Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 307. Izin Minum Demi Pertandingan Final!

Share

307. Izin Minum Demi Pertandingan Final!

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-10-20 14:26:52
​“Nggak apa-apa. Aku nggak mikirin apa-apa,” jawab Marco tenang. Wajahnya kembali datar tanpa celah.

Zea terdiam. Tangannya yang menempel di paha Marco perlahan tertarik mundur. Pandangannya tertuju pada rahang kekasihnya yang sempat menegang kaku, paham betul bahwa pria di sampingnya ini sedang menyembunyikan sesuatu.

Namun, Zea memilih tak mendesak lebih jauh. “Ya sudah ... nanti kalau ada keluhan di bahu, bilang ke aku ya,” bisik Zea pelan. “Mana tahu ... aku bisa bantu.”

Marco mengangg
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   316. Karier Marco Terancam.

    ​Keheningan kembali menyergap lorong privat itu. Michael membisu di tempatnya. Setelah menghembuskan napas panjang untuk menguasai emosinya di hadapan orang-orang, pria paruh baya itu akhirnya mengalah dan mengangguk pelan. "Ikut ke mobil, Zea."​Zea mengusap air matanya dan mengangguk cepat. Sebelum menyusul, ia menoleh ke arah kakaknya yang berdiri mematung di antara kerumunan. "Kak ... aku pergi dulu."​Zavian menatap adiknya dengan sorot mata penuh penyesalan. "Hati-hati di jalan, Zea."​Rombongan bergegas menyusuri koridor privat menuju pelataran parkir VIP. Sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah bersiaga dengan pintu bergeser yang terbuka lebar dan pengemudi yang siap di balik kemudi.Begitu Marco, Zea, dan Michael memasuki kabin penumpang, pintu otomatis tertutup rapat, meredam kebisingan dari area stadium. Kendaraan itu segera melaju kencang membelah jalanan kota, membawa mereka menjauh dari area stadium.​Di dalam mobil, tak ada seorang pun yang memulai percakapan. Suasana

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   315. Jangan Salahkan Zea.

    ​Keheningan seketika menghimpit lorong privat yang dingin. Suara bisik-bisik tegang dari kerumunan staf, atlet lain, dan petugas keamanan yang berkumpul melingkar di sekitar mereka.​Zea terdiam kaku di tengah kepungan tatapan asing orang-orang, menatap wajah kakaknya yang dipenuhi peluh dan kecemasan. Ucapan Zavian merambat liar di dalam kepalanya, menghantam kesadarannya hingga dadanya terasa sesak.​Zavian menghembuskan napas parau. Di bawah tatapan mata orang-orang di sekeliling mereka yang mulai berbisik-bisik cemas, desakan rasa takut dan bersalah membakar dada sang kepala pelatih. Ia refleks menatap adiknya dengan sorot menuntut.​"Zea ... kenapa kamu membiarkan Marco pergi menyusul Kakak ke lorong ini?!" cecar Zavian, suaranya gemetar menahan panik. "Harusnya kamu tahan dia! Kamu tahu sendiri bahunya baru saja dipaksa buat bertanding!"​Zea mengepalkan tangannya rapat-rapat. Binar air mata membasahi matanya, tetapi ia tak sedikit pun mundur dari tatapan kakaknya di hadapan ker

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   314. Pukulan yang Membuatnya Tak Berdaya.

    Zea masih berdiri kaku di belakang garis pembatas area pelatih. Di sekelilingnya, riuh sorak-sorai penonton masih bergema menyambut kemenangan Marco. Namun, kecemasan Zea justru semakin bergolak hebat.​Matanya tak lepas dari lorong privat yang baru saja dimasuki Marco dan Zavian.​Kenapa Marco harus nekat menyusul Zavian? Ia tahu betul kondisi Marco. ASI yang diminum Marco semalam bukanlah obat ajaib yang bisa menjaga ketahanan fisiknya secara permanen setelah menguras stamina di kolam renang. Bahu itu baru saja dipaksa bekerja keras untuk mengayuh air dengan kecepatan penuh!Bagaimana kalau dampak cederanya kembali muncul?​“Zea, tenang dulu,” panggil Dimas pelan. Pria tegap itu berdiri di sampingnya sembari bersiap menghadapi gilirannya di cabang gaya kupu-kupu. “Kamu jangan nekat menyusul. Kalau Vincent melihatmu disana, suasananya malah bisa makin berbahaya.”​“Tapi aku khawatir sama Marco, Dimas!” sahut Zea dengan suara bergetar dan napas yang memburu. “Dia baru saja lepas gips

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   313. Pengepungan Vincent.

    Zea berdiri di belakang garis batas area pelatih, jemarinya saling mencengkeram erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya tak lepas dari lintasan dua. Marco sudah menempuh lima puluh meter pertama dengan kayuhan yang tajam dan agresif. Bahu kanannya yang semalam masih terkunci kini bergerak bebas, memotong air dengan presisi tinggi. Setiap kali kepalanya muncul untuk mengambil napas, Zea merasakan dada seolah ikut berdenyut. Di sampingnya, Dimas, Rafi, dan Kenji berdiri tegang dan tidak ada yang bersuara. Hanya suara cipratan air dan sorak-sorai tribun yang memenuhi stadium. Zea tanpa sadar mengalihkan pandangannya ke tribun tengah, tepat di sisi paling pinggir yang agak gelap. Ada satu sosok yang berdiri terlalu kaku di antara penonton yang sedang berteriak. Pria itu memakai topi bisbol hitam yang ditarik rendah, jaket tebal, dan kacamata hitam. Tubuhnya tidak ikut melonjak seperti penonton lain. Ia hanya mematung sambil menatap lintasan dua dengan intensitas yang terl

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   312. Pertandingan Final Dimulai!

    Suasana di sekitar lintasan dua mendadak hening kaku. Zavian menatap lengan kanan Marco yang baru saja mengayuh udara dengan sorot mata yang dipenuhi campur aduk antara takjub, syok, dan keraguan yang masih tersisa. “Marco … kamu tidak sedang memaksakan diri, kan?” bisik Zavian parau, suaranya kini melunak drastis meski ketegangan masih membayang di dahinya. “Dokter Edo kemarin menyatakan ada manipulasi jaringan saraf yang sangat riskan—” “Penyumbatan sarafnya sudah mereda, Coach,” pangkas Marco cepat namun tenang, menyela kekhawatiran sang kepala pelatih dengan intonasi mutlak. “Saya sudah mengujinya sejak subuh tadi. Gerakan saya tidak terkunci lagi.” Dimas melangkah mendekat, mengamati bahu kanan rekan satu timnya itu dari dekat. Binar kebanggaan dan keheranan terpancar di matanya. “Kalau Marco sendiri yang bilang siap, saya percaya padanya, Coach. Lintasan dua tidak boleh kosong hari ini.” “Tapi, Dimas—” Zavian menghela napas panjang, meremas jemarinya yang dingin. Zea menyent

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   311. Kehadiran yang Mengguncang Tepi Kolam.

    ​Suasana di lorong khusus atlet stadium utama kejuaraan terasa sangat berisik dan menekan. Suara gema benturan air dari kolam pemanasan, derap langkah para perenang yang berlalu-lalang, hingga gaung instruksi para pelatih membentak udara pagi yang dingin. ​Di depan area starting block lintasan dua, Zavian berdiri mematung dengan papan klip di tangannya. Lingkar hitam begitu tampak jelas di bawah matanya akibat tidak tidur semalaman mengurus laporan kepolisian dan pengawasan area rumahnya. ​Di samping Zavian, Dimas, Rafi, dan Kenji berdiri membisu dalam balutan jaket tim. Raut wajah mereka bertiga begitu muram. Ketiadaan Marco Yozefa dalam lembar susunan atlet babak Final kejuaraan pagi ini seolah mencabut separuh semangat tim mereka. ​"Coach ..." tegur Dimas rendah, suaranya parau. "Waktu check-in atlet untuk sesi perenang pembuka tinggal lima belas menit lagi. Apa kita benar-benar harus mengosongkan lintasan dua?" ​Zavian mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jariny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status