingsing, aku sudah ditarik paksa dari tempat tidur oleh ibu asrama.

Setelah aku selesai dimarahi dan keluar dari kantor ketua jurusan, waktu makan siang pun sudah berakhir.

Apalagi aku hampir seharian tidak buang air kecil, rasanya kantung kemihku sudah mau meledak karena menahan kencing.

Aku bergegas lari menuju toilet di gedung administrasi.

Namun, begitu sampai di depan pintu toilet laki-laki, aku malah melihat ada papan yang diletakkan di lantai dengan tulisan besar.

Sedang diperbaiki, mohon maaf atas ketidaknyamanannya.

Aku menoleh melihat lorong yang sepi, tidak ada pilihan lain, aku terpaksa masuk ke toilet perempuan.

Tapi, aku tidak pernah menyangka saat aku membuka bilik yang paling dalam, aku malah melihat seorang gadis bertubuh mungil baru saja selesai buang air kecil. Celananya melorot sampai ke lutut, dia sedang menunduk bersiap menarik celana dalamnya.

Ternyata itu Alin.

Dia sepertinya sama denganku, saking terkejutnya dia sampai terpaku dan lupa menarik celananya. Dia diam membeku selama belasan detik.

Tak tak tak.

Saat itu, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru dari luar.

Aku tidak berpikir panjang, langsung maju dua langkah dan menyelinap ke dalam bilik yang sempit itu, membuat tubuhku dan Alin saling menempel erat.

Segera setelah itu, pintu bilik di sebelah terbuka. Setelah suara gesekan celana yang dilepas terdengar, mulailah suara air seni yang menghantam lubang toilet.

Meski suaranya tidak besar, di toilet yang kosong ini suaranya terdengar sangat jelas.

Alin dengan wajah merah bergerak gelisah di pelukanku.

Aku menunduk menatap gadis kecil yang lembut di pelukanku, hidungku menghirup aroma harum dari rambutnya. Kemudian, aku teringat kejadian gila di asrama putri tadi malam, tanganku pun meluncur turun dari pinggang belakangnya dan langsung meremas pantat kecilnya yang sangat kenyal.

"Ugh ...."

Alin tidak sengaja mengeluarkan suara erangan, napasnya pun jelas makin cepat, tubuhnya sedikit gemetar. Seluruh badannya benar-benar lemas.

Kalau bukan karena kedua tanganku yang memeluknya, dia pasti sudah jatuh merosot ke lantai.

Ternyata ada ya gadis yang sesensitif ini?

Memanfaatkan kesempatannya yang tidak berdaya untuk melawan, kedua tanganku menarik paksa celana beserta celana dalamnya sampai ke pergelangan kaki, lalu aku menekan bokongnya ke dinding bilik.

"Ja ... jangan ...."

Alin mencoba meronta sambil menggunakan kedua tangan indahnya untuk menutupi pantatnya agar aku tidak berhasil, lalu dia berbisik dengan napas terengah, "Aku ... aku masih perawan, nggak boleh lakuin ini di toilet ...."

"Kalau gitu pakai mulut."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Panggung Gelap di Asrama Seni   Bab 7

    Aku benar-benar tidak bisa memercayai telingaku sendiri.Mereka … ternyata punya hubungan semacam itu?Aku berdiri terpaku di tempat, tubuhku kaku dan tidak dapat digerakkan, seolah-olah disambar oleh kilat tidak kasat mata yang membuatku kehilangan seluruh kemampuan untuk bertindak.Segala kecurigaan itu seketika terhubung bagaikan benang-benang yang saling menjalin.Aku paham sekarang.Cara yang dia maksud adalah memanfaatkan ketua jurusan ini untuk memberinya jalur ilegal!Sungguh tidak pilih-pilih cara, aku harus membongkar kedoknya!Dengan jari yang gemetar karena emosi, aku mengeluarkan ponsel dan memunculkan sedikit bagian kamera di bingkai pintu. Setelah memastikan sudutnya pas untuk merekam pemandangan di dalam, aku menekan tombol rekam.Percakapan di dalam ruangan itu masih terus berlanjut."Kamu mau kuota kandidat kejuaraan itu? Bukannya fakultas udah tentukan orangnya, kalau nggak salah namanya Karina ...."Mendengar nama Karina disebut, jantungku langsung mencelos dan mera

  • Panggung Gelap di Asrama Seni   Bab 6

    "Karina, jangan menyerah, itu 'kan impian kamu."Kedua tangannya mengepal kuat, hingga kuku-kukunya hampir menancap ke telapak tangan."Aku setuju."Setelah mengatakannya, dia menoleh menatapku, memalsukan raut wajah tegar, lalu berkata dengan tegas, "Dan di antara kita, udah nggak ada kemungkinan bersama lagi."Setelah melemparkan kalimat itu, mereka pergi tanpa menoleh sedikit pun.Hatiku campur aduk menatap sosok Karina yang pergi menjauh.Aku tahu dia berat hati, tapi akhirnya dia tetap memilih berkompromi dengan Jessica demi aku.Rasa haru dan malu yang sulit dilukiskan muncul di benakku.Seandainya aku tidak ceroboh dan masuk ke jebakan orang lain, dia tidak akan ikut terseret sampai kehilangan kualifikasi untuk mengikuti lomba.Tanganku mengepal erat, aku menggertakkan gigi.Aku tidak akan pernah bisa terima begitu saja, aku ingin melihat sebenarnya si Jessica ini lagi rencanakan apa!Jangan sampai aku pegang aib kamu, kalau tidak, akan aku balas seribu kali lipat!Selama bebera

  • Panggung Gelap di Asrama Seni   Bab 5

    Setelah dijebak oleh Jessica seperti ini, aku benar-benar berada dalam situasi yang sangat sulit untuk dibersihkan namanya."Kamu percaya aku 'kan, aku nggak lakuin apa-apa sama dia ...."Suara Jessica menyerobot masuk dengan angkuh, dia justru menjadi pihak yang pertama kali menuduh."Karina, kamu lihat sendiri, 'kan? Dia semalam udah niat perkosa aku, hari ini malah ajak aku ke tempat begini!"Aku hendak membela diri, Alin ikut menimpali satu demi satu untuk memperkeruh suasana, "Sampah! Sudah punya Karina, masih saja godain Jessica, cuih!"Karina menutup telinganya dengan lunglai, air matanya tumpah seperti bendungan jebol."Jimmy, tadinya aku nggak percaya kamu bisa lakuin hal semacam ini, sampai akhirnya aku lihat sendiri dengan mata kepalaku ...."Tatapannya tiba-tiba terpaku pada satu titik, air matanya mengalir makin deras."Itu kue favoritku, kamu kasih juga buat dia?"Dia berjongkok dengan penuh penderitaan, wajahnya sudah dibanjiri air mata.Aku pun merasakan sakit yang luar

  • Panggung Gelap di Asrama Seni   Bab 4

    Apa yang sebenarnya dia rencanakan, sampai harus dibuat semisterius ini?Aku terus menggerutu kesal di dalam hati.Begitu melangkah masuk ke dalam hutan lebat ini, tercium aroma wangi yang samar merasuk ke dalam rongga hidung dan memberikan sensasi yang menyegarkan pikiran.Setelah berkeliling beberapa kali, tapi tidak menemukan siapa pun, tepat di saat aku merasa heran, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari arah belakang."Kamu udah datang?"Suara itu membuatku kaget sampai gemetaran. Saat menoleh, entah sejak kapan sudah ada sesosok bayangan yang berdiri di belakangku, orang itu tidak lain adalah Jessica."Sebenarnya apa sih yang mau kamu omongin, sampai harus maksa aku datang ke tempat kayak gini?"Sudut bibir Jessica melengkung, membentuk senyuman dingin yang terasa asing."Soal kejadian tadi malam, gimana rencanamu buat jelasin ke Karina?"Entah kenapa, hatiku gelisah tidak keruan, ada rasa gatal yang aneh di dalam sana."Aku emang lagi emosional waktu itu, anggap aja hal itu ngga

  • Panggung Gelap di Asrama Seni   Bab 3

    Tepat pada saat itu, sebuah suara menyiram habis seluruh gairah panas di dalam diriku.Tempat tidur yang aku tempati berada di dekat pintu, sehingga suara sekecil apa pun dari koridor dapat terdengar dengan jelas."Bu, dia beneran sakit perut, kami nggak bohong ....""Belakangan ini lagi ketat banget, siapa pun nggak boleh sembarangan keluar masuk. Lagian udah jam segini, klinik kampus juga udah tutup, balik sana terus minum obat aja ...."Suara ini suara Alin, aku tidak mungkin salah mengenalinya.Apakah mereka diusir dan dipaksa untuk kembali?Jelas sekali, Jessica juga menyadari hal tersebut, dia bergumam pelan, "Mereka udah balik!"Mendengar suara yang makin mendekat, alarm bahaya di hatiku langsung berbunyi kencang.Aku masih berbaring di tempat tidur Jessica sekarang, jangan sampai Karina melihatnya!Aku tidak boleh berada di sini lebih lama lagi.Karena kondisi yang sudah terdesak, mau tidak mau aku segera melompat turun dari tempat tidur dengan satu gerakan cepat.Sesaat sebelu

  • Panggung Gelap di Asrama Seni   Bab 2

    Alin segera menarik tangannya kembali untuk menutupi mulut kecilnya sendiri.Duar! Duar!Tepat saat itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari bilik sebelah, disusul suara seorang gadis. "Alin, kamu kenapa?"Itu adalah Jessica, yang juga teman sekamar pacarku."Nggak ... nggak apa-apa.""Suaramu kok aneh gitu? Lagi nggak enak badan ya?""Mmm ... lihat ... lihat ada kecoa ...."Terdengar suara siraman air dari sebelah, Jessica pun keluar dari bilik untuk mencuci tangan. "Ya udah cepetan, aku tunggu di luar."Setelah Jessica keluar dari toilet wanita, Alin melepaskan diri dari pelukanku dan berkata dengan suara gemetar, "Aku ... aku bisa kasih keperawananku buat kamu ... tapi nggak bisa di tempat kayak gini ...."Setelah mengatakannya, dia berusaha keras melepaskan diri dariku, menarik celananya, lalu keluar dari bilik sambil sesekali menoleh ke belakang.Aku perlahan menenangkan emosiku. Setelah memastikan kondisi di luar benar-benar sepi, aku pun menyelinap keluar....Saat malam tiba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status