Home / Romansa / Partner Pemanasan Sang Atlet / 342. Feby dan Dimas PDKT?

Share

342. Feby dan Dimas PDKT?

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-11-01 19:27:06

Pipi Zea seketika memerah. Ia mendongak menatap Marco dengan mata sedikit membelalak, lalu berusaha melepaskan diri dari rangkulan pria itu yang masih melingkari pinggangnya.

​“Marco! Kamu ini ngomongnya sembarangan banget!” bisik Zea malu-malu, matanya melirik ke sekeliling area VIP Valet yang dijaga ketat oleh beberapa pengawal keluarga Yozefa.

“Mana ada tugas disuruh habisin uang orang lain? Lagian kita ke sini bukan mau foya-foya, tahu!”

​Marco tak membiarkan Zea melepaskan rangkulannya. Ta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   346. Impian & Tanggung Jawab Marco.

    Zea membeku kaku di tempat. Matanya membelalak lebar, menatap Marco dengan binar terkejut yang amat pekat. Ungkapan "pensiun" yang meluncur dari bibir kekasihnya terasa begitu menghantam dadanya.​"Pensiun ...?" bisik Zea parau. Rasa cemas dan kebingungan mendadak menyeruak memenuhi pikirannya. "M-maksud kamu ... kamu nggak akan pernah balik bertanding lagi di kolam renang?"​Marco membisu. Pria itu menatap lurus ke depan dengan raut wajah tenang namun sarat akan pertimbangan yang begitu dalam.​Melihat keheningan Marco, dada Zea kian berdesir gelisah. Ingatan lama di benaknya seketika berputar tajam.Ia kembali teringat pada cerita Marco dulu tentang betapa besar ekspektasi Michael Yozefa dan kuatnya campur tangan sang ayah dalam menentukan pilihan hidup putra tunggalnya itu.Zea menundukkan kepala sambil meremas kain selimut yang menutup sebagian tubuhnya sembari berbisik lirih."Kalau memang ... kamu mau pensiun karena Om Michael masih memaksa kamu buat mundur dari dunia atlet ..."

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   345. Rencana Pensiun Marco Dari Atlet.

    “Untuk sekarang, prioritasku adalah memulihkan kondisi fisik sampai benar-benar pulih,” ujar Marco tenang. “Selain itu, Papa juga sudah memintaku mulai terlibat dalam beberapa urusan perusahaan.”Dimas mengangguk-angguk paham mendengar penjelasan tersebut. “Ohh ... oke. Manfaatkan waktu ini buat istirahat total dan tenangin diri dulu kalau begitu.”Percakapan di meja makan kembali mengalir dengan santai, tapi Zea sudah tidak lagi fokus pada es krim di depannya.Nalurinya berdesir tajam. Zea merasa ada yang tak beres di balik jawaban Marco. Nada suaranya terlalu datar, matanya terlalu tenang, seolah dia sengaja memilih kata-kata yang paling aman.Namun ia memilih tidak bertanya lebih lanjut di depan Dimas dan Feby, meski jawaban Marco sudah tertanam di benaknya.Usai makan malam, mereka berempat berjalan keluar dari kafe. Udara malam agak sejuk, dan lampu-lampu mall masih menyala terang. Di area valet, Zea merengkuh Feby dalam pelukan hangat yang amat erat.“Aku senang banget lihat kam

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   344. Misteri Rencana Marco ke Depan.

    Marco menatap Zea yang masih memasang wajah memohon di hadapannya. Sudut bibirnya terangkat tipis. Dengan tangan kiri, ia mengusap puncak kepala kekasihnya sebelum akhirnya mengangguk.“Ya sudah. Kita selesaikan dulu belanjanya. Nanti kita bertemu lagi saat makan malam,” putusnya tenang. Marco kemudian mengalihkan pandangan kepada sahabatnya. “Kami duluan, Dimas.”Dimas mengacungkan jempol dengan santai. “Oke, Marco. Kebetulan film yang mau kami tonton mulai setengah jam lagi. Aku sama Feby mau naik ke lantai bioskop dulu.”Pipi Feby seketika memerah padam mendengar ucapan Dimas. Zea yang melihatnya langsung cengengesan jahil sambil menyenggol lengan Feby pelan menggunakan sikunya.​"Ehem ... yang mau nonton bioskop berduaan," goda Zea setengah berbisik.​Feby makin salah tingkah dan buru-buru menarik lengan baju Dimas. “Kalau begitu, aku sama Dimas duluan, ya, Zea! Nanti lokasi ketemunya aku chat!”​"Oke! Sampai ketemu nanti!" balas Zea riang sembari melamba

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   343. Ajakan Double Date.

    ​“Kalian … PDKT?!” seru Zea refleks, matanya membelalak lebar dengan nada yang teramat tak percaya. Suasana di area butik sepatu eksklusif itu seketika berubah hening dan kaku. Dimas sempat mengerjapkan mata, sedikit terkejut melihat reaksi Zea yang jauh lebih heboh dari biasanya. Sementara itu, Marco yang berdiri di samping kekasihnya ikut mengangkat sebelah alis, sedikit terkejut meski tetap mempertahankan ekspresi tenangnya. ​Rona merah di wajah Feby kian memuncak hingga ke ujung telinga. Rasa malu dan panik mendadak melingkupi dadanya sepenuhnya. ​Tanpa membuang waktu, Feby langsung maju meraih pergelangan tangan Zea. “M-Marco! Aku pinjam Zea sebentar, ya!” pamit Feby terburu-buru, suaranya mencicit menahan canggung. ​Marco mengangguk tipis dengan sudut bibir terangkat tipis. “Silakan.” ​Feby langsung menarik Zea keluar dari area butik sepatu. Zea yang ditarik cepat hanya bisa menoleh sejenak ke arah Marco dengan pandangan bingung. ​Melihat dua pengawal berjas hitam bersi

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   342. Feby dan Dimas PDKT?

    Pipi Zea seketika memerah. Ia mendongak menatap Marco dengan mata sedikit membelalak, lalu berusaha melepaskan diri dari rangkulan pria itu yang masih melingkari pinggangnya.​“Marco! Kamu ini ngomongnya sembarangan banget!” bisik Zea malu-malu, matanya melirik ke sekeliling area VIP Valet yang dijaga ketat oleh beberapa pengawal keluarga Yozefa.“Mana ada tugas disuruh habisin uang orang lain? Lagian kita ke sini bukan mau foya-foya, tahu!”​Marco tak membiarkan Zea melepaskan rangkulannya. Tangan kirinya justru mengusap punggung Zea dengan gerakan lembut nan santai, memancarkan aura dominan yang amat memikat.Penyangga bahu elastis masih terpasang di bahu kanan Marco. Meski begitu, ia tetap bisa bergerak cukup leluasa tanpa terlihat terganggu oleh alat penyangga tersebut.​“Uangku ya uangmu juga,” sahut Marco datar tanpa beban. “Lagipula, sekali-kali menuruti kemauanku nggak ada salahnya, kan, Sayang?”​Zea mendengus sebal dengan bibir yang mengerucut menggemaskan, namun senyum mani

  • Partner Pemanasan Sang Atlet   341. Ayo, Zea. Habiskan Saja Uangku!

    ​“Sebagai pria yang menggantikan sosok ayah bagi Zea sejak kecil, saya punya tanggung jawab moral yang sangat besar,” lanjut Zavian tegas, menatap lurus mata Vincent yang mulai bergetar. ​“Waktu itu, fokus utama saya adalah memastikan Zea menyelesaikan pendidikannya dengan baik tanpa terganggu oleh urusan asmara yang belum waktunya.” “Zea mematuhi arahan saya karena dia percaya pada saya sebagai kakaknya. Bukan karena dia memandang rendah dirimu, apalagi karena masalah materi.” ​Zavian mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Setinggi apa pun gelar dan pendidikan yang kamu punya, ternyata ada hal mendasar yang masih gagal kamu pahami. Kamu nggak bisa membuat seseorang mencintaimu hanya karena merasa dirimu lebih pantas daripada pria lain.” ​Vincent terdiam kaku. Rahangnya mengeras, sementara wajahnya perlahan kehilangan warna. Segala tuduhan yang selama ini ia yakini runtuh berkeping-keping di tempat. ​Zavian memperhatikan raut wajah Vincent yang perlahan pucat pasi. Pria itu men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status