Share

Para Pria Bejat di Kota Kumuh
Para Pria Bejat di Kota Kumuh
Author: Richy

Bab 1

Author: Richy
Namaku Tiara Andira, bunga kampus di kampus seni.

Sebelum lulus, aku bersiap untuk magang dan menemukan sebuah instansi pemerintah yang hanya memintaku mengantar barang-barang logistik setiap hari.

Aku mengira ini pekerjaan yang sangat santai, apalagi berada di naungan pemerintah dengan imbalan yang lumayan, jadi aku langsung menyetujuinya tanpa berpikir panjang.

Namun, setelah tiba di lokasi, aku baru tahu, aku ditugaskan mengantar alat kontrasepsi ke permukiman kumuh.

Orang-orang di sini berpikiran sederhana, tapi bertubuh sangat perkasa.

Atasanku memberikan pesan dengan makna tersirat padaku.

"Pekerjaan ini penting sekali. Kalau nggak biarkan mereka pakai pengaman dengan benar, penyakit seperti AIDS dan sifilis akan sangat mudah berkembang."

Memikirkan betapa mulianya tugas pekerjaan ini, aku pun memberanikan diri masuk ke permukiman kumuh.

Awalnya aku mengira tempat ini berisi orang-orang penting dan pejabat, jadi aku berdandan dengan sangat mencolok.

Aku mengenakan pakaian kerja dengan rok pendek kulit yang hanya menutupi panggul, membungkus kedua belah bokongku yang sangat kencang dan padat.

Ditambah lagi dengan paduan kaus kaki jaring hitam dan sepatu hak tinggi, begitu aku melangkah ke permukiman kumuh ini, pasang demi pasang mata langsung menatapku tanpa berkedip.

Tatapan itu membuat sekujur tubuhku merinding.

Aku berjalan menuju rumah penghuni pertama. Bangunan ini hanya berupa tenda sederhana, perabotan di dalamnya cuma ada satu tempat tidur, dengan kipas angin sebagai satu-satunya alat elektronik.

"Halo, apa ada orang?" Aku berdiri di depan pintu, tetapi kakiku tidak berani melangkah masuk.

Setelah beberapa saat, terdengar suara erangan dari dalam, lalu seorang pria berkata.

"Siapa, ya?"

"Aku datang untuk antar alat kontrasepsi buat kalian," teriakku dari depan pintu ke arah dalam.

"Kalau begitu, masuk aja."

Aku terpaksa memberanikan diri untuk masuk.

Namun, begitu melangkah ke dalam, aku hampir terkejut setengah mati. Pasangan suami istri miskin ini sedang bermesraan di atas tempat tidur.

Pantas atasan memintaku untuk terus mengantarkan benda seperti ini, ternyata kelompok orang miskin ini benar-benar bisa melakukannya kapan saja tanpa kenal waktu.

Begitu melihatku, pria itu bahkan tidak memakai pakaian. Dia langsung turun dari tubuh istrinya dan berjalan lurus ke hadapanku.

Ukuran milik pria Gobar ini benar-benar sangat besar. Benda itu terayun-ayun saat dia berjalan, terpampang jelas di depan mataku tanpa rasa malu sedikit pun.

Dia mengulurkan tangan untuk menerima alat kontrasepsi yang kuberikan, tapi matanya menatap lurus ke arah dadaku yang busung.

"Orang baru, ya? Lebih muda daripada yang terakhir kali."

Tatapannya membuat sekujur tubuhku merinding ketakutan, khawatir dia akan berbuat nekat padaku.

Terutama dalam kondisi seperti sekarang, kalau gairah liarnya mendadak terpancing, dia pasti akan melampiaskannya padaku tanpa ampun.

Aku pernah pacaran dengan beberapa pria, tapi tidak ada yang seunggul dia. Aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki ukuran sebesar itu, mungkin akan terasa sangat nikmat.

Selesai menyerahkan barang itu, aku bergegas meninggalkan tempat tersebut.

Bagaimanapun juga, aku masih seorang gadis polos, tidak ingin menjadi alat pemuas nafsu mereka.

Aku melanjutkan perjalanan untuk mengantar barang ke rumah penghuni berikutnya.

Namun, hal yang tidak aku duga adalah rumah ini hanya dihuni oleh seorang pria.

Saat aku tiba di rumahnya, dia sedang bersantai sambil memainkan ukurannya yang besar.

Benda itu berdiri sangat tinggi, bahkan lebih tebal dan besar dari milik pria sebelumnya!

Pemandangan itu membuat napasku tertahan. Apakah ini masih bisa disebut manusia? Ukurannya bahkan lebih besar dari milik sapi!

Begitu melihat kedatanganku, matanya langsung berbinar.

Bagaimanapun juga, wanita muda dan cantik sepertiku sangat langka di permukiman kumuh ini.

Orang-orang ini pada dasarnya sudah lama tertekan, jadi begitu melihatku, mereka sulit menahan gairah liar mereka.

Dia hampir melompat dari tempat tidur dan menerjang ke hadapanku.

"Cewek cantik, mau coba punyaku nggak? Dijamin bakal bikin kamu nikmat."

Benda menyerupai cambuk sapi miliknya hanya berjarak satu sentimeter dariku, bahkan aku bisa merasakan hawa panas yang terpancar darinya.

Hatiku sangat panik dan ketakutan.

Dengan gemetar, aku mengambil alat kontrasepsi dari dalam tas dan menyerahkannya kepada pria itu.

"A ... aku cuma mengantarkan barang buat kamu, bukan untuk melakukan hal seperti itu."

Dia mengambil alat kontrasepsi itu, membuangnya begitu saja ke lantai, lalu bergumam.

"Aku nggak punya istri, buat apa benda begini? Yang paling aku butuhkan sekarang itu wanita. Cepat kirimkan seorang wanita buat aku!"

Kakiku gemetar karena ketakutan, jadi aku bergegas menjelaskan.

"Aku cuma petugas pengantar barang, masalah itu bukan wewenangku."

Dia pun emosi, lalu tiba-tiba memelukku dan melempar tubuhku ke atas tempat tidur.

"Aku nggak peduli! Kamu itu wanita yang mereka kirimkan buat aku. Wajahmu mirip boneka, cantik banget."

Aku sangat ketakutan hingga hampir menangis, berusaha meronta dengan sekuat tenaga.

Kedua tangannya menyentak dan merobek bajuku hingga beberapa kancingnya terlepas, memperlihatkan pakaian dalam berenda yang kukenakan.

"Wah, ternyata renda hitam. Sekali lihat aja udah kelihatan kalau kamu ini wanita nakal."

Rasa takut yang sangat besar menjalar ke seluruh tubuhku, membuatku benar-benar berada di ambang tangis.

Apakah aku benar-benar akan diperkosa oleh pria ini?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Para Pria Bejat di Kota Kumuh   Bab 7

    Dia menatapku dengan raut puas."Coba pikir, buat apa kamu nekat jauh-jauh datang ke sini? Bukan cuma nyari penyakit namanya?""Cewek cantik sepertimu, kasih sekali aja ke aku juga nggak bakal rugi. Kenapa harus semenyusahkan ini?"Aku berusaha meronta sekuat tenaga, tapi dia malah memukulku tanpa ampun.Rasa sakit yang luar biasa membuatku pingsan, hampir kehilangan kesadaran.Tubuhku terkapar tidak berdaya.Aku tidak tahu bagaimana caranya aku bisa merangkak keluar dari sana.Dengan kepala yang bersimbah darah, aku merangkak sampai ke tepi jalan raya. Seorang pria menghampiriku dan bertanya apa yang sudah terjadi.Aku takut kalau dia adalah kawanannya Chandra, jadi aku tidak berani bersuara.Pria itu langsung membopongku dan membawaku masuk ke dalam mobil.Pada saat itu, rasa panik luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku.Dalam hatiku berpikir, nyawaku benar-benar akan melayang di tempat ini.Aku tidak tahu mereka mau membawaku ke mana.Di dalam mobil, aku memanfaatkan sisa kesadarank

  • Para Pria Bejat di Kota Kumuh   Bab 6

    Di tengah tangisan dan air mataku, polisi yang melayaniku hari itu akhirnya keluar.Dia hanya berkata datar, "'Kan udah disuruh pulang tunggu pemberitahuan, kok kamu masih nekat datang ke sini?"Aku berseru pahit, "Ini udah lewat beberapa hari, kok sama sekali nggak ada pergerakan?"Dia menjawab, "Kamu bilang ada sekelompok orang di dalam ruangan itu, kami tentu harus memeriksa dan mengonfirmasinya satu per satu. Waktu yang dibutuhkan jelas nggak sedikit. Kamu pulang aja tunggu baik-baik, nggak usah bikin malu di sini. Apa kamu nggak malu semua orang tahu kamu digilir?"Perkataannya benar-benar menikam hatiku. Aku tahu, berharap pada orang-orang ini sama sekali tidak ada gunanya, jadi aku bangkit berdiri dan pulang secara diam-diam.Sekarang siapa lagi yang bisa kuandalkan? Atasanku sendiri juga seorang bajingan.Apa aku benar-benar hanya bisa pasrah dijadikan mangsa, tanpa ada kesempatan untuk melawan sedikit pun?Aku duduk di dalam kamar asrama. Kenangan pahit saat dilecehkan oleh ke

  • Para Pria Bejat di Kota Kumuh   Bab 5

    Tampaknya hal seperti ini memang sering terjadi, dia bahkan sudah tahu tanpa perlu bertanya lebih lanjut.Aku mengangguk kuat-kuat."Bapak harus bantu aku menuntut keadilan, mereka semua harus ditangkap!"Kakek ini justru bertanya dengan raut wajah meremehkan, "Nangkap siapa?"Aku bertanya dengan terkejut, "Tentu saja pria-pria miskin itu!"Dia bertanya lagi, "Pria miskin yang mana?"Baru saat itulah aku tersadar, ternyata aku sama sekali tidak tahu nama pria-pria miskin itu, juga tidak tahu pasti siapa saja yang terlibat dalam pemerkosaan tersebut.Melihatku terbata-bata, dia berkata, "Udah, udah. Kamu nggak punya bukti sama sekali. Cuma modal omongan, terus dibilang pemerkosaan? Sekarang ini zaman hukum, semuanya harus pakai bukti. Siapa tahu kamu sendiri yang sengaja jualan?"Melihat betapa tidak masuk akalnya kakek ini, aku akhirnya sadar kenapa Melly bicara seperti itu. Ternyata tempat ini benar-benar kacau balau dan tanpa aturan.Aku masih ingin memperjuangkannya, jadi aku bertan

  • Para Pria Bejat di Kota Kumuh   Bab 4

    Kenapa polisi di sini bisa begitu tidak bertanggung jawab? Aku benar-benar tidak tahan lagi.Melly masih menderita di dalam, tidak bisa begini, aku harus menelponnya.Tak disangka, panggilanku langsung diangkat dengan cepat.Aku bertanya dengan cemas, "Kak Melly, gimana keadaanmu sekarang? Kamu jangan takut, aku udah lapor polisi."Tapi, dari balik telepon justru terdengar suara yang sangat memalukan.Melly berkata dengan nada nafas yang sangat memburu, "Kamu kok penakut banget, sih? 'Kan udah kubilang nggak usah lapor polisi, masalah di sini udah kubereskan."Di saat yang sama, dari balik telepon juga terdengar suara gelak tawa dari beberapa pria miskin itu.Apa Melly justru sangat menikmati hal ini?Aku tidak berani membayangkan lebih jauh lagi. Karena Melly baik-baik saja, hatiku yang tadinya waswas akhirnya bisa tenang.Menyeret tubuh yang lelah, aku bergegas pulang. Mengalami kejadian seperti ini di siang hari membuatku masih merasa trauma.Lingkungan permukiman di sini sangat bur

  • Para Pria Bejat di Kota Kumuh   Bab 3

    "Jangan!!!" Hatiku rasanya hancur berkeping-keping.Sama sekali tidak pernah terbayang dalam mimpi, aku akan diperkosa orang, apalagi oleh pria miskin, jumlahnya empat orang sekaligus pula!Tepat pada saat itu, terdengar suara seorang wanita."Hentikan!"Kami semua serentak menoleh ke arah pintu.Yang datang ternyata bukan orang lain, melainkan Melly Sandi, rekanku di sini.Melly berusia tiga puluhan, kulitnya terawat sangat kencang, halus, kelihatan begitu mulus.Terutama dua buah dadanya yang membusung indah, sama sekali tidak kalah menawan dariku.Kudengar suaminya sudah lama meninggal, dia mengasuh dua anak seorang diri. Dia datang ke sini bekerja sebagai perawat karena gajinya lumayan lebih tinggi.Aku seperti melihat sedotan penolong, langsung berteriak sekuat tenaga padanya meminta bantuan."Kak Melly, cepat tolong aku! Mereka mau perkosa aku!"Tatapan matanya tampak heran melihatku, tapi tidak lama kemudian dia mengerti apa yang sedang terjadi.Dia berdeham beberapa kali, lalu

  • Para Pria Bejat di Kota Kumuh   Bab 2

    Detik berikutnya, dia mencengkeram tali pakaian dalamku, lalu merenggutnya kuat-kuat.Seketika, dua buah dadaku yang putih mulus mencuat keluar, dengan bagian puncaknya yang sangat menggoda.Matanya sampai melotot menatapnya, lalu kedua tangannya mulai meremas-remasnya tanpa henti.Dua gunung kembarku bergoyang mengikuti gerakan telapak tangannya, bahkan sampai meluap dari sela-sela jarinya."Pelan ... pelan sedikit." Mau tidak mau harus kuakui, diperlakukan secara kasar olehnya seperti ini malah membuatku merasakan kenyamanan yang aneh.Sensasinya seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhku.Dia makin bersemangat meraba, menindih seluruh tubuhku, bahkan mencoba menerobos ke sela-sela kedua kakiku.Paha bagian dalamku jelas-jelas merasakan ada sesuatu yang sangat panas dan keras.Saking takutnya, aku refleks merapatkan paha dan menegang.Untungnya hari ini aku pakai celana dalam, jadi dia tidak bisa langsung menerobos masuk.Tapi, dia masih belum puas. Dia malah mengangka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status