Home / Pendekar / Para Pendekar dari Sungai Kembar / Angin yang Membawa Kabar Buruk

Share

Para Pendekar dari Sungai Kembar
Para Pendekar dari Sungai Kembar
Author: Ocyobot

Angin yang Membawa Kabar Buruk

Author: Ocyobot
last update publish date: 2026-07-26 12:23:45

Angin musim gugur bertiup pelan melewati lereng Gunung Naga Hijau.

Daun-daun kuning berputar di udara, jatuh memenuhi halaman luas Perguruan Pedang Wu. Biasanya, suara benturan pedang para murid akan menggema sejak matahari terbit. Hari itu tidak ada seorang pun berlatih.

Yang terdengar hanyalah bisik-bisik.

"...Apa benar Ketua Perguruan ikut menghilang?"

"Aku mendengar bukan hanya Guru Wu."

"Ketua Perguruan Li juga."

"Perguruan Tombak Langit..."

"Perguruan Pedang Selatan..."

"Semuanya..."

Suasana yang biasanya dipenuhi semangat kini berubah menjadi lautan kecemasan.

Di aula utama, para tetua duduk saling berhadapan. Wajah mereka tegang. Sebuah gulungan surat terbuka di atas meja kayu cendana.

Surat itu berasal dari seorang kurir yang berhasil kembali dari wilayah barat.

Isinya singkat.

"Rombongan para ketua perguruan memasuki Pegunungan Barat Jauh dua puluh tiga hari lalu. Sejak saat itu, tidak ada seorang pun yang terlihat keluar."

Hening.

Seorang tetua memukul meja.

"Mustahil!"

Tetua lainnya menggeleng pelan.

"Kalau hanya Ketua Wu yang hilang, mungkin masih bisa diterima. Tetapi seluruh ketua perguruan?"

"Itu berarti sesuatu telah terjadi."

"Atau..."

Seorang tetua berambut putih menyipitkan mata.

"Mereka saling membunuh."

Kalimat itu membuat ruangan semakin sunyi.

Tak seorang pun ingin mempercayainya.

Namun tak seorang pun mampu membantahnya.

Di luar perguruan, keadaan ternyata jauh lebih buruk.

Berita hilangnya para ketua perguruan menyebar secepat angin.

Perguruan-perguruan kecil mulai memilih kubu.

Bandit mulai menyerang desa-desa yang kehilangan perlindungan.

Para pendekar bayaran menawarkan jasa mereka kepada siapa saja yang mampu membayar.

Dunia jianghu yang selama puluhan tahun berdiri di atas keseimbangan perlahan mulai retak.

---

Sementara semua orang sibuk memikirkan masa depan dunia...

Di anak tangga batu gerbang Perguruan Pedang Wu, seorang pemuda justru duduk bersila dengan santai.

Sebuah kendi arak berada di tangan kirinya.

Di sampingnya tergeletak sebuah pedang panjang bersarung hitam kebiruan. Ukiran naga dan burung phoenix saling melilit di gagangnya, seolah hidup.

Di pangkuannya terdapat sebuah kitab tua yang dibungkus kain kuning kusam.

Pemuda itu menenggak seteguk arak, lalu menghela napas panjang.

"Ah..."

"Kalau Guru benar-benar hilang..."

"...siapa yang nanti membayar utang arakku?"

Ia menggaruk kepalanya sendiri.

Beberapa murid yang melintas langsung memandang tajam.

"Kakak Senior Wu masih sempat bercanda?"

"Memalukan."

"Guru belum tentu selamat."

"Dia malah minum."

Wu Keming hanya melirik sekilas.

"Bukankah orang yang sedang sedih justru lebih cocok minum?"

Tak ada yang menjawab.

Para murid pergi sambil menggerutu.

Wu Keming kembali menatap langit.

Awan bergerak perlahan.

Sudah tiga hari.

Tiga hari sejak kabar itu tiba.

Dan entah mengapa...

hatinya terus merasa tidak tenang.

Ia menepuk perlahan gagang Pedang Naga Phoenix di sampingnya.

Pedang itu dingin.

Tetapi setiap kali menyentuhnya, wajah gurunya selalu terbayang.

Wu Keming tersenyum tipis.

"Guru..."

"Apa yang sebenarnya Guru cari di ujung dunia sana?"

Angin kembali berembus.

Seolah menjadi satu-satunya jawaban yang mampu diberikan langit.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki berlari menaiki anak tangga.

"Kakak Senior!"

"Kakak Senior Wu!"

Wu Keming bahkan tidak menoleh.

"Aku sedang pura-pura menghilang."

"Kalau kau memanggilku, berarti penyamaranku gagal."

Suara itu semakin mendekat.

Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun berhenti sambil terengah-engah.

Jubah putih Perguruan Pedang Wu yang dikenakannya dipenuhi debu.

Dialah Wu Jian.

Adik seperguruan yang sejak kecil selalu mengikuti Wu Keming ke mana pun.

Wu Jian memegangi lututnya sambil mengatur napas.

"Kakak Senior..."

"Aku mencari ke dapur..."

"...ke gudang arak..."

"...ke sungai..."

"...bahkan ke pohon persik tempat Kakak pernah tidur semalaman."

Wu Keming mengangguk puas.

"Bagus."

"Itu berarti kau sudah hafal semua tempat persembunyianku."

Wu Jian menghela napas panjang.

"Seluruh perguruan sedang kacau."

"Para tetua mencarimu ke mana-mana."

Wu Keming kembali meneguk araknya.

"Kalau mereka berhasil menemukanku, berarti mereka kurang sibuk."

Wu Jian memijat dahinya.

Sejak kecil, berbicara dengan kakak seperguruannya memang lebih melelahkan daripada berlatih pedang seharian.

Namun kali ini...

senyum Wu Keming tidak mampu menutupi kesedihan yang tersimpan jauh di balik matanya.

Wu Jian menatap Wu Keming cukup lama.

Semakin lama, semakin sulit ia menahan amarah yang selama tiga hari terakhir dipendamnya.

"Kakak Senior..."

Wu Keming masih menenggak araknya.

"Hm?"

"Aku marah padamu."

Wu Keming mengangguk santai.

"Wajar."

Wu Jian mengernyit.

"Hanya begitu?"

"Kalau kau marah, berarti kau masih sehat."

Wu Jian mengepalkan kedua tangannya.

"Kakak Senior tahu kenapa aku marah?"

Wu Keming memandang kendi araknya.

"Mungkin karena kau lapar."

"Bukan!"

"Mungkin karena para tetua cerewet."

"Bukan!"

Wu Keming berpikir sejenak.

"Oh... jangan-jangan kau diam-diam jatuh cinta pada murid Perguruan Pedang Li?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Jaring Matahari Barat

    Ketua Duan tidak membuang waktu setelah mengetahui Zhushu dibawa pergi.Ia mengangkat dua jari ke bibir, lalu meniup peluit pendek dengan nada berurutan. Para murid Partai Matahari Barat yang tersebar di sekitar desa segera menerima isyarat itu.“Cari jejak empat orang utara! Jangan menyerang jika mereka tidak membahayakan penduduk, tetapi jangan biarkan mereka membawa Zhushu semakin jauh!”Di atas pepohonan, beberapa kelabang terlatih milik Lembah Hantu Merah mulai bergerak. Mereka membawa tanda dan pesan menuju pos-pos murid yang menjaga jalur hutan.Tidak lama kemudian, kabar itu sampai kepada Hong Liangyau, Ketua Lembah Hantu Merah, dan Hao Huma, Ketua Golok Harimau.Hong sedang menghalau sekelompok bandit yang mengganggu desa-desa di wilayah barat. Hao sendiri tengah mengamankan jalur perdagangan bersama murid-muridnya.Begitu menerima pesan, keduanya langsung bergerak.“Zhushu diculik?” Hong menyipitkan mata. “Siapa yang cukup berani melakukan hal bodoh itu?”Hao mengangkat golo

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Empat Pendekar Utara dan Dua Lawan yang Kewalahan

    “Putri, kita harus pergi sekarang!”Saran mengamati Ketua Duan yang berdiri dengan golok hitamnya, sementara Huang Liang telah mengambil posisi di sampingnya.Altani masih bersikeras. “Aku tidak akan pulang tanpa Zhushu!”Zhushu yang berdiri di belakang mereka mulai kehilangan kesabaran.“Putri, kau sudah sembuh, tetapi rupanya kepalamu belum benar-benar pulih. Siapa yang mengajarimu menculik orang setelah diselamatkan?”“Aku tidak menculikmu! Aku hanya ingin membawamu ke utara!”“Itu namanya menculik!”Ketika Zhushu hendak melangkah maju, Altani tiba-tiba mendekat dan menepuk tengkuknya.Zhushu langsung terkulai.“Putri!” seru Batu.Altani menangkap tubuh kecil itu sebelum jatuh, lalu menyerahkannya kepada Batu.“Pegang baik-baik. Jangan sampai kepalanya terbentur.”Batu menerima Zhushu dengan wajah pucat.“Putri, kalau dia bangun nanti, kita semua mati.”“Kalau begitu, jangan biarkan dia bangun dulu!”Ketua Duan mengernyit. “Kalian benar-benar mencari masalah.”Altani menghunus peda

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Putri Utara yang Nekat Menculik Tabib

    Pagi di Desa Miao terasa cerah.Di halaman latihan, Altani sedang beradu jurus dengan ketiga panglimanya. Setelah pengobatan Zhushu, tubuhnya pulih sepenuhnya. Gerakannya kembali lincah, tusukan pedangnya tajam, bahkan Batu yang bertubuh besar harus mundur beberapa langkah untuk menghindari serangannya.“Bagus! Putri sudah kembali seperti semula!” seru Batu.Altani memutar pedangnya dengan bangga. “Tentu saja! Berkat Zhushu!”Ketiga panglimanya saling pandang. Mereka sudah mendengar nama tabib kecil itu puluhan kali sejak sang putri sembuh.Sementara itu, Zhushu mengamati mereka dari beranda rumah pengobatan. Setelah memeriksa denyut nadi Altani sekali lagi, ia tersenyum puas.“Sudah sehat. Kalian bisa bersiap pulang besok pagi.”Altani langsung menghentikan gerakannya.“Pulang?”“Ya. Kau sudah sembuh. Bukankah ada urusan yang harus kalian selesaikan di utara?”Altani menatap Zhushu dengan wajah muram.“Aku tidak mau pulang.”Zhushu mengangkat alis. “Apa?”“Aku ingin tinggal di sini!”

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Sepuluh Kali Lipat, Puluhan Kali Lipat

    “Mao Ming, berhenti!”Teriakan Wu Keming tenggelam di tengah ledakan qi.Mao Ming berdiri dengan tombak terangkat. Matanya memerah, urat-urat di lehernya menegang, dan qi yang mengalir dari tubuhnya terus meningkat. Jurus Tombak Tak Terkalahkan yang sebelumnya sudah mampu melipatgandakan tenaga dalamnya hingga sepuluh kali lipat kini berkembang jauh melampaui batas itu.Dua puluh kali lipat.Tiga puluh kali lipat.Bahkan lebih!Tanah di bawah kakinya mulai retak. Angin yang berputar di sekitar tombaknya membuat para murid Perguruan Tombak Langit terpaksa mundur.Namun, ada sesuatu yang salah.Mao Ming tidak lagi mendengar suara orang-orang di sekitarnya. Tatapannya kosong, seolah seluruh pikirannya telah ditelan oleh qi yang terus membesar. Ia tidak lagi mengendalikan kekuatannya.Sebaliknya, kekuatan itulah yang mulai menguasainya.Wu Keming segera menyadarinya.“Borise! Serap qi-nya sebelum dia kehilangan kesadaran sepenuhnya!”Borise, yang baru saja memastikan Mao Da masih bernapas

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Kuncian Iblis Laut Utara

    Halaman Perguruan Tombak Langit dipenuhi suara benturan senjata dan ledakan qi.Mao Da semakin berhati-hati. Tombaknya menusuk dari kejauhan, lalu segera ditarik sebelum Borise sempat menyentuhnya. Setiap kali tubuh besar Borise mendekat, Mao Da langsung mundur dengan wajah tegang.Ia tidak takut pada kekuatan telapak tangan Borise semata.Ia takut terkunci.Dan lebih dari itu, ia takut tenaga dalam yang telah dilatihnya selama puluhan tahun akan diserap oleh Jurus Dewa Laut Utara.Borise menyadari semuanya.Ia menghindari sebuah tusukan, lalu mendadak berhenti. Kedua kakinya terbuka selebar bahu, lututnya sedikit ditekuk, sementara kedua tangannya terangkat di depan dada.Sikap tubuhnya berbeda dari sebelumnya.Wu Keming, yang sedang berhadapan dengan Mao Ming, sempat melirik.Ia mengenal banyak gaya bertarung Borise, tetapi kali ini sahabatnya itu mengambil kuda-kuda yang menyerupai ilmu gulat dari negeri utara, dengan tumpuan tubuh rendah dan posisi tangan yang siap menangkap serta

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Bayi Nakal, Putri Penasaran, dan Tiga Korban

    Pagi di Gunung Li seharusnya tenang.Sayangnya, Li Huatang sudah tidak percaya lagi pada kata tenang sejak ia ditinggalkan sendirian bersama Xianhua.“Xianhua, jangan tarik rambut Ibu.”Bayi itu menatapnya dengan mata bulat, lalu menarik lebih kuat.Li Huatang menarik napas panjang.“Baiklah. Rambut ini milikmu untuk sementara.”Di seberang ruangan, Ketua Li Dihua sedang duduk menikmati teh. Melihat muridnya yang biasanya tenang kini berjuang menghadapi seorang bayi, sudut bibirnya terangkat.“Guru,” panggil Li Huatang dengan senyum yang terlalu dipaksakan. “Bisakah Guru membantu saya sebentar?”Li Dihua mengangkat cangkirnya.“Tentu. Aku akan mengambil teh lagi.”“Cangkir Guru masih penuh.”“Kalau begitu, aku akan memeriksa halaman.”“Halaman sudah diperiksa pagi tadi.”“Benarkah? Kalau begitu, aku baru ingat ada urusan penting di luar.”Li Dihua berdiri dengan gerakan anggun.Li Huatang langsung menggendong Xianhua dan menghadang pintu.“Guru, murid hanya meminta bantuan menjaga ana

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status