LOGINPagi itu, Perguruan Pedang Li dipenuhi para pendekar dan pemimpin sekte dari berbagai penjuru Jianghu. Mereka berkumpul untuk membahas berbagai kejadian mencurigakan yang belakangan mengusik ketenangan dunia persilatan.Di tengah kesibukan itu, Wu Keming justru sibuk mencari tempat duduk yang nyaman untuk menikmati araknya.“Pendekar Wu, bisakah kau serius sedikit?” tegur seseorang.“Aku sedang memikirkan urusan penting.”“Urusan apa?”“Bagaimana menjaga arakku agar tidak diminum orang lain.”Orang itu memilih pergi. Wu Keming pun mengangguk puas.Tak lama kemudian, Hua Yun tiba bersama Jiayu. Anak kecil itu mengenakan kumis palsu yang panjangnya hampir menutupi mulutnya.“Paman Wu!”Wu Keming menoleh, lalu memandangi kumisnya.“Siapa kau? Anak pencuri?”“Bukan! Ini penyamaran!”“Kalau begitu, pencurinya pasti pendekar hebat. Sampai-sampai kau berhasil mencuri kumisnya.”Jiayu cemberut, lalu berlari mencari Zhushu dan Li Huatang.“Tabib Zhushu, Bibi Li! Lihat, aku menyamar!”Ia mengel
Pagi itu, halaman Perguruan Pedang Li mendadak ramai.Bukan karena kedatangan pendekar terkenal atau tantangan dari perguruan lain, melainkan karena seorang perempuan yang biasanya berjalan dengan wajah dingin dan sikap anggun baru saja pulang sambil menggendong seorang bayi.Li Huatang telah kembali.Dan ia membawa seorang anak.“Kakak Senior Li punya anak?”Bisikan seorang murid membuat temannya hampir menjatuhkan sapu.“Pelankan suaramu! Kau mau dihukum berdiri semalaman?”“Tapi lihat sendiri! Kakak Senior Li menggendong bayi!”Beberapa murid yang sedang berlatih pedang diam-diam menoleh. Bahkan dua orang murid yang sedang berlatih jurus berpasangan sampai salah mengayunkan pedang kayu.Mereka semua mengenal Li Huatang.Kakak senior mereka itu terkenal anggun, dingin, dan selalu menjaga tata krama. Bahkan ketika menegur murid yang melakukan kesalahan, suaranya tetap tenang. Ia jarang menunjukkan emosi, apalagi bercanda dengan laki-laki.Namun, pagi ini ia berjalan berdampingan deng
Ruangan itu sunyi.Di balik tirai tipis berwarna gelap, seorang pria duduk menghadap meja kayu. Secangkir teh di hadapannya telah lama kehilangan uapnya, tetapi ia belum menyentuhnya lagi sejak mendengar laporan yang dibawa Qiu Hui.“Ulangi sekali lagi,” katanya tenang. “Pasukan yang kau kirim ke markas lama Paviliun Awan Patah belum kembali?”Qiu Hui berdiri beberapa langkah dari tirai.“Benar. Mereka memasuki kawasan itu sesuai perintah. Namun, setelah itu, tidak ada seorang pun yang kembali untuk melapor.”“Tidak ada pesan? Tidak ada jejak pertempuran?”“Tidak ada.”Jari pria di balik tirai mengetuk meja satu kali.“Lalu Huang Liang?”“Masih menghilang. Anak yang bersamanya juga belum ditemukan.”Keheningan menyelimuti ruangan.Qiu Hui menundukkan kepala sedikit, tetapi di balik sikap hormatnya, ia sedang menahan amarah. Ia tidak terbiasa datang membawa kabar kegagalan, terlebih ketika kegagalan itu terjadi dalam rencana yang menurut perhitungannya hampir tidak mungkin meleset.Pav
Singgasana naga di aula istana telah kosong selama beberapa pekan. Raja jatuh sakit dan belum mampu memimpin sidang, membuat urusan pemerintahan semakin banyak ditangani oleh para pejabat tinggi.Namun, ketidakhadiran sang raja justru membuat perselisihan di antara mereka semakin tajam.“Pasukan di perbatasan utara membutuhkan tambahan anggaran!” seru Lu Wenqiao, Menteri Perang. “Jika kita terus menunda, bagaimana jika musuh menyerang?”Shen Yizhong, Menteri Keuangan, segera membalas, “Kas kerajaan bukan sumur tanpa dasar! Kita masih harus memperbaiki tanggul dan membantu desa-desa yang dilanda bencana.”“Jadi, Anda ingin membiarkan perbatasan tanpa perlindungan?”“Saya ingin Anda belajar menghitung sebelum meminta uang!”Perdana Menteri Chou Ye menggebrak meja.“Cukup! Jika setiap keputusan harus menunggu persetujuan semua orang, kerajaan ini tidak akan pernah bergerak!”Ia mengusulkan agar anggaran pertahanan segera ditambah dan beberapa proyek yang dianggap tidak mendesak ditunda.
Qiu Hui meremas laporan di tangannya.“Ulangi sekali lagi.”Pengawal yang berlutut di hadapannya menundukkan kepala semakin rendah. “Nyonya Yangxiang menghilang dari kediaman tadi malam. Beberapa penjaga terluka. Kami telah menyisir jalan di sekitar kediaman, tetapi belum menemukan jejaknya.”“Lalu anak itu?”“Bayi itu juga tidak ditemukan.”Ruangan mendadak sunyi.Selama beberapa saat, Qiu Hui tidak mengatakan apa-apa. Wajahnya tetap tenang, tetapi jemarinya mencengkeram tepi meja hingga buku-buku jarinya memutih.Yangxiang telah melahirkan belum lama ini. Tubuhnya seharusnya masih lemah. Kediamannya pun dijaga ketat. Bagaimana mungkin seorang perempuan yang baru melahirkan bisa membawa bayinya melarikan diri tanpa meninggalkan jejak yang jelas?Kecuali seseorang telah membantunya.Atau para penjaga yang dipercayainya telah melakukan kesalahan besar.“Cari dia!”Bentakan itu membuat pengawal di hadapannya gemetar.“Kerahkan semua orang yang bisa dipercaya. Periksa jalan menuju Mohua,
Kereta kuda melaju meninggalkan jalan utama, diiringi beberapa pengawal berpakaian gelap. Di dalamnya, Qiu Hui duduk tenang sambil membaca laporan yang baru saja diterimanya.Paviliun Awan Patah.Organisasi itu dahulu memiliki jaringan informasi yang tersebar luas, mulai dari penginapan, rumah makan, pedagang, hingga para pengembara yang melintasi berbagai wilayah. Tidak banyak peristiwa di jianghu yang luput dari pengamatan mereka.Namun, setelah Huang Liang menghilang, keadaan organisasi itu dikabarkan memburuk.Para anggota kehilangan pemimpin yang selama ini menyatukan mereka. Sebagian memilih bersembunyi, sebagian lainnya meninggalkan jaringan tersebut. Markas utama pun konon tak lagi memiliki penjagaan seketat dahulu.Bagi Qiu Hui, itu adalah kesempatan yang terlalu berharga untuk dilewatkan.“Seekor harimau yang kehilangan pemimpinnya tetaplah sekumpulan binatang tanpa arah,” gumamnya sambil melipat laporan.Ia tidak berniat membuang sumber daya sebesar Paviliun Awan Patah. Seb







