LOGINBisikan Marco barusan membuat Zea menegang sebentar. “Lagi …?” suaranya agak kaget, mata melebar meski masih berkabut. “Marco, baru saja … aku masih sensitif banget …” Marco tersenyum tipis, mengusap rambut basah Zea sambil tetap menggesek pelan di dalam. “Aku tahu. Tapi aku belum puas, Sayang. Aku masih mau kamu.” Ia mencium bibir Zea pelan dan lama, seolah ingin menikmati setiap detik darinya. Gigitan lembut di bibir bawah Zea disusul bisikannya yang serak di sela ciuman itu. “Kalau kamu nggak mau lagi … aku bisa berhenti.” Zea mengerjap sejenak, sambil merasakan denyut kejantanan Marco yang masih keras di dalamnya. Rasa kaget itu perlahan lumer digantikan hasrat yang kembali naik. Ia menggigit bibir, lalu mengangguk pelan. “Mau … aku mau. Tapi … pelan-pelan, ya?” “Good girl.” Marco menciumnya dalam sekali lagi sebelum bangkit. Ia menarik keluar perlahan, membuat Zea mendesah panjang karena rasa kosong yang tiba-tiba. Tanpa banyak bicara, Marco membalik tubuh Zea hingga wa
"Nghh … jangan bilang begitu … mmhh …” Zea menggeliat malu, tapi refleks membuka pahanya lebih lebar.Marco tersenyum tipis. “Tapi ini beneran,” ia mengusap dan memutar jari pelan di titik sensitif Zea tanpa masuk dulu. “Kamu sudah basah sekali di sini.”“Marco … ahh…” Zea menutup mulutnya sendiri sambil menahan desahan. “Jari kamu … jangan mainin terus …”“Kenapa? Kamu nggak suka?” godanya pelan, meski matanya penuh perhatian.“Suka … tapi … nnghh … aku nggak tahan …”Marco akhirnya memasukkan satu jari, lalu bergerak pelan dan dalam. Ia melihat setiap reaksi Zea sambil menyesuaikan gerakan jarinya. Lalu menambahkan jari kedua dan merenggangkan dengan hati-hati.“Aku bantu kamu biar siap,” bisik Marco serak.Zea mengangguk, pahanya mulai gemetar. Tangannya terulur menarik leher pria itu. “Marco … cium aku …”Pria itu naik ke atasnya dan mencium bibir Zea dalam-dalam. Lidah mereka saling mengejar, dan disaat bersamaan jemari Marco terus bergerak di bawah. Desahan Zea tertelan di antar
Zea membeku. Napasnya tertahan, sementara air mata yang sejak tadi basah akhirnya jatuh begitu saja ke pipinya. Ia tidak langsung menjawab. Matanya tetap terpaku pada Marco, seolah masih mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. “Aku ...” suaranya tertahan. Zea mengusap pipinya dengan cepat, tetapi air matanya justru kembali jatuh. Ia tersenyum kecil di sela tangisnya. “Aku juga cinta sama kamu, Marco.” Marco terdiam. Matanya melebar sedikit, seolah memastikan ia tidak salah dengar. Zea mengusap air matanya dengan punggung tangan. “Selama ini, aku terus menyangkalnya. Bukan karena aku nggak punya perasaan … tapi karena aku takut. Kalau aku mengaku pada perasaanku ini, berarti aku harus siap menghadapi semua masalah yang datang bersama kamu.” Ia menunduk sejenak. “Sejak kejadian di hotel … sebenarnya aku udah mulai punya perasaan sama kamu. Tapi aku terus nyari alasan buat menyangkalnya. Aku pikir itu cuma karena keadaan yang waktu itu … kamu butuh aku.” Zea mengusap sisa
Zea terdiam, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat sedikit. Ada rasa lega, terkejut, sekaligus bahagia yang bercampur menjadi satu. “Bagaimana kamu bisa kesini?” tanya Zea akhirnya. “Asistenku datang ke pusat pelatihan tadi. Dia yang kasih tahu aku kalau kamu sekarang ada di sini,” jawab Marco setelah napasnya mulai lebih tenang. “Mama juga menyuruhku datang menemuimu secepatnya.” Ia terdiam sesaat, masih memeluk Zea. “Entah apa yang terjadi, tapi … Mama berubah. Kali ini dia bilang aku harus datang sendiri dan bicara sama kamu.” Zea terdiam sejenak. Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku kira … kamu nggak mau ketemu dan bicara sama aku lagi,” gumamnya lirih. Marco menarik napas panjang. Wajahnya masih menyimpan sisa kelelahan, tetapi tatapannya tak pernah lepas dari Zea. “Mana mungkin aku nggak mau ketemu kamu lagi, Zea,” ucapnya pelan. “Aku cuma nggak tahu kamu masih mau melihat aku atau nggak.” Zea terdiam, dadanya terasa sesak. “Tapi dari sem
Zea masuk perlahan dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Apartemen itu sudah tertata rapi. Perabotannya lengkap, dapurnya bersih, bahkan beberapa kebutuhan dasar sudah tersedia. Semuanya terlihat seperti memang sudah dipersiapkan untuk seseorang yang akan tinggal di sana. “Untuk sementara, kamu tinggal di sini dulu,” ujar Moara. “Anggap saja ini rumah kamu. Kamu bisa istirahat dan menenangkan diri tanpa perlu memikirkan hal lain.” Zea menelan ludah sebelum mengangguk kecil. “Makasih, Tante.” Moara kemudian menyerahkan kartu akses kepada Zea. “Kalau kamu butuh apa-apa, telepon Tante. Jangan sungkan.” Zea menerima kartu itu dengan kedua tangannya. “Iya, Tante.” Moara melanjutkan, “Kalau Tante sedang nggak bisa dihubungi, kamu bisa menghubungi Adrian. Dia asisten Marco. Nanti Tante kirim nomor hapenya.” Zea terdiam sesaat mendengar nama itu, tetapi segera mengangguk. “Iya. Nanti aku hubungi kalau ada apa-apa.” Moara tersenyum tipis. “Sekarang kamu istirahat dulu. Pasti capek se
Setelah telepon dengan Moara berakhir, Zea masih duduk terdiam di ruang meja makan, dan ponsel tergeletak di mejanya. Tawaran wanita itu terus berputar di kepala Zea—pindah ke apartemen, tinggal di sana untuk sementara, menerima bantuan dari keluarga Marco. Semuanya terdengar mudah saat dibicarakan lewat telepon. Namun begitu panggilan berakhir, keraguan itu kembali muncul. “Telepon dari ibunya Marco?” tanya Henny, yang masih duduk di kursi roda. Zea mengangguk pelan. Henny diam sebentar. “Dia ngomong apa sama kamu sampai kamu kelihatan ragu begitu?” Zea terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Dia nawarin aku tempat tinggal, Tan. Apartemen milik keluarganya.” Zea menunduk. “Katanya aku bisa tinggal di sana untuk sementara.” Henny mengangkat alis. “Terus?” “Aku masih ragu.” Zea memainkan ujung jarinya. “Rasanya ... aneh aja nerima bantuan sebesar itu dari ibunya Marco. Takutnya nanti aku malah kelihatan kayak manfaatin, atau bantuan itu malah jadi beban buat aku sendiri.” Henn







