LOGINJemari Marco di botol itu sedikit gemetar, tetapi ia berusaha mempertahankan wajah datarnya. Ia segera membuka kulkas, lalu menyelipkan botol itu di bagian yang tertutup dan jauh dari pandangan Selena. Selena menatap botol itu dengan heran. Cairan putih kental di dalamnya membuat botol kecil tersebut sekilas mirip botol susu bayi. Alisnya terangkat perlahan. “Kenapa kamu simpan sampai sedalam itu di kulkas?” tanyanya penasaran. "Itu suplemen vitamin," jawab Marco singkat. Nadanya sedatar mungkin, sambil menutup pintu kulkas. "Buat jaga kondisi badan.” Selena masih menatap Marco, dengan keningnya yang sedikit berkerut. Namun ia memilih tidak mendesak lebih jauh. Ia hanya tersenyum tipis, menyimpan rasa penasaran itu diam-diam di baliknya. "Ya udah," ucapnya ringan, lalu melangkah lebih dekat. Tiba-tiba Selena merangkul lengan Marco dan mendekatkan tubuhnya hingga lengan pria itu menempel di dadanya. “Marco …” panggilnya, nadanya berubah lebih manja. Marco menoleh. Alisnya sed
Area pusat pelatihan hari itu terasa jauh lebih formal dari biasanya. Beberapa perwakilan sponsor berjalan di tepi kolam sambil mengamati fasilitas, catatan waktu, dan gerakan setiap atlet. Suara peluit Zavian sesekali memecah keheningan, diselingi bisik-bisik singkat di antara staf dan perwakilan sponsor. Zavian berdiri di depan sekelompok pria berjas, memegang papan data yang berisi rekap time trial dua minggu terakhir. Berkas yang sama yang semalam Zea selesaikan di ruang kerjanya. “Peningkatan Marco Yozefa cukup signifikan,” ucap Zavian, menunjuk grafik di papan. “Dari catatan dua minggu terakhir, selisih waktunya terus membaik. Hanya kemarin ada penurunan sementara, tapi sudah kami evaluasi.” Salah satu perwakilan sponsor mengangkat alis. “Penurunan kemarin cukup mencolok. Ada faktor khusus?” Zavian mengangguk. “Hanya penurunan performa sementara. Hari ini kami pastikan kondisinya kembali stabil.” Zavian sendiri sebenarnya masih penasaran. Performa Marco sering naik-turun
Kamera masih terarah ke wajah Zea ketika suara Selena kembali terdengar dari layar ponsel Moara. Nada suaranya masih ringan, nyaris seperti basa-basi biasa. "Lagi ngapain sama Tante Moara, Zea?" Zea menegakkan punggungnya, berusaha terlihat setenang mungkin. "Lagi makan siang bareng, Sel. Kebetulan Mamaku kenal Tante Moara dari dulu, jadi kita janjian ketemu." Tangannya tanpa sadar terangkat, menyentuh kerah blouse-nya sejenak sebelum ia sadar dan menurunkannya kembali. Gestur kecil itu lolos begitu saja dari perhatiannya sendiri, meski jantungnya berdegup lebih cepat dari yang seharusnya. Moara, yang sama sekali tidak menangkap ketegangan di balik percakapan itu, malah ikut menimpali dengan riang. "Iya, Sel," ia tertawa kecil. “Tante juga sebenarnya sudah janjian dari beberapa hari lalu. Waktu itu kan Tante nggak sengaja ketemu Zea di restoran Italia, pas kita lagi makan berdua.” Selena langsung mengangguk, ikut teringat. “Oh, yang ketemu di toilet, Tan?” “Iya, Sel!” seru Mo
Zea menahan napas sejenak sebelum menjawab, berusaha membuat suaranya terdengar setenang mungkin. “Nggak, Tante,” jawabnya akhirnya, suaranya sengaja dibuat datar. “Marco nggak pernah cerita mau ke mana semalam. Kita jarang ngobrol di luar urusan pelatihan.” Lalu ia menambahkan segera, seolah ingin menutupi kekakuannya sendiri. "Tapi ... kemarin siang, waktu latihan, catatan waktunya emang sempat turun drastis. Kak Zavian sampai negur dia. Aku juga nggak tahu kenapa.” Zea tentu tidak berani membicarakan alasan sebenarnya. Lebih aman berpura-pura tidak tahu daripada menjelaskan sesuatu yang terlalu rumit dan membuat Moara semakin khawatir. Moara mengerutkan kening, kekhawatirannya makin terlihat jelas di wajahnya. "Turun? Padahal katanya belakangan ini performanya lagi bagus-bagusnya." Wanita itu meremas serbet di pangkuannya. "Ya ampun, kalau sampai dia nggak fokus pas sponsor datang hari ini ... gimana ini?" "Udah, Moara, jangan terlalu dipikirin." Donna mencoba menenangkan. "Ma
"Nggak kok, Ma," jawab Zea cepat, tersenyum kaku sambil menyelipkan rambutnya lebih rapat ke sisi leher. "Aku lagi suka aja pake baju kayak gini." Donna masih menatapnya sesaat, seolah ingin bertanya lebih jauh, tapi akhirnya hanya mengangguk sambil tersenyum. "Ya udah. Tetep cantik, kok. Kamu rapi banget hari ini." "Kan mau ketemu Tante Moara, Ma. Masa aku pake baju rumahan," jawab Zea, buru-buru mengalihkan topik sambil terkekeh kecil. Donna meraih ponselnya, mengecek layar sebentar. "Tadi Tante Moara chat, katanya udah reserve tempat di restoran pusat kota." "Kita naik apa, Ma?" "Taksi online aja," jawab Donna sambil membuka aplikasi di ponselnya. "Kakakmu bawa mobil ke pelatihan, jadi kita nggak ada kendaraan.” Beberapa menit kemudian, mobil taksi online yang dipesan Donna sudah tiba di depan rumah. Keduanya masuk dan duduk berdampingan di kursi belakang, sementara mobil mulai melaju menyusuri jalanan kota yang mulai ramai oleh aktivitas siang. Sepanjang perjalanan, Donna ta
“Kakak sama Mama kan tahu aku di rumah Feby,” jawab Zea, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. “Kemarin kita juga sempat keluar, nonton bioskop bareng. Bahkan setelah pulang, Kakak sempat video call sama kita.” Ia menarik napas kecil. “Jadi bukannya wajar kalau aku pergi sama teman lama, Kak?” Zavian tidak langsung puas. Alisnya masih berkerut. “Tapi seharusnya kamu angkat telepon Kakak. Ini dari semalam sampai pagi, Zea. Delapan kali Kakak telepon, nggak satu pun kamu angkat. Chat juga nggak dibalas.” Zea terdiam sesaat. “Aku udah bilang, Kak. Ponselku di-silent, terus aku keasyikan ngobrol sama Feby sampai nggak sadar kalau ada telepon masuk.” “Delapan kali, Zea.” “Aku tahu.” Zea menghela napas pelan. “Maaf. Aku benar-benar nggak lihat hape.” Zavian mendengus, masih belum bisa menerima alasannya. Nadanya kembali meninggi. “Kamu tahu nggak Kakak panik setengah mati semalaman? Kalau sampai kamu kenapa-kenapa di luar sana, Kakak harus cari kamu ke mana?” “Zavian.” Suara Donna







