Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 31. Sekarang, Buka Bajumu.

Share

31. Sekarang, Buka Bajumu.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-07-15 23:57:26
Marco yang melihat apa yang terjadi langsung melepaskan jaketnya dan dengan cepat memakaikannya ke tubuh Zea, menutupi noda basah di bajunya.

“Pakai ini dulu,” katanya pelan.

Zea mengerjap ketika gerakan Marco begitu lembut dan hampir protektif. Kontras sekali dengan sikap agresif biasanya setiap kali melihat dada Zea basah oleh cairan susu.

“M–makasih …” jawabnya parau.

“Kamu bawa pompa ASI-nya?” tanya Marco.

Zea mengangguk lemah, masih menahan nyeri. “B-bawa …”

Marco mengalihkan pandanga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   214. Runtuhnya Sang Penguasa.

    Aroma sabun mandi yang segar dan uap hangat masih menyelimuti tubuh mereka. Zea baru saja berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit rapi di tubuhnya. Di belakangnya, Marco mengekor rapat, memegang pinggang Zea dengan raut wajah yang tampak serba salah dan sarat akan cemas."Marco, aku beneran nggak apa-apa," bisik Zea, memutar tubuhnya dan menatap mata pria itu. "Aku nggak ngerasa pegal atau sakit kok."Marco mengusap tengkuknya sendiri dengan helaan napas berat. Perasaan bersalah mengganjal di dadanya. "Aku ... semalam terlalu kasar di meja rias itu. Aku susah nahan diri."Pipi Zea seketika merona mengingat bagaimana liarnya Marco semalam. Namun, ia menyunggingkan senyum tulus dan mengusap lengan kokoh Marco."Gapapa, Sayang. Cuma kerasa kayak ketusuk-tusuk dikit di bagian paha dalam, tapi sisanya aman. Beneran."Zea segera beranjak menuju lemari pakaian untuk mengambil baju. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh gagang pintu lemari, Marco sudah lebih dulu mendekat,

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   213. Di Ujung Keterpurukan.

    Tut ... tut ... tut …Suara nada telepon terputus terdengar nyaring di telinga Selena sebelum layar ponselnya mendadak kembali ke halaman utama. Zavian benar-benar mematikan panggilan itu secara sepihak."Argh! Keparat!" jerit Selena histeris, melempar ponselnya ke atas sofa kulit di ruang tengah kediaman Yansen.Tubuhnya gemetar hebat, napasnya memburu menahan amarah dan ketakutan yang kini bercampur aduk. Wajah cantiknya yang biasa dipoles sempurna kini tampak kusut dan sembab.Zavian sudah bukan lagi orang yang bisa dipengaruhi dengan mudah. Pria yang setahunya paling keras menentang kedekatan Zea dengan Marco maupun dengan para atlet lain di klub itu, kini justru berdiri di pihak adiknya dan membelanya tanpa ragu.​Dan luka di harga dirinya makin berdarah saat ingatan tadi sore kembali menghantam kepalanya.​Tadi sore, dengan sisa keberanian yang ia punya, Selena nekat mendatangi Mansion Yozefa. Ia berniat memohon pada Moara, berharap wanita tua yang dulu sangat menyayanginya itu

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   212. Zavian Skakmat Selena.

    Kedua alis Marco terangkat tipis, tak menyangka laporan itu akan datang secepat dari yang kira.“Perusahaan juga akan menempuh jalur hukum untuk menuntut pengembalian dana, dan kemungkinan besar kasusnya akan dilimpahkan ke pihak berwajib,” lanjut Adrian hingga tuntas.Marco terdiam sejenak. Rahangnya sedikit mengeras, tapi ekspresinya tetap tenang. Ia melirik ke arah ranjang di mana Zea masih berbaring, menatapnya dengan mata yang sekarang sudah terbuka penuh.“Sudah diputuskan?” tanya Marco akhirnya, suaranya rendah.“Sudah, Tuan. Keputusan itu resmi. Surat pemberhentian sudah disiapkan, dan tim hukum perusahaan akan bergerak mulai besok pagi.”Marco mengangguk pelan, meski Adrian tidak bisa melihatnya. “Baik. Terima kasih sudah melaporkan.”“Ada yang perlu saya siapkan, Tuan?”“Tidak untuk malam ini. Istirahat saja. Besok kita bicarakan lagi.”“Baik, Tuan.”Marco memutus sambungan. Ia meletakkan ponsel kembali di meja rias, lalu berdiri diam beberapa detik, menatap layar yang sudah

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   211. Pijat hingga Cairan Menyembur XXX.

    “Hnghh … Marco … di situ … pelan-pelan …” Lenguhan lemah Zea memenuhi kamar yang redup. Ia berbaring telentang di atas seprai dengan tubuh yang benar-benar telanjang. Kulitnya masih sedikit mengkilap bekas handuk hangat yang baru saja dipakai Marco untuk membersihkan sisa-sisa cairan dari dada, perut, hingga di antara pahanya. Marco duduk di sisi ranjang dengan kedua lutut ditekuk di atas kasur. Di tangannya ada botol kecil minyak zaitun. Ia menuangkan sedikit ke telapak tangan, menggosokkannya hingga hangat, lalu meletakkan kedua tangan besarnya di bahu Zea. Gerakannya lambat, dalam, dan penuh tekanan yang tepat. Jari-jarinya menekan otot yang kaku di sekitar leher dan bahu, lalu turun perlahan ke dada atas. “Kapan terakhir kamu olahraga?” tanya Marco datar, suaranya rendah tanpa ada godaan, hanya rasa ingin tahu yang tenang. Zea membuka mata sedikit, masih sayu. “Hmm… mungkin … beberapa bulan lalu?” Ia berpikir sejenak sambil mendesah pelan saat ibu jari Marco menekan titik y

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   210. Intens di Meja Rias XXX.

    Zea terdiam, lalu mengangguk pelan. Kedua pipinya masih merah. “Aku juga mau kamu .…” Marco akhirnya duduk di atas kasur, lalu menarik tubuh Zea mendekat. Ia memandu wanita itu agar duduk menghadapnya dengan kedua kaki Zea yang terbuka di sisi pinggangnya. Posisi mereka begitu dekat hingga dada mereka saling menempel, dengan napas saling bercampur. Marco mengangkat wajah Zea dengan dua jari, memaksa wanita itu menatap matanya. “Lihat aku,” bisiknya rendah. Zea menurut. Matanya yang masih berkabut bertemu dengan tatapan intens Marco yang tidak ada jarak diantara mereka. Marco menunduk dan menciumnya lagi. Ciuman mereka begitu dalam, lambat dan penuh. Lidahnya perlahan menyusup masuk sambil bermain pelan, menuntut tanpa terburu-buru. Satu tangannya menahan pinggang Zea, sementara tangan lainnya menuntun kejantanannya yang sudah basah ke pintu masuk wanita itu. Ujung batangnya menekan pelan hingga Zea mendesah di dalam ciuman mereka. “Ahhh … Marco …” Marco mendorong masuk sangat

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   209. Kepuasan untuk Marco XXX.

    Marco terdiam beberapa detik. Napasnya masih berat, tapi di matanya ada keraguan yang jelas. Ia mengangkat tangan, memegang pergelangan Zea yang masih menahan bahunya. “Zea …” suaranya pelan, hampir serak. “Kamu nggak perlu melakukan ini. Aku nggak pernah meminta—” “Aku tahu.” Zea memotongnya dengan nada memelas, pipinya semakin merah. “Justru karena itu. Kamu selalu yang lebih dulu mikirin aku.” Kedua mata Zea berkaca-kaca, entah kenapa perasaan penuh meluap di dada. “Aku … aku pernah sempat mikir jahat soal kamu, Marco.” Zea menarik napas. “Dulu aku sempat takut kamu cuma menganggap aku seperti sapi perah. Setiap menjelang latihan time trial, atau sebelum pertandingan, aku takut kamu cuma datang karena butuh aku.” Zea menatap Marco dengan mata berkaca-kaca. “Tapi kamu nggak pernah main-main sama aku.” Suaranya mengecil. “Makanya ... biarin aku yang mencoba malam ini. Aku mau belajar.” Zea meraih pipi Marco dengan kedua tangan dan mengusapnya lembut. Ibu jarinya menyentuh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status