Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 333. Donna Masih Shock.

Share

333. Donna Masih Shock.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-10-29 17:22:32

​“Ma, udah gapapa … kita udah di jalan, ya. Mama jangan takut …” ​Zea berbisik lembut sambil mengusap bahu Donna yang masih gemetar tipis.

Di kursi belakang mobil privat keluarga Yozefa yang melaju tenang membelah jalanan kota, Zea memeluk ibunya erat-erat sambil meresapi napas Donna yang masih memburu kaku.

​Sejak ditarik paksa masuk ke dalam mobil di pelataran parkir pemakaman usai wawancara singkat tadi, Donna tampak sangat berbeda.

Wajah wanita paruh baya itu terlihat pucat, tatapannya ko
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   335. Zais Radian.

    ​Zavian membeku total di tempatnya. Seluruh sendi tubuhnya seolah terkunci kaku saat nama itu meluncur dari bibir Donna. Sorot matanya yang biasa tajam dan tenang kini berguncang keras, memancarkan ketidakpercayaan yang amat pekat.​“Mama … lihat pria itu?” bisik Zavian parau. Suaranya terdengar sangat rendah dan kaku, seolah kata-kata itu begitu berat untuk ia ucapkan.​Donna mengangguk cepat dengan napas yang tersendat oleh sisa isak tangisnya. “Iya, Zav … Mama lihat Zais.”Wajah Donna menegang saat ingatannya kembali pada sosok pria yang dilihatnya di pemakaman.​“Dia … pakai jaket kulit hitam, Zav,” lanjut Donna dengan bibir gemetar hebat. “Wajahnya terlihat kusam dan rambutnya sedikit berantakan.”“Kalau Mama tidak salah memperhatikan … dia berdiri cukup lama di luar pagar, menatap tajam ke arah Mama, kamu, dan Zea waktu kalian diwawancara.”​Zavian mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih dan menggemeretak kaku. “Mama nggak mungkin salah lihat, ka

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   334. Tolong, Jangan Bilang Zea Dulu.

    ​Zea mendongak dengan raut wajah yang dipenuhi kegelisahan. Kedua matanya menyiratkan kecemasan yang amat pekat saat menatap lurus ke dalam netra hitam Marco.​“Mama ... minta pulang duluan, Marco,” bisik Zea parau, suaranya mengalun pelan di tengah keheningan ruang tengah penthouse. “Katanya nggak enak badan.”Zea terdiam sejenak, jemarinya meremas ujung gaun tanpa sadar. “Tapi, aku merasa sikap Mama tadi aneh banget,” gumamnya dengan dahi berkerut. “Habis ziarah, aku sama Kak Zavian sempat diwawancarai wartawan yang ternyata mengikuti kami.” “Tapi begitu wawancaranya selesai, Mama tiba-tiba datangi kami dengan muka pucat dan minta langsung pergi.”Marco membisu. Sorot matanya menajam, mencerna setiap detail kalimat kekasihnya. “Tante Donna sakit?”​Zea menggeleng pelan. Sorot matanya memancarkan keraguan yang amat besar. “Entah, Marco ... Mama bilang sih cuma nggak enak badan. Tapi perasaanku nggak enak. Aku merasa Mama seperti lagi menutup-nutupi sesuatu dari aku dan Kakak.”​Mel

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   333. Donna Masih Shock.

    ​“Ma, udah gapapa … kita udah di jalan, ya. Mama jangan takut …” ​Zea berbisik lembut sambil mengusap bahu Donna yang masih gemetar tipis. Di kursi belakang mobil privat keluarga Yozefa yang melaju tenang membelah jalanan kota, Zea memeluk ibunya erat-erat sambil meresapi napas Donna yang masih memburu kaku.​Sejak ditarik paksa masuk ke dalam mobil di pelataran parkir pemakaman usai wawancara singkat tadi, Donna tampak sangat berbeda. Wajah wanita paruh baya itu terlihat pucat, tatapannya kosong menatap keluar jendela, dan jemarinya saling meremas kaku seolah baru saja menyaksikan hal mengerikan yang merenggut seluruh ketenangannya.​Zavian yang duduk di kursi depan samping Adrian menolehkan kepalanya. Dahi sang kepala pelatih berkerut rapat, memancarkan rasa heran dan cemas yang amat sangat.​“Ma …” panggil Zavian dengan suara rendah dan berbobot. “Tadi Mama sebenarnya habis lihat siapa sampai ketakutan begitu? Kalau ada masalah, cerita saja sama kami, Ma.”​Donna tidak langsung m

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   332. Kembalinya Bayangan Masa Lalu.

    “Ya ampun, orang lagi berziarah malah ribut begini.” “Benar. Seharusnya mereka tahu diri dan menjaga suara di tempat seperti ini.” Beberapa peziarah yang melintas di pelataran parkir menoleh dan berbisik-bisik tegang melihat keributan kecil di dekat barisan mobil hitam itu. Wajah orang-orang di sekitar menunjukkan rasa kurang nyaman atas suasana bising yang ditimbulkan. Zavian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tatapan tidak nyaman para peziarah lain membuat dadanya terasa sesak. Ia menghembuskan napas berat saat teringat pada peringatan Marco sebelum mereka berangkat tadi. Ternyata, kekhawatiran calon adik iparnya benar-benar terjadi. ​Ia baru menyadari betapa liarnya awak media mengejar mereka. Jika bukan karena barikade ketat tim pengamanan keluarga Yozefa, kondisi emosional dan fisik Zea yang begitu rentan bisa kembali drop akibat kejaran kamera yang tak bertata krama ini. ​Zea berjalan mendekati kakaknya dengan tatapan khawatir. “Kak, mending Kakak datangi dulu wartawan it

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   331. Wartawan Menyusup.

    Zavian menatap nama Coach Bima yang terukir di nisan marmer hitam. Dengan tangan terkepal pelan, ia mulai mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya. “Coach Bima ... maafkan saya,” ucap Zavian lirih. Suaranya sedikit parau, tetapi tetap terdengar mantap. “Saya sudah berusaha membimbing Vincent, tapi saya nggak pernah menyangka dia akan bertindak sejauh ini. Saya gagal menyadari kalau ada yang salah dengan dia sampai semuanya terlambat.” Zavian terdiam sejenak, menahan beratnya perasaan yang mengendap di dada. “Demi keadilan dan keselamatan Zea, saya harus memastikan dia mempertanggungjawabkan perbuatannya, Coach. Meski itu berarti saya sendiri yang harus menyerahkan putra Coach kepada pihak berwajib.” Zea yang berdiri di samping Donna terdiam. Ia memejamkan mata sesaat, meresapi kesedihan dan penyesalan yang tersirat dalam suara kakaknya. Sementara angin sejuk menyapu lembut helai-helai rambutnya. ​“Tapi Coach tidak perlu khawatir,” lanjut Zavian, mengadahkan kepalan

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   330. Ziarah ke Makam Pelatih Zavian.

    ​Keheningan seketika menyelimuti meja makan penthouse. Zea terdiam di tempatnya, menatap wajah kakaknya dengan sorot mata yang dipenuhi campur aduk antara terkejut dan keharuan yang mendalam. Ia tahu betul betapa besar rasa hormat Zavian kepada mendiang pelatihnya. Zea menoleh ke arah Marco, tangannya mengusap paha pria itu dengan lembut sebelum membujuknya pelan. “Marco, aku boleh ikut pergi sama Kakak dan Mama, kan?”Marco melirik Zea sekilas, lalu meletakkan segelas air dengan tangan kiri. Setelah itu, ia mengalihkan pandangan kepada Zavian. Ekspresinya tetap tenang, seolah memahami alasan di balik keinginan pria itu mengajak Zea berziarah.“Boleh,” jawab Marco singkat. Tatapannya kembali tertuju pada Zea. “Temani Kakakmu dan Tante Donna, Sayang.”​Zavian menoleh dan menatap calon adik iparnya itu dengan alis yang terangkat tipis.​Namun sebelum Zavian sempat mengucapkan terima kasih, Marco kembali menyambung penjelasannya dengan suara bariton yang dingin dan sarat akan perintah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status