LOGINMarco menyentuh dinding kolam lebih dulu.
Angka di papan skor langsung menyala. Catatan waktu yang muncul jauh lebih cepat dari performa ‘anjlok’ beberapa hari terakhir, bahkan rekor pribadi baru. Sorak-sorai penonton langsung pecah serentak. Di tepi kolam, Zavian hampir melompat sambil mengepalkan tangan di udara. Wajahnya penuh kelegaan yang jarang sekali terlihat. Sementara di tribun, Donna langsung berdiri. “Ya Tuhan! Marco menang, ZDonna menarik napas dalam-dalam. Ia menggenggam tangan Zavian erat, seolah mencari kekuatan sebelum mulai berbicara. “Zav … Mama akan ceritakan semuanya. Dari awal.” Zavian hanya menatapnya dengan mata yang masih sembab. Bahu masih sedikit turun, tapi ia tidak menyela. Donna mulai menjelaskan. Tentang hari pertama Zea bekerja di klub, botol ASI yang tertukar dengan protein shake, dan bagaimana Marco tanpa sengaja meminumnya. “Sejak saat itu,” lanjut Donna pelan, “Marco tahu. Dan karena pompa sering tidak cukup … dia yang membantu Zea dengan cara langsung.” Keheningan menyelimuti keduanya. Zavian terdiam sangat lama. Wajahnya pucat, dan tangannya gemetar di pangkuan. “Jadi …” suaranya hampir tidak keluar. “Selama ini … Marco yang .…” Zavia tak mampu melanjutkan perkataannya. Ia menoleh sejenak, dengan mata menyelidik.
Donna menatap Dimas cukup lama. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ada banyak yang ingin ia katakan, tapi ia tidak rela membuat putrinya semakin malu di depan orang lain.“Zea … punya kelainan hormonal,” ucapnya akhirnya, suaranya pelan. “Kelainan yang cukup langka. Tubuhnya memproduksi ASI, meski dia belum menikah atau hamil. Itu yang membuat kondisinya mudah memburuk kalau terlalu stres.”Dimas terdiam. Bukan karena merasa risih, melainkan karena sebaliknya. Wajahnya justru dipenuhi kekhawatiran yang tulus..Donna memperhatikan ekspresi itu, lalu tersenyum kecil, meski matanya masih basah. “Kamu terlihat khawatir sekali sama Zea.”Dimas mengangguk. “Aku nggak tahu banyak soal apa yang terjadi antara Zea dan Marco … tapi …,” ia menarik napas dalam, “setelah lihat dia tadi, aku merasa nggak tega. Karena tadi dia terlihat begitu tak berdaya saat pingsan di tangan Marco, di depan Selena … dan di depan aku.”Donna langsung menegang begi
Beberapa menit kemudian, mobil akhirnya berhenti tepat di depan UGD. Dimas bergerak cepat, turun lebih dulu untuk membuka pintu dan membantu menggendong Zea masuk, tanpa banyak bicara. Suasana UGD yang terang dan steril terasa kontras tajam dengan kekacauan yang baru saja mereka tinggalkan di venue. Seorang perawat segera mendekat begitu melihat kondisi Zea, membawa brankar dan mendorongnya cepat menuju ruang periksa. "Dokter Nancy," Donna berseru, mengikuti di samping brankar. "Tolong, panggilkan Dokter Nancy. Dia yang biasa menangani anak saya." Sebelum pintu ruang periksa tertutup, mata Zea sempat menangkap sosok Dimas yang berdiri mematung di lorong. Matanya menatap Zea dengan sorot yang sulit dibaca. Antara khawatir, syok, dan sesuatu yang belum sepenuhnya ia mengerti. Pintu tertutup, memisahkan Zea dari dunia luar untuk sementara. Dokter Nancy bersama perawatnya datang tidak lama kemudian. Begitu meliha
Zavian terdiam sesaat mendengar ancaman Selena. Napasnya masih memburu, tapi tatapannya perlahan berubah. Dari amarah membara, menjadi sorot mata yang lebih dingin dan menusuk.Ia tertawa pendek dan sinis, tanpa sedikit pun humor di dalamnya.“Jadi begitu, ya, Selena?" ucapnya, suaranya rendah. "Selama ini, setiap kali adik saya berhadapan sama kamu, selalu berakhir seperti ini.”Ia menatap wanita itu lekat, seolah baru benar-benar melihatnya untuk pertama kali.“Sekarang saya mulai ngerti,” lanjut Zavian dingin. “Kamu pintar sekali bermain kata-kata. Seolah semua kesalahan ini murni milik adik saya.”Ingatan tentang ucapan Selena yang sempat mengomentari fisik Zea yang ‘molek’ di depan banyak orang tiba-tiba melintas jelas di kepalanya. Dulu ia hanya merasa risih. Sekarang, ia paham betul apa yang sebenarnya sedang terjadi.Zavian mengalihkan tatapannya ke Marco yang masih berdiri babak belur, lalu kembali ke Selena."J
Selena menoleh dengan tubuhnya masih gemetar. “Ah … Marco, aku nggak apa-apain dia. D–dia yang tiba-tiba—”Marco tidak menjawab. Ia berjalan cepat mendekati Zea, mengabaikan Selena sepenuhnya. Tatapannya yang menggelap dan rahangnya yang mengeras menyampaikan lebih banyak daripada kata-kata apa pun.Selena menegang dan mundur lagi tanpa sadar, seolah aura di sekeliling Marco cukup untuk membuatnya gentar.Tubuh Zea tiba-tiba limbung. Marco menangkapnya tepat waktu, lalu buru-buru melepas jaketnya dan membalutkannya menutupi tubuh Zea yang basah di dada.Saat menyentuh pelan pipi gadis itu, matanya menangkap sesuatu. Pipi Zea bengkak. Jelas bekas tamparan.Marco langsung menoleh tajam ke Selena. “Jadi kamu yang tampar dia?”Selena terbata, dengan wajah memucat. “A–aku … dia yang duluan—”Marco tak menunggu respons Selena, dan kembali menatap gadis itu yang kini pingsan.“Zea.” Marco mengelus pelan pipi gadis itu,
Zea mundur lagi, tapi punggungnya sudah mentok ke dinding. Tidak ada lagi ruang untuk melarikan diri.“Selena, dengerin aku dulu,” ucapnya cepat, suaranya gemetar. “Itu bukan seperti yang kamu pikirkan. Beritanya nggak benar—”“Nggak benar?” Selena tertawa getir, tanpa sedikit pun humor di dalamnya. “Kamu mau bilang itu bukan kamu di foto itu? Bukan kamu yang keluar dari lift bareng Marco?”Zea tidak bisa menjawab. Setiap kata yang ingin diucapkan terasa tercekat di tenggorokan.Melihat keheningan itu, Selena mendengus sinis. Ia berjalan mendekat dan mencengkram kedua bahu Zea dengan kuat, menahannya di tempat.“Lepasin aku!” Zea meronta, tapi cengkeraman itu tidak melonggar sedikit pun.Selena menatapnya dari jarak dekat, jari-jarinya menekan keras di bahu Zea. “Kamu pikir bisa kabur begitu saja setelah semua yang kamu lakukan? Aku sudah dengar semuanya, Zea. Ada saksi yang lihat kalian berdua keluar dari lift. Bahkan dia bilang







