Home / Pendekar / Para Pendekar dari Sungai Kembar / Awal Pertemuan Dewi Pedang

Share

Awal Pertemuan Dewi Pedang

Author: Ocyobot
last update publish date: 2026-09-02 17:03:02

Melihat Pedang Naga Phoenix dan Kitab Jurus Naga Phoenix berada di tangan Wu Jian, para tetua akhirnya terdiam.

Tak seorang pun lagi mampu membantah.

Mereka mengenal kedua benda itu.

Pedang Naga Phoenix adalah lambang kepemimpinan Perguruan Pedang Wu selama beberapa generasi.

Sedangkan Kitab Jurus Naga Phoenix hanya diwariskan kepada penerus ketua perguruan.

Bila keduanya telah berpindah tangan...

maka keputusan Ketua Wu sebelum keberangkatannya telah jelas.

Wu Jian.

Bukan Wu Keming.

Mau tidak mau, para tetua akhirnya mengangkat Wu Jian sebagai Ketua Perguruan Pedang Wu yang baru.

Sebagian murid masih meragukan kemampuannya.

Usianya muda.

Pengalamannya jauh di bawah para tetua.

Namun waktu perlahan membuktikan bahwa mereka salah.

Wu Jian memiliki cara memimpin yang berbeda.

Ia memperbaiki lumbung pangan perguruan.

Mengirim murid membantu desa-desa yang kesulitan.

Membuka ruang belajar bagi murid baru.

Bahkan mulai menghapus beberapa aturan lama yang menurutnya hanya membatasi perkembangan murid.

Perguruan Pedang Wu perlahan kembali tenang.

Namun...

setiap kali Wu Jian mengambil keputusan besar...

ia selalu teringat seseorang.

Seolah Wu Keming masih duduk santai di sampingnya sambil meneguk arak.

Lalu berkata dengan nada malas.

"Kalau bingung... pilih saja yang paling berguna untuk orang banyak."

Wu Jian tidak pernah benar-benar memahami isi hati kakak seperguruannya.

Selama ini ia hanya mengenal Wu Keming sebagai murid paling berbakat.

Paling keras kepala.

Paling sering dihukum.

Paling sering membolos latihan.

Dan paling sering membuat gurunya menghela napas.

Namun hari itu...

untuk pertama kalinya...

Wu Jian menyadari bahwa di balik semua candaan itu terdapat luka yang begitu dalam.

Luka yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun.

---

Sementara itu...

Wu Keming terus berjalan.

Tidak ada tujuan.

Tidak ada arah.

Ia hanya mengikuti jalan pegunungan yang membentang tanpa akhir.

Kendi araknya telah kosong.

"Itulah tragedi terbesar hidupku..."

gumamnya sambil menggoyang-goyangkan kendi kosong itu.

"Tidak ada arak..."

Ia tertawa kecil.

"Guru juga tidak ada..."

Kadang ia berhenti memandangi langit.

Kadang berbicara sendiri.

Kadang tertawa tanpa alasan.

"Hoi, Guru!"

"Kalau Guru sengaja sembunyi supaya tidak membayar utang arakku..."

"...aku tetap akan mencarimu!"

Angin gunung berembus pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Selama tiga hari...

Wu Keming hampir tidak makan.

Ia hanya meminum sedikit air dari sungai yang ditemuinya.

Tubuhnya semakin lemah.

Langkahnya mulai terhuyung-huyung.

Namun senyum itu...

tetap menghiasi wajahnya.

Hingga akhirnya...

Bruk!

Tubuhnya roboh di bawah sebuah pohon tua.

Pandangannya mulai kabur.

Ia menatap langit yang perlahan berubah jingga.

Kemudian tertawa keras.

"Guruuuu!"

"Aku belum selesai membantahmu!"

"Hahaha..."

Suara tawanya menggema di antara pepohonan.

Perlahan...

tawanya melemah.

Kelopak matanya menutup.

Ia kehilangan kesadaran.

Namun...

senyum itu masih tertinggal di wajahnya.

Suara derap kuda terdengar dari kejauhan.

Sekelompok pendekar berjubah putih-biru melintasi jalan pegunungan.

Di barisan paling depan...

seorang gadis muda menunggang kuda putih.

Jubah biru-putihnya berkibar tertiup angin.

Pedang bersarung putih tergantung anggun di pinggangnya.

Tatapannya lembut.

Namun penuh ketegasan.

Dialah...

Li Huatang.

Pewaris Perguruan Pedang Li.

Di belakangnya, belasan murid tampak lelah.

Wajah mereka dipenuhi kecemasan.

Beberapa hari sebelumnya...

seluruh jianghu diguncang kabar menghilangnya rombongan para ketua perguruan yang berangkat menuju Pegunungan Barat Jauh.

Ketua Perguruan Pedang Li...

Li Dihua...

tidak ikut dalam rombongan tersebut.

Namun ketika mendengar kabar para ketua perguruan menghilang tanpa jejak...

beliau mengambil keputusan sendiri.

"Aku akan mencari mereka."

Tidak seorang pun berhasil menghentikannya.

Li Dihua membawa beberapa murid senior memasuki wilayah barat.

Beliau yakin...

bila para ketua perguruan benar-benar mengalami musibah...

masih ada kemungkinan mereka dapat diselamatkan.

Namun...

hari demi hari berlalu.

Tidak ada kabar.

Tidak ada utusan.

Tidak ada pesan.

Seolah Li Dihua ikut menghilang bersama kabut Pegunungan Barat Jauh.

Kekhawatiran mulai menyelimuti seluruh Perguruan Pedang Li.

Akhirnya...

Li Huatang memimpin beberapa murid kepercayaan gurunya untuk menyusul pencarian.

Mereka menelusuri lembah.

Mendaki tebing.

Melewati wilayah para bandit.

Namun semakin jauh mereka memasuki daerah barat...

semakin sedikit petunjuk yang mereka temukan.

Yang tersisa hanyalah jurang.

Kabut.

Dan kesunyian.

Li Huatang menghela napas pelan.

"Guru..."

"Di mana sebenarnya Guru berada..."

Tiba-tiba...

kuda putih yang ditungganginya meringkik pelan.

Li Huatang menoleh.

Di bawah sebuah pohon besar...

terbaring seorang pemuda.

Masih tersenyum.

Namun tak sadarkan diri.

"Berhenti."

Semua murid segera turun dari kuda.

Mereka mendekati pemuda itu dengan waspada.

Salah seorang murid memeriksa napasnya.

"Masih hidup."

"Apakah dia terluka?"

"Tidak."

Li Huatang berlutut di samping pemuda itu.

Ia memeriksa denyut nadinya.

Alisnya sedikit berkerut.

"Kelaparan."

"Lelaki ini sudah lama tidak makan."

Seorang murid mengangkat kendi kosong di samping tubuh pemuda itu.

"...Dan mabuk."

Li Huatang mengangguk pelan.

Namun ada sesuatu yang membuatnya heran.

Pemuda itu masih tersenyum.

Seolah sedang bermimpi indah.

Padahal tubuhnya hampir kehabisan tenaga.

Li Huatang mengeluarkan sebuah botol kecil berisi ramuan herbal penguat.

Ramuan itu biasa digunakan murid Perguruan Pedang Li setelah perjalanan jauh.

Dengan hati-hati ia menuangkan beberapa tetes ke mulut pemuda itu.

Kemudian ia meletakkan beberapa potong roti kering di sampingnya.

Di atas roti itu ia menyelipkan secarik kertas.

«Makanlah setelah bangun. Tubuhmu membutuhkan tenaga.»

Setelah berpikir sejenak...

Li Huatang kembali mengambil selembar kertas.

Ia menulis perlahan.

«Namaku Li Huatang dari Perguruan Pedang Li. Jika suatu hari kau membutuhkan pertolongan, datanglah ke Gunung Li. Semoga kita bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik.»

Kedua surat itu ia selipkan di bawah sebuah batu kecil agar tidak diterbangkan angin.

Sebelum kembali menaiki kudanya...

Li Huatang menatap wajah pemuda asing itu sekali lagi.

Entah mengapa...

ia dapat merasakan kesedihan yang begitu dalam dari wajah yang terus tersenyum itu.

Seolah pemuda tersebut sedang menyembunyikan seluruh luka hidupnya di balik sebuah senyum.

Li Huatang tidak mengenalnya.

Wu Keming juga tidak mengenal dirinya.

Namun takdir...

telah mempertemukan mereka untuk pertama kalinya di jalan pegunungan yang sunyi.

Tanpa menyadarinya...

pertemuan singkat itu kelak akan mengubah perjalanan hidup mereka berdua, bahkan mengubah masa depan seluruh jianghu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Ayah Siapa yang Harus Bertarung?

    Pagi itu, Perguruan Pedang Li dipenuhi para pendekar dan pemimpin sekte dari berbagai penjuru Jianghu. Mereka berkumpul untuk membahas berbagai kejadian mencurigakan yang belakangan mengusik ketenangan dunia persilatan.Di tengah kesibukan itu, Wu Keming justru sibuk mencari tempat duduk yang nyaman untuk menikmati araknya.“Pendekar Wu, bisakah kau serius sedikit?” tegur seseorang.“Aku sedang memikirkan urusan penting.”“Urusan apa?”“Bagaimana menjaga arakku agar tidak diminum orang lain.”Orang itu memilih pergi. Wu Keming pun mengangguk puas.Tak lama kemudian, Hua Yun tiba bersama Jiayu. Anak kecil itu mengenakan kumis palsu yang panjangnya hampir menutupi mulutnya.“Paman Wu!”Wu Keming menoleh, lalu memandangi kumisnya.“Siapa kau? Anak pencuri?”“Bukan! Ini penyamaran!”“Kalau begitu, pencurinya pasti pendekar hebat. Sampai-sampai kau berhasil mencuri kumisnya.”Jiayu cemberut, lalu berlari mencari Zhushu dan Li Huatang.“Tabib Zhushu, Bibi Li! Lihat, aku menyamar!”Ia mengel

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Pendekar yang Kalah oleh Seorang Bayi

    Pagi itu, halaman Perguruan Pedang Li mendadak ramai.Bukan karena kedatangan pendekar terkenal atau tantangan dari perguruan lain, melainkan karena seorang perempuan yang biasanya berjalan dengan wajah dingin dan sikap anggun baru saja pulang sambil menggendong seorang bayi.Li Huatang telah kembali.Dan ia membawa seorang anak.“Kakak Senior Li punya anak?”Bisikan seorang murid membuat temannya hampir menjatuhkan sapu.“Pelankan suaramu! Kau mau dihukum berdiri semalaman?”“Tapi lihat sendiri! Kakak Senior Li menggendong bayi!”Beberapa murid yang sedang berlatih pedang diam-diam menoleh. Bahkan dua orang murid yang sedang berlatih jurus berpasangan sampai salah mengayunkan pedang kayu.Mereka semua mengenal Li Huatang.Kakak senior mereka itu terkenal anggun, dingin, dan selalu menjaga tata krama. Bahkan ketika menegur murid yang melakukan kesalahan, suaranya tetap tenang. Ia jarang menunjukkan emosi, apalagi bercanda dengan laki-laki.Namun, pagi ini ia berjalan berdampingan deng

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Kegagalan di Balik Tirai

    Ruangan itu sunyi.Di balik tirai tipis berwarna gelap, seorang pria duduk menghadap meja kayu. Secangkir teh di hadapannya telah lama kehilangan uapnya, tetapi ia belum menyentuhnya lagi sejak mendengar laporan yang dibawa Qiu Hui.“Ulangi sekali lagi,” katanya tenang. “Pasukan yang kau kirim ke markas lama Paviliun Awan Patah belum kembali?”Qiu Hui berdiri beberapa langkah dari tirai.“Benar. Mereka memasuki kawasan itu sesuai perintah. Namun, setelah itu, tidak ada seorang pun yang kembali untuk melapor.”“Tidak ada pesan? Tidak ada jejak pertempuran?”“Tidak ada.”Jari pria di balik tirai mengetuk meja satu kali.“Lalu Huang Liang?”“Masih menghilang. Anak yang bersamanya juga belum ditemukan.”Keheningan menyelimuti ruangan.Qiu Hui menundukkan kepala sedikit, tetapi di balik sikap hormatnya, ia sedang menahan amarah. Ia tidak terbiasa datang membawa kabar kegagalan, terlebih ketika kegagalan itu terjadi dalam rencana yang menurut perhitungannya hampir tidak mungkin meleset.Pav

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Bayangan di Balik Singgasana

    Singgasana naga di aula istana telah kosong selama beberapa pekan. Raja jatuh sakit dan belum mampu memimpin sidang, membuat urusan pemerintahan semakin banyak ditangani oleh para pejabat tinggi.Namun, ketidakhadiran sang raja justru membuat perselisihan di antara mereka semakin tajam.“Pasukan di perbatasan utara membutuhkan tambahan anggaran!” seru Lu Wenqiao, Menteri Perang. “Jika kita terus menunda, bagaimana jika musuh menyerang?”Shen Yizhong, Menteri Keuangan, segera membalas, “Kas kerajaan bukan sumur tanpa dasar! Kita masih harus memperbaiki tanggul dan membantu desa-desa yang dilanda bencana.”“Jadi, Anda ingin membiarkan perbatasan tanpa perlindungan?”“Saya ingin Anda belajar menghitung sebelum meminta uang!”Perdana Menteri Chou Ye menggebrak meja.“Cukup! Jika setiap keputusan harus menunggu persetujuan semua orang, kerajaan ini tidak akan pernah bergerak!”Ia mengusulkan agar anggaran pertahanan segera ditambah dan beberapa proyek yang dianggap tidak mendesak ditunda.

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Jejak yang Menghilang

    Qiu Hui meremas laporan di tangannya.“Ulangi sekali lagi.”Pengawal yang berlutut di hadapannya menundukkan kepala semakin rendah. “Nyonya Yangxiang menghilang dari kediaman tadi malam. Beberapa penjaga terluka. Kami telah menyisir jalan di sekitar kediaman, tetapi belum menemukan jejaknya.”“Lalu anak itu?”“Bayi itu juga tidak ditemukan.”Ruangan mendadak sunyi.Selama beberapa saat, Qiu Hui tidak mengatakan apa-apa. Wajahnya tetap tenang, tetapi jemarinya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih.Yangxiang telah melahirkan belum lama ini. Tubuhnya seharusnya masih lemah. Kediamannya pun dijaga ketat. Bagaimana mungkin seorang perempuan yang baru melahirkan bisa membawa bayinya melarikan diri tanpa meninggalkan jejak yang jelas?Kecuali seseorang telah membantunya.Atau para penjaga yang dipercayainya telah melakukan kesalahan besar.“Cari dia!”Bentakan itu membuat pengawal di hadapannya gemetar.“Kerahkan semua orang yang bisa dipercaya. Periksa jalan menuju Mohua,

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Paviliun Tanpa Pemimpin

    Kereta kuda melaju meninggalkan jalan utama, diiringi beberapa pengawal berpakaian gelap. Di dalamnya, Qiu Hui duduk tenang sambil membaca laporan yang baru saja diterimanya.Paviliun Awan Patah.Organisasi itu dahulu memiliki jaringan informasi yang tersebar luas, mulai dari penginapan, rumah makan, pedagang, hingga para pengembara yang melintasi berbagai wilayah. Tidak banyak peristiwa di jianghu yang luput dari pengamatan mereka.Namun, setelah Huang Liang menghilang, keadaan organisasi itu dikabarkan memburuk.Para anggota kehilangan pemimpin yang selama ini menyatukan mereka. Sebagian memilih bersembunyi, sebagian lainnya meninggalkan jaringan tersebut. Markas utama pun konon tak lagi memiliki penjagaan seketat dahulu.Bagi Qiu Hui, itu adalah kesempatan yang terlalu berharga untuk dilewatkan.“Seekor harimau yang kehilangan pemimpinnya tetaplah sekumpulan binatang tanpa arah,” gumamnya sambil melipat laporan.Ia tidak berniat membuang sumber daya sebesar Paviliun Awan Patah. Seb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status