MasukSebuah kehangatan perlahan menyebar ke seluruh tubuh Wu Keming.
Bukan hangat karena arak. Melainkan hangat yang lembut, mengalir dari perut hingga ke ujung-ujung jarinya. Ia mengernyit pelan. Kelopak matanya terbuka sedikit demi sedikit. "...Hah?" Pandangan yang semula buram mulai kembali jelas. Di atas kepalanya, dedaunan bergoyang pelan diterpa angin. Burung-burung kecil berkicau di antara ranting-ranting pohon. Wu Keming mengusap dahinya. "Aneh..." "Kepalaku tidak pusing." Ia menghela napas panjang. Biasanya setelah mabuk berat, kepalanya akan terasa seperti dipukul palu. Namun kali ini tidak. Tubuhnya justru terasa ringan. Perutnya pun tidak lagi sedingin kemarin. "Grrr..." Suara perutnya tiba-tiba berbunyi keras. Wu Keming menepuk perutnya. "Iya... iya..." "Aku juga tahu kau lapar." Baru saat itulah hidungnya mencium aroma roti kering. Di samping kepalanya terdapat beberapa potong roti yang dibungkus kain sederhana. Matanya langsung berbinar. "Wah..." "Rezeki turun dari langit?" Namun sebelum menyentuh roti itu, ia melihat dua lembar kertas terselip di bawah sebuah batu kecil. Wu Keming mengambilnya perlahan. Lembar pertama bertuliskan: «Makanlah setelah bangun. Tubuhmu membutuhkan tenaga.» Wu Keming tersenyum kecil. Lalu membuka lembar kedua. «Namaku Li Huatang dari Perguruan Pedang Li. Jika suatu hari kau membutuhkan pertolongan, datanglah ke Gunung Li. Semoga kita bertemu kembali dalam keadaan yang lebih baik.» Wu Keming terdiam cukup lama. Ia memandang langit. Kemudian kembali melihat kedua surat itu. Tanpa sadar... senyumnya berubah jauh lebih hangat. "Masih ada..." "...gadis selugu dan sebaik ini di dunia." Ia menggigit roti kering itu perlahan. Rasanya biasa saja. Bahkan cukup keras. Namun entah mengapa... baginya roti itu terasa jauh lebih nikmat daripada hidangan mewah mana pun. Wu Keming menghabiskan semuanya tanpa tersisa. Setelah itu ia menepuk-nepuk perutnya dengan puas. "Terima kasih, Nona Li." "Aku tidak tahu seperti apa wajahmu..." "...tapi semoga kita bisa bertemu lagi." Ia memandangi kedua surat itu sekali lagi sebelum menyimpannya dengan hati-hati ke dalam bajunya. "Kalau ada orang sebaik dirimu..." "...kurasa aku juga harus belajar memperlakukan orang lain lebih baik." Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Perguruan Pedang Wu... Wu Keming merasa hatinya sedikit lebih ringan. --- Setelah perutnya kenyang... langkah Wu Keming kembali ringan. Ia berjalan memasuki hutan sambil bersenandung kecil. Kadang memetik daun. Kadang berbicara dengan burung. Kadang mengomentari bentuk awan. "Yang itu mirip kendi arak." "Yang itu..." "Mirip Guru sedang marah." Ia tertawa sendiri. Tanpa tujuan. Tanpa peta. Hanya mengikuti jalan yang menurutnya menarik. Beberapa jam kemudian... Wu Keming menggaruk kepalanya. "Aneh." "Hutan ini tadi sudah kulewati, ya?" Ia menoleh ke kanan. Lalu ke kiri. "Aku..." "...tersesat?" Ia menghela napas panjang. "Sudahlah." "Kalau memang tersesat..." "...berarti jalannya memang ingin kutemui." Beberapa langkah kemudian... ia mencium bau asap. "Asap?" Wu Keming berjalan mengikuti arah datangnya bau itu. Semakin dekat. Suara tawa kasar mulai terdengar. Disusul suara cambuk. Lalu... tangisan. Wu Keming berhenti di balik semak. Di hadapannya berdiri sebuah perkemahan besar. Puluhan tenda memenuhi sebuah lembah kecil. Orang-orang bertubuh kekar hilir mudik sambil membawa golok, tombak, dan busur. Beberapa kandang kayu berdiri di sudut perkemahan. Di dalamnya... puluhan orang dikurung. Ada pedagang. Pengembara. Anak-anak. Wanita. Bahkan beberapa pendekar. Wu Keming menghela napas pelan. "Oh..." "Sepertinya aku salah jalan." Tatapannya kemudian berhenti pada sebuah kandang terbesar. Di sana duduk seorang wanita tua berjubah putih. Tubuhnya penuh luka. Wajahnya pucat. Bekas darah mengering di sudut bibirnya. Di belakangnya duduk belasan murid perempuan. Sebagian masih sangat muda. Sebagian lagi tampak lebih dewasa. Mereka semua terluka. Beberapa bahkan kesulitan duduk karena racun yang mulai menyebar. Wanita tua itu perlahan membuka matanya. Pandangan kaburnya jatuh kepada Wu Keming. Sesaat... ia terdiam. Pemuda itu tampak berantakan. Pakaiannya lusuh. Rambutnya acak-acakan. Di pinggangnya hanya tergantung pedang tua berkarat. Namun... entah mengapa... instingnya sebagai seorang pendekar senior mengatakan hal yang berbeda. "Pemuda ini..." "Dia sengaja menyembunyikan dirinya..." "Getaran itu..." "Aku tidak bisa melihat kedalaman kekuatannya..." Wanita tua itu menarik napas pelan. "Anak muda..." Wu Keming menoleh. "Apa?" "Tolong..." "...selamatkan murid-muridku." Wu Keming berkedip. Wanita tua itu melanjutkan dengan suara lemah. "Mereka membutuhkanmu." "Biarkan aku tetap di sini." "Aku akan menjadi umpan..." "...agar mereka bisa melarikan diri." Wu Keming mengangguk pelan. Lalu... ia menoleh ke arah lain. Matanya berbinar. "Nah!" "Akhirnya ketemu." Di atas sebuah meja kayu... berdiri beberapa botol arak. Wu Keming berjalan ke sana seolah tidak mendengar apa pun. Membuka salah satu botol. "Mantap..." Gluk. Gluk. Gluk. Ia meneguk arak itu sampai hampir setengah botol. Kemudian duduk santai. Di samping botol terdapat ayam panggang, daging rebus, dan beberapa mangkuk nasi. Wu Keming mengambil sumpit. "Mumpung sudah disiapkan." "Sayang kalau dingin." Wanita tua itu hanya mampu menatap dengan bingung. "Apa..." "Dia salah satu bandit?" Tidak. Pakaiannya jelas berbeda. Wajahnya juga bukan wajah seorang penjahat. Namun... mengapa pemuda ini malah makan dengan tenang? Apakah ia tidak mendengar permintaannya? Atau... ia memang tidak berniat menolong?Dentuman genderang perang menggema di perbatasan utara.Debu tebal membumbung di atas padang luas. Pasukan bangsa utara terus mendesak maju, sementara barisan pertahanan kerajaan mulai kehilangan kekuatan.Di tengah pertempuran, Li Dihua mengayunkan pedangnya dengan anggun namun mematikan. Setiap gerakannya berhasil menahan serangan para prajurit berkuda yang berusaha menerobos barisan.“Jangan biarkan mereka menembus pertahanan!” serunya.Di sisi lain, para pendekar Jianghu juga bertarung tanpa henti. Moxian memimpin para murid Mohua yang ikut membantu, sementara Wu Jian bersama pendekar Pedang Wu menjaga sisi pertahanan yang mulai rapuh.Namun, pasukan utara seolah tidak mengenal lelah.Para panglima mereka terus memimpin serangan dengan semangat tinggi. Bahkan ketika beberapa prajurit terluka, barisan mereka tetap bergerak maju.Di belakang pasukan, Kubai Khan berdiri di atas kudanya, mengamati medan perang.Kehadirannya membuat para panglima utara semakin bersemangat.“Yang Mulia
Suasana ibu kota mendadak berubah muram ketika sebuah rombongan memasuki gerbang istana.Qiu Lan berjalan dengan wajah pucat. Di belakangnya, para pengawal membawa sebuah tandu tertutup kain putih.Jenazah Shen Lang.Raja segera memanggil para pejabat penting untuk menghadiri sidang darurat. Di aula utama, Perdana Menteri Chou Ye, He Ming, Menteri Perang Lu Wenqiao, dan Menteri Keuangan Shen Yizhong telah hadir.Qiu Lan berlutut di hadapan takhta.“Yang Mulia, Shen Lang telah gugur. Ia menjadi korban kekejaman orang-orang wilayah barat. Mereka juga bekerja sama dengan orang-orang Miao yang menggunakan racun untuk menyerang para jenderal kerajaan.”Aula mendadak gaduh.Qiu Lan melanjutkan laporannya.“Kelompok-kelompok tersebut bukan sekadar pemberontak biasa. Mereka adalah sekte iblis jahat yang mengancam keamanan kerajaan. Jika dibiarkan, mereka akan semakin berani melawan kekuasaan istana.”Chou Ye mengerutkan kening.“Apakah bukti keterlibatan orang-orang Miao telah dipastikan?”“S
Malam itu, di sebuah tempat yang jauh dari perkemahan Wu Keming, Qiu Lan berdiri memandangi Shen Lang yang terbaring lemah.Racun dari jarum perak Zhushu masih membuat tubuh Shen Lang kesakitan. Wajahnya pucat, napasnya tersengal, sementara Qi dalam tubuhnya terus bergejolak.“Qiu Lan… apa yang sebenarnya terjadi?” Shen Lang bertanya dengan susah payah.Qiu Lan mengepalkan tangan.Ia teringat perintah Qiu Hui.Bunuh Shen Lang.Perintah itu terus terngiang di kepalanya. Qiu Lan tahu, jika ia membiarkan Shen Lang hidup, kakaknya tidak akan pernah memaafkannya. Namun, membunuh seseorang yang sudah tak berdaya juga membuat hatinya gelisah.“Maafkan aku.”Qiu Lan mengeluarkan sebotol kecil racun.Racun Tulang Hitam.Ia menuangkannya ke mulut Shen Lang. Tubuh pria itu langsung menegang. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya menggeliat dan merintih.Qiu Lan memalingkan wajah. Tangannya gemetar.Ia tidak berani melihat terlalu lama.Beberapa saat kemudian, Shen Lang terkulai. Qi
Pagi itu, suasana perkemahan Wu Keming mulai ramai.Di dalam tenda perawatan, empat orang dari utara akhirnya membuka mata.Putri Altani mengerjap beberapa kali. Tubuhnya masih terasa lemah setelah pertarungan sebelumnya. Ketika mengingat bagaimana Wu Keming berhasil mengalahkannya, wajahnya sedikit memanas.Di ranjang sebelah, Batu terbaring dengan tubuh dibalut perban begitu rapat hingga hampir seluruh badannya tertutup. Hanya kedua mata dan hidungnya yang terlihat.“Panglima Batu…” Altani menatapnya prihatin.Batu menggerakkan matanya.“Aku masih hidup.”“Syukurlah.”“Namun, siapa yang membalutku seperti ini?”Zhushu yang sedang merapikan obat menjawab santai, “Agar kau tidak bergerak dan merusak lukamu sendiri.”Batu terdiam.Ketika mereka keluar dari tenda, Wu Keming, Borise, dan Zhushu sedang menikmati sarapan.Altani segera menghampiri Wu Keming. Tatapannya langsung tertuju pada bahu pria itu yang masih dibalut.“Bagaimana keadaan bahumu?”Wu Keming tersenyum santai.“Sudah jau
Laporan dari wilayah barat akhirnya tiba di istana.Shen Lang menuliskan bahwa pemeriksaan wilayah telah selesai dilakukan. Ia mengklaim sejumlah perguruan Jianghu masih menunjukkan sikap membangkang, sementara penduduk Miao dianggap tidak cukup patuh terhadap pemerintahan kerajaan.Namun, laporan itu tidak menyebutkan penghinaan yang dialaminya di Desa Miao.Di dalam aula istana, Chou Ye membaca dokumen tersebut dengan wajah muram.“Shen Lang kembali menyebut wilayah barat tidak stabil.”Pei Rong mengamati laporan itu.“Informasi ini belum dapat dipastikan. Laporan dari pengawas daerah berbeda dengan yang disampaikan Shen Lang.”Raja menghela napas berat.“Utara juga terus mengirimkan kabar buruk. Berapa lama keadaan seperti ini akan berlangsung?”Tidak ada pejabat yang mampu memberikan jawaban pasti.---Di perbatasan utara, keadaan semakin kacau.Kelompok-kelompok pasukan dari bangsa padang rumput terus berusaha menerobos wilayah Kerajaan Tengah. Pertempuran kecil terjadi di bebera
Desa Miao di wilayah barat tampak tenang di bawah sinar matahari pagi.Penduduknya menjalani kehidupan sederhana. Sebagian bekerja di ladang, sebagian meracik obat-obatan tradisional, sementara anak-anak bermain di antara rumah kayu.Namun, ketenangan itu segera terusik ketika rombongan Shen Lang memasuki desa.Shen Lang turun dari kudanya dengan wajah angkuh. Ia memandang rumah-rumah sederhana dan penduduk yang segera menundukkan kepala ketika melihat rombongan pejabat kerajaan.“Jadi, inilah desa Miao yang terkenal itu?” katanya sambil tertawa kecil. “Ternyata jauh lebih miskin daripada yang kubayangkan.”Qiu Lan berdiri di belakangnya. Ia sebenarnya sudah lelah dengan sikap Shen Lang yang semakin hari semakin menyebalkan.Seorang tetua desa maju menyambut mereka.“Selamat datang, Tuan. Apakah ada keperluan kerajaan di desa kami?”Shen Lang tidak menjawab dengan sopan.“Kerajaan sedang memeriksa wilayah barat. Kalian harus memberikan laporan mengenai penduduk, hasil bumi, dan kegiat







