Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 326. Aku Akan Pelan-Pelan. XXX

Share

326. Aku Akan Pelan-Pelan. XXX

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-10-26 23:41:23
Zea yang semula sudah bersandar lemas di pangkuannya mendadak menegang. Matanya yang sayu sedikit membelalak.

Ia segera menoleh dan menatap bahu kanan Marco yang masih terbungkus penyangga kaku. Dalam sekejap, hasrat yang membara di dalam dirinya digantikan oleh rasa khawatir yang tajam.

“Tapi Marco …” bisik Zea, suaranya serak tapi penuh kehati-hatian. Ia menahan pinggulnya yang sempat bergeser. “Bahumu … kamu nggak bisa bergerak bebas.”

Marco menggeram lirih, rahangnya mengeras menahan keke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   337. Perawatan Khusus untuk Zea.

    ​“Oke, Ma. Aku setuju.”​Zea seketika membelalak. Matanya menatap pria di sampingnya itu dengan rasa tak percaya. Bagaimana bisa Marco mengambil keputusan secepat itu tanpa menanyakan pendapatnya terlebih dahulu?​“M-Marco …” Zea menyela terbata-bata, meremas jemarinya cemas. “Tapi bahumu kan masih dalam masa pemulihan. Belum lagi kita nggak bisa jamin media nggak bakal ikutin kita keluar dari gedung ini.”​“Soal media, kamu nggak perlu khawatir, Sayang,” potong Marco tenang, suara baritonnya mengayun mantap tanpa ragu. “Adrian sudah konfirmasi kalau suasana di luar sudah jauh lebih kondusif. Pengamanan internal kita juga bersiaga penuh.”Melihat keraguan di wajah Zea, Moara segera tersenyum menenangkan. Ia mengusap jemari Zea lembut dengan ibu jarinya.“Sudah, Sayang. Kamu nggak perlu khawatir,” bujuk Moara lembut. “Sesekali keluar untuk mencari suasana baru juga bagus. Jangan terus-terusan menghabiskan waktu di penthouse. Kamu juga perlu bersantai dan menikmati waktu di luar.”Melih

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   336. Moara Suruh Zea-Marco Kencan.

    Beberapa hari kemudian, ruang tengah penthouse kembali digunakan untuk sesi pemeriksaan dan pemulihan bahu kanan Marco.Marco duduk di sofa tanpa mengenakan atasan, sementara seorang fisioterapis senior memeriksa pergerakan lengan kanannya di bawah pengawasan Dokter Edo. Setiap gerakan dilakukan dengan hati-hati untuk menilai perkembangan pemulihan otot dan saraf di sekitar bahunya.Tak jauh dari sana, Zea berdiri dengan kedua tangan saling menggenggam. Rasa cemas dan gugup menggelayuti di dadanya setiap kali melihat pergerakan tangan ahli fisioterapi di area cedera kekasihnya.​Di sisi lain, Moara berdiri anggun dengan raut wajah yang tak kalah cemas, mengamati setiap detail pemeriksaan tersebut tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.​Dokter Edo mengamati layar monitor portabel yang menampilkan grafik respons saraf bahu Marco, lalu berjalan mendekat.​“Apa yang kamu rasakan, Marco?” tanya Dokter Edo tenang.​Marco memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napas pelan yang sediki

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   335. Zais Radian.

    ​Zavian membeku total di tempatnya. Seluruh sendi tubuhnya seolah terkunci kaku saat nama itu meluncur dari bibir Donna. Sorot matanya yang biasa tajam dan tenang kini berguncang keras, memancarkan ketidakpercayaan yang amat pekat. “Mama … lihat pria itu?” bisik Zavian parau. Suaranya terdengar sangat rendah dan kaku, seolah kata-kata itu begitu berat untuk ia ucapkan. Donna mengangguk cepat dengan napas yang tersendat oleh sisa isak tangisnya. “Iya, Zav … Mama lihat Zais.” Wajah Donna menegang saat ingatannya kembali pada sosok pria yang dilihatnya di pemakaman. “Dia … pakai jaket kulit hitam, Zav,” lanjut Donna dengan bibir gemetar hebat. “Wajahnya terlihat kusam dan rambutnya sedikit berantakan.” “Kalau Mama tidak salah memperhatikan … dia berdiri cukup lama di luar pagar, menatap tajam ke arah Mama, kamu, dan Zea waktu kalian diwawancara.” Zavian mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih dan menggemeretak kaku. “Mama nggak mungkin salah li

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   334. Tolong, Jangan Bilang Zea Dulu.

    ​Zea mendongak dengan raut wajah yang dipenuhi kegelisahan. Kedua matanya menyiratkan kecemasan yang amat pekat saat menatap lurus ke dalam netra hitam Marco.​“Mama ... minta pulang duluan, Marco,” bisik Zea parau, suaranya mengalun pelan di tengah keheningan ruang tengah penthouse. “Katanya nggak enak badan.”Zea terdiam sejenak, jemarinya meremas ujung gaun tanpa sadar. “Tapi, aku merasa sikap Mama tadi aneh banget,” gumamnya dengan dahi berkerut. “Habis ziarah, aku sama Kak Zavian sempat diwawancarai wartawan yang ternyata mengikuti kami.” “Tapi begitu wawancaranya selesai, Mama tiba-tiba datangi kami dengan muka pucat dan minta langsung pergi.”Marco membisu. Sorot matanya menajam, mencerna setiap detail kalimat kekasihnya. “Tante Donna sakit?”​Zea menggeleng pelan. Sorot matanya memancarkan keraguan yang amat besar. “Entah, Marco ... Mama bilang sih cuma nggak enak badan. Tapi perasaanku nggak enak. Aku merasa Mama seperti lagi menutup-nutupi sesuatu dari aku dan Kakak.”​Mel

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   333. Donna Masih Shock.

    ​“Ma, udah gapapa … kita udah di jalan, ya. Mama jangan takut …” ​Zea berbisik lembut sambil mengusap bahu Donna yang masih gemetar tipis. Di kursi belakang mobil privat keluarga Yozefa yang melaju tenang membelah jalanan kota, Zea memeluk ibunya erat-erat sambil meresapi napas Donna yang masih memburu kaku.​Sejak ditarik paksa masuk ke dalam mobil di pelataran parkir pemakaman usai wawancara singkat tadi, Donna tampak sangat berbeda. Wajah wanita paruh baya itu terlihat pucat, tatapannya kosong menatap keluar jendela, dan jemarinya saling meremas kaku seolah baru saja menyaksikan hal mengerikan yang merenggut seluruh ketenangannya.​Zavian yang duduk di kursi depan samping Adrian menolehkan kepalanya. Dahi sang kepala pelatih berkerut rapat, memancarkan rasa heran dan cemas yang amat sangat.​“Ma …” panggil Zavian dengan suara rendah dan berbobot. “Tadi Mama sebenarnya habis lihat siapa sampai ketakutan begitu? Kalau ada masalah, cerita saja sama kami, Ma.”​Donna tidak langsung m

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   332. Kembalinya Bayangan Masa Lalu.

    “Ya ampun, orang lagi berziarah malah ribut begini.” “Benar. Seharusnya mereka tahu diri dan menjaga suara di tempat seperti ini.” Beberapa peziarah yang melintas di pelataran parkir menoleh dan berbisik-bisik tegang melihat keributan kecil di dekat barisan mobil hitam itu. Wajah orang-orang di sekitar menunjukkan rasa kurang nyaman atas suasana bising yang ditimbulkan. Zavian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tatapan tidak nyaman para peziarah lain membuat dadanya terasa sesak. Ia menghembuskan napas berat saat teringat pada peringatan Marco sebelum mereka berangkat tadi. Ternyata, kekhawatiran calon adik iparnya benar-benar terjadi. ​Ia baru menyadari betapa liarnya awak media mengejar mereka. Jika bukan karena barikade ketat tim pengamanan keluarga Yozefa, kondisi emosional dan fisik Zea yang begitu rentan bisa kembali drop akibat kejaran kamera yang tak bertata krama ini. ​Zea berjalan mendekati kakaknya dengan tatapan khawatir. “Kak, mending Kakak datangi dulu wartawan it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status