LOGINTekanan golok Hao Huma semakin kuat.Kedua tangannya menggenggam gagang golok dengan erat. Qi yang dahsyat terus mengalir dari tubuhnya, mendorong Pedang Naga Putih ke bawah sedikit demi sedikit.Tanah di bawah kaki Wu Keming semakin retak. Kedua lututnya menahan tekanan yang luar biasa, sementara pedang di tangannya bergetar akibat benturan tenaga kedua pendekar.Namun, aliran qi Wu Keming tetap bertahan.Tidak ada tanda-tanda tenaganya akan habis. Ia mengalirkan qi dengan lembut, menyesuaikan diri terhadap tekanan yang terus meningkat, seolah-olah tubuhnya memiliki sumber tenaga yang tidak pernah kering.Di tengah benturan itu, Wu Keming masih sempat menyeringai.“Ketua Hao, seperti yang kukatakan sebelumnya. Kau memang kucing manis.”Hao Huma menggeram. “Masih sempat bicara?!”“Golok liarmu memang menakutkan, tetapi kau tidak tega melukai orang. Wajahmu boleh garang, tetapi hatimu belum tentu seburuk itu.”Wu Keming sedikit memiringkan kepala.“Aku yakin kau menjadi seperti ini kar
Hao Huma berdiri tegak di tengah lapangan. Wajahnya yang biasanya garang kini berubah serius. Ia tidak lagi terpancing oleh ejekan Wu Keming, bahkan tidak membalas ketika pria itu kembali mengingatkan soal arak.Semua orang menahan napas.Dua jurus sebelumnya sudah cukup membuat para pendekar menyadari betapa hebatnya kemampuan Hao Huma. Tebasan brutal dan langkah secepat bayangan itu bukanlah sesuatu yang bisa ditandingi sembarang orang.Namun, di hadapan Wu Keming, semua kehebatan tersebut seolah menjadi biasa saja.Wu Keming bukan pendekar terkenal di kalangan luas. Bagi banyak orang, ia hanyalah seorang pemabuk yang gemar membuat keributan, bermain-main, dan menghilang ketika orang lain sedang berlatih serius.Hanya mereka yang berasal dari Perguruan Pedang Wu yang benar-benar mengenalnya.Mereka tahu bahwa di balik sikap malas dan senyum jahilnya, tersembunyi seseorang yang mampu memahami pertarungan dengan cara yang berbeda dari kebanyakan pendekar.Hao Huma menarik napas dalam-
Hao Huma berdiri di tengah aula dengan golok besar di tangannya. Tatapannya tajam, sementara Wu Keming masih sibuk meneguk arak sebelum akhirnya meletakkan kendi di atas meja.“Sudah siap?” tanya Hao Huma.Wu Keming mengusap mulutnya. “Siap. Tapi ingat, hanya tiga jurus. Kalau kau mengeluarkan jurus keempat, traktiran arakmu akan bertambah.”“Banyak bicara!”Hao Huma meraung dan mengayunkan goloknya.Jurus pertama, Tebasan Cakar Harimau Hantu!Golok berat itu menyapu dari segala penjuru. Tebasannya brutal, satu demi satu datang seperti cakar harimau yang menerkam mangsa. Anehnya, senjata sebesar itu tampak begitu ringan di tangan Hao Huma. Setiap ayunan menghasilkan tekanan angin yang membuat pakaian para penonton berkibar.Wu Keming tidak menghunus pedangnya.Ia hanya menggeser kaki, memiringkan tubuh, lalu melompat ringan menghindari setiap tebasan.Ketika golok menyapu rendah, Wu Keming sudah berada di atasnya. Saat tebasan berikutnya mengarah ke pinggang, tubuhnya berputar di udar
Aula pertemuan Gunung Li semakin gaduh.Hao Huma mengayunkan lengannya, membuat dua pendekar terpental hingga menabrak meja di belakang mereka. Seorang lainnya mencoba menyerang dari samping, tetapi sebuah tendangan menghantam perutnya dan membuatnya terlempar mundur.Dalam waktu singkat, belasan pendekar telah mengepung satu orang.Namun, tak seorang pun mampu mendekat dengan mudah.Hao Huma bertubuh besar, tetapi gerakannya sama sekali tidak lamban. Pukulan dan tendangannya datang silih berganti. Setiap orang yang mencoba menerobos pertahanannya selalu berakhir terlempar atau terpaksa mundur sambil menahan sakit.“Dasar bandit! Berani sekali kau membuat keributan di sini!”“Kalau ingin menangkapku, maju saja!” raung Hao Huma.Ia memutar tubuh, menyapu kaki dua orang sekaligus, lalu mendorong seorang pendekar hingga terhuyung menabrak kawannya.Di sisi lain aula, Wu Keming justru terlihat sangat menikmati pemandangan tersebut.Ia jongkok di atas meja, memegang kendi arak sambil meneg
“Kalau kalian ingin mengetahui mengapa bandit semakin banyak, sebaiknya kalian melihat keadaan wilayah barat terlebih dahulu!”Suara berat seorang pendekar menggema di tengah pertemuan.Seorang ketua dari wilayah barat berdiri dengan wajah muram.“Bukan hanya para ketua dari wilayah tengah dan timur yang menghilang dalam ekspedisi itu. Beberapa pemimpin kami juga tidak pernah kembali. Banyak perguruan kehilangan pemimpin, sebagian terpaksa ditutup, dan wilayah yang dahulu memiliki penjaga kini tidak lagi memiliki orang yang mampu mengatur keadaan.”Ia mengepalkan tangan.“Ketika perguruan kehilangan pemimpinnya, siapa yang menjaga desa? Siapa yang melindungi jalur perdagangan? Kekacauan menyebar, dan para bandit memanfaatkan kesempatan itu. Lalu kalian datang ke sini dan menyalahkan kami karena bandit semakin banyak?”Beberapa pendekar barat mengangguk keras.“Benar! Kami juga kehilangan saudara seperguruan!”“Banyak keluarga tidak tahu nasib anggota mereka yang pergi dalam ekspedisi!
Pertemuan Jianghu yang semula berlangsung tenang perlahan berubah ketika beberapa ketua perguruan dari wilayah tengah mulai mengangkat persoalan baru.“Wilayah barat semakin tidak terkendali,” ujar seorang ketua berjubah cokelat. “Bandit merampok rombongan pedagang, jalur perdagangan terganggu, dan beberapa desa kehilangan persediaan makanan. Jika keadaan ini dibiarkan, bukan hanya wilayah barat yang akan menderita.”Seorang ketua lain segera menyambung, menyebutkan sejumlah perampokan yang terjadi di jalur pegunungan.Beberapa orang mengangguk setuju.Namun, ketika seorang pemimpin perguruan hendak membicarakan serangan terhadap desa-desa suku Miao, suaranya segera dipotong.“Persoalan bandit lebih mendesak. Kita harus membahas ancaman yang berdampak pada seluruh Jianghu terlebih dahulu.”“Namun, ada bukti bahwa beberapa perguruan terlibat dalam penyerangan desa Miao—”“Kita belum memiliki bukti yang cukup!”Perdebatan itu berakhir sebelum persoalan tersebut sempat dibahas lebih jauh







