Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 331. Wartawan Menyusup.

Share

331. Wartawan Menyusup.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-10-28 16:41:25

Zavian menatap nama Coach Bima yang terukir di nisan marmer hitam. Dengan tangan terkepal pelan, ia mulai mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya.

“Coach Bima ... maafkan saya,” ucap Zavian lirih. Suaranya sedikit parau, tetapi tetap terdengar mantap.

“Saya sudah berusaha membimbing Vincent, tapi saya nggak pernah menyangka dia akan bertindak sejauh ini. Saya gagal menyadari kalau ada yang salah dengan dia sampai semuanya terlambat.” Zavian terdiam sejenak, menahan beratnya perasaan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   332. Kembalinya Bayangan Masa Lalu.

    “Ya ampun, orang lagi berziarah malah dibuat ribut begini.” “Benar. Seharusnya mereka tahu diri dan menjaga suara di tempat seperti ini.” Beberapa peziarah yang melintas di pelataran parkir menoleh dan berbisik-bisik tegang melihat keributan kecil di dekat barisan mobil hitam itu. Wajah orang-orang di sekitar menunjukkan rasa kurang nyaman atas suasana bising yang ditimbulkan.Zavian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Tatapan tidak nyaman para peziarah lain membuat dadanya terasa sesak. Ia menghembuskan napas berat saat teringat pada peringatan Marco sebelum mereka berangkat tadi. Ternyata, kekhawatiran calon adik iparnya benar-benar terjadi.​Ia baru menyadari betapa liarnya awak media mengejar mereka. Jika bukan karena barikade ketat tim pengamanan keluarga Yozefa, kondisi emosional dan fisik Zea yang begitu rentan bisa kembali drop akibat kejaran kamera yang tak bertata krama ini.​Zea berjalan mendekati kakaknya dengan tatapan khawatir. “Kak, mending Kakak datangi dulu wartaw

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   331. Wartawan Menyusup.

    Zavian menatap nama Coach Bima yang terukir di nisan marmer hitam. Dengan tangan terkepal pelan, ia mulai mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendamnya.“Coach Bima ... maafkan saya,” ucap Zavian lirih. Suaranya sedikit parau, tetapi tetap terdengar mantap.“Saya sudah berusaha membimbing Vincent, tapi saya nggak pernah menyangka dia akan bertindak sejauh ini. Saya gagal menyadari kalau ada yang salah dengan dia sampai semuanya terlambat.” Zavian terdiam sejenak, menahan beratnya perasaan yang mengendap di dada. “Demi keadilan dan keselamatan Zea, saya harus memastikan dia mempertanggungjawabkan perbuatannya, Coach. Meski itu berarti saya sendiri yang harus menyerahkan putra Coach kepada pihak berwajib.”Zea yang berdiri di samping Donna terdiam. Ia memejamkan mata sesaat, meresapi kesedihan dan penyesalan yang tersirat dalam suara kakaknya. Sementara angin sejuk menyapu lembut helai-helai rambutnya.​“Tapi Coach tidak perlu khawatir,” lanjut Zavian, mengadahkan kepalanya sediki

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   330. Ziarah ke Makam Pelatih Zavian.

    ​Keheningan seketika menyelimuti meja makan penthouse. Zea terdiam di tempatnya, menatap wajah kakaknya dengan sorot mata yang dipenuhi campur aduk antara terkejut dan keharuan yang mendalam. Ia tahu betul betapa besar rasa hormat Zavian kepada mendiang pelatihnya. Zea menoleh ke arah Marco, tangannya mengusap paha pria itu dengan lembut sebelum membujuknya pelan. “Marco, aku boleh ikut pergi sama Kakak dan Mama, kan?”Marco melirik Zea sekilas, lalu meletakkan segelas air dengan tangan kiri. Setelah itu, ia mengalihkan pandangan kepada Zavian. Ekspresinya tetap tenang, seolah memahami alasan di balik keinginan pria itu mengajak Zea berziarah.“Boleh,” jawab Marco singkat. Tatapannya kembali tertuju pada Zea. “Temani Kakakmu dan Tante Donna, Sayang.”​Zavian menoleh dan menatap calon adik iparnya itu dengan alis yang terangkat tipis.​Namun sebelum Zavian sempat mengucapkan terima kasih, Marco kembali menyambung penjelasannya dengan suara bariton yang dingin dan sarat akan perintah

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   329. Undangan ke Makam Ayah Vincent.

    Donna membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangan. "Astagaaa ...!” Di sampingnya, Zavian langsung menegang. Wajah sang kepala pelatih memerah hingga ke ujung telinga saat menyadari penampilan adiknya pagi itu. Bukan karena marah, tapi karena rasa malu dan canggung yang mendadak menyerbunya. Sebagai kakak, ia sama sekali tidak siap menghadapi pemandangan seperti ini! Dengan gerakan refleks, Zavian buru-buru membalikkan badan, memunggungi Zea sambil menutupi matanya dengan sebelah tangan. “Zea!” serunya gugup. “K-kamu ... habis diapain sama Marco?! Pakai baju yang bener dulu sana!” Zea sontak membeku. Ia menunduk, lalu seketika menyadari bahwa dirinya hanya mengenakan kemeja putih kebesaran milik Marco tanpa celana pendek maupun bra! Wajahnya langsung memanas hingga ke telinga. Dengan panik, ia merapatkan kedua tangan di depan dada, berusaha menutupi tubuhnya. “M-Ma ... Kak Zav ... maaf! Aku lupa!” pekiknya malu. “Aku balik ke kamar dulu buat

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   328. Keciduk di Ambang Pintu.

    Sinar matahari pagi menyusup lembut melalui celah tirai kaca penthouse, menerangi kamar utama yang masih menyisakan aroma harum sabun setelah mereka mandi bersama. Di tepi ranjang, Marco duduk tegap tanpa mengenakan atasan, sementara Zea berdiri di hadapannya dengan penuh ketelitian. Jemari halusnya sibuk merapikan dan mengencangkan kembali tali shoulder immobilizer yang menyangga bahu kanan pria itu. Sejak bangun tidur tadi, Marco memang sudah bisa menggerakkan bahunya secara perlahan tanpa merasakan nyeri separah kemarin. Perubahan itu terasa begitu ajaib setelah ia meminum ASI Zea tengah malam tadi. Namun, Zea sama sekali tidak berniat melonggarkan pengawasannya. "Pelan-pelan, Sayang. Nanti malah terlalu kencang," tegur Marco rendah. Tangan kirinya yang bebas terangkat, hendak menguji sedikit pergerakan bahunya. "Lagian bahuku sudah terasa jauh lebih ringan daripada kemarin. Kamu nggak perlu sampai sekencang ini masangnya." "Pokoknya nggak ada tawar-menawar!" cetus Zea galak,

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   327. Zea Malu-Malu Kucing. XXX

    Zea menahan batang keras Marco dengan satu tangan, lalu menurunkan pinggulnya sangat perlahan. Kepala kejantanan Marco masuk dan meregangkan dinding dalamnya yang sempit. Rasa panas dan penuh langsung memenuhi tubuhnya. “Ahhh … nngghh…” Zea mendesah panjang sembari punggungnya refleks melengkung oleh sensasi yang kenikmatan yang menyelimutinya. “Kamu besar … penuh sekali .…” Marco menggeram rendah, tangan kirinya mencengkeram seprai erat-erat agar tidak bergerak. “Zea … kamu masih saja sempit sekali,” bisiknya serak. Zea tidak menjawab. Ia hanya menarik napas dalam-dalam, lalu menurunkan pinggulnya lebih dalam lagi namun perlahan. Setiap gerakan itu membuatnya merasakan tekanan yang hangat dan keras di dalam, hingga seluruh batang Marco tertanam sempurna. “Hahhh … ahh … Marco …” desah Zea dengan suara bergetar. “Kamu … di dalamku … penuh banget …” Zea diam sejenak sambil membiarkan tubuhnya menyesuaikan diri dengan rasa penuh itu. Kemudian dengan gerakan yang sangat pelan, wanita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status