LOGIN"Kamu boleh pergi kencan dengan Marco, kok, Zea ..." Suara Donna mengalun lembut, memecah keriuhan kecil di ruang makan begitu Zea dan Zavian baru saja tiba di rumah. Zavian yang sejak dalam perjalanan pulang di dalam mobil tak berhenti mengomel dengan wajah terlipat masam, seketika mendengus kasar. Sepanjang perjalanan pulang tadi, Zea memang tak berhenti terkekeh geli sembari membujuk dan menggoda Zavian yang gengsinya terluka hebat akibat kalah selisih 0,4 detik dari Marco. Pelatih muda itu melempar tas olahraganya ke atas kursi meja makan dengan hentakan penuh kekesalan. "Tuh, kan! Pasti langsung diizinin sama Mama!" ketus Zavian pelan, bersedekap dada dengan raut wajah cemberut bukan main. "Dia itu makin hari makin ngelunjak, Ma! Berani-beraninya menantang aku duel di depan para atlet cuma demi minta izin jalan-jalan! Nggak ada sopan-santunnya!" Donna yang baru saja menyiapkan dua gelas jus jeruk hanya bisa tertawa renyah melihat kelakuan putra sulungnya. "Sudah, Zav ..
"Kamu mau ajak Zea pergi kencan?!" Teriakan dramatis Zavian menggelegar hebat menembus seluruh sudut arena kolam renang yang mulai tenang di penghujung sesi latihan. Zea yang sedang memunguti handuk-handuk basah para atlet ke keranjang di tepi kolam seketika membeku. Keranjang di pelukannya hampir saja merosot jatuh dari jemarinya. Pipinya membakar merah padam akibat rasa malu yang menyerang seketika. Dengan gerakan refleks dan panik, Zea menaruh keranjang berisi handuk-handuk itu sebelum ia berlari kecil menghampiri Zavian dan Marco yang berdiri berhadapan tak jauh dari meja pelatih. "Kak Zavian!" cicit Zea berusaha meredam volume suara kakaknya. Di sudut lain, Dimas, Kenji, dan Rafi langsung menoleh serentak ke arah asal suara. Sementara Vincent, yang sedari tadi berdiri di dekat bangku medis membawa papan jepit berisi lembar evaluasi fisik para atlet, ikut menoleh. Sepasang matanya di balik kacamata berbingkai tipis menatap keributan kecil itu dengan binar penasaran yang be
Michael berbalik dan berjalan pergi meninggalkan ruang besuk dengan langkah tegap. "Om Michael! Tolong aku, Om! Ini semua salah paham! OM MICHAEL!" Jeritan Selena menggelegar memantul di dinding-dinding semen ruang besuk yang dingin. Suaranya melengking histeris, penuh kepanikan luar biasa saat melihat punggung tegap Michael Yozefa melangkah makin jauh tanpa berpaling sedikit pun. Selena berdiri memukuli kaca kedap suara itu dengan kedua telapak tangannya hingga berbunyi benturan keras. Brak! Brak! Brak! "Om! Tolong bebaskan aku! Jangan tinggalkan aku di sini! OM!" "Tahanan 094! Berhenti!" gertak sipir wanita yang sejak tadi bersedekap di sudut ruangan. Bukannya menurut, Selena justru makin menjadi-jadi. Wajah cantiknya kini berantakan oleh lelehan air mata dan riasan yang luntur, matanya membelalak liar bak orang kesetanan. "Nggak mau! Lepasin aku! Panggil lagi Michael Yozefa! PANGGIL DIA!" jerit Selena sambil meronta-ronta. Ia mencoba menerobos pembatas ketika dua oran
Mata Selena seketika melebar. Binar harapan langsung menyala terang di matanya yang memerah.Tamu? Pengacara dari Papa? Atau ... Marco? Apa Marco akhirnya sadar kalau pria itu masih membutuhkan dirinya? batin Selena penuh harap."I-iya! Aku keluar sekarang!" Selena buru-buru merapikan rambutnya yang berantakan, berusaha terlihat sebaik mungkin meski penampilannya sudah sangat kacau.Polisi wanita itu membukakan pintu sel, lalu membimbing Selena menyusuri lorong panjang menuju ruang kunjungan yang dibatasi kaca tebal dan interkom.Jantung Selena berdebar kencang saat melangkah masuk ke ruangan tersebut. Matanya dengan rakus mencari-cari sosok pria tinggi tegap yang mungkin datang untuk menyelamatkannya.Namun, langkah Selena seketika terhenti kaku. Harapannya hancur berkeping-keping hingga menjadi debu. Di balik kaca pemisah itu, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu yang dipotong sempurna. Aura kekuasaan dan intimidasi menguar kuat dari sosoknya, berbanding t
"A-apa? Kencan?"Zea mengerjap, matanya membelalak pelan menatap Marco yang berdiri terlalu dekat dengannya. Ini pertama kalinya Marco mengajaknya kencan. Hanya berdua saja.Marco mengangguk sekali, tangannya berpindah mengusap punggung tangan Zea yang dingin. Sorot matanya yang biasa dingin kini melunak, menatap Zea penuh kehangatan."Selama ini aku belum pernah ajak kamu jalan-jalan atau sekadar belanja untuk refreshing," ujar Marco, suaranya mengalun tenang."Sejak konferensi pers itu, situasi sudah sepenuhnya kondusif. Pemberitaan media bagus dan nama baik kamu, serta Coach Zavian sudah pulih total. Nggak ada lagi yang perlu kita khawatirkan."Zea terdiam sejenak. Ucapan Marco yang sarat akan rasa aman itu seolah membalut hatinya dengan kehangatan yang amat dalam.Marco lalu meremas jemari Zea lembut. "Kamu boleh pulang dulu sama Kakakmu sore nanti. Ganti pakaian yang nyaman, dan izin dulu sama Mama dan Kakakmu. Nanti aku jemput."Mendengar perhatian yang begitu mendalam dan teren
Suara peluit Zavian melengking nyaring, seketika memotong riuh suasana di sekitar kolam renang setelah sesi perkenalan dan pemanasan selesai."Oke, semua! Sesi penyesuaian fisik pertama dipimpin Vincent di mulai!" seru Zavian tegas.Vincent Ardhana mengangguk sopan. Dengan papan jepit dan kacamata tipisnya, ia bergerak sangat cekatan. Pria itu tidak buang waktu, langsung menghampiri meja bar lounge tempat Zea sedang menyusun wadah suplemen."Biar aku bantu, Zea," tawar Vincent ramah, jemarinya memegang wadah yang sama.Zea menoleh dan tersenyum canggung. “Eh, nggak apa-apa, Vin. Ini cuma suplemen biasa, kok.”“Nggak masalah,” jawab Vincent santai. Ia berdiri di samping Zea tanpa membuat jarak di antara mereka terasa canggung. “Aku memang perlu cek komposisi dan bahan-bahannya juga.”Ia melirik botol di tangan Zea, lalu tersenyum tipis. “Sekalian ... sudah lama, ya? Kita nggak pernah ngobrol begini lagi sejak lulus SMA.”"Iya, lumayan lama," sahut Zea polos sambil menata shaker. "Kamu







