เข้าสู่ระบบWu Keming baru menuruni belasan anak tangga ketika langkahnya kembali terhenti.
Puluhan murid Perguruan Pedang Wu telah berdiri menghadang di sepanjang tangga batu yang berkelok menuju kaki gunung. Di belakang mereka, beberapa tetua ikut berjalan keluar dari aula. Wajah mereka sama-sama tegang. Wu Keming mengangkat kendi araknya. "...Wah." "Sejak kapan kalian begitu rajin menyambutku?" Tak seorang pun tersenyum. Seorang murid melangkah maju sambil mencabut pedangnya. "Kakak Senior Wu Keming!" "Guru menghilang!" "Perguruan sedang berada di ujung tanduk!" "Dan kau justru melarikan diri?" Wu Keming meneguk araknya. "Aku sedang berjalan." "Belum sempat berlari." "Kau...!" Murid itu hendak maju, tetapi seorang tetua mengangkat tangannya. "Kau tidak boleh pergi." Wu Keming menghela napas kecil. "Kalau aku tetap pergi?" "Maka kau bukan lagi murid Perguruan Pedang Wu." Suasana menjadi sunyi. Wu Keming memandang langit beberapa saat. "Lumayan." "Aku memang sedang ingin jalan-jalan." Ucapan itu seperti menyiram minyak ke atas api. "Kurang ajar!" "Dia menghina perguruan!" "Dia pengecut!" "Sejak awal dia selalu menentang Guru berangkat ke Pegunungan Barat Jauh!" "Kalau bukan karena mulutnya yang lancang, mungkin Guru masih berada di perguruan!" Wu Keming hanya tersenyum tipis. "Kalian salah." Semua terdiam. "Aku justru berharap Guru tetap tinggal." "Kalau beliau tinggal, mungkin sekarang beliau sedang mengajari kalian berlatih pedang... bukan menghilang entah ke mana." "Diam!" Seorang murid menerjang lebih dulu. "Lihat pedangmu!" "Pedang itu bahkan lebih pantas dijadikan pengganjal pintu!" Barulah semua orang memperhatikan pedang di pinggang Wu Keming. Bukan Pedang Naga Phoenix. Pedang pusaka itu telah ia serahkan kepada Wu Jian. Yang tersisa hanyalah pedang tua. Sarungnya kusam. Gagangnya aus. Sedikit bagian bilah yang tampak dipenuhi karat. Pedang itu terlihat seperti barang rongsokan. Wu Keming menepuk gagangnya pelan. "Jangan dengarkan mereka." "Pedang tua juga punya harga diri." Beberapa murid hampir muntah darah mendengar ucapannya. "Tangkap dia!" Belasan murid langsung menyerbu. Wu Keming bahkan tidak menyentuh gagang pedangnya. Ia hanya mengangkat kendi arak. Seteguk. Dua langkah. Lalu... tubuhnya menghilang. "...Apa?!" Dalam sekejap ia telah berada di belakang para murid. Gerakannya begitu ringan. Tidak. Lebih tepat disebut... mustahil. Seolah tubuhnya sama sekali tidak memiliki berat. Setiap pijakan hanya menyentuh tanah sesaat sebelum kembali melayang. Daun-daun kering bahkan tidak sempat bergerak. "Itu..." "Jurus meringankan tubuh?" "Tidak mungkin!" "Itu bukan ilmu Perguruan Pedang Wu!" Wu Jian yang berdiri di atas tangga ikut membelalakkan mata. Sejak kecil ia berlatih bersama Wu Keming. Namun ia belum pernah melihat gerakan seperti itu. Wu Keming masih terus berjalan menuruni anak tangga. Seolah tidak ada seorang pun yang mampu menghentikannya. "Serang lagi!" Puluhan murid kembali mengepung. Dari depan. Belakang. Kanan. Kiri. Namun setiap ujung pedang hampir menyentuh pakaiannya... Wu Keming sudah menghilang. Kadang ia hanya menggeser satu langkah. Kadang melompat ke pagar batu. Kadang berpijak di atas kepala patung naga penjaga gerbang. Semua gerakannya sederhana. Tetapi tak seorang pun mampu menyentuh ujung bajunya. Seorang tetua mulai menyipitkan mata. "Ilmu langkah itu..." "Aku belum pernah melihatnya." Tetua lain ikut menggeleng. "Bahkan Ketua Wu tidak pernah mengajarkan ilmu seperti itu." "Formasi Pedang Wu!" Perintah itu menggema. Puluhan murid langsung berubah formasi. Dalam hitungan napas mereka membentuk lingkaran rapat. Ujung-ujung pedang mengarah kepada Wu Keming. "Itu Formasi Penjara Pedang..." gumam Wu Jian. Formasi itu hanya digunakan menghadapi musuh besar. Hari ini... dipakai untuk menghadapi kakak seperguruan mereka sendiri. Wu Keming memandang mereka sebentar. "Lumayan." "Tapi masih terlalu kaku." "Serang!" Puluhan pedang bergerak bersamaan. Wu Keming tetap tidak mencabut pedangnya. Pedang tua berkarat itu tetap tergantung tenang di pinggangnya. Di tangannya hanya ada kendi arak. Brak! Kendi itu menghantam sisi datar sebuah pedang. Pemiliknya langsung terdorong mundur. Brak! Brak! Brak! Kendi tanah liat itu berputar di tangan Wu Keming seperti senjata yang telah menemaninya puluhan tahun. Ia tidak melukai seorang pun. Namun setiap benturan selalu menghancurkan ritme formasi. Satu demi satu murid terpental. Ada yang kehilangan keseimbangan. Ada yang terduduk. Ada yang bahkan belum sempat mengayunkan pedang. Dalam beberapa tarikan napas... Formasi Penjara Pedang telah hancur. Wu Keming membalik kendinya. Kosong. Ia memandanginya lama. Lalu menghela napas kecewa. "Ah..." "Yang benar-benar kalah hari ini ternyata arakku." Para murid menatapnya dengan wajah pucat. Tak seorang pun menyangka. Murid paling malas. Paling sering dihukum. Paling suka membolos latihan. Ternyata memiliki ilmu setinggi itu. "WU KEMING!" Suara para tetua menggema. "Kalau kau melangkah keluar dari gerbang hari ini..." "...jangan pernah kembali!" "Perguruan Pedang Wu tidak membutuhkanmu lagi!" Wu Keming berhenti. Ia membelakangi semua orang. Kemudian tertawa. Tawanya lepas. Seperti biasa. "Bagus." "Aku juga sudah menemukan ketua perguruan yang jauh lebih baik." Ia mengangkat tangan kanannya tanpa menoleh. "Wu Jian..." "...adalah Ketua Perguruan Pedang Wu." "Bukan aku." "Kalau mulai hari ini kalian menganggapku orang asing..." "...biarlah." "Karena mulai hari ini..." "...aku memang akan menjadi orang asing." Ia melangkah perlahan menuruni tangga. "Aku akan mencari Guru." "Lalu berkeliling melihat dunia." "Dan..." "...membangun dunia jianghuku sendiri." Tak seorang pun mampu menghentikannya. Wu Jian hanya berdiri mematung. Pedang Naga Phoenix dan Kitab Jurus Naga Phoenix masih dipeluk erat di dadanya. Ia tidak mengerti. Mengapa kakak seperguruannya selalu tampak keras kepala. Mengapa ia selalu memilih jalan yang berbeda. Mengapa ia meninggalkan kedudukan yang diimpikan banyak orang. Mengapa ia tertawa di saat seperti ini. Wu Jian tidak mengerti. Namun ketika angin gunung berembus pelan melewati anak tangga batu itu... ia akhirnya menyadari sesuatu. Semua orang mendengar Wu Keming tertawa. Tetapi hanya dirinya... yang mendengar tawa itu perlahan berubah menjadi tangisan.Pertarungan di Shuanghe semakin kacau.Di halaman rumah kecil di lereng, Borise masih berdiri dengan kedua tangan kosong.Di sekelilingnya, puluhan orang telah bergelimpangan.Sebagian duduk sambil memegangi perut.Sebagian terbaring kelelahan.Beberapa bahkan tertidur.Namun anehnya, tidak seorang pun mengalami luka serius.Zhushu berjalan di antara mereka sambil membawa keranjang obat.Ia memeriksa satu per satu.“Yang ini hanya kelelahan.”Ia pindah ke orang berikutnya.“Yang ini terlalu banyak memaksakan tenaga.”Kemudian ia mengangkat kepala.“Borise, yang tadi kau dorong terlalu keras.”Borise mengangguk.“Maaf.”Qiu Hui yang sedang bertarung tidak jauh dari sana tiba-tiba menoleh.“Apa yang kalian lakukan?!”Borise menjawab santai.“Mereka kelelahan.”“Memangnya aku peduli?!”Borise memandang orang-orang yang tergeletak.“Mereka mungkin haus.”Ia mengambil beberapa wadah air dan mulai membagikannya.“Minumlah.”Salah seorang prajurit kerajaan memandangnya dengan bingung.“Kau…
Malam di Shuanghe berubah menjadi medan pertempuran.Puluhan bayangan hitam menerobos dari berbagai arah. Tidak ada lambang perguruan pada pakaian mereka. Wajah mereka tertutup kain hitam sehingga tidak seorang pun dapat mengetahui siapa mereka sebenarnya.Sebagian adalah murid Sekte Bangau Hijau.Sebagian lainnya merupakan orang-orang yang didatangkan dari luar.Bahkan beberapa di antara mereka menggunakan perlengkapan militer yang menunjukkan bahwa ada tangan lain yang ikut bermain dalam serangan ini.Namun bagi Borise, semuanya sama saja.Musuh.Pria besar itu berdiri di tengah halaman dengan tangan kosong.Tidak ada pedang.Tidak ada tombak.Tidak ada kecapi.Hanya kedua telapak tangannya.Seorang penyerang mengayunkan pedang.Borise menggeser tubuh.Tangannya menangkap pergelangan lawan.Putar.Bruk!Orang itu jatuh ke tanah.Dua orang lainnya datang bersamaan.Borise menunduk.Satu pukulan melewati kepalanya.Ia kemudian mendorong dada orang pertama dengan telapak tangan.Buk!T
Hari-hari berlalu, dan Pegunungan Dua Sungai perlahan berubah. Rumah-rumah penduduk yang sebelumnya rusak mulai diperbaiki. Ladang kembali ditanami. Jalan setapak dibersihkan dari semak dan perangkap. Anak-anak yang dahulu hanya berani mengintip dari balik pintu kini berlarian bebas di antara rumah-rumah. Orang-orang mulai menyebut tempat itu dengan nama Shuanghe. Keempat orang yang awalnya datang hanya untuk menjalankan tugas dari Ketua Perguruan Pedang Li, Li Dihua, kini hampir seperti bagian dari kehidupan penduduk. Borise membantu membuat pagar, gerbang, gudang, bahkan mengajari para pemuda berburu dan mengenali jejak binatang. Zhushu membuat kebun obat dan mengajari penduduk tumbuhan mana yang dapat digunakan sebagai obat. Wu Keming lebih sering terlihat bermain bersama anak-anak. Sedangkan Li Huatang membantu hampir semua pekerjaan yang bisa dilakukannya. Sore itu, Li Huatang duduk di depan rumah sambil menulis surat. Ia melaporkan kepada Li Dihua mengenai keadaan Shuan
Beberapa hari setelah para bandit di lereng Pegunungan Dua Sungai dilumpuhkan oleh ramuan Zhushu, keadaan perlahan berubah.Bandit-bandit yang masih bersembunyi di gunung satu demi satu ditangkap, diusir, atau melarikan diri setelah mendengar bahwa sekelompok pendekar telah mengambil alih wilayah itu.Namun keempat orang itu tidak segera pergi.Mereka justru membangun rumah.Rumah itu sederhana. Dindingnya dari papan kayu, atapnya dari bambu dan jerami, sementara bagian depannya menghadap ke lembah tempat dua sungai bertemu.Wu Keming tentu saja mengaku sebagai tukang bangunan.Sayangnya, Li Huatang tidak percaya.“Itu miring.”Wu Keming memandangi tiang yang baru dipasangnya.“Sedikit.”“Bukan sedikit.”Wu Keming mencabutnya.“Kalau begitu kita pasang lagi.”Tidak jauh dari sana, Borise sedang membawa sebatang kayu besar yang bahkan harus diangkat dua orang penduduk.“Ke kanan!” teriak Zhushu.Borise berjalan ke kiri.“Bukan! Kanan!”Borise berhenti.“Ini kananku.”Zhushu memijat dah
Malam semakin dalam.Api unggun di tengah lereng Pegunungan Dua Sungai tinggal menyisakan bara merah. Angin gunung berembus pelan, membawa suara gemericik dua sungai yang mengalir jauh di bawah sana.Wu Keming duduk bersandar pada sebatang pohon sambil memegang kecapi.Di hadapannya, Li Huatang masih menggambar sesuatu di atas tanah menggunakan ranting.“Kalau formasi pedang Li dibuat seperti perangkap Borise,” katanya perlahan, “maka lawan tidak perlu dipaksa masuk. Kita justru membuat mereka merasa menemukan jalan keluar.”Wu Keming mengangguk.“Benar.”“Lalu ketika mereka mengejar jalan itu…”“Mereka masuk lebih dalam.”Li Huatang menatap gambar di tanah.Matanya perlahan berbinar.“Menarik.”Wu Keming tersenyum.“Perguruan Pedang Wu juga punya formasi yang membuat lawan terus bergerak mengikuti arah pedang. Tapi formasi Borise berbeda. Ia membuat lawan percaya bahwa mereka sedang mengejar kita.”Li Huatang mengangguk.“Kalau begitu, mungkin aku bisa menggabungkan keduanya.”Dari s
Zhushu tersenyum. "Aku mau bermain." Ia mulai mencampurkan sedikit racun milik bandit dengan ramuan penawarnya. Lalu mencampurnya lagi dengan bahan lain. "Kalau dia bisa membuat racun seperti ini..." "...aku ingin tahu seberapa jauh dia mengerti." Borise menatapnya. "Shushu." "Hm?" "Jangan terlalu senang." Zhushu tersenyum lebar. "Justru aku senang." "Sudah lama tidak menemukan orang yang suka bermain racun." Wu Keming menatap Borise. "Menurutmu siapa yang lebih berbahaya?" Borise berpikir sejenak. Lalu menunjuk Zhushu. "Dia." Wu Keming langsung mengangguk. "Aku setuju." Zhushu mendengar itu. Plak! Dua jitakan mendarat hampir bersamaan. "Aduh!" "Aduh!" Li Huatang yang melihatnya hanya bisa tertawa. Di tengah pegunungan yang penuh misteri... mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada harta karun. Sebuah perangkap. Sebuah prinsip baru. Dan seorang pembuat racun yang entah siapa... yang ternyata cukup berani untuk menantang seorang tabib Miao







