Share

Menara di Balik Bukit

Author: Ocyobot
last update publish date: 2026-09-30 13:24:22

Puluhan bandit menyerbu bersamaan.

Wu Keming menghela napas.

“Kenapa setiap kali kita berjalan santai selalu ada orang yang ingin memukul kita?”

Li Huatang menebas satu pedang.

“Karena kau selalu memilih jalan yang aneh.”

“Ini bukan salahku.”

“Siapa yang membawa kita ke sini?”

Wu Keming terdiam.

“Anggap saja takdir.”

Pedang Naga Putih bergerak.

Tubuh Wu Keming ikut bergoyang seperti orang mabuk.

Satu bandit menyerang dari kiri.

Ia menghindar.

Bandit kedua datang dari kanan.

Ia berputar.

Pedangn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Kemarahan yang Tak Bersuarakan

    Pagi berikutnya, mereka tiba di balik bukit.Menara batu itu ternyata bukan bangunan tunggal.Di belakangnya terdapat sebuah kompleks besar yang sebagian tertanam di lereng.Dindingnya tinggi.Pintunya tebal.Dan beberapa bangunan di dalamnya tampak baru.Wu Keming berdiri di depan gerbang.“Tempat ini terlalu besar untuk sekadar gudang obat.”Zhushu tidak menjawab.Ia hanya mencium udara.Wajahnya perlahan berubah.“Ada bau obat.”Kemudian...“Ada bau lain.”Mereka masuk.Semakin jauh berjalan, semakin jelas aroma yang tercium.Obat.Racun.Dan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.Zhushu berhenti.Tubuhnya gemetar.Di salah satu ruangan, mereka menemukan beberapa gadis Miao yang dikurung.Sebagian masih hidup.Ketakutan.Diam.Tidak jauh dari sana terdapat ruangan lain.Zhushu membuka pintunya.Kemudian langsung menutup mulut.Di dalam terdapat sisa-sisa jasad manusia.Beberapa di antaranya jelas berasal dari suku Miao.Zhushu berdiri kaku.Matanya memerah.Ia mengenali pakaian.Menge

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Menara di Balik Bukit

    Puluhan bandit menyerbu bersamaan.Wu Keming menghela napas.“Kenapa setiap kali kita berjalan santai selalu ada orang yang ingin memukul kita?”Li Huatang menebas satu pedang.“Karena kau selalu memilih jalan yang aneh.”“Ini bukan salahku.”“Siapa yang membawa kita ke sini?”Wu Keming terdiam.“Anggap saja takdir.”Pedang Naga Putih bergerak.Tubuh Wu Keming ikut bergoyang seperti orang mabuk.Satu bandit menyerang dari kiri.Ia menghindar.Bandit kedua datang dari kanan.Ia berputar.Pedangnya meluncur dan menghantam gagang pedang lawan.Trang!Pedang terlempar.Di sisi lain, Li Huatang bergerak jauh lebih rapi.Pedang Giok Bulan menari seperti kelopak bunga.Satu demi satu senjata para bandit jatuh.Borise bahkan tidak perlu mengeluarkan senjatanya.Ia menangkap seorang bandit yang melompat ke arahnya.Kemudian meletakkannya kembali ke tanah.“Jangan.”Bandit itu menatapnya.“Kenapa?”“Tidak sopan menyerang orang yang sedang berdiri.”Bandit itu bingung.“Bukankah kau sedang berdi

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Jalan yang Salah, Masalah yang Benar

    Perjalanan Wu Keming, Li Huatang, Borise, dan Zhushu seharusnya menuju jalur perdagangan di sebelah barat.Seharusnya.Masalahnya...Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu arah.Wu Keming berjalan paling depan dengan penuh keyakinan.Li Huatang mengikutinya dengan wajah semakin gelap.Borise membawa barang-barang mereka.Zhushu duduk di atas kereta kecil yang mereka pinjam dari seorang pedagang.Setelah berjalan hampir setengah hari, Li Huatang akhirnya bertanya,“Wu Keming.”“Hm?”“Kita menuju mana?”“Barat.”“Dari mana kau tahu?”Wu Keming menunjuk matahari.“Lihat.”Li Huatang menatap matahari.Kemudian menatap Wu Keming.“Bukankah matahari bergerak?”Wu Keming terdiam.Borise menutup mulutnya.Zhushu tertawa.“Dia benar-benar tidak tahu.”Wu Keming menggaruk kepala.“Aku tahu.”Li Huatang menyipitkan mata.“Lalu?”“Aku hanya ingin memastikan kalian memperhatikan.”Li Huatang mengangkat sarung pedangnya.Wu Keming langsung berjalan lebih cepat.---Menjelang sore, mereka menem

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Awan yang Terus Bergerak

    Tidak jauh dari ibu kota, di sebuah wilayah yang ramai dilalui pedagang dan pengembara, berdiri sebuah bangunan yang pada awalnya sama sekali tidak menarik perhatian.Sebuah papan kayu tergantung di depan pintunya.Paviliun Awan Patah.Tidak ada gerbang megah.Tidak ada penjaga bersenjata lengkap.Namun orang-orang yang mengetahui tempat itu memahami satu hal.Jika ingin mengetahui sesuatu yang sedang terjadi di sekitar ibu kota, Paviliun Awan Patah mungkin memiliki jawabannya.Huang Liang membangun tempat itu dari kecil.Awalnya hanya beberapa orang.Seorang pembawa pesan.Seorang pedagang yang pandai mengingat wajah.Seorang pengembara yang mengenal banyak jalan.Seorang pemuda yang memiliki kemampuan membaca dan menulis dengan cepat.Huang Liang tidak peduli dari mana mereka berasal.Ia hanya melihat kemampuan mereka.“Kalau kau bisa mengingat wajah orang setelah melihatnya sekali, kau cocok menjadi pengamat.”“Kau hafal jalan-jalan kecil di sekitar ibu kota?”“Bagus. Kemampuanmu b

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Pedang yang Tak Pernah Tumpul

    Jauh dari Perguruan Bangau Hijau, di sebuah kediaman yang tersembunyi di antara perbukitan, Qiu Hui duduk diam di ruang utama.Luka di wajahnya masih belum sepenuhnya pulih.Di hadapannya, Yangxiang menuangkan teh.Perut perempuan itu sudah mulai membesar.Kehamilannya semakin terlihat.Qiu Hui memandangnya.“Kau harus lebih banyak beristirahat.”Yangxiang tersenyum kecil.“Aku sedang hamil, bukan sakit.”“Aku serius.”“Aku juga.”Yangxiang meletakkan cangkir teh di hadapannya.“Selama aku masih bisa berjalan, aku tidak ingin hanya duduk sepanjang hari.”Qiu Hui menghela napas.Sebelum ia sempat menjawab, terdengar suara langkah kecil dari luar.“Papa!”Seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun berlari masuk.Wajah Qiu Hui langsung berubah.Dingin yang biasanya melekat pada wajahnya lenyap.“Lienshen.”Ia membuka kedua tangannya.Anak itu langsung memeluknya.Qiu Hui mengangkat tubuh kecil itu ke udara.Qiu Lienshen tertawa riang.“Papa sudah pulang!”“Ya.”Qiu Hui mencium kep

  • Para Pendekar dari Sungai Kembar   Pergi ke Arah yang Berbeda

    Wu Keming berdiri cukup lama di depan bangunan baru itu.Namun kali ini ia tidak bergerak.Tidak mencoba membuka pintu.Tidak mencoba masuk.Bahkan tidak bertanya lagi kepada Qiu Lan.Li Huatang memperhatikannya.“Kenapa diam?”Wu Keming tersenyum tipis.“Karena kalau aku bertindak gegabah sekarang, masalahnya bisa menjadi jauh lebih besar.”Huang Liang mengangguk.“Itu keputusan yang tepat.”Wu Keming menatap halaman Perguruan Bangau Hijau.Para murid berlatih bersama.Tidak ada pertengkaran.Tidak ada kelompok yang saling mencurigai.Semuanya terlihat teratur.Terlalu teratur.“Perguruan Pedang Wu dulu jauh lebih besar dari tempat ini,” kata Wu Keming perlahan.Li Huatang menatapnya.“Lalu?”“Guru belum pergi saja sudah ada murid yang saling berebut.”Wu Keming tertawa kecil.“Yang satu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status